Posts Tagged Islam

ridho Allah dan ridho manusia

sebesar apapun keinginan duniawi tetaplah ia kecil

sesungguhnya keinginan yang paling agung adalah mencari ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala

Maka barangsiapa mencari ridho manusia

dengan kemurkaan Allah

niscaya Allah akan murka kepadanya

dan membuat manusia menjadi murka karenanya,

dan barangsiapa mencari keridhoan Allah

dengan kemurkaan manusia

niscaya Allah akan meridhoinya dan membuat manusia

menjadi ridho padanya.

(from salafiyyun’s post on Instagram 12122014)

Advertisements

Leave a Comment

Protected: I love jilbab

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.

journey to be syar’i

Akhirnya kutuliskan juga tulisan ini. Tentang perasaan yang kusimpan rapat-rapat dalam diam. Perasaan yang sulit kulukiskan, ya, aku mengaguminya. Awalnya sama sekali tak terfikirkan akan merasa begini. Aku ingin sekali seperti mereka.

Mereka yang menutupkan hijab rapat-rapat ke seluruh tubuh, bahkan juga ke wajah-wajah mereka. Mereka yang begitu terlindung, tersembunyi di istana ternyaman, rumah-rumah mereka. Mereka yang kesehariannya berjibaku di rumah bersama anak-anak, benar-benar menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Ya, mereka begitu spesial, tak tersentuh. Bagaikan mutiara cantik yang tersimpan rapat di dalam cangkangnya. Bagaikan logam mulia yang tersimpan rapat di kotak indahnya. Mereka yang, di jaman serba terbuka seperti saat ini, benar-benar seperti terasing, langka, sedikit. Berbeda, sehingga menjadi begitu istimewa.

Saat selfie dan hashtag ootd (outfit of the day) menjadi trend seiring menjamurnya social media, mereka memilih untuk tidak memajang foto diri, bahkan tidak pula berfoto dengan niqabnya. Saat orang rame-rame membeli tongsis untuk semakin mengekspresikan narsismenya, sama sekali tak terbersit dalam benak mereka untuk mengikutinya. Untuk apa pula ya. Saat orang berlomba-lomba untuk tampil cantik dengan gaya terkini, dengan make-up yang semakin mempermanis penampilan mereka, mereka semakin menyederhanakan hijabnya, tidak tergiur dengan trend masa kini.

Dulu aku berfikir, hijab syar’i itu

  1. tidak membentuk lekuk tubuh, yang mana sepemahamanku tidak membentuk lekuk tubuh itu sepanjang tidak memakai baju ketat alias ngepress body, memakai rok panjang atau gamis yang tidak membentuk lekuk kaki, sudah termasuk syar’i
  2. memakai kerudung yang menutup dada, dada saja, bagian perut tidak tertutup kerudung tidak masalah, pun punggung yang hanya tertutup pakaian, yang penting dada tertutuplah, meskipun kerudungnya dari bahan yang tipis seperti katun paris atau sifon

Sungguh, hanya itu saja pemahamanku terkait hijab syar’i itu. Sehingga sejak November 2011 sampai sekarang, aku selalu setia berhijab syar’i — versiku sendiri. Aku selalu mengenakan rok panjang atau gamis, atau daster. Kerudungku juga selalu menutup dada. Anti lilit atau dimodel macam-macam seperti hijabers masa kini. Paling banter gaya overslag Ratih Sang yang hanya sekali lilit ke atas kemudian bagian yang tidak dililit diberi bros/pin. Cukup menutup dada menurutku waktu itu. Ketika sedang insaf alias ingin berjilbab yang rada gede, aku hanya menumpukkan dua jilbab bahan paris menjadi satu jilbab, melipatnya dengan lipatan yang lebar, kemudian memakainya tanpa melilit, dibiarkan saja hingga sempurna menutup dada. Bagiku yang demikian itu, syar’i. Aku melenggang dengan penuh percaya diri dengan pakaian yang menurut pendapatku sudah syar’i. Rok panjang — entah bagaimanapun warna dan motifnya, kemeja lengan panjang — entah bagaimanapun model dan bahannya, gamis — entah bagaimanapun bahannya, kerudung dobel-dobel — entah bagaimanapun material dan warnanya.

Tahun demi tahun berganti, tidak terasa sudah hampir 3 tahun aku berpenampilan “syar’i.” Mendadak aku dilanda kebosanan melihat tumpukan baju di lemari. Baju sih banyak tapi yang dipakai itu lagi, itu lagi. Ditambah lagi aku adalah ibu menyusui sehingga semakin terbataslah pilihanku dalam berpakaian. Setiap membuka lemari pakaian yang penuh sesak itu aku selalu dan selalu ingin membeli baju baru. Tapi apa daya, baju jaman sekarang mahal-mahal. Apalagi kalau ingin mengikuti trend. Ditambah lagi sejak adanya Instagram, socmed andalan para pebisnis online, bikin semakin lapar mata. Incaranku adalah butik-butik untuk kalangan menengah ke atas yang tentu saja perlu merogoh banyak kocek bahkan jika hanya untuk membeli selembar pashminanya. Lalu gamis atau dressnya? Jangan ditanya. uang setengah juta saja hanya dapat sepotong. Aku makin meringis. Tiba-tiba terbersit ide. Kenapa aku tidak beli kain lalu menjahitkannya saja ya? Pasti jatuhnya lebih murah. Akupun semangat 45 mendatangi satu toko kain di kotaku. Semakin lapar matalah aku. Cerutti, jersey, chiffon, katun jepang, warna-warni cantiknya semua sungguh menarik minatku. Semua ingin kubeli. Padu padan kain ini dengan kain itu, ditambah aksesoris ini-itu, renda cantik di sana-sini, motif ini dan motif itu, sungguh membuat semangatku menyala. Apalagi jika membayangkan pujian dari teman-temanku kalau aku berhasil menjahitkan sebuah model baju saja. Bakal ditanya, “beli di mana? kok lucu?” lalu dengan bangga kujawab, “bikin sendiri” dan dengan jumawa membatin, limited edition, nggak bakal ada yang ngembarin.

Namun seketika itu juga aku langsung pusing. Pusing saja membayangkan, mau bikin model apa lagi ya? Sackdress dan cardigan, dress panjang, gamis dengan aksen begini begitu. Tambah asesoris apalagi ya? Pita cantik, renda, atau apa. Kerudungnya mau dibikin bagaimana? Gaya apalagi yang bisa menutup dada? Duh pusing. Mendadak di tengah kepenatan itu, aku teringat dengan blog-blog akhwat dan ummahat yang bagiku, keren abis. Mereka yang deskripsinya sudah kusebutkan di bagian awal tulisan ini. No need tutorial for hijab syar’i. Syar’i itu simpel, sederhana. Memudahkan yang sulit, bukan menyulitkan yang mudah. Syar’i itu tidak pernah berkorelasi dengan fashion. Syar’i itu tidak stylish. Kalau masih mau fashionable dan stylish, tidak usah berjilbab syar’i. Dan jangan pernah menggabungkan syar’i dengan stylish atau fashionable. Kalau masih pengen dibilang cantik, jangan berjilbab syar’i. Karena sejatinya hijab syar’i itu menutupi perhiasan, bukan menjadi perhiasan baru. Jangan pernah berharap untuk bisa tampil lebih cantik setelah berjilbab syar’i.

Lalu aku seperti ditampar.

Akupun membayangkan, betapa nyamannya berjilbab syar’i itu. Sudahlah simpel, tidak perlu waktu lama memadu-padankan ini itu. Satu setel jubah dan jilbab instan, siap dalam waktu kurang dari 5 menit. Betapa enaknya. Waktu tidak terbuang percuma untuk pilih-pilih pakaian, melipat-lipat jilbab, menusukkan jarum pentul dan peniti, mengepaskan jilbab ke wajah. Kalau mau shalat, tidak perlu pakai mukena karena jilbab syar’i sudah sangat layak dijadikan pakaian shalat. Betapa asyiknya jalan kemana-mana tas tidak berat karena harus bawa mukena. Betapa hemat waktunya setelah wudhu tidak kelamaan dandan membetulkan jilbab. Pergi kemana-mana tidak perlu pakai make-up, bahkan jika hanya seulas eyeliner di kelopak mata pun, di acara walimahan sekalipun. Bagaimanalah make-up dibolehkan sedangkan wajah saja dianjurkan untuk ditutup? Aiiih sepertinya seru sekali berjilbab yang benar-benar syar’i.

Tapiii, pakaian-pakaian cantik itu? Motif-motif itu, renda-renda itu, warna-warni itu, berarti harus say goodbye dong? Iya. Karena syar’i itu tidak boleh tabarruj. Syar’i bukan cuma bergamis, ber-rok panjang, tapi masih menonjolkan kecantikan yang kita punya. Syar’i juga bukan cuma berkerudung menutup dada. Syar’i itu tidak menonjolkan lekuk tubuh, termasuk lekuk tangan, sehingga jilbab yang ideal itu sepaha, yang menutup lekuk tangan (baru tau banget kalau ini mah). Syar’i itu tidak ketat sehingga material yang membentuk tubuh seperti spandex-jersey sebaiknya ditinggalkan. Pakaian syar’i itu tebal, sehingga katun paris, chiffon, cerutti jika tanpa inner tebal, coret saja. Syar’i itu sederhana, jadi sekarang PRnya, sederhanakan hijab saja dulu. Dan setelah punya keinginan berjilbab syar’i, alhamdulillah keinginan untuk membeli baju-baju cantik lucu itu pun musnah sudah.

Namun sayang kini keinginan itu kini berganti untuk membeli setelan hijab, yang untung saja harganya tidak semahal pakaian cantik lucu itu. Tapi tetap saja, belinya pakai uang juga kan? Zzzz beginilah wanita. Dimaklumi saja ya 🙂

Comments (2)

ini hijabku, mana hijabmu?

Sudah lama tidak posting tentang Islam, religion that I believe in. Terakhir posting kayaknya tentang hijab syar’i, tepat pada Ramadhan setahun yang lalu. Subhanallaah, sudah lama sekali ternyata ya. Dan kali ini hal yang mau saya posting juga agak nyerempet ke hijab-hijab gitu deh.

Jujurly (nyontek bahasanya Karel Sulthan Adnara, babyvis kece yang eksis di Facebook itu), saya sering labil perkara hijab syar’i ini. Sudah tahu dalil dan kewajiban mengenakannya, syarat-syarat pakaian yang dikategorikan syar’i untuk Muslimah, sudah beberapa kali menulis tentang hal tersebut entah itu di blog ataupun notes pribadi, tapi teteeep aja bandel belum mengenakannya perfectly. Oke, saya memang berhijab (berpakaian muslimah plus kerudung). Sejak akhir 2009 saya sudah mengenakan pakaian muslimah di manapun saya berada dan di depan orang-orang yang bukan mahram saya. Tapi sudahkah hijab saya memenuhi syarat untuk disebut pakaian muslimah? Sudahkah pakaian yang saya kenakan membuat saya lebih dicintai Allah karena telah memenuhi perintahNya? Sepertinya belum ya.

Jujur nih ya, saya bukan orang yang konsisten. Beberapa kali dalam beberapa kesempatan saya mengenakan pakaian yang terhitung syar’i. Beberapa kali saya melebarkan khimar yang saya pakai, mengulurkannya tanpa melilitkan seperti yang biasa saya lakukan. Adik saya aja sampai apal dengan kebiasaan saya yang nggak konsisten ini. Terkadang dia mengolok-olok, dan parahnya, saya ikut terpancing sama olokannya lho. Dan benar saja, setelah itu saya tak lagi berkhimar lebar. Kadang “kegoncangan” itu juga saya alami saat mematut diri di cermin dengan khimar lebar, mendadak ada bisikan yang saya yakini berasal dari syaithan sebagai berikut: “tuh, tua banget mukamu pakai kerudung begituan. nggak ada cantik-cantiknya. malu-maluin ajee” atau “yailah Ki, kelakuan masih minus, shalat masih buru-buru, nggak selalu di awal waktu, tilawah juga bolong-bolong aja masih pede ya makai kerudung gede begini, nggak malu gitu?” atau “aktivis dakwah bukan, ikut liqo’ juga belum, dateng kajian hampir nggak pernah, masa mau pake hijab syar’i, kayak udah pengalaman gitu berIslamnya” atau “nggak kepengen keliatan cantik kayak si X, gaya kerudungnya itu loh, oke banget, rapi, manis, selalu update, nggak kayak kamu yang ngebosenin” dan seketika itu pula luruhlah niat saya untuk berhijab sesuai syariat. Ampuni saya Allah.

Saya labil banget urusan ini. Baru-baru ini saya order gamis plus khimar syar’i dari satu teman SMA. Saya coba di cermin. Cantik, seperti bukan saya. Tapi apa saya pantas mengenakan pakaian seperti itu dalam keseharian? Sementara hari-hari masih saya habiskan di kantor, meninggalkan anak satu-satunya dengan babysitter, ibu macam apa itu (tuh kan galau lagi!) dan saya bekerja sebuah instansi pemerintahan yang notabene nggak bersih-bersih amat (banyak uang syubhat gitu). Udah gitu di kantor saya kebanyakan browsing plus ngeblog kayak gini kalau lagi nggak ada kerjaan (makin nggak jelas dan menunjukkan bahwa I’m not a professional Muslimah). Ah sudahlah ya, kebanyakan galau gini malah bikin apa yang baik untuk dikerjakan (baca: berhijab lebih baik) jadi gagal lagi. Berubah ke arah yang lebih baik itu harus. Meski sedikit demi sedikit. Istiqamah, itu sulitnya. Bantu saya ya, Allah.

Dan kali ini saya masih mengenakan pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Kemeja, rok, kerudung paris yang didobel dengan kerudung paris dan “agak” diulurkan menutup dada, kaos kaki yang agak menerawang. Apa yang kurang dari penampilan saya menurut syariat Islam? Mungkin kerudung dan kaos kakinya ya. Kerudung harusnya lebih dilebarkan lagi hingga menutup pantat dan menggunakan bahan yang lebih tebal dibanding paris meskipun sudah didobel. Kaos kaki juga seharusnya dengan bahan yang lebih tebal sehingga tidak menerawang. Yak, harus belajar lebih baik lagi. Beramal lebih baik lagi. Dan… jangan cuma di bulan Ramadhan!

note: saya juga sering males pakai kaos kaki kalau perginya deket rumah, alias cuma ngambil jemuran, beli sesuatu di warung deket rumah, nemuin tamu yang datang ke rumah, atau pergi di malam hari dalam acara yang nggak direncanakan (X: mendadak suami ngajak makan di warung deket rumah atau beli apa gitu di malam hari). saya juga kadang sembarangan aja ambil kerudung instan, kadang itu nggak terlalu lebar walaupun masih menutup dada sih karena sebagian besar kerudung yang saya punya emang menutup dada. saya juga kadang ambil cardigan yang lengannya cuma 7/8 gitu tanpa saya dobelin lagi dengan deker pendek agar menutup lengan perfectly, just in case of ngangkat jemuran, beli barang di warung deket rumah. saya selalu mikir ‘ah, gak papa, cuma deket ini. lagian yang nggak ketutup cuma dikit ini. udah malem juga nggak ada yang ngeliat.’ padahal Allah Melihat. Allah Tahu. dan sekecil apapun bagian tubuh yang nggak tertutup hijab bisa jadi bahan bakar api neraka. ampun dah, serem amat. na’udzu billah. semoga yang buruk-buruk itu nggak terulang. aamiin.

 

Leave a Comment