Archive for marriage

harapan vs kenyataan

Dalam kaitannya dengan pembagian peran antara suami dan istri, saya cenderung bahkan sangat setuju dengan pandangan konvensional di mana suami bertugas mencari nafkah dan istri mengurus rumah serta anak-anak. Benar-benar potret ideal sebuah keluarga. Terkait isu emansipasi wanita, kesetaraan gender dan feminisme yang marak didengungkan belakangan ini jujur saya tidak terlalu tertarik. Toh sejak semula cita-cita saya memang tidak pernah menjadi wanita karir. Kalaupun terpaksa bekerja untuk membantu suami mencari nafkah, saya juga tidak berencana untuk memprioritaskan pekerjaan di atas urusan keluarga dan anak-anak saya. Jangan harap saya akan mengambil lembur, atau mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Boro-boro yang demikian, pekerjaan domestik di rumah seperti nyetrika pakaian akan saya tunda sampai anak tidur.

Kalau sekarang ini berkembang isu-isu emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender yang didukung pula oleh wanita-wanitanya, para wanita merasa tidak adil jika dipandang sebelah mata, tidak dianggap karena tidak memiliki pekerjaan dan karir yang membanggakan, aduh saya mikirnya kok kasihan sekali ya. Sementara ibu-ibu yang bekerja seperti saya begitu mendambakan indahnya kebersamaan dengan anak 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Banyak yang bilang hidup ini sawang-sinawang. Yang WM ingin menjadi SaHM, dan yang SaHM begitu iri dengan para WM yang dipandang lebih mandiri dan “terlihat.”

Nggak saya pungkiri, jika akhirnya saya berhasil menjadi SaHM (insya Allaah aamiin) pasti akan capeeeeek sekali karena kerjaan rumah itu nggak ada habisnya. Seakan nggak bisa istirahat. Kalau masih belum punya anak mungkin tidak terlalu berasa ya, karena pasti akan banyak me-time dan nyaris tak ada “gangguan” atau “tuntutan” ini-itu. Lain kalau sudah punya anak. Ketika anak tidur, justru ibu harus kerja lebih keras karena saat anak bangun biasanya tidak bisa ditinggal (kalau anaknya masih kecil hihi). Selain itu menjadi SaHM juga perlu sumbu sabar yang lebih panjang, sikap santai dan tidak terlalu perfeksionis. Kalau kitanya terlalu perfeksionis pasti bawaannya nggak mood terus ngelihat apa-apa yang sudah direncanakan ternyata berjalan nggak sesuai rencana. Misal sudah capek ngepel ruang tamu eh ternyata si adek numpahin sirup. Buat orang yang nggak sabaran dan kurang santai kayak saya, hal kayak begitu pasti bikin mencak-mencak. Contoh lain, kalau waktu suami sudah mau pulang kerja tapi rumah belum beres, cucian dan setrikaan numpuk, masakan belum tersedia, anak belum dimandikan, wah wah kalau ibunya super panik kayak saya, alamat kacau. Ini yang harus diantisipasi dan dicari solusinya sebelum benar-benar jadi SaHM.

Jadi SaHM juga pasti ada titik jenuhnya. Ketika pakaian andalan kita sehari-hari hanya daster. Itupun kucel. Basah sana-sini kecipratan air pas mandiin anak. Bau masakan. Ketumpahan makanan anak. Rambut berantakan, keringetan. Liat cermin aja pasti males hihi. Kalau lagi bosen dan jenuh melanda begitu nanti pasti ingat betapa enaknya ketika masih jadi orang kantoran. Bisa jalan-jalan, punya uang sendiri, pakaian selalu rapi. Eits tapi tunggu dulu. Meskipun jadi SaHM itu beraaat, suliiit, lelaaah, pahalanya masya Allaah. Ladang jihadnya perempuan yang sudah menikah. Bahkan punya khadimat alias ART pun nggak terlalu dianjurkan lho. Ya, itu buat ibu-ibu yang ingin meraih kesempurnaan sebagai ibu rumah tangga. Pernah dengar kisah Fathimah radhiyallaahu ‘anha putri Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang meminta ayahnya mencarikan khadimat untuknya karena dirinya merasa sangat kepayahan mengerjakan pekerjaan rumah? Rasulullaah pun tak menuruti keinginan putrinya tersebut. Beliau menganjurkan Fathimah untuk membaca tasbih, tahmid dan takbir yang jauh lebih baik dari keberadaan khadimat. Masya Allaah, begitu mulia ternyata ya ibu rumah tangga yang bersungguh-sungguh itu?

Karenanya saya ingiiin sekali bisa meraih keutamaan-keutamaan itu. Ingin sungguh-sungguh menjadi ibu yang merupakan pendidik pertama bagi anak, mengurus mereka secara langsung, bukan dengan perantara babysitter profesional sekalipun, menyusui langsung mereka, tidak perlu memerah asip, menjadi saksi pertama perkembangan mereka dan membersamai tumbuh kembang mereka setiap saat. Saya juga ingin sekali berkhidmat pada suami. Menuruti perintah suami selama hal itu tidak bertentangan dengan perintah Allaah. Dan tentu saja, tetap bekerja sementara anak dan rumah yang menjadi tanggung jawab utama saya malah didelegasikan kepada babysitter atau ART itu sudah menyalahi perintah Allaah. Mengingkari fitrah wanita. Meskipun alasannya adalah membantu suami.

Semoga Allaah segera memberi kami jalan keluar dari kerumitan ini dan semoga kami bisa menjalankan peran-peran kami secara profesional sesuai fitrah penciptaan masing-masing. Semoga setelah berhasil menjadi ibu rumah tangga saya bisa menjadi ibu yang sabar, tenang, tidak gampang panik atau kemrungsung, selalu memprioritaskan suami dan anak, selalu ceria, merasa cukup, dan tentu saja yang PR banget lemah lembut. Wallaahul musta’an.

Advertisements

Leave a Comment

random: memilih jodoh

Maka pada setiap betikan niat yang menggerakkan untuk menikahi (atau menikah dengan–ed.) seseorang; tanyakan pada hati kita, apa yang paling menyalakan minat.

Seperti nasehat Asy Syafi’i tuk yang bingung atas banyak pilihan nan semua tampak baik; “Ambil yang paling menyelisihi hawa nafsu!”

Maknanya; jika hawa nafsu pada kecantikan, pilih nan lebih jelek; jika hawa nafsu pada kekayaan, pilih nan lebih miskin; begitu seterusnya 😉

Sebab terfirman “..Sesungguhnya hawa nafsu selalu menyuruh pada keburukan..” {QS12:53}; maka menyelisihi hawa nafsu adalah jalan kebaikan.

Kutipan kultwit di atas merupakan milik Ustadz Salim A. Fillah tertanggal 27 Juni 2013.

Sengaja dicopas buat teman-teman yang dilanda kebingungan saking banyaknya pilihan dalam menentukan (utamanya) jodoh yang, “kok kayaknya baik-baik semua ya?” (ciyee sok laris). Oh iya, jangan juga merasa sudah aman karena menjalani proses ta’aruf (bukan pacaran loh ya) terus sana-sini dita’arufin, kasih harapan ke banyak laki-laki (atau perempuan buat yang laki-laki) sampai akhirnya jadi bingung sendiri menentukan pilihan. Jalani dan proseslah satu-satu, kalau kurang cocok baru cari yang lain. Jangan maruk.

Jangan juga terlalu percaya sama pembentukan imej dari socmed baik blog, twitter, facebook sebelum kita mengenal langsung orang yang bersangkutan melalui orang terdekatnya. Karena bisa saja apa yang mereka tulis di socmed sangat berbeda dengan kenyataan aslinya (kayak blog ini nih contohnya *lho?). Intinya jangan gampang tertarik dengan seseorang kalau kita baru mengetahui tentang orang tsb via akun-akunnya di socmed. Karena di jaman virtual kayak gini gampang sekali membangun imej diri yang baik. Ya, pasti ada saatnya kita merasa ada beda antara dunia nyata dengan dunia maya (pun itu kehidupan kita sendiri). Kayak saya nih contohnya, di socmed keliatannya suka posting berbau agama, menghindari ngeluh nggak jelas di twitter atau facebook, dll, aslinyaaa? Nggak sebaik itu tentu.

Contoh lainnya bisa dilihat dalam kasus berikut.

Haha, sebenarnya saya mau ngomong apa sih. Random banget. Tapi semoga bermanfaat ya. Sekian.

Leave a Comment

yang perlu kita tahu tentang tanggung jawab wali seorang perempuan

Berikut ini Kulwit Ustadz Salim A. Fillah pada 26 Juni 2013 tentang Tugas Wali dalam Usaha Menikahkan Perempuan di Bawah Tanggung Jawabnya.

1) Para shalihat; sudahkah disampaikan pada Ayahanda atau Wali; bahwa tugas mereka soal calon suami bukan cuma bertanya & menjadi juri? #nkh

2) Bahwa tugas si Wali adalah turut giat mencari seorang lelaki bertaqwa, untuk dia alihkan tanggungjawab atas putri tercinta padanya. #nkh

3) Seperti seorang Ayah baik hati yang bertanya pada Al Hasan ibn ‘Ali; “Nasehati aku; pada siapakah aku harus menikahkan putriku?” #nkh

4) “Nikahkan putrimu pada pria bertaqwa”, jawabnya, “Jika cinta, dia akan memuliakannya. Jikapun tak cinta, dia takkan menzhaliminya.” #nkh

5) Juga seperti pemilik kebun anggur yang menikahkan putri kesayangannya pada sahaya lugu bernama Mubarak; berkah sifat jujur & amanah. #nkh

6) Dan inilah ‘Umar ibn Al Khaththab yang kalangkabut ketika menantunya nan gagah, Khunais ibn Hudzafah As Sahmi gugur di perang Badr. #nkh

7) Syahidnya Khunais membuat Hafshah binti ‘Umar, wanita mulia nan belia kecintaan Ayahnya itu telah menjanda pada usia 18 tahunnya. #nkh

8) Duka Hafshah amat dalam; inilah suami yang telah mengimami hatinya dalam iman penuh perjuangan & 2 hijrah; ke Habasyah lalu Madinah. #nkh

9) Maka ‘Umar yang tahu apa tugas seorang Ayah bergegas seusai masa ‘iddah; ditemuinya lelaki kurus & tampan berrambut inai kemerahan. #nkh

10) “Wahai Aba Bakr”, ujarnya pada Ash Shiddiq penuh semangat, “Hafshah telah menjanda; maka aku tawarkan padamu untuk menikahinya.” #nkh

11) Lelaki teguh, lembut, & berwibawa itu hanya diam & menunduk. Tak sepatah katapun keluar dari lisan mulia yang memang irit bicara. #nkh

13) “Wahai ‘Utsman”, ujarnya, “Sungguh Hafshah telah menjanda & engkaupun juga seorang duda setelah wafatnya Ruqayyah putri Baginda.” #nkh

14) “Apakah engkau berkenan jika kunikahkan dia padamu?” Lelaki yang juga berhijrah 2 kali itu terhenyak & pipinya pun merah bersemu. #nkh

15) Tak terbiasa dengan pembicaraan yang begitu langsung; si kesayangan Quraisy itu tersipu-sipu. “Berilah aku waktu 3 hari”, tukasnya. #nkh

16) Maka 3 hari tuk mempertimbangkan berlalu pula. Hingga ‘Umar merasa pahit di hati, sebab ‘Utsman dengan halus menyatakan undur diri. #nkh

17) “Dalam waktu dekat-dekat ini”, katanya, “Aku merasa belum perlu untuk tergesa beristri lagi.” Dalam kecewa, ‘Umar coba memaklumi. #nkh

18) Maka sepenuh tawakkal dia curahkan rasa hati pada Sang Nabi, “Ya RasulaLlah betapa pilu; ‘Utsman menolak menikahi Hafshah putriku.” #nkh

19) Sang Nabi tersenyum menghibur dalam doa yang tulus & jujur, “Semoga Hafshah dikaruniai lelaki yang lebih baik daripada ‘Utsman.. #nkh

20) ..Dan semoga Allah karuniakan pada ‘Utsman perempuan yang lebih baik daripada Hafshah.” ‘Umar pun lega, meski masih bertanya-tanya. #nkh

21) Lalu semua terjawab indah ketika ‘Utsman dinikahkan dengan Umm Kultsum putri Nabi, adik Ruqayyah; hingga jadilah dia Dzun Nurain. #nkh

22) Dan Hafshah pun dinikahi oleh RasuluLlah sendiri; dia mendapatkan sebaik-baik lelaki, semulia-mulia pribadi, sebudi-budi suami. #nkh

23) Dalam kegembiraan & kesyukuran ‘Umar, Abu Bakr mendekat & berkata lirih, “Sepertinya ada dongkol di hatimu atas sikapku yang lalu?” #nkh

24) “Betul”, jawab Al Faruq. “Ketahuilah”, ujar Ash Shiddiq tenang, “Saat kau menawarkan Hafshah, maka aku amat ingin menerimanya.” #nkh

25) “Mengapa tak kau katakan?”, tukas ‘Umar. “Sebab aku mendengar RasuluLlah juga telah menyebut-nyebut nama Hafshah!”, sahut Abu Bakr. #nkh

26) “Itu juga mengapa tak kau sampaikan?”, cecar ‘Umar. “Sebab aku takkan membuka rahasia RasuliLlah pada siapapun”, jawab Ash Shiddiq. #nkh

27) “Ketahuilah, seandainya RasuluLlah tak berhendak menyunting Hafshah, pastilah aku yang termula-mula melamarnya padamu”, pungkasnya. #nkh

28) Betapa terbaca keluhuran pada kisah mereka. Ayah yang mulia. Sahabat setia lagi tepercaya. Cinta suci & pengorbanan bakti meraja. #nkh

29) Shalawat-salam tercurah atas RasuliLlah; terlimpah tuk keluarga jua sahabatnya; & moga terliput kita semua dengan mencintai mereka. #nkh

30) Esok pagi; buatkan kopi tuk Ayahanda & bisikkan agar lusa Jumatan mengamati; siapa tahu calon menantu di shaff terdepan menanti ;D #nkh

31) Bagi yang ayahandanya telah tiada; maka Wali lain menggantikan perannya; kakek, paman, abang, & adik lelaki. Semoga Allah berkahi. #nkh

32) Hati ini selalu haru kala sesekali usai berkhuthbah & mengimami Jumat; muncul wajah teduh bertanya, “Apa Nak Ustadz sudah menikah?” #nkh

33) Dengan mata berkaca, jawabnya selalu “AlhamduliLlah sudah Pak, mohon doa agar keluarga kami barakah”; dan beliau-beliau tersenyum. #nkh

34) Saya senantiasa menjabat erat tangan mereka dalam doa; sungguh tanya mereka adalah ibadah agung seorang ayah memenuhi hak putrinya. #nkh

35) Dalam malu atas sangka baik mereka pada diri; terpanjat harap moga para ayah, kakek, paman, & saudara lelaki mengilmui hal ini. #nkh

36) Moga tutur ini jadi renungan; tak ada yang memalukan dalam mengupayakan ridha Allah di jalan halal. Selamat rehat Shalih(in+at:) #nkh

Sengaja saya copas sebagai pengingat bagi kita semua, khususnya bagi yang memiliki anak perempuan dan saudara perempuan yang telah pantas dan ingin menikah namun masih terhalang karena satu hal dan lain sebab.

 

Leave a Comment

copas: mengapa ridha suami adalah surga para istri?

Mengapa ridha suami itu adalah surga bagimu, wahai para istri:

  1. Suamimu dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan sering kali rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.
  2. Suamimu dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah dan ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.
  3. Suamimu ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah, engkau lebih harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.
  4. Suamimu berusaha menutupi masalahnya di hadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. Padahal bisa saja di saat engkau mengadukan itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar. namun tetap saja masalahmu diutamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.
  5. Suamimu berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu. Sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.
  6. Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka, karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah dituntut ke neraka. Karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri.

Copas dari sini. Semoga bermanfaat dan membuat masing-masing kita semakin bersyukur atas anugerah Allah berupa suami yang baik dan semakin berlomba-lomba untuk meraih ridha suami.

Comments (2)

kultwit ustadz @kupinang: perselingkuhan via gadget

Berikut ini saya copas kultwit Ustadz Mohammad Fauzil Adhim pada 22-23 Mei 2013.

  1. Berhati-hatilah jika konsultasi berubah jadi curhat karena ia mudah menjelma menjadi obrolan hangat tanpa tujuan yang ciptakan kerinduan.
  2. Inilah transferensi. Banyak terjadi saat konsultasi, terutama masalah yang sarat emosi. Atau masalahnya netral, tapi ia alami kehampaan.
  3. Transferensi tak hanya perlu dikhawatiri konselor yang profesinya beri konsultasi. Justru “konsultasi tak sengaja” lebih mengkhawatirkan.
  4. Sejumlah kasus “jatuh cinta patron-klien” (untuk tidak mengatakan terapis-klien) bermula dari komunikasi hangat tanpa sekat.
  5. Beberapa kasus, selingkuh dari yang ringan sampai rada berat bermula dari penggunaan gadget yang nyerempet-nyerempet.
  6. Saya tidak berani menyimpulkan. Sepanjang kasus yang saya jumpai dan berdasarkan apa yang saya pelajari, yang paling potensial >>
  7. >> menimbulkan masalah “hubungan emosi lawan jenis” adalah ym-an (istilah pop untuk chatting) dan bbm. Saya tidak tahu kenapa persisnya.
  8. Salah satu penjelasannya, komunikasi via ym sangat mengalir. Saat mengetik, terlihat aktivitas lawan chatting yang sedang mengetik.
  9. Interface ym menampilkan percakapan yang sangat interaktif, ditambah kemudahan menampilkan smiley yang amat beragam. Menghanyutkan.
  10. Aktivitas bbm termasuk yang paling potensial menimbulkan “klik hubungan emosi” dengan lawan jenis. Tapi saya tak bisa menggambarkan.
  11. Saya tak memiliki blackberry dan tidak terpikir untuk memiliki sehingga tidak dapat mendeskripsikan dengan baik. Tapi intinya: mengalir.
  12. Apakah kalau tidak ym-an & bbm-an berarti kita sudah aman? Tidak. SMS-an pun kalau gayeng mirip chating, potensi errornya juga sama.
  13. Meski tak sebanyak bbm & ym, hubungan emosi lawan jenis juga mudah terjadi via twitterland; berbalas mention, berlanjut DM-an intens.
  14. Tak sedikit orang yang merasa sangat senang di-mention. Ia terasa sebagai perhatian yang bersifat pribadi. Namanya disebut itu “sesuatu.”
  15. Di antara berbagai kasus, ada yang sampai mengancam keutuhan rumah-tangga. Mereka hampir cerai karena suami banyak berkorban untuk “dia.”
  16. Ini tidak hanya menimpa orang-orang yang awam dalam masalah agama karena godaan itu tak pilih-pilih tingkat pemahaman & harakah.
  17. Suatu saat ada seorang istri yang memiliki banyak binaan, menyerahkan kepada saya satu bendel yang berisi print out percakapan suaminya.
  18. Ini adalah print out ym (paling banyak) selama beberapa bulan dan bbm. Istrinya rupanya memiliki “kemampuan khusus” buka akses bbm.
  19. Pernah juga ada yang serahkan print out ym yang berlanjut dengan email. Penanda umum titik rawan komunikasi itu adalah >>
  20. >> jika keduanya mulai menggunakan ungkapan yang bersifat personal, setelah sebelumnya menggunakan bahasa yang bersifat standar formal.
  21. Ironisnya, mereka adalah orang yang masing-masing memiliki binaan (saya tidak gunakan istilah khusus karena beragamnya latar belakang).
  22. Masalah mulai terjadi ketika cara bertutur sudah lebih personal. Awalnya menimbulkan rasa tidak enak kalau lama tak bbm-an/ym-an…
  23. Rasanya ada yang hilang kalau lama tak berbincang. Ini merupakan sinyal bahaya. Paling aman segera hentikan & batasi secara ketat.
  24. Jika sudah mulai memancing dengan ungkapan-ungkapan asosiatif atau memancing ungkapan-ungkapan emosional, bahaya lebih dekat lagi.
  25. Ungkapan yang memancing daya tarik emosional itu misalnya “sudah malam belum bobok? Nggak ada yang menemani?”
  26. “Makan sendirian ternyata nggak enak. Siapa yang mau menemani, ya?” Lebih ngeri lagi kalau tembak langsung maupun setengah langsung.
  27. “Do’a saya pengen dapat suami ideal persis seperti Antum.” Ini hanya contoh. Variannya bisa “do’akan”. Kalau diteruskan, >>
  28. >> ungkapannya bisa berubah menjadi dirimu. Yang benar-benar parah kalau pakai sebutan “papa-mama” “ummi-abi”.
  29. Dari beberapa print out yang pernah saya pelajari, ungkapan ini merupakan titik rawan yang jika tak segera distop dapat timbulkan >>
  30. >> perselingkuhan, baik ringan maupun sangat berat. Ada yang sampai cerai. Ada yang retak hampir cerai. Tetap suami-istri, tapi hambar.
  31. Ada yang berusaha kuat untuk bertahan, meski hati sudah remuk redam, terutama karena alasan menghindarkan terjadinya fitnah dakwah >>
  32. >> yang lebih penting lagi (sebenarnya) adalah alasan kasihan kepada anak-anak. Ini tentu mengkhawatirkan untuk keutuhan jangka panjang.
  33. Apakah kalau begitu kita sebaiknya meninggalkan gadget dan tidak lagi menggunakan social media maupun fasilitas internet lainnya?
  34. Bukan! Bukan demikian. Yang kita perlukan adalah aktivitas internet yang sehat dan terkendali dengan melibatkan anggota keluarga,
  35. Memang kurang asyik, tepatnya tidak seasyik kalau melakukan aktivitas melalui gadget di genggaman. Tetapi internetan secara terbuka >>
  36. >> akan menjadikan kita lebih terkendali. Kita, misalnya, dapat melakukan aktivitas tersebut melalui PC atau laptop yang terbuka.
  37. Jika memang sangat diperlukan, bisa saja kita berkomunikasi menggunakan fasilitas ym, bbm dan sejenisnya. Tapi gunakan bahasa standard.
  38. Hindari ungkapan-ungkapan yang “memancing.” Apalagi yang sudah sangat menjurus. Abaikan jika ada yang menggunakan ungkapan seperti itu.
  39. Jika curhat berkepanjangan, menghentikan segera dengan langsung fokus pada diskusi pemecahan masalah, akan lebih aman.
  40. Berpanjang-panjang dengan curhat, selain tak selesaikan masalah juga (justru) berpotensi menimbulkan masalah hubungan emosi lawan jenis.
  41. Masih banyak yang ingin saya perbincangkan. Tapi agaknya untuk kali ini, cukup sampai di sini. Saya dapati kasus semacam ini mulai >>
  42. >> bermunculan sejak tahun lalu. Semoga catatan sederhana ini bermanfaat untuk mengurangi dan menghindarkan kita dari fitnah syahwat.
  43. Jika putra Umar bin Khaththab saja dapat terjatuh pada dosa, maka apalagi kita yang hidup di zaman semacam ini. Semoga Allah tolong kita.

Bijaksanalah dalam menggunakan gadget. Usahakan untuk membatasi interaksi tidak esensial dengan lawan jenis — ini buat yang belum menikah juga lho. Karena sungguh, interaksi “mengalir” potensial munculkan chemistry-chemistry yang menggoyahkan keteguhan kita.

Leave a Comment

untuk kita yang mengangankan kesempurnaan

Kenapa sebagian besar penulis pengusung tema pernikahan — yang membahagiakan — adalah laki-laki? Dari pengamatan saya yang terbatas ini, memang begitulah adanya. Mohammad Fauzil Adhim, Salim A. Fillah, Mas Udik Abdullah, Cahyadi Takariawan dan sebagian besar nama lain adalah kaum adam. Perempuan jarang sekali menyusun buku dengan tema pernikahan. Kalaupun ada, paling jumlahnya dapat dihitung. Pun mengusung tema yang agak jauh dari bahagia. Salah satunya Asma Nadia bersama para perempuan lain yang memuat kisah nyatanya dalam berumah tangga melalui deretan buku Catatan Hati Seorang Istri (berisi suka-duka para istri selama menjalankan bahtera rumah tangga bersama suaminya), Catatan Hati yang Cemburu (dari judulnya saja kita sudah bisa menebak seperti apa isi buku tersebut), atau Sakinah Bersamamu. Yang disebut belakangan ini agak “lebih bahagia” dibanding dua buku di awal, karena “hanya” berisi kumpulan cerpen bertema rumah tangga berikut aneka tips dan trik untuk bijak dalam kehidupan rumah tangga. Tentu saja masih “kalah bahagia” dibandingkan judul-judul macam Indahnya Pernikahan Dini (Fauzil Adhim), Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan dan Bahagianya Merayakan Cinta (Salim A. Fillah), atau Bila Hati Rindu Menikah (Mas Udik Abdullah). Apa mungkin para perempuan malah merasa kurang bahagia setelah menikah ya?

Namun analisis ngawur ini agak berbanding terbalik dengan realita yang saya temui di dunia maya — terlepas bahwa dunia maya adalah sebuah dunia yang penuh pencitraan. Rata-rata, yang lebih ekspresif dalam menyatakan perasaannya (baik itu sayang, rindu, dll) kepada pasangannya adalah para perempuan. Melalui kicauannya di Twitter yang kerap memensyen pasangannya atau status-status di Facebook yang tak jauh beda, sebagian besar memang kaum hawa. Ehm, saya coba tarik kesimpulan deh. Meskipun masih sama: ngawur.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

pernikahan yang barakah, seperti apa sih?

  1. kenapa kita dianjurkan mendo’akan pasangan-pasangan yang baru menikah dengan do’a kebarakahan, bukan sekedar kebahagiaan?
  2. do’a yang bunyinya barakallaahu laka wa barakallaahu ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr
  3. yang mengandung arti semoga Allah melimpahkan barakah kepadamu, semoga Allah melimpahkan barakah atasmu, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan
  4. kenapa harus barakah? kenapa tidak bahagia, langgeng di dunia dan di akhirat, segera punya momongan, dll. yang baik-baik saja?
  5. kalau sekedar bahagia, tanpa kita do’akan pun pasangan suami istri tersebut sudah sangat berbahagia (dari salah satu khutbah nikah Ust. Fauzil Adhim)
  6. kalau langgeng dunia akhirat, jangan senang dulu, jangan-jangan seperti Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, yang bersatu di neraka, na’udzu billah min dzalik
  7. segera punya momongan juga belum tentu baik, terkesan mendahului Allah kalau kita mendo’akan demikian
  8. barakah adalah keajaiban yang menakjubkan, begitu kata Rasulullah saw.
  9. barakah adalah sikap yang benar dalam menghadapi masalah, menurut Aa Gym
  10. barakah adalah manifestasi dari syukur dan sabar, dua kendaraan yang ‘Umar bin Khattab tak peduli manakah yang harus ditunggangi karena sama baiknya
  11. barakah, dalam pandangan Ibnul Qayyim al-Jauziyah adalah ketika segala sesuatunya makin mendekatkan kita kepada Allah
  12. oleh karenanya, barakah harus senantiasa kita mohonkan kepada Allah
  13. barakallaahu laka = semoga Allah melimpahkan barakah kepadamu, adalah permohonan agar Allah menambahkan kebaikan kepada sesuatu yang sudah baik
  14. barakallaahu ‘alayka = semoga Allah melimpahkan barakah atasmu, berarti permohonan agar kebaikan itu juga tercipta meski pada kondisi yang tidak terlalu baik (baca: buruk)
  15. jama’a baynakuma fii khayr = semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan, mengandung makna agar dalam kondisi bagaimanapun, pasangan itu tetap bersatu dalam kebaikan
  16. kita tentu tahu, bahwa tidak selamanya pernikahan itu hanya berisi yang senang-senang, enak-enak, mudah-mudah
  17. terkadang permasalahan menghadang, cukup menorehkan luka juga air mata
  18. tak jarang kesulitan menghampiri, yang jika terus difikirkan membuat nyeri
  19. tapi selama masih ada barakah, segala kesempitan yang menyesakkan, permasalahan yang bertubi, cekcok yang membumbui, tetap menyediakan senyuman, cinta dan kasih sayang
  20. barakah mengubah marah jadi ramah, membawakan rindu meski dongkol masih menyesak, menawarkan permaafan dan permakluman atas segala kesalahan
  21. yang pasti, dengan adanya barakah, segala kesulitan yang dihadapi, justru melanggengkan ikatan
  22. saat bahagia, barakah membuat hidup dua kali lebih ceria
  23. dan ajaibnya, di masa-masa sulit pun, barakah-lah yang menghibur, dialah alasan untuk tetap bertahan
  24. karena, barakah itu yang mendekatkan setiap hamba kepada Tuhannya
  25. dengan mendekatnya seorang hamba kepada Tuhannya, dia tidak peduli seberat apapun masalah yang menerpa, asal Allah masih bersamanya dan ridha terhadapnya, berarti tidak ada masalah
  26. lalu, apa kunci kebarakahan? biarkan firman Allah yang menjawabnya
  27. “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan melimpahkan barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka Kami siksa mereka disebabkan oleh perbuatannya.” (QS Al A’raf: 96)
  28. ya, kuncinya adalah iman dan taqwa
  29. maka, mendekatlah kita kepada Allah
  30. sehingga, jika kita merasa kehidupan begitu sempit, dada sesak akibat berbagai permasalahan, air mata terus-menerus tertumpah, segeralah periksa diri kita sendiri
  31. jangan menyalahkan permasalahan, menganggap diri sebagai korban, apalagi menyalahkan pasangan
  32. jangan-jangan, kitanya sendiri yang miskin syukur, enggan mendekat kepada Allah, tak mau lagi mengikuti petunjukNya
  33. setiap ada permasalahan, ingatlah, segeralah mendekat kepada Allah, minta diberi kejernihan hati dan akal untuk syukuri setiap tetes karuniaNya yang tercurah
  34. mohonlah juga agar barakah selalu menyertai perjalanan rumah tangga kita, agar di setiap keadaan, tak ada lagi yang Allah turunkan, selain kebaikan
  35. insya Allah, aamiin

#ntms

disarikan dari Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (Salim A. Fillah) chapter Menenun Jalinan Cinta episode Barakah

Comments (4)