what are we looking for?

Sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor, biar lebih semangat saya dengarkan rekaman kajian ustadz Syafiq Riza Basalamah beberapa waktu lalu yang berjudul “Berebut Seekor Bangkai.” Awalnya saya fikir kajian itu akan membahas tentang ghibah (hihi ngasal banget mentang-mentang bawa “bangkai”) ternyata tentang berlomba-lomba masalah dunia yang pada hakikatnya sama hinanya dengan bangkai.

Subhanallaah, ternyata dunia, yang kita perjuangkan mati-matian, yang kita kejar habis-habisan, dimana kita kerahkan segala daya upaya untuk meraihnya, hakikatnya hanya seperti bangkai. Betapa hinanya. Dan betapa ruginya kita yang tertipu. Lalai dengan urusan akhirat demi mengejar dunia yang sama rendahnya dengan bangkai.

Dunia itu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat. Kenikmatannya. Pun juga siksanya. Jadi, kalau kita merasa mulia dan dimuliakan Allaah tersebab banyaknya harta yang dikaruniakanNya pada kita, atau anak-anak yang semuanya “jadi orang” di dunia ini, jangan bangga dulu. Boleh jadi itu ujian. Begitupun jika kita merasa dihinakan karena kekurangan harta, belum diberi keturunan, dsb itupun juga ujian. Bisa jadi di akhirat nanti yang kita dapatkan ternyata berkebalikan dengan yang kita dapatkan di dunia.

Kalau sudah begini, fikiran kembali melayang pada anak di rumah. Untuk apa saya berpayah-payah mencari kemuliaan di dunia sementara amanah yang menjamin kemuliaan di akhirat malah saya tinggalkan. Ibu, adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Bukan sekolah mahal bertaraf internasional. Ibu, adalah pemberi kasih sayang terbaik bagi anak-anaknya. Bukan babysitter profesional yang dibayar mahal. Apalagi cuma pembantu yang dicari asal-asalan. Dan saya jauh lebih ingin anak saya menjadi anak shalihah yang do’anya menjadi amal jariyah bagi kami orang tuanya.

Saya yakin, jika pada waktu kecil mereka dididik dengan pendidikan terbaik oleh ibunya, dialiri kasih sayang tanpa tepi yang bukan sekedar dibanjiri fasilitas mewah, mereka akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Membanggakan disini bukan cuma sebatas punya pekerjaan wah, penghasilan wow, pangkat jabatan top, tapi membanggakan dalam akhlaknya kepada Allaah, kepada Rasulullaah, kepada bapak ibunya, kepada kerabat dan sahabatnya, serta kepada manusia-manusia lain di sekitarnya.

Dunia itu cuma sementara. Hilang sudah semua nikmat jika Allaah telah takdirkan waktu kita habis untuk menikmatinya. Harta juga tidak dibawa mati. Hanya amal shalih sahabat sejati kita di alam barzakh sana. Jadi buat apalagi sih saya bersusah payah mencari dunia? Menghambakan diri pada pundi-pundi rupiah yang katanya merupakan alat utama pemuas kebutuhan anak. Lupa bahwa tugas utama wanita adalah mendidik dan membesarkan anak-anaknya menjadi generasi yang mengagungkan Rabbnya. Mengajari mereka aqidah, akhlak, iman, Islam, Al Qur’an dan sunnah yang dengan itu semua insya Allaah kita akan selamat dunia akhirat. Untuk apa hidup bergelimang harta jika setelah kita meninggal, anak-anak bukannya mendo’akan kita melainkan berebut warisan? Untuk apa selagi muda kita bersibuk-sibuk meninggalkan anak, menitip anak pada babysitter, kemudian setelah kita tua dan menjadi jompo mereka membalas kelakuan kita dengan menitipkan kita di panti jompo. Aduhai menyedihkannya. Sudahlah di dunia hidup malang, di akhirat lebih malang lagi.

Untuk itu, saya ingin berpesan. Wahai para suami yang masih tega membiarkan istrinya bekerja demi membantunya menyambung hidup, kumohon tawakkal sajalah. Yakinlah bahwa rezeki itu sudah ada jatahnya masing-masing. Dan pintu rezekimu bisa jadi terbuka lebih lebar jika engkau ikhlaskan istrimu bekerja di rumah, melayani kebutuhanmu dan anak-anakmu. Kumohon bertakwalah kepada Allaah, takutlah engkau dengan siksaNya, pertanyaanNya tentang pertanggungjawabanmu atas istri dan anak-anakmu. Milikilah rasa cemburu hingga kau tak membiarkan istrimu keluar rumah dan bercampur baur dengan lelaki hanya demi membantumu menambah rupiah, untuk duniamu. Kumohon para suami yang masih menginginkan ridho Allaah, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat yang keras lagi kasar. Engkau adalah qawwam keluarga, jagalah kewibawaanmu dengan keberanianmu bertanggung jawab atas mereka, dalam hal apapun.

Wahai para istri yang masih ingin mencari kemuliaan dunia dengan memiliki penghasilan sendiri, beralasan tidak ingin bergantung pada suami, menjunjung tinggi emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender. Kumohon kembalilah pada fitrah penciptaanmu. Allaah menjadikanmu sebagai penanggung jawab di rumah suamimu. Manajer rumah tangga. Bukan manajer perusahaan bonafid. Patuhilah keinginan suamimu yang ingin dilayani sepenuhnya olehmu, bukan oleh pembantu. Ingatlah anak-anakmu. Investasi terbesarmu. relakah jika mereka tumbuh dan berkembang tanpa penjagaanmu? Anak-anak lebih butuh kasih sayang dan belaianmu. Perhatian dan sambutanmu saat mereka pulang sekolah. Bukan mainan mahal, baju-baju branded yang kau belikan dari gajimu. Ingat, anak-anak lebih membutuhkan ibunya. Bukan uang ibunya.

Jadi, apa lagi yang kita cari? Dunia ini cuma permainan. Jangan kita gadaikan akhirat demi dunia yang hanya sehina bangkai.

Leave a Comment

harapan vs kenyataan

Dalam kaitannya dengan pembagian peran antara suami dan istri, saya cenderung bahkan sangat setuju dengan pandangan konvensional di mana suami bertugas mencari nafkah dan istri mengurus rumah serta anak-anak. Benar-benar potret ideal sebuah keluarga. Terkait isu emansipasi wanita, kesetaraan gender dan feminisme yang marak didengungkan belakangan ini jujur saya tidak terlalu tertarik. Toh sejak semula cita-cita saya memang tidak pernah menjadi wanita karir. Kalaupun terpaksa bekerja untuk membantu suami mencari nafkah, saya juga tidak berencana untuk memprioritaskan pekerjaan di atas urusan keluarga dan anak-anak saya. Jangan harap saya akan mengambil lembur, atau mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Boro-boro yang demikian, pekerjaan domestik di rumah seperti nyetrika pakaian akan saya tunda sampai anak tidur.

Kalau sekarang ini berkembang isu-isu emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender yang didukung pula oleh wanita-wanitanya, para wanita merasa tidak adil jika dipandang sebelah mata, tidak dianggap karena tidak memiliki pekerjaan dan karir yang membanggakan, aduh saya mikirnya kok kasihan sekali ya. Sementara ibu-ibu yang bekerja seperti saya begitu mendambakan indahnya kebersamaan dengan anak 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Banyak yang bilang hidup ini sawang-sinawang. Yang WM ingin menjadi SaHM, dan yang SaHM begitu iri dengan para WM yang dipandang lebih mandiri dan “terlihat.”

Nggak saya pungkiri, jika akhirnya saya berhasil menjadi SaHM (insya Allaah aamiin) pasti akan capeeeeek sekali karena kerjaan rumah itu nggak ada habisnya. Seakan nggak bisa istirahat. Kalau masih belum punya anak mungkin tidak terlalu berasa ya, karena pasti akan banyak me-time dan nyaris tak ada “gangguan” atau “tuntutan” ini-itu. Lain kalau sudah punya anak. Ketika anak tidur, justru ibu harus kerja lebih keras karena saat anak bangun biasanya tidak bisa ditinggal (kalau anaknya masih kecil hihi). Selain itu menjadi SaHM juga perlu sumbu sabar yang lebih panjang, sikap santai dan tidak terlalu perfeksionis. Kalau kitanya terlalu perfeksionis pasti bawaannya nggak mood terus ngelihat apa-apa yang sudah direncanakan ternyata berjalan nggak sesuai rencana. Misal sudah capek ngepel ruang tamu eh ternyata si adek numpahin sirup. Buat orang yang nggak sabaran dan kurang santai kayak saya, hal kayak begitu pasti bikin mencak-mencak. Contoh lain, kalau waktu suami sudah mau pulang kerja tapi rumah belum beres, cucian dan setrikaan numpuk, masakan belum tersedia, anak belum dimandikan, wah wah kalau ibunya super panik kayak saya, alamat kacau. Ini yang harus diantisipasi dan dicari solusinya sebelum benar-benar jadi SaHM.

Jadi SaHM juga pasti ada titik jenuhnya. Ketika pakaian andalan kita sehari-hari hanya daster. Itupun kucel. Basah sana-sini kecipratan air pas mandiin anak. Bau masakan. Ketumpahan makanan anak. Rambut berantakan, keringetan. Liat cermin aja pasti males hihi. Kalau lagi bosen dan jenuh melanda begitu nanti pasti ingat betapa enaknya ketika masih jadi orang kantoran. Bisa jalan-jalan, punya uang sendiri, pakaian selalu rapi. Eits tapi tunggu dulu. Meskipun jadi SaHM itu beraaat, suliiit, lelaaah, pahalanya masya Allaah. Ladang jihadnya perempuan yang sudah menikah. Bahkan punya khadimat alias ART pun nggak terlalu dianjurkan lho. Ya, itu buat ibu-ibu yang ingin meraih kesempurnaan sebagai ibu rumah tangga. Pernah dengar kisah Fathimah radhiyallaahu ‘anha putri Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang meminta ayahnya mencarikan khadimat untuknya karena dirinya merasa sangat kepayahan mengerjakan pekerjaan rumah? Rasulullaah pun tak menuruti keinginan putrinya tersebut. Beliau menganjurkan Fathimah untuk membaca tasbih, tahmid dan takbir yang jauh lebih baik dari keberadaan khadimat. Masya Allaah, begitu mulia ternyata ya ibu rumah tangga yang bersungguh-sungguh itu?

Karenanya saya ingiiin sekali bisa meraih keutamaan-keutamaan itu. Ingin sungguh-sungguh menjadi ibu yang merupakan pendidik pertama bagi anak, mengurus mereka secara langsung, bukan dengan perantara babysitter profesional sekalipun, menyusui langsung mereka, tidak perlu memerah asip, menjadi saksi pertama perkembangan mereka dan membersamai tumbuh kembang mereka setiap saat. Saya juga ingin sekali berkhidmat pada suami. Menuruti perintah suami selama hal itu tidak bertentangan dengan perintah Allaah. Dan tentu saja, tetap bekerja sementara anak dan rumah yang menjadi tanggung jawab utama saya malah didelegasikan kepada babysitter atau ART itu sudah menyalahi perintah Allaah. Mengingkari fitrah wanita. Meskipun alasannya adalah membantu suami.

Semoga Allaah segera memberi kami jalan keluar dari kerumitan ini dan semoga kami bisa menjalankan peran-peran kami secara profesional sesuai fitrah penciptaan masing-masing. Semoga setelah berhasil menjadi ibu rumah tangga saya bisa menjadi ibu yang sabar, tenang, tidak gampang panik atau kemrungsung, selalu memprioritaskan suami dan anak, selalu ceria, merasa cukup, dan tentu saja yang PR banget lemah lembut. Wallaahul musta’an.

Leave a Comment

ketika si kecil mulai GTM (part 2)

Sudah hampir sebulan gadis kecilku nggak mau makan dengan lahap. Sejak mengasup makanan keluarga yang lebih bercita rasa daripada menu MPASInya entah kenapa Ruma jadi sering mengalami GTM. Padahal aku sudah membayangkan akan mengalami saat-saat indah ketika Ruma mulai makan seperti orang dewasa makan. Nggak perlu menyiapkan menu dan peralatan khusus, nggak perlu mensterilkan peralatan makannya, nggak perlu melarangnya saat ia hendak mencicipi makanan yang kumakan, ternyata. Menyediakan makanan untuk batita ini menguji kesabaran juga lho.

Sejak umurnya menginjak 12 bulan alias lulus mpasi non gulgar aku langsung membuatkan makanan keluarga untuknya. Menu pertama untuk Ruma adalah sayur termudah yang nggak perlu buku resep untuk membuatnya: sop. Reaksinya lumayan. Dia mau makan beberapa suap dan dikunyah. Tidak diemut. Yes. Berhasil. Bebas GTM nih. Tapi ternyata cuma sehari aja doyan makannya. Hari-hari berikutnya dia mau mangap tapi itu makanan ngendon aja di mulutnya nggak dikunyah-kunyah. Setelah bosan, Ruma lalu melepeh makanannya. Apapun itu. Lodeh, sayur asem, asem-asem, semua berakhir di perut ayam (habis dilepeh, dibuang terus dimakan ayam). Tapi giliran makan cemilan terutama yang manis-manis, juara banget. Asli bingunglah aku.

Aku lalu masak makanan-makanan yang sekiranya bisa memancing nafsu makannya lagi. Kentang panggang, perkedel, ati ayam goreng, rice pancake, tapi hasilnya nihil. Diemut lalu dilepeh. Akhirnya aku turunin tekstur makanannya kembali ke nasi tim. Awalnya sih suka, belakangan bosen terus jadi GTM lagi yang sampe bener-bener ogah mangap. Duh kalau caranya gini gimana anakku bisa dapat gizi dari makanan?

Aku beneran bingung sampai akhirnya ngebiarin Mbak yang momong Ruma ngambil alih dan bikin keputusan melakukan “cara terlarang” dalam menyuapi anak. Sambil gendong jalan-jalan plus sedikit pemaksaan. Nggak tega sih sebenernya denger dan liat Ruma ngrengek (kadang sampai nangis) waktu makan. Tapi aku berdalih, ah yang penting kemasukan makanan, gizi dapet, bab lancar. Jadi urusan nyuapin Ruma aku kadang udah males dan lepas tangan biar jadi urusannya si Mbak. Ibu macem apa ya aku ini.

Jujur aku sempet kesel sama si Mbak gara-gara dia bilang, “Ruma kalau ada Mbak Kiki jadi nggak mau makan, maunya nenen terus.” Hei, sotoy banget. Emang aku ibu macem apa yang karena keberadaanku anakku sendiri nggak mau makan (emang beneran ada ya rasa cemburu ibu terhadap BS yang ngasuh anaknya. Huh aku benciii. Seandainya aku bisa ngurus anak dengan tanganku sendiri. Udahlah abaikan). Galau banget aku dikatain begitu. Ditambah lagi, “Nggak papa Mbak. Cuma seminggu sekali aja kok nggak doyan makannya. Kalau Mbak Kiki kerja dia mau makan kok sama aku” Hei, seolah-olah dia yang paling ahli dalam ngurus Ruma ya. Dan hei, aku lihat sendiri ternyata apa yang dimaksud “mau makan.” Mau makan itu mulutnya mau mangap dan piring kosong. Nggak peduli gimana caranya. Mau itu tangan Ruma ditepis terus ditahan pas dia berontak ketika mulutnya dimasuki makanan, mau itu dialihkan perhatiannya dengan bilang, “ayam, ayam, kucing, kucing, cicak, cicak,” yang penting Ruma mangap, ngunyah dan makanan abis. Jejel-jejelin aja walaupun sebenernya itu bocah udah nangis nggak karuan saking stress dengan acara makannya.

Lalu aku berpikir Ruma nggak boleh selamanya makan dengan cara dipaksa. Kasihan. Masa dia seumur-umur mengalami cara makan yang kurang menyenangkan dan penuh tekanan kayak gitu. Curhatlah aku sama salah satu teman kuliah, dia menyarankan makan jangan sambil digendong. Atau kalau digendong jangan sambil jalan-jalan. Atau biarkan dia bereksplorasi selama acara makannya. Jangan dibatasi dan dilarang ini-itu, apalagi tangannya ditahan-tahan segala nyaris dipiting. Huhu kejam. Anak itu makhluk sensitif dan pintar lho. Dia tahu dan bisa memutuskan mau atau nggak mau melakukan sesuatu, jangan dipaksa. Saat makan itu baiknya anak diajak terlibat. Emang sih akan lebih banyak mess dan kekotoran, tapi itu PR besar buat ibu. Kalau siap punya anak ya harus siap repot dan capek. Dan kalau nggak berani kotor nanti anak jadi nggak bisa belajar. Hmm bener juga.

Ini juga senada dengan jawaban ibu-ibu di AIMI ketika aku melontarkan pertanyaan tentang gimana caranya menciptakan suasana yang menyenangkan saat anak makan. Kalau anaknya udah nggak mau disuapin, biarkan aja dia makan sendiri. Emang sih lebih kotor, lebih berantakan. Tapi hasilnya anak jadi lebih tenang dan gembira. Dan efek gembira itu bikin dia mau makan sendiri dengan suka rela. Wah harus dicoba nih. Aku juga udah nggak tega ngebiarin Ruma makan abis banyak tapi sambil nangis gitu.

Pagi tadi aku memasakkan Ruma semur telur dadar dengan terong dan tomat. Bismillaah. Aku mengajaknya makan dengan cara yang tidak seperti biasa. Di tengah rengekan minta nenennya abis mandi, aku menawarinya makan. Kusiapkan nasi dan sayurnya di tempat makan terpisah. Kuberi Ruma sendok dan garpu biar dia pegang sendiri. Awalnya dia cuma ngublek-ublek kuah sampai berceceran kemana-mana. Ah biar sajalah, nanti juga bisa dibersihkan. Kemudian ketika aku mencari-cari garpu tambahan, kulihat Ruma sudah mengambil terong dengan tangannya lalu berkata, “aaaaam” kemudian memasukkan terong itu ke mulut. Berikutnya telur, lalu nasi. Memang berantakan dan berceceran di sana-sini, tapi nggak apa-apalah, yang penting dia happy. Memang nggak habis bersih cling, masuk juga cuma beberapa suap. Tapi nggak ada adegan ngerengek dan menangis sama sekali. Alhamdulillaah. Lain kali harus jadi ibu yang lebih sabar lagi nih. Semoga bisa. Aamiin.

Dan tentunya, keinginan yang paling mendasar. Semoga bisa segera jadi ibu yang bisa mengurus anak dengan tangan sendiri. Tanpa menitipkannya pada babysitter, kakek-nenek, daycare, atau apalah. Anak itu sendiri sudahlah merupakan titipan. Masa masih mau dititipkan lagi? Astaghfirullaah. Semoga ada yang segera diberi kesadaran dan tergerak untuk mengubah kehendaknya. Aamiin.

Comments (3)

Protected: sebesar-besar keinginan

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.

engkau adalah bilangan hari-hari (2)

Menyambung tentang post nggak penting sebelumnya tentang daily routines, daily activities dimana saya akan terus menulis untuk bersyukur dan meminimalkan keluhan, ini nih lanjutannya. Semoga bacanya nggak bosen. Semoga nulisnya nggak bosen juga hihi.

Hari ini saya bangun pagi sekali. Jam 3 kurang sudah terjaga. Maklum sebelum jam 8 malem sudah ngelonin Ruma trus lanjut bobo. Hidup yang enak banget ya, sekaligus teratur hihi. Kalau bangun jam 3an gitu harusnya saya bisa shalat malam dengan jumlah rakaat yang lebih banyak dari biasanya. Tapi tadi pagi rupanya ada setan yang telah menyesatkan saya sehingga saya cuma menambah dua rakaat dari rakaat terminimal. Itupun pake acara kepotong-potong. Astaghfirullaah. Kepotongnya itu gegara saya lihat Rumaysa’s Journey, scrapbook spesial buat my beloved Ruma yang teronggok di rak buku, nggak selesai-selesai, belum dikasih hiasan-hiasan plus belum lengkap foto-fotonya mulai dari usia 6 sampe 13 bulan usianya kini. Hedeh. Langsung saya abis sholat 2 rakaat, bergegas buka laptop Pio. Maksud hati sih pengen mindah-mindahin foto-foto dari laptop ke flashdisk, biar dicetakin gitu. Eh ternyata itu flashdisk nggak muat. Maklum cuma 1 giga (hare gene). Yaudahlah, mungkin emang belum diridhoi Allaah nyelesaiin scrapbook. Lagian aneh juga ih saya, waktunya orang tahajudan juga.

Terus saya lanjut shalat lagi, dengan rakaat yang seadanya lagi karena fikiran udah nggak fokus gegara nginget tumpukan setrikaan. Beneran emak rempong deh guweh. Astaghfirullaah. Tu setan pasti seneng banget usahanya berhasil lagi. Akhirnya dengan pertolongan Allaah saya berhasil nyelesaiin setrikaan 2 hari dalam waktu setengah jam. Gile cepet bener ya. Maklum ngegosoknya nggak pakai Rapika alias nggak pakai acara semprot-semprot yang bikin lama. Tapi astaghfirullaah lagi, karena keasikan nyetrika jadi nggak sempat shalat qabliyah subuh yang lebih utama dari dunia dan seisinya. Kenapa nggak sempat shalat qabliyah? Soalnya tadi abis nyetrika Ruma nenen sampai jam 4.15 dimana itu sudah iqamah, dan di Jogja ini sekarang subuhnya jam 4 pagi. Pagi banget yak. Yasudah deh, semoga besok nggak terulang lagi yang kayak gitu-gitu. Harusnya hak Allaah itu lebih diprioritaskan ketimbang urusan kayak scrapbook n nyetrika.

Lanjut masak deh. Alhamdulillaah hari ini berhasil masak 2 jenis makanan yakni oseng-oseng usus ayam dan soup brokoli telur puyuh. Duh makasih banget deh sama buku resep ungu andalan. Kecil-kecil gitu manfaatnya banyak banget. Bagi saya, Pio makannya nambah itu prestasi. Secara beliau itu sense of taste-nya lumayan tinggi. Tapi tadi beneran enak apa cuma gara-gara laper aja ya beliau? Hihi. Hmmm sebenernya masak tadi juga banyak campur tangan Mbak Atun yang bantuin motongin usus (saya kan gelian) dan masak di kompor. Soalnya abis saya beres motong-moton n ngeracik bumbu, si batita imut itu bangun. Dan saya nggak mau dong ngebiarin si Ruma bangun sementara saya malah sibuk ngerjain ini-itu. Akhirnya pindah tugaslah Mbak Atun jadi bagian masak setelah sebelumnya sibuk nyapu ngepel.

Singkat kata, abis semua beres,Yangkung datang dan bawa banyak makanan. Masya Allaah, kedua orang tua saya ini emang baiknya tiada dua deh. Udah mandiri juga ini anak mantu, masih aja dibawain macem-macem hampir tiap hari. Padahal rumah beliau-beliau itu jauh dari kontrakan. Ngerepotin banget pokoknya. Emang bener ya kalau kasih sayang orang tua itu sepanjang jalan, sementara kasih anak cuma sepanjang galah. Langsung deh beliau ngajak jalan-jalan Ruma sebentar yang mana waktunya bisa saya manfaatkan untuk siap-siap buat berangkat kantor.

Niatnya tadi saya mau ngajak Ruma ngeng-ngeng alias muter-muter naik motor kayak biasanya, tapi si imut malah bobo abis nenen. Sejujurnya saya lebih suka Ruma bobo dalam keadaan saya tinggal. Udah gitu dia bobonya posisi nenen lagi. Seneng. Ngerasa dekeeeeet banget sama Ruma. Alhamdulillaah banget Allaah mensyariatkan ibu untuk menyusui bayinya ya. Karena nggak ada yang bisa ngalahin bonding ibu menyusui dengan bayinya. Semoga sampai kapanpun Ruma tetap dekat dengan saya. Yaudah deh, abis Ruma beres nenen which is jam 8 pagi saya capcus berangkat kantor dan ternyata telat. Yaudah deh nggak papa nggak tiap hari juga.

Hmmm segini dulu aja yaaa ceritanya. Semoga jadi hari yang berkah. Barakallaahu fiikum.

Leave a Comment

penilaian manusia

Astaghfirullaah. Tidak menyangka saja kalau akhirnya akan begini. Aku fikir penilaian itu, ya sudahlah. Sekedar mengisi blangko anonim berisi nama-nama pegawai kantorku berikut kolom-kolom berlabel Disiplin, Komitmen, Kerjasama, Integritas, Orientasi Pelayanan, dsb yang aku sendiri nggak apal gimana persisnya. Kutulislah angka-angka yang berdasar analisis pribadiku. Mulai dari atasan langsungku, teman-teman sebelah-sebelah dan depan meja kerja, satu seksi, kemudian seluruh pegawai termasuk kepala kantornya. Aku mengisinya ya mengisi saja. Yang kebetulan aku pernah bermualamah dengannya dalam urusan kantor dan dalam pandanganku baik, kuisi angka baik, sementara yang biasa-biasa saja kutulis biasa. dan yang tidak pernah berurusan kutulis rata-rata lah ya, sama rata semua pokoknya. Dan tak lupa aku menilai rendah diriku sendiri, terutama bab Disiplin-nya. Namanya juga penilaian terhadap manusia, sulitlah lepas dari unsur subjektif.

Aku yang sering mendapat teguran dari atasan langsungku terkait kedisiplinanku, menilai atlasku itu dengan penilaian nggak terlalu tinggi yang bagiku nggak rendah-rendah banget juga. Ya gimana, entah kenapa dulu aku menulis seperti itu dan aku nggak menyangka aja kalau ternyata dari penilaianku, beliau itu yang kunilai paling rendah dari semua eselon IV. Astaghfirullaah. Bagaimanalah ini.

Jujur aku takut karena sikapku itu beliau jadi agak menjaga jarak denganku. Tidak taulah. Sejujurnya aku samaaaa sekali tidak berniat menjelek-jelekkan beliau. Namanya juga disuruh mengisi dengan penilaian yang sejujur-jujurnya, kuisilah jujur. Tapi kok begini akhirnya? Beliau di depan umum bilang begini, “kowe nilai aku jelek to.” Duh kalau tau akhirnya bakal begitu lebih baik aku mengisi dengan asal-asalan saja ya. Sama semua seluruh pegawai semua kriteria penilaiannya. 85 semua gitu. Aman.

Ah bagaimana ya? Haruskah aku minta maaf? Tapi sumpah aku nggak ada niat jelek-jelekin. Duh aneh-aneh aja kebijakan di kantorku ini. Nyuruh ngisi begituan dengan jujur, begitu diisi jujur (dan nggak sesuai dengan harapan), langsunglah dicari-cari siapa penulisnya, diapal-apalin tulisan penulisnya, ditanyakan kesana-sini, begitu ketahuan, langsung dibicarakan ke yang bersangkutan plus diomongin juga ke orang lain, grenang-greneng nggak jelas. Ini kan namanya nggak fair. Kalau nggak boleh jujur, nggak usah dicarilah itu siapa-siapa saja yang menilai. Introspeksi diri saja. Oh aku begini to menurut si A, si B, si C. Lalu perbaikan pun dimulai.

Ah ya susah kalau di dunia kerja ghibah alias nggosip alias ngrasani alias ngomongin kejelekan orang lain masih jadi budaya.

Semoga selalu dijauhkan dari ghibah dan namimah ya Allaah. Aamiin.

Leave a Comment

engkau adalah bilangan-bilangan hari

Dari judulnya kayaknya resmi banget ya. Agak merinding juga sebenarnya, mengingat saya mencomotnya dari salah satu video essay inspiratif Yufid TV dengan judul yang sama. Tapi isi posting ini sama sekali nggak menyeramkan kok. Jadi begini, dalam rangka mengupayakan untuk terus bersyukur atas segala nikmat Allaah yang telah dianugerahkanNya pada saya dan keluarga, saya berniat untuk terus menulis. Menulis apaaaa saja yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan saya. Entah itu kejadian penting, nggak terlalu penting, berkesan, biasa aja, lucu, seneng, sedih (tentunya kalau sedih saya protect dengan password ah, ga enak kayaknya mengumbar kesedihan, jadinya malah ga bersyukur kan). Lagipula akhir-akhir ini saya kebanyakan ngeluh, ngedumel dan marah-marah (tentunya yang jadi korban utama adalah Pionya Ruma, hihi maap jangan dicontoh lah) jadi untuk meminimalkan energi negatif saya mau nulis terus saja di blog yang lama tak tersentuh ini. Udah ah, panjang amat intronya yak.

Alhamdulillaah pagi ini masih diberi kehidupan dan kesehatan sehingga bisa beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi juga nggak telat-telat amat, masih bisalah tahajudan dengan jumlah rakaat terminimal, hihi. Masih dikasih kesempatan sholat qabliyah subuh yang hakikatnya lebih baik dari dunia dan seisinya, insya Allaah aamiin. Pagi ini juga nggak hectic-hectic amat, dalam artian nggak terlalu keburu waktu banget gitu loh. Ruma kehandle dengan baik, tapi masiiih aja nggak bisa nyuapin dia dengan lahap, pasti pakai acara nangis n ngerengek-ngerengek, kalau kayak gitu saya langsung nyerah zzzzzzz. Padahal masakan saya sebenernya lumayan lho, hihi kata siapa nih. Pagi tadi saya masak ati ayam n terong bumbu kecap yang saya modif jadi nggak terlalu pedas. Maklum karena sekaligus masakin buat batita imut saya yang masih berusia 13 bulan. Tapi kenapa si Ruma masih nggak terlalu lahap ya? Semoga ke depannya, kalau saya sudah berhasil jadi real mom buat dia, dalam artian fulltime mom yang ngejaga dia 24 jam sehari dan 7 hari sepekan, alias resign dari pekerjaan ini Ruma bisa makan lahap sama saya. Aamiin.

Pagi tadi juga ibu saya datang ke rumah dan seperti biasa bawa banyak sekali makanan di antaranya cemilan-cemilan plus lauk untuk makan siang. Alhamdulillaah jadi tambah ngirit, nggak usah beli makan siang lagi. Ibu saya ni emang juara banget dalam kasih sayang dengan putri-putrinya. Baik banget deh pokoknya. Pagi-pagi udah dateng, padahal rumah beliau cukup jauh, dan selalu bawa macem-macem. Huhu anak nggak tau diri deh pokoknya saya ini. Semoga Allah membalas kebaikan beliau dengan balasan yang jauh lebih baik aamiin.

Alhamdulillaah juga hari ini saya ke kantornya nggak telat. 7:54 udah absen fingerprint aja. Itupun sempat muterin Ruma n Mbak Atun naik motor sampai pohon beringin which is lumayan jauh dari kontrakan. Batita imut saya kini kalau nggak diputerin agak-agak klayu nggak mau ditinggal gitu, jadi daripada pagi-pagi udah bermellow-mellow liat doi nangis saya milih muter-muterin dulu deh. Walaupun agak-agak ngeri gimana gitu ngeboncengin bayi sleketan plus Mbak Atun yang beratnya jauh di atas saya hihi.

Berikutnya, lanjut nganterin Pionya Ruma lepas jahitan operasi gigi di RS Jogja. Jadi saya berangkat ke kantor dulu gitu. Terus jam setengah 9an dijemput Pio, nganter beliau ke daerah Wirosaban. Abis itu saya ganti ngebujuk Pio nganterin saya ke daerah Glagahsari buat survey calon TKnya Ruma. Hihi, bocah baru setahun aja udah ribut nyari TK. Jadi ini TK sunnah gitu, namanya TK Ar Ridho putri. Saya dapet infonya dari salah satu ummahat di Jawa Barat sana. Heleh, TKnya dimana cari infonya dari mana. Dan ternyata oh ternyata, udah capek-capek muter nyari alamat gitu, tanya sana sini, TKnya sudah bubar saudara-saudara. Jadi ada bangunan nggak terawat gitu, yang di depannya ada ban-ban buat mainan anak kecil, prosotan, “bola dunia” yang kondisinya sudah berdebu nggak keurus. Langsung Pio bilang “Wah, dah bubar ini TKnya.” Pas itu saya belum nyadar kalau ada “mainan-mainan anak kecil” berdebu nggak keurus. Pas udah nyadar, langsung deh pengen ketawa. Malu aja sama Pio udah nyuruh-nyuruh anter plus muter-muter nggak karuan, begitu tau tempatnya ternyataaa. Tapi beliau sih udah biasa ngalamin yang kayak gini-gini sama saya, udah nggak nggumun lagi. Maklum sumber informasi saya cuma dari internet yang sudah nggak diketahui tanggalnya alias nggak uptodate. Hihi maafin Mio ya Pi, yang suka sotoy dan ngotot kalau sudah punya keinginan.

Hihi begitu aja deh ceritanya. Secara ini masih siang kok, jadi cukup sampai disini saja posting saya. Semoga saya bisa terus bersyukur dan nggak suka ngeluh-ngedumel lagi. Aamiin.

Leave a Comment

Protected: I love jilbab

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.

journey to be syar’i

Akhirnya kutuliskan juga tulisan ini. Tentang perasaan yang kusimpan rapat-rapat dalam diam. Perasaan yang sulit kulukiskan, ya, aku mengaguminya. Awalnya sama sekali tak terfikirkan akan merasa begini. Aku ingin sekali seperti mereka.

Mereka yang menutupkan hijab rapat-rapat ke seluruh tubuh, bahkan juga ke wajah-wajah mereka. Mereka yang begitu terlindung, tersembunyi di istana ternyaman, rumah-rumah mereka. Mereka yang kesehariannya berjibaku di rumah bersama anak-anak, benar-benar menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Ya, mereka begitu spesial, tak tersentuh. Bagaikan mutiara cantik yang tersimpan rapat di dalam cangkangnya. Bagaikan logam mulia yang tersimpan rapat di kotak indahnya. Mereka yang, di jaman serba terbuka seperti saat ini, benar-benar seperti terasing, langka, sedikit. Berbeda, sehingga menjadi begitu istimewa.

Saat selfie dan hashtag ootd (outfit of the day) menjadi trend seiring menjamurnya social media, mereka memilih untuk tidak memajang foto diri, bahkan tidak pula berfoto dengan niqabnya. Saat orang rame-rame membeli tongsis untuk semakin mengekspresikan narsismenya, sama sekali tak terbersit dalam benak mereka untuk mengikutinya. Untuk apa pula ya. Saat orang berlomba-lomba untuk tampil cantik dengan gaya terkini, dengan make-up yang semakin mempermanis penampilan mereka, mereka semakin menyederhanakan hijabnya, tidak tergiur dengan trend masa kini.

Dulu aku berfikir, hijab syar’i itu

  1. tidak membentuk lekuk tubuh, yang mana sepemahamanku tidak membentuk lekuk tubuh itu sepanjang tidak memakai baju ketat alias ngepress body, memakai rok panjang atau gamis yang tidak membentuk lekuk kaki, sudah termasuk syar’i
  2. memakai kerudung yang menutup dada, dada saja, bagian perut tidak tertutup kerudung tidak masalah, pun punggung yang hanya tertutup pakaian, yang penting dada tertutuplah, meskipun kerudungnya dari bahan yang tipis seperti katun paris atau sifon

Sungguh, hanya itu saja pemahamanku terkait hijab syar’i itu. Sehingga sejak November 2011 sampai sekarang, aku selalu setia berhijab syar’i — versiku sendiri. Aku selalu mengenakan rok panjang atau gamis, atau daster. Kerudungku juga selalu menutup dada. Anti lilit atau dimodel macam-macam seperti hijabers masa kini. Paling banter gaya overslag Ratih Sang yang hanya sekali lilit ke atas kemudian bagian yang tidak dililit diberi bros/pin. Cukup menutup dada menurutku waktu itu. Ketika sedang insaf alias ingin berjilbab yang rada gede, aku hanya menumpukkan dua jilbab bahan paris menjadi satu jilbab, melipatnya dengan lipatan yang lebar, kemudian memakainya tanpa melilit, dibiarkan saja hingga sempurna menutup dada. Bagiku yang demikian itu, syar’i. Aku melenggang dengan penuh percaya diri dengan pakaian yang menurut pendapatku sudah syar’i. Rok panjang — entah bagaimanapun warna dan motifnya, kemeja lengan panjang — entah bagaimanapun model dan bahannya, gamis — entah bagaimanapun bahannya, kerudung dobel-dobel — entah bagaimanapun material dan warnanya.

Tahun demi tahun berganti, tidak terasa sudah hampir 3 tahun aku berpenampilan “syar’i.” Mendadak aku dilanda kebosanan melihat tumpukan baju di lemari. Baju sih banyak tapi yang dipakai itu lagi, itu lagi. Ditambah lagi aku adalah ibu menyusui sehingga semakin terbataslah pilihanku dalam berpakaian. Setiap membuka lemari pakaian yang penuh sesak itu aku selalu dan selalu ingin membeli baju baru. Tapi apa daya, baju jaman sekarang mahal-mahal. Apalagi kalau ingin mengikuti trend. Ditambah lagi sejak adanya Instagram, socmed andalan para pebisnis online, bikin semakin lapar mata. Incaranku adalah butik-butik untuk kalangan menengah ke atas yang tentu saja perlu merogoh banyak kocek bahkan jika hanya untuk membeli selembar pashminanya. Lalu gamis atau dressnya? Jangan ditanya. uang setengah juta saja hanya dapat sepotong. Aku makin meringis. Tiba-tiba terbersit ide. Kenapa aku tidak beli kain lalu menjahitkannya saja ya? Pasti jatuhnya lebih murah. Akupun semangat 45 mendatangi satu toko kain di kotaku. Semakin lapar matalah aku. Cerutti, jersey, chiffon, katun jepang, warna-warni cantiknya semua sungguh menarik minatku. Semua ingin kubeli. Padu padan kain ini dengan kain itu, ditambah aksesoris ini-itu, renda cantik di sana-sini, motif ini dan motif itu, sungguh membuat semangatku menyala. Apalagi jika membayangkan pujian dari teman-temanku kalau aku berhasil menjahitkan sebuah model baju saja. Bakal ditanya, “beli di mana? kok lucu?” lalu dengan bangga kujawab, “bikin sendiri” dan dengan jumawa membatin, limited edition, nggak bakal ada yang ngembarin.

Namun seketika itu juga aku langsung pusing. Pusing saja membayangkan, mau bikin model apa lagi ya? Sackdress dan cardigan, dress panjang, gamis dengan aksen begini begitu. Tambah asesoris apalagi ya? Pita cantik, renda, atau apa. Kerudungnya mau dibikin bagaimana? Gaya apalagi yang bisa menutup dada? Duh pusing. Mendadak di tengah kepenatan itu, aku teringat dengan blog-blog akhwat dan ummahat yang bagiku, keren abis. Mereka yang deskripsinya sudah kusebutkan di bagian awal tulisan ini. No need tutorial for hijab syar’i. Syar’i itu simpel, sederhana. Memudahkan yang sulit, bukan menyulitkan yang mudah. Syar’i itu tidak pernah berkorelasi dengan fashion. Syar’i itu tidak stylish. Kalau masih mau fashionable dan stylish, tidak usah berjilbab syar’i. Dan jangan pernah menggabungkan syar’i dengan stylish atau fashionable. Kalau masih pengen dibilang cantik, jangan berjilbab syar’i. Karena sejatinya hijab syar’i itu menutupi perhiasan, bukan menjadi perhiasan baru. Jangan pernah berharap untuk bisa tampil lebih cantik setelah berjilbab syar’i.

Lalu aku seperti ditampar.

Akupun membayangkan, betapa nyamannya berjilbab syar’i itu. Sudahlah simpel, tidak perlu waktu lama memadu-padankan ini itu. Satu setel jubah dan jilbab instan, siap dalam waktu kurang dari 5 menit. Betapa enaknya. Waktu tidak terbuang percuma untuk pilih-pilih pakaian, melipat-lipat jilbab, menusukkan jarum pentul dan peniti, mengepaskan jilbab ke wajah. Kalau mau shalat, tidak perlu pakai mukena karena jilbab syar’i sudah sangat layak dijadikan pakaian shalat. Betapa asyiknya jalan kemana-mana tas tidak berat karena harus bawa mukena. Betapa hemat waktunya setelah wudhu tidak kelamaan dandan membetulkan jilbab. Pergi kemana-mana tidak perlu pakai make-up, bahkan jika hanya seulas eyeliner di kelopak mata pun, di acara walimahan sekalipun. Bagaimanalah make-up dibolehkan sedangkan wajah saja dianjurkan untuk ditutup? Aiiih sepertinya seru sekali berjilbab yang benar-benar syar’i.

Tapiii, pakaian-pakaian cantik itu? Motif-motif itu, renda-renda itu, warna-warni itu, berarti harus say goodbye dong? Iya. Karena syar’i itu tidak boleh tabarruj. Syar’i bukan cuma bergamis, ber-rok panjang, tapi masih menonjolkan kecantikan yang kita punya. Syar’i juga bukan cuma berkerudung menutup dada. Syar’i itu tidak menonjolkan lekuk tubuh, termasuk lekuk tangan, sehingga jilbab yang ideal itu sepaha, yang menutup lekuk tangan (baru tau banget kalau ini mah). Syar’i itu tidak ketat sehingga material yang membentuk tubuh seperti spandex-jersey sebaiknya ditinggalkan. Pakaian syar’i itu tebal, sehingga katun paris, chiffon, cerutti jika tanpa inner tebal, coret saja. Syar’i itu sederhana, jadi sekarang PRnya, sederhanakan hijab saja dulu. Dan setelah punya keinginan berjilbab syar’i, alhamdulillah keinginan untuk membeli baju-baju cantik lucu itu pun musnah sudah.

Namun sayang kini keinginan itu kini berganti untuk membeli setelan hijab, yang untung saja harganya tidak semahal pakaian cantik lucu itu. Tapi tetap saja, belinya pakai uang juga kan? Zzzz beginilah wanita. Dimaklumi saja ya 🙂

Comments (2)

« Newer Posts · Older Posts »