Posts Tagged mom

kamu sungguh spesial, Nak

  1. Berbahagialah orang tua yg dikaruniakan anak wanita karna Rasulullah tlh menjamin baginya surga jk sabar dan sukses mendidiknya.
  2. Siapa yg diuji dgn mmiliki anak wanita, lalu ia asuh mreka dgn baik,mka anak itu akn mnjdi pnghlangnya dri api neraka(HR.Bukhari)
  3. Sbagian orang tua menganggp rmeh mndidik ank wanita, bahkan lbih mengunggulkn ank laki2. Pdhal wanita adlh tiang peradaban dunia.
  4. Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan.
  5. Ggal mndidik ank wanita brarti klak kita akn kekurangan ibu baik di msa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat.
  6. Ajarilah ank wanita kita akn keutamaan mnjaga kesucian diri bkn sekedar menjaga keperawanan. Suci & perawan itu beda!
  7. Perawan terkait dgn faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dengan faktor akhlak dan jiwa.
  8. Bnyk wanita yg bs jd msh prawan tp tdk suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup laki2 lain, asal tidak bersetubuh.
  9. Banyak juga wanita yg tdk prawan atas sebab kcelakaan, trjatuh, tp masih suci. Sebab ia tak biarkan laki-laki asing menyentuhnya.
  10. Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu mnjaga kesucian dirinya dlm kata, sikap & tingkah laku.
  11. Maryam tak sembarang bergaul dgn laki2 asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil (a.k.a tdk perawan) ia tetap suci di mata Allah.
  12. Demikian pula dgn Bunda Khadijah, istri Rasulullah yg tdk lagi perawan tapi digelari ‘Ath Thohirah’ atau wanita suci.
  13. Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yang menjaga kesuciannya.
  14. Maka, tugas utama orang tua yg memiliki anak wanita adlh mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan.
  15. Ajarkan anak wanita untuk bersikap terhadap laki-laki asing atau yang bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri.
  16. Saat anak wanita blm baligh atau anak-anak, ajarkan ia untuk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas,meragukan & haram.
  17. Sentuhan pntas itu muaranya ksh syang. Ini dilakukan oleh orng lain kpd ank wanita yg blm baligh di bagian skitar kpla & pundak.
  18. Sentuhan yg meragukan. Yakni antara ksh syang versus nafsu. Biasanya brpindah-pndah tmpt.Dri kpla turun ke bahu trs ke pinggang.
  19. Jk sudah melewati batas bahu, ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak untuk menolak dengan kalimat “Aku gak suka ah”.
  20. Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan & buah dada. Ajarkan anak kemampuan untk menolak & menghindar.
  21. Dgn mengajari ank wanita kita tntang sentuhan, mngajarkan jg kpd mreka tentang berharganya tubuh mereka. Tdk smbarangn disentuh.
  22. Selain itu, ajarkan juga kpd anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dengan beda.
  23. Buat anak wanita tdk membutuhkan sosok laki2 lain yg jadi ‘pahlawan’ nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya.
  24. Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai laki-laki lain. Sebab sudah ada sosok ayah idola dalam hidupnya.
  25. Sebagian besar remaja wanita yg mmutuskn untk brpacarn, karena tak punya laki2 idola di rumahnya sebagai tmpt berbagi.

Di atas adalah kultwit dari salah satu akun brand pakaian muslimah Melangit, @Melangit_75 yang saya rasa sangat penting untuk dbagikan. Selain sebagai salah satu bentuk syiar, kultwit tersebut juga berfungsi sebagai pengingat diri karena saya juga diamanahi anak perempuan usia batita.

Pendidikan anak, sungguh, bukan hal yang pantas dijadikan main-main atau spekulasi. Sebagai orang tua, kita harus benar-benar bersungguh-sungguh terhadap amanah yang dikaruniakanNya. Anak itu masterpiece. Investasi dunia akhirat yang nggak pantas kita sia-siakan. Merupakan tanggung jawab ayah dan ibu sepenuhnya. Karena tiap-tiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas anak yang diamanahkan pada mereka, sebelum anak-anak mereka dimintai tanggung jawab atas diri mereka.

Wallaahul musta’an.

Leave a Comment

ibu yang sesungguhnya

It’s great to be an excellent crafter. It’s great to be a great chef. It’s great to be a brilliant mother with multi-talents and lots of skills. But what you need to realize is, your kids don’t need a perfect mother. They just need you. Yes you, unconditionally. A warm-hearted and loving person who always willing to learn and grow to be better day by day. Your unconditional love is all they need and nothing more.

Nice quote dari blog keren ini agaknya cocok dengan apa yang kini sedang saya rasakan.  Ya, saya merasakan betapa Ruma membutuhkan saya, ibunya. Ruma mencintai saya, tanpa syarat. Dia tetap mencintai saya, walaupun saya tidak cantik, walaupun badan saya tidak ideal, daaan… walaupun saya tidak mesti selalu ada, menemaninya 24 jam dan 7 hari sepekan. Hey, realitanya memang begitu. Terima saja kenyataan menyakitkan ini, bahwa memang saya adalah ibu bekerja yang waktunya tidak selonggar ibu-ibu yang full menemani putra-putrinya di rumah. Yang meninggalkan anak hampir 10 jam per hari untuk membantu suami mencari nafkah. Sedih? Jangan tanya.

Lebih sedih lagi jika sudah berupaya maksimal untuk memperjuangkan keinginan ini, yakni berkhidmat pada suami, menjadi pendidik utama anak-anak alias ummul madrasah, mengurus rumah tangga, mentok begitu saja di sini. Buntu, sungguh saya merasa buntu. Saya merasa semua yang saya perjuangkan, hancur begitu saja karena berbenturan dengan kebahagiaan dan keridhoan orang-orang lain.

Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Allaah tidak akan membebani seseorang melebihi kesanggupannya. Dan mungkin sampai sini saja yang dapat saya lakukan. Tetap bertahan agar semuanya bahagia, meskipun orang yang paling kecewa dengan keputusan itu adalah diri saya sendiri. Fitrah seorang ibu adalah mengurus anak, dan tahukah bagaimana rasanya mengingkari fitrah? Sangat tidak nyaman.

Saat ini hanya bisa berdoa, semoga Allaah karuniakan hidayahNya pada mereka agar akhirnya saya bisa segera menjadi ibu yang sesungguhnya buat Ruma. Orang pertama yang mengenalkannya dengan Allaah, dengan Islam, dengan Rasulullaah dan para sahabat, dengan Al Qur’an. Sama-sama belajar akidah yang lurus, akhlak yang mulia, manhaj yang benar. Aah, Ruma adalah masterpiece yang sungguh tidak sebanding dengan gaji sejuta dua juta di instansi pemerintahan. Masih tegakah kalian membandingkannya dan berniat menyerahkan urusan sepenting itu pada orang yang bukan ibunya?

Wallaahul musta’an.

Semoga Allaah segera menunjuki.

Leave a Comment

what are we looking for?

Sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor, biar lebih semangat saya dengarkan rekaman kajian ustadz Syafiq Riza Basalamah beberapa waktu lalu yang berjudul “Berebut Seekor Bangkai.” Awalnya saya fikir kajian itu akan membahas tentang ghibah (hihi ngasal banget mentang-mentang bawa “bangkai”) ternyata tentang berlomba-lomba masalah dunia yang pada hakikatnya sama hinanya dengan bangkai.

Subhanallaah, ternyata dunia, yang kita perjuangkan mati-matian, yang kita kejar habis-habisan, dimana kita kerahkan segala daya upaya untuk meraihnya, hakikatnya hanya seperti bangkai. Betapa hinanya. Dan betapa ruginya kita yang tertipu. Lalai dengan urusan akhirat demi mengejar dunia yang sama rendahnya dengan bangkai.

Dunia itu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat. Kenikmatannya. Pun juga siksanya. Jadi, kalau kita merasa mulia dan dimuliakan Allaah tersebab banyaknya harta yang dikaruniakanNya pada kita, atau anak-anak yang semuanya “jadi orang” di dunia ini, jangan bangga dulu. Boleh jadi itu ujian. Begitupun jika kita merasa dihinakan karena kekurangan harta, belum diberi keturunan, dsb itupun juga ujian. Bisa jadi di akhirat nanti yang kita dapatkan ternyata berkebalikan dengan yang kita dapatkan di dunia.

Kalau sudah begini, fikiran kembali melayang pada anak di rumah. Untuk apa saya berpayah-payah mencari kemuliaan di dunia sementara amanah yang menjamin kemuliaan di akhirat malah saya tinggalkan. Ibu, adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Bukan sekolah mahal bertaraf internasional. Ibu, adalah pemberi kasih sayang terbaik bagi anak-anaknya. Bukan babysitter profesional yang dibayar mahal. Apalagi cuma pembantu yang dicari asal-asalan. Dan saya jauh lebih ingin anak saya menjadi anak shalihah yang do’anya menjadi amal jariyah bagi kami orang tuanya.

Saya yakin, jika pada waktu kecil mereka dididik dengan pendidikan terbaik oleh ibunya, dialiri kasih sayang tanpa tepi yang bukan sekedar dibanjiri fasilitas mewah, mereka akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Membanggakan disini bukan cuma sebatas punya pekerjaan wah, penghasilan wow, pangkat jabatan top, tapi membanggakan dalam akhlaknya kepada Allaah, kepada Rasulullaah, kepada bapak ibunya, kepada kerabat dan sahabatnya, serta kepada manusia-manusia lain di sekitarnya.

Dunia itu cuma sementara. Hilang sudah semua nikmat jika Allaah telah takdirkan waktu kita habis untuk menikmatinya. Harta juga tidak dibawa mati. Hanya amal shalih sahabat sejati kita di alam barzakh sana. Jadi buat apalagi sih saya bersusah payah mencari dunia? Menghambakan diri pada pundi-pundi rupiah yang katanya merupakan alat utama pemuas kebutuhan anak. Lupa bahwa tugas utama wanita adalah mendidik dan membesarkan anak-anaknya menjadi generasi yang mengagungkan Rabbnya. Mengajari mereka aqidah, akhlak, iman, Islam, Al Qur’an dan sunnah yang dengan itu semua insya Allaah kita akan selamat dunia akhirat. Untuk apa hidup bergelimang harta jika setelah kita meninggal, anak-anak bukannya mendo’akan kita melainkan berebut warisan? Untuk apa selagi muda kita bersibuk-sibuk meninggalkan anak, menitip anak pada babysitter, kemudian setelah kita tua dan menjadi jompo mereka membalas kelakuan kita dengan menitipkan kita di panti jompo. Aduhai menyedihkannya. Sudahlah di dunia hidup malang, di akhirat lebih malang lagi.

Untuk itu, saya ingin berpesan. Wahai para suami yang masih tega membiarkan istrinya bekerja demi membantunya menyambung hidup, kumohon tawakkal sajalah. Yakinlah bahwa rezeki itu sudah ada jatahnya masing-masing. Dan pintu rezekimu bisa jadi terbuka lebih lebar jika engkau ikhlaskan istrimu bekerja di rumah, melayani kebutuhanmu dan anak-anakmu. Kumohon bertakwalah kepada Allaah, takutlah engkau dengan siksaNya, pertanyaanNya tentang pertanggungjawabanmu atas istri dan anak-anakmu. Milikilah rasa cemburu hingga kau tak membiarkan istrimu keluar rumah dan bercampur baur dengan lelaki hanya demi membantumu menambah rupiah, untuk duniamu. Kumohon para suami yang masih menginginkan ridho Allaah, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat yang keras lagi kasar. Engkau adalah qawwam keluarga, jagalah kewibawaanmu dengan keberanianmu bertanggung jawab atas mereka, dalam hal apapun.

Wahai para istri yang masih ingin mencari kemuliaan dunia dengan memiliki penghasilan sendiri, beralasan tidak ingin bergantung pada suami, menjunjung tinggi emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender. Kumohon kembalilah pada fitrah penciptaanmu. Allaah menjadikanmu sebagai penanggung jawab di rumah suamimu. Manajer rumah tangga. Bukan manajer perusahaan bonafid. Patuhilah keinginan suamimu yang ingin dilayani sepenuhnya olehmu, bukan oleh pembantu. Ingatlah anak-anakmu. Investasi terbesarmu. relakah jika mereka tumbuh dan berkembang tanpa penjagaanmu? Anak-anak lebih butuh kasih sayang dan belaianmu. Perhatian dan sambutanmu saat mereka pulang sekolah. Bukan mainan mahal, baju-baju branded yang kau belikan dari gajimu. Ingat, anak-anak lebih membutuhkan ibunya. Bukan uang ibunya.

Jadi, apa lagi yang kita cari? Dunia ini cuma permainan. Jangan kita gadaikan akhirat demi dunia yang hanya sehina bangkai.

Leave a Comment

Protected: sebesar-besar keinginan

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.

engkau adalah bilangan hari-hari (2)

Menyambung tentang post nggak penting sebelumnya tentang daily routines, daily activities dimana saya akan terus menulis untuk bersyukur dan meminimalkan keluhan, ini nih lanjutannya. Semoga bacanya nggak bosen. Semoga nulisnya nggak bosen juga hihi.

Hari ini saya bangun pagi sekali. Jam 3 kurang sudah terjaga. Maklum sebelum jam 8 malem sudah ngelonin Ruma trus lanjut bobo. Hidup yang enak banget ya, sekaligus teratur hihi. Kalau bangun jam 3an gitu harusnya saya bisa shalat malam dengan jumlah rakaat yang lebih banyak dari biasanya. Tapi tadi pagi rupanya ada setan yang telah menyesatkan saya sehingga saya cuma menambah dua rakaat dari rakaat terminimal. Itupun pake acara kepotong-potong. Astaghfirullaah. Kepotongnya itu gegara saya lihat Rumaysa’s Journey, scrapbook spesial buat my beloved Ruma yang teronggok di rak buku, nggak selesai-selesai, belum dikasih hiasan-hiasan plus belum lengkap foto-fotonya mulai dari usia 6 sampe 13 bulan usianya kini. Hedeh. Langsung saya abis sholat 2 rakaat, bergegas buka laptop Pio. Maksud hati sih pengen mindah-mindahin foto-foto dari laptop ke flashdisk, biar dicetakin gitu. Eh ternyata itu flashdisk nggak muat. Maklum cuma 1 giga (hare gene). Yaudahlah, mungkin emang belum diridhoi Allaah nyelesaiin scrapbook. Lagian aneh juga ih saya, waktunya orang tahajudan juga.

Terus saya lanjut shalat lagi, dengan rakaat yang seadanya lagi karena fikiran udah nggak fokus gegara nginget tumpukan setrikaan. Beneran emak rempong deh guweh. Astaghfirullaah. Tu setan pasti seneng banget usahanya berhasil lagi. Akhirnya dengan pertolongan Allaah saya berhasil nyelesaiin setrikaan 2 hari dalam waktu setengah jam. Gile cepet bener ya. Maklum ngegosoknya nggak pakai Rapika alias nggak pakai acara semprot-semprot yang bikin lama. Tapi astaghfirullaah lagi, karena keasikan nyetrika jadi nggak sempat shalat qabliyah subuh yang lebih utama dari dunia dan seisinya. Kenapa nggak sempat shalat qabliyah? Soalnya tadi abis nyetrika Ruma nenen sampai jam 4.15 dimana itu sudah iqamah, dan di Jogja ini sekarang subuhnya jam 4 pagi. Pagi banget yak. Yasudah deh, semoga besok nggak terulang lagi yang kayak gitu-gitu. Harusnya hak Allaah itu lebih diprioritaskan ketimbang urusan kayak scrapbook n nyetrika.

Lanjut masak deh. Alhamdulillaah hari ini berhasil masak 2 jenis makanan yakni oseng-oseng usus ayam dan soup brokoli telur puyuh. Duh makasih banget deh sama buku resep ungu andalan. Kecil-kecil gitu manfaatnya banyak banget. Bagi saya, Pio makannya nambah itu prestasi. Secara beliau itu sense of taste-nya lumayan tinggi. Tapi tadi beneran enak apa cuma gara-gara laper aja ya beliau? Hihi. Hmmm sebenernya masak tadi juga banyak campur tangan Mbak Atun yang bantuin motongin usus (saya kan gelian) dan masak di kompor. Soalnya abis saya beres motong-moton n ngeracik bumbu, si batita imut itu bangun. Dan saya nggak mau dong ngebiarin si Ruma bangun sementara saya malah sibuk ngerjain ini-itu. Akhirnya pindah tugaslah Mbak Atun jadi bagian masak setelah sebelumnya sibuk nyapu ngepel.

Singkat kata, abis semua beres,Yangkung datang dan bawa banyak makanan. Masya Allaah, kedua orang tua saya ini emang baiknya tiada dua deh. Udah mandiri juga ini anak mantu, masih aja dibawain macem-macem hampir tiap hari. Padahal rumah beliau-beliau itu jauh dari kontrakan. Ngerepotin banget pokoknya. Emang bener ya kalau kasih sayang orang tua itu sepanjang jalan, sementara kasih anak cuma sepanjang galah. Langsung deh beliau ngajak jalan-jalan Ruma sebentar yang mana waktunya bisa saya manfaatkan untuk siap-siap buat berangkat kantor.

Niatnya tadi saya mau ngajak Ruma ngeng-ngeng alias muter-muter naik motor kayak biasanya, tapi si imut malah bobo abis nenen. Sejujurnya saya lebih suka Ruma bobo dalam keadaan saya tinggal. Udah gitu dia bobonya posisi nenen lagi. Seneng. Ngerasa dekeeeeet banget sama Ruma. Alhamdulillaah banget Allaah mensyariatkan ibu untuk menyusui bayinya ya. Karena nggak ada yang bisa ngalahin bonding ibu menyusui dengan bayinya. Semoga sampai kapanpun Ruma tetap dekat dengan saya. Yaudah deh, abis Ruma beres nenen which is jam 8 pagi saya capcus berangkat kantor dan ternyata telat. Yaudah deh nggak papa nggak tiap hari juga.

Hmmm segini dulu aja yaaa ceritanya. Semoga jadi hari yang berkah. Barakallaahu fiikum.

Leave a Comment

engkau adalah bilangan-bilangan hari

Dari judulnya kayaknya resmi banget ya. Agak merinding juga sebenarnya, mengingat saya mencomotnya dari salah satu video essay inspiratif Yufid TV dengan judul yang sama. Tapi isi posting ini sama sekali nggak menyeramkan kok. Jadi begini, dalam rangka mengupayakan untuk terus bersyukur atas segala nikmat Allaah yang telah dianugerahkanNya pada saya dan keluarga, saya berniat untuk terus menulis. Menulis apaaaa saja yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan saya. Entah itu kejadian penting, nggak terlalu penting, berkesan, biasa aja, lucu, seneng, sedih (tentunya kalau sedih saya protect dengan password ah, ga enak kayaknya mengumbar kesedihan, jadinya malah ga bersyukur kan). Lagipula akhir-akhir ini saya kebanyakan ngeluh, ngedumel dan marah-marah (tentunya yang jadi korban utama adalah Pionya Ruma, hihi maap jangan dicontoh lah) jadi untuk meminimalkan energi negatif saya mau nulis terus saja di blog yang lama tak tersentuh ini. Udah ah, panjang amat intronya yak.

Alhamdulillaah pagi ini masih diberi kehidupan dan kesehatan sehingga bisa beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi juga nggak telat-telat amat, masih bisalah tahajudan dengan jumlah rakaat terminimal, hihi. Masih dikasih kesempatan sholat qabliyah subuh yang hakikatnya lebih baik dari dunia dan seisinya, insya Allaah aamiin. Pagi ini juga nggak hectic-hectic amat, dalam artian nggak terlalu keburu waktu banget gitu loh. Ruma kehandle dengan baik, tapi masiiih aja nggak bisa nyuapin dia dengan lahap, pasti pakai acara nangis n ngerengek-ngerengek, kalau kayak gitu saya langsung nyerah zzzzzzz. Padahal masakan saya sebenernya lumayan lho, hihi kata siapa nih. Pagi tadi saya masak ati ayam n terong bumbu kecap yang saya modif jadi nggak terlalu pedas. Maklum karena sekaligus masakin buat batita imut saya yang masih berusia 13 bulan. Tapi kenapa si Ruma masih nggak terlalu lahap ya? Semoga ke depannya, kalau saya sudah berhasil jadi real mom buat dia, dalam artian fulltime mom yang ngejaga dia 24 jam sehari dan 7 hari sepekan, alias resign dari pekerjaan ini Ruma bisa makan lahap sama saya. Aamiin.

Pagi tadi juga ibu saya datang ke rumah dan seperti biasa bawa banyak sekali makanan di antaranya cemilan-cemilan plus lauk untuk makan siang. Alhamdulillaah jadi tambah ngirit, nggak usah beli makan siang lagi. Ibu saya ni emang juara banget dalam kasih sayang dengan putri-putrinya. Baik banget deh pokoknya. Pagi-pagi udah dateng, padahal rumah beliau cukup jauh, dan selalu bawa macem-macem. Huhu anak nggak tau diri deh pokoknya saya ini. Semoga Allah membalas kebaikan beliau dengan balasan yang jauh lebih baik aamiin.

Alhamdulillaah juga hari ini saya ke kantornya nggak telat. 7:54 udah absen fingerprint aja. Itupun sempat muterin Ruma n Mbak Atun naik motor sampai pohon beringin which is lumayan jauh dari kontrakan. Batita imut saya kini kalau nggak diputerin agak-agak klayu nggak mau ditinggal gitu, jadi daripada pagi-pagi udah bermellow-mellow liat doi nangis saya milih muter-muterin dulu deh. Walaupun agak-agak ngeri gimana gitu ngeboncengin bayi sleketan plus Mbak Atun yang beratnya jauh di atas saya hihi.

Berikutnya, lanjut nganterin Pionya Ruma lepas jahitan operasi gigi di RS Jogja. Jadi saya berangkat ke kantor dulu gitu. Terus jam setengah 9an dijemput Pio, nganter beliau ke daerah Wirosaban. Abis itu saya ganti ngebujuk Pio nganterin saya ke daerah Glagahsari buat survey calon TKnya Ruma. Hihi, bocah baru setahun aja udah ribut nyari TK. Jadi ini TK sunnah gitu, namanya TK Ar Ridho putri. Saya dapet infonya dari salah satu ummahat di Jawa Barat sana. Heleh, TKnya dimana cari infonya dari mana. Dan ternyata oh ternyata, udah capek-capek muter nyari alamat gitu, tanya sana sini, TKnya sudah bubar saudara-saudara. Jadi ada bangunan nggak terawat gitu, yang di depannya ada ban-ban buat mainan anak kecil, prosotan, “bola dunia” yang kondisinya sudah berdebu nggak keurus. Langsung Pio bilang “Wah, dah bubar ini TKnya.” Pas itu saya belum nyadar kalau ada “mainan-mainan anak kecil” berdebu nggak keurus. Pas udah nyadar, langsung deh pengen ketawa. Malu aja sama Pio udah nyuruh-nyuruh anter plus muter-muter nggak karuan, begitu tau tempatnya ternyataaa. Tapi beliau sih udah biasa ngalamin yang kayak gini-gini sama saya, udah nggak nggumun lagi. Maklum sumber informasi saya cuma dari internet yang sudah nggak diketahui tanggalnya alias nggak uptodate. Hihi maafin Mio ya Pi, yang suka sotoy dan ngotot kalau sudah punya keinginan.

Hihi begitu aja deh ceritanya. Secara ini masih siang kok, jadi cukup sampai disini saja posting saya. Semoga saya bisa terus bersyukur dan nggak suka ngeluh-ngedumel lagi. Aamiin.

Leave a Comment