Posts Tagged manhaj

6 Dzulhijjah 1435: sebuah hijrah

Menelusuri isi blog sejak awal dibuat hingga hari ini, tampaknya pola fikir saya banyak berubah. Yang paling kelihatan di kategori Islam. Tampak ada beberapa manhaj yang saya dalami dari dulu sampai sekarang. Jujur, awal mula kecintaan saya terhadap Islam dimulai dengan mengenal manhaj tarbiyah melalui program mentoring di SMA, dilanjutkan dengan liqo sewaktu kuliah. Selama masa-masa itu ada masa futurnya juga yang tidak perlu saya sebutkan. Sampai saya bekerja di luar kota pun, saya masih cinta sekali dengan manhaj ini. Buku-buku terbitan penerbit “beraliran” tarbiyah pun masih memenuhi rak buku saya hingga kini. Kajian-kajian muslimah, liqo, tahsin semangat sekali saya ikuti (terutama ketika belum punya anak). Bahkan saya mulai berpenampilan “syar’i” dengan rok, gamis dan kerudung lumayan lebar juga karena mengenal manhaj ini.

Tidak saya pungkiri, media internet punya peranan penting dalam mengubah pola fikir saya, mungkin lebih tepatnya, cara Allaah menyampaikan hidayahNya juga melalui media ini. Tak apalah saya dianggap “belajar dari buku, bukan dari guru” tapi memang kenyataannya internet ini benar-benar bermanfaat bagi para pencari ilmu yang agak kesulitan berguru langsung dengan ustadz (walaupun pasti akan beda sekali rasanya menimba ilmu langsung dari ustadz dengan belajar via internet).

Di tengah-tengah menyelami manhaj tarbiyah, saya juga mengenal manhaj lain lagi yakni khilafah. Entah benar atau tidak ya nama manhajnya, hizbut tahrir itu lho pokoknya. Saya juga sempat “mengidolakan” salah satu ustadz dari khilafah yang belakangan ini naik daun, tapi tak perlulah saya sebut namanya.

Namun, ada satu manhaj yang benar-benar lain dari yang lain. Manhaj ini “paling meyakinkan” karena selalu menyertakan dalil-dalil ilmiyah, yakni Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Bahkan dengan mengenal manhaj ini, banyaaaaaaak sekali kebiasaan saya jaman jahiliyah yang layak dihapuskan: seperti nyanyian dan musik, berdandan di depan non mahram, berhias berlebihan alias tabarruj, ngobrol nggak penting dan beramah-tamah dengan lelaki ajnabi, bersalaman dengan non mahram, dsb. Intinya saya lebih mantap dengan Islam setelah mengenal manhaj ini. Manhaj apa sih yang sekeren ini? Tak lain adalah manhaj yang diikuti para pendahulu kita, salafush shalih. Manhaj salaf yang teguh memegang sunnah-sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Bermula dari blogwalking ke blog-blog akhawat salaf (ketika hamil Ruma pada tahun 2013), saya menyimpan rasa penasaran yang begitu tinggi dengan manhaj mereka. Untuk apa mereka benar-benar menutup dirinya dari khalayak? Tidak memajang foto diri, mengenakan niqab di keseharian, masya Allaah mereka benar-benar tidak punya hasrat ingin tampil. Ternyata memang begitulah yang diperintahkan Allaah bahwa wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya, dan seluruh tubuh wanita merupakan perhiasan yang harus ditutup.

Oooh ternyata begitu toh. Betapa Islam memuliakan wanita ya. Tidak membiarkan mereka dipajang, diekspos, diumbar. Melainkan dijaga, ditutup rapat-rapat. Bahkan hijab terbaik bagi wanita adalah rumahnya. Duhai, kurang apalagi coba syariat Islam ini? Dengan mendalami manhaj salaf pun saya semakin mantap untuk resign dari pekerjaan, karena dengan bekerja saya terhalang dari pahala mengurus anak, mengurus rumah tangga, berkhidmat pada suami, dsb. Saya juga takut sekali jika Allaah menanyakan bagaimana pertanggung jawaban saya atas rumah dan anak-anak, mengingat sebagian besar waktu saya habiskan di luar rumah dengan alasan membantu suami mencari nafkah. Ya, memang seorang wanita boleh bekerja. Tapi seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu wajib mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga. Tidak boleh sesuatu yang mubah mengalahkan yang wajib.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berhijrah. Pertama yang harus dirubah adalah gaya berpakaian. Memang sudah lama saya berkerudung, tetapi.. berkerudung dan berjilbab yang sesuai syariat? Belum sama sekali. Akhirnya saya beranikan diri untuk memakai pakaian syar’i perdana pada 6 Dzulhijjah 1435 (30 September 2014) yang saya anggap sebagai momen hijrah. Saya cuek saja, meskipun saya masih belum menjadi IRT, status saya sampai detik ini masih ibu bekerja. Tapi saya lakukan sajalah apa yang sudah mampu saya lakukan, yakni dengan berjilbab yang sesuai syariat. Saya tutup telinga terhadap perkataan yang sempat mampir, di antaranya: ikut aliran apa, kok berubah, kok kurang membaur (kalau di kantor sedang ngobrol nggak jelas bercandaan laki perempuan ngomongin ngeres-ngeres gitu penting banget saya ikut berbaur, ngobrol nggosip ngomongin orang gitu apa harus ikut nimbrung, jadilah di kantor saya lebih banyak diam).

Banyak sekali PR dan perbaikan yang harus saya lakukan, tidak hanya yang sifatnya pribadi saja. Mengikuti manhaj salaf bukan cuma mengikuti serangkaian ibadah-ibadah sunnah yang dicontohkan Rasulullaah saw., mengikuti kajian dengan ustadz-ustadz yang tsiqoh, melainkan juga memperbaiki akhlak dengan Rasulullaah saw. sebagai contohnya. Akhlak kepada suami, kepada anak, kepada kedua orang tua dan mertua, kepada saudara, kepada karib kerabat, kepada sahabat, kepada teman, kepada orang-orang di lingkungan sekitar, dan disitulah tantangan terbesarnya. Dengan berakhlak baik pada mereka tentu akan membuahkan kecintaan pada kita, sehingga mereka pun menjadi tertarik mempelajari manhaj yang kita ikuti. Insya Allaah. Aamiin. Wallaahul musta’an.

 

Advertisements

Comments (2)

journey to be syar’i

Akhirnya kutuliskan juga tulisan ini. Tentang perasaan yang kusimpan rapat-rapat dalam diam. Perasaan yang sulit kulukiskan, ya, aku mengaguminya. Awalnya sama sekali tak terfikirkan akan merasa begini. Aku ingin sekali seperti mereka.

Mereka yang menutupkan hijab rapat-rapat ke seluruh tubuh, bahkan juga ke wajah-wajah mereka. Mereka yang begitu terlindung, tersembunyi di istana ternyaman, rumah-rumah mereka. Mereka yang kesehariannya berjibaku di rumah bersama anak-anak, benar-benar menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Ya, mereka begitu spesial, tak tersentuh. Bagaikan mutiara cantik yang tersimpan rapat di dalam cangkangnya. Bagaikan logam mulia yang tersimpan rapat di kotak indahnya. Mereka yang, di jaman serba terbuka seperti saat ini, benar-benar seperti terasing, langka, sedikit. Berbeda, sehingga menjadi begitu istimewa.

Saat selfie dan hashtag ootd (outfit of the day) menjadi trend seiring menjamurnya social media, mereka memilih untuk tidak memajang foto diri, bahkan tidak pula berfoto dengan niqabnya. Saat orang rame-rame membeli tongsis untuk semakin mengekspresikan narsismenya, sama sekali tak terbersit dalam benak mereka untuk mengikutinya. Untuk apa pula ya. Saat orang berlomba-lomba untuk tampil cantik dengan gaya terkini, dengan make-up yang semakin mempermanis penampilan mereka, mereka semakin menyederhanakan hijabnya, tidak tergiur dengan trend masa kini.

Dulu aku berfikir, hijab syar’i itu

  1. tidak membentuk lekuk tubuh, yang mana sepemahamanku tidak membentuk lekuk tubuh itu sepanjang tidak memakai baju ketat alias ngepress body, memakai rok panjang atau gamis yang tidak membentuk lekuk kaki, sudah termasuk syar’i
  2. memakai kerudung yang menutup dada, dada saja, bagian perut tidak tertutup kerudung tidak masalah, pun punggung yang hanya tertutup pakaian, yang penting dada tertutuplah, meskipun kerudungnya dari bahan yang tipis seperti katun paris atau sifon

Sungguh, hanya itu saja pemahamanku terkait hijab syar’i itu. Sehingga sejak November 2011 sampai sekarang, aku selalu setia berhijab syar’i — versiku sendiri. Aku selalu mengenakan rok panjang atau gamis, atau daster. Kerudungku juga selalu menutup dada. Anti lilit atau dimodel macam-macam seperti hijabers masa kini. Paling banter gaya overslag Ratih Sang yang hanya sekali lilit ke atas kemudian bagian yang tidak dililit diberi bros/pin. Cukup menutup dada menurutku waktu itu. Ketika sedang insaf alias ingin berjilbab yang rada gede, aku hanya menumpukkan dua jilbab bahan paris menjadi satu jilbab, melipatnya dengan lipatan yang lebar, kemudian memakainya tanpa melilit, dibiarkan saja hingga sempurna menutup dada. Bagiku yang demikian itu, syar’i. Aku melenggang dengan penuh percaya diri dengan pakaian yang menurut pendapatku sudah syar’i. Rok panjang — entah bagaimanapun warna dan motifnya, kemeja lengan panjang — entah bagaimanapun model dan bahannya, gamis — entah bagaimanapun bahannya, kerudung dobel-dobel — entah bagaimanapun material dan warnanya.

Tahun demi tahun berganti, tidak terasa sudah hampir 3 tahun aku berpenampilan “syar’i.” Mendadak aku dilanda kebosanan melihat tumpukan baju di lemari. Baju sih banyak tapi yang dipakai itu lagi, itu lagi. Ditambah lagi aku adalah ibu menyusui sehingga semakin terbataslah pilihanku dalam berpakaian. Setiap membuka lemari pakaian yang penuh sesak itu aku selalu dan selalu ingin membeli baju baru. Tapi apa daya, baju jaman sekarang mahal-mahal. Apalagi kalau ingin mengikuti trend. Ditambah lagi sejak adanya Instagram, socmed andalan para pebisnis online, bikin semakin lapar mata. Incaranku adalah butik-butik untuk kalangan menengah ke atas yang tentu saja perlu merogoh banyak kocek bahkan jika hanya untuk membeli selembar pashminanya. Lalu gamis atau dressnya? Jangan ditanya. uang setengah juta saja hanya dapat sepotong. Aku makin meringis. Tiba-tiba terbersit ide. Kenapa aku tidak beli kain lalu menjahitkannya saja ya? Pasti jatuhnya lebih murah. Akupun semangat 45 mendatangi satu toko kain di kotaku. Semakin lapar matalah aku. Cerutti, jersey, chiffon, katun jepang, warna-warni cantiknya semua sungguh menarik minatku. Semua ingin kubeli. Padu padan kain ini dengan kain itu, ditambah aksesoris ini-itu, renda cantik di sana-sini, motif ini dan motif itu, sungguh membuat semangatku menyala. Apalagi jika membayangkan pujian dari teman-temanku kalau aku berhasil menjahitkan sebuah model baju saja. Bakal ditanya, “beli di mana? kok lucu?” lalu dengan bangga kujawab, “bikin sendiri” dan dengan jumawa membatin, limited edition, nggak bakal ada yang ngembarin.

Namun seketika itu juga aku langsung pusing. Pusing saja membayangkan, mau bikin model apa lagi ya? Sackdress dan cardigan, dress panjang, gamis dengan aksen begini begitu. Tambah asesoris apalagi ya? Pita cantik, renda, atau apa. Kerudungnya mau dibikin bagaimana? Gaya apalagi yang bisa menutup dada? Duh pusing. Mendadak di tengah kepenatan itu, aku teringat dengan blog-blog akhwat dan ummahat yang bagiku, keren abis. Mereka yang deskripsinya sudah kusebutkan di bagian awal tulisan ini. No need tutorial for hijab syar’i. Syar’i itu simpel, sederhana. Memudahkan yang sulit, bukan menyulitkan yang mudah. Syar’i itu tidak pernah berkorelasi dengan fashion. Syar’i itu tidak stylish. Kalau masih mau fashionable dan stylish, tidak usah berjilbab syar’i. Dan jangan pernah menggabungkan syar’i dengan stylish atau fashionable. Kalau masih pengen dibilang cantik, jangan berjilbab syar’i. Karena sejatinya hijab syar’i itu menutupi perhiasan, bukan menjadi perhiasan baru. Jangan pernah berharap untuk bisa tampil lebih cantik setelah berjilbab syar’i.

Lalu aku seperti ditampar.

Akupun membayangkan, betapa nyamannya berjilbab syar’i itu. Sudahlah simpel, tidak perlu waktu lama memadu-padankan ini itu. Satu setel jubah dan jilbab instan, siap dalam waktu kurang dari 5 menit. Betapa enaknya. Waktu tidak terbuang percuma untuk pilih-pilih pakaian, melipat-lipat jilbab, menusukkan jarum pentul dan peniti, mengepaskan jilbab ke wajah. Kalau mau shalat, tidak perlu pakai mukena karena jilbab syar’i sudah sangat layak dijadikan pakaian shalat. Betapa asyiknya jalan kemana-mana tas tidak berat karena harus bawa mukena. Betapa hemat waktunya setelah wudhu tidak kelamaan dandan membetulkan jilbab. Pergi kemana-mana tidak perlu pakai make-up, bahkan jika hanya seulas eyeliner di kelopak mata pun, di acara walimahan sekalipun. Bagaimanalah make-up dibolehkan sedangkan wajah saja dianjurkan untuk ditutup? Aiiih sepertinya seru sekali berjilbab yang benar-benar syar’i.

Tapiii, pakaian-pakaian cantik itu? Motif-motif itu, renda-renda itu, warna-warni itu, berarti harus say goodbye dong? Iya. Karena syar’i itu tidak boleh tabarruj. Syar’i bukan cuma bergamis, ber-rok panjang, tapi masih menonjolkan kecantikan yang kita punya. Syar’i juga bukan cuma berkerudung menutup dada. Syar’i itu tidak menonjolkan lekuk tubuh, termasuk lekuk tangan, sehingga jilbab yang ideal itu sepaha, yang menutup lekuk tangan (baru tau banget kalau ini mah). Syar’i itu tidak ketat sehingga material yang membentuk tubuh seperti spandex-jersey sebaiknya ditinggalkan. Pakaian syar’i itu tebal, sehingga katun paris, chiffon, cerutti jika tanpa inner tebal, coret saja. Syar’i itu sederhana, jadi sekarang PRnya, sederhanakan hijab saja dulu. Dan setelah punya keinginan berjilbab syar’i, alhamdulillah keinginan untuk membeli baju-baju cantik lucu itu pun musnah sudah.

Namun sayang kini keinginan itu kini berganti untuk membeli setelan hijab, yang untung saja harganya tidak semahal pakaian cantik lucu itu. Tapi tetap saja, belinya pakai uang juga kan? Zzzz beginilah wanita. Dimaklumi saja ya 🙂

Comments (2)