Archive for kepenulisan

17 Mei: Hari Buku Nasional

Yay, hari ini Hari Buku Nasional!!! Saya juga baru tau sih gara-gara iseng liat tanggalan yang nongkrong di atas CPU plus beberapa twit dan status facebook orang-orang yang ngomongin tentang Hari Buku Nasional yang jatuh pada hari ini. Kenapa harus ada hari buku ya? Hmm, mungkin gara-gara minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah sehingga untuk meningkatkannya perlu semacam remembrance bahwa kita – sebagai orang Indonesia – harus rajin baca buku, bersahabat dengan buku, menganggap buku bener-bener sebagai jendela dunia, seperti orang Jepang-lah kurang lebih. Di mana di sana, kalau ada antrian panjang di suatu tempat, atau dalam perjalanan naik kendaraan umum, hampir semua orang disibukkan dengan buku. Beda banget sama orang Indonesia yang always busy with their gadget. Tampaknya keren ya sibuk dengan gadget, tapi kalau cuma kebanyakan buat ber-socmed-socmed sih ya mendingan baca buku lah ya.

Nggak saya pungkiri, saya suka sekali membaca dan lumayan addict sama buku. Walaupun buku-buku yang saya punya lebih ke arah buku ringan yang mudah dipahami dan nggak perlu ruwet mikir. Sayangnya saya lupa buku pertama yang saya miliki, karena pas masih kecil dulu lebih sering pinjem daripada beli buku. Pinjemnya ini bisa ke teman bisa juga ke taman bacaan. Kebetulan waktu itu di dekat rumah saya ada sebuah taman bacaan dan saya pun bergabung menjadi anggotanya. Jenis buku pertama yang saya suka kayaknya komik deh. Karena di Obelix (nama taman bacaan itu) banyak disewakan berjenis-jenis komik, mulai dari komik anak seperti Doraemon (favorit banget sampe suka nggak sengaja beli nomor yang udah pernah dibaca), sampai serial cantik dan misteri. Favorit saya yang lain adalah serial Pansy dan Alpen Rose (sejenis Candy-Candy yang sayangnya nggak saya baca sampai tamat gara-gara di Obelix nggak menyediakan versi lengkapnya). Oiya, saya juga suka serial Goosebumps karya RL Stine (ini bukan komik) yang banyakan ceritanya misteri, yang walaupun nggak terlalu serem sih karena horornya ala luar negeri. Hihi. Awal mula suka Goosebumps gara-gara di rumah Mas Lui, kakak sepupu saya, banyak buku Goosebumps-nya, makanya saya suka numpang baca disitu. Tapi lama-kelamaan cerita Goosebumps jadi nggak bermutu, alias lebih banyak ngomongin monster. Aduh males banget kan ya? Yaudah, lalu saya beralih ke novel-novel berbau humor seperti Lupus, Lupus Kecil, Olga, Vanya pokoknya karangan jago ngocol se-Indonesia, Hilman deh. Kesukaan saya terhadap karya Hilman ini bertahan sampai SMA. Suka pinjem-pinjeman buku juga sama Tito, salah satu teman yang hobi Lupus juga.

Namanya anak sekolah, pasti juga suka banget nonton TV. Nah, cerita TV ini banyak juga yang diadaptasi dari novel atau sebaliknya, dari TV terus ditulis novelnya. Sebut aja Karmila, sinetron yang dibintangi Paramitha Rusady pada era 90-an ini kan berasal dari novel berjudul sama karya Marga T. Nah, saya jadi baca novelnya juga tuh. Atau sinetron-sinetron yang diangkat dari novel Mira W, juga suka saya uber novelnya. Maksudnya sih ngebandingin, bagusan mana novel sama sinetron. Tapi sama aja kok. Pun begitu dengan serial Putri Huan Zhu yang booming banget pas saya duduk di bangku SD kelas 6, saya lahap novelnya sampai tamat.

Waktu SMP dan SMA, saya juga sama seperti remaja lain yang suka mengoleksi novel-novel yang lagi ngetren. Bahkan saking ngefansnya sama Harry Potter, udah baca dari pinjem juga saya paksa-paksain beli bukunya dari nomor 1-7 (hehe, sebenarnya saya cuma beli lima nomor aja sih, karena dua nomor terakhir dapet dari kado teman). Pas gila Harpot itu juga saya sampai merasa itu buku terkeren yang pernah ada. Makanya saya nggak suka filmnya, karena bagi saya sangat beda jauh sama yang diceritain di buku. Saya aja sampai ketiduran nontonnya, hehehe. Jaman SMA ini juga lagi jamannya teenlit alias teen literature alias novel remaja, baik dalam maupun luar negeri. Awal mula kayaknya The Princess Diaries yang juga dibikin film dengan bintang Anne Hathaway. Lalu bermunculanlah teenlit macam Stargirl, Princess and the Pauper, serial Mates Dates juga teenlit ala Indonesia kayak Dealova, Fairish, Me vs High Heels, dsb. Untuk yang satu ini saya kebanyakan minjem dari Cita dan Afi, temen SMA yang koleksi novel-novelnya.

Masuk bangku kuliah, entah kenapa saya jadi nggak terlalu tertarik sama buku. Walaupun jaman itu banyak novel bermutu kayak 5 cm, tetralogi Laskar Pelangi, atau novel-novelnya Dewi Lestari. Tapi saya cuma suka 5 cm, itu aja minjem Nita, sampai dua kali pula pinjemnya. Laskar Pelangi juga baca minjem sih, cuma nggak terlalu ngerti makanya nggak saya lanjutkan ke Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Masa kuliah itu juga booming novel Islami karya Kang Abik, kayak Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Saya juga nggak baca, cuma nonton filmnya aja hehe.

Pada ulang tahun saya yang ke-21, teman-teman SMA memberi saya sebuah novel karya Tere Liye, Bidadari-Bidadari Surga, yang bagi saya baguuuus sekali. Saya sampai nangis-nangis bacanya. Sejak saat itu saya jadi koleksi novel karya Tere Liye (itu lho, penulis best-selling novel Hafalan Shalat Delisa tentang anak korban tsunami Aceh) yang sarat pesan moral dan keteladanan. Sampai saat ini saya sudah punya 9 dari 13 novel karya beliau. Saya paling suka buku Bang Tere terkait dunia anak. Jujur, saya nggak terlalu suka buku beliau yang cinta-cintaan karena terlalu emosional dan sentimentil.

Oh iya, jaman akhir kuliah menjadi titik balik saya dalam hal selera buku. Dari gandrung fiksi populer sampai akhirnya doyan nonfiksi Islami. Karya-karya Salim A. Fillah yang beken dengan NPSP (Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan)-nya saya lahap habis, begitu pula nonfiksi karya Mbak Asma Nadia. Saya juga jadi koleksi buku-buku terbitan Pro-U Media yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah Islam. Memang kesannya njeglek, tapi seiring usia yang semakin bertambah, rasanya perlu juga mengasup santapan bergizi untuk ruhani. Hihihi. Tapi untuk jenis fiksi, saya tetap suka novelnya Bang Tere, karena nilai-nilai Islamnya juga cukup kuat terutama di novel beliau yang terbitan Republika.

Hfff, hari buku gini jadi makin pengen ngeborong buku lagi deh. Sayang disini nggak ada toko buku diskon kayak Toga Mas di Jogja yang diskon sampai 20%. Disini cuma ada Gramedia dan Gunung Agung yang bukunya berharga standar. Jadi bikin males kalau nggak ada diskonan gitu. Hahaha.

Yang saya suka setiap membeli buku adalah baunya. Seperti ada excitement tersendiri ketika membuka lembaran dan mencium bau cetakannya. Beda banget sensasinya antara baca buku fisik dengan e-book atau tulisan di internet. Baca buku fisik jauh lebih asik. Mata nggak cepet capek,bakal lebih gampang dipahami, nggak gampang bosen alias lebih sulit ditinggalkan, dan apa yang kita dapatkan bakal nempel lebih lama di otak. Kalau baca artikel di internet saya sering cepet lupa saking banyaknya informasi yang dibaca. Lain halnya dengan baca majalah langsung. Kayaknya ilmunya lebih masuk gitu, hehe. Pengaruh apa ya itu?

Oiya, orang Jepang juga nggak suka baca e-book lho. Saya taunya dari baca ini nih. Hehe, berarti saya sama pinternya dong sama orang Jepang, hihihi. Walaupun jaman virtual kayak gini baca buku kesannya konvensional, tapi bagi saya tetep everlasting kok. Biarpun ada juga pakar bisnis yang bilang, bisnis penerbitan buku konvensional makin lama makin meredup sementara yang bakal merangkak naik adalah bisnis penerbitan buku virtual seperti e-book dan semacamnya.

Anyway, selamat Hari Buku Nasional. Semoga minat baca masyarakat Indonesia semakin meningkat. Nggak itu aja, semoga peningkatan minat baca juga diikuti dengan minat menulis yang akan mengembangkan khazanah perbukuan di Indonesia. Tentunya buku-buku bermutu yang menginspirasi, memotivasi dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

 

Advertisements

Leave a Comment

few words about writing: a reflection

Sudah lama saya menulis di blog ini, mungkin dua tahunan ada kali. Selama kurun waktu itu saya juga kerap menulis posting yang mungkin kurang ada manfaatnya bagi pembaca. Untuk itulah saya menulis posting yang sebenarnya merupakan refleksi ini.

Menulis dan Permasalahannya

Kurang ide, alhamdulillah tak membuat kurang akal dalam menulis :D. Sebab saya pernah membaca satu artikel, yang sayangnya saya lupa di mana, kalau suatu saat lagi nggak ada ide mau menulis apa, maka tulislah apa-apa saja yang pernah kita serap/dapatkan. Entah itu dari buku atau majalah yang kita baca, acara yang kita ikuti, peristiwa yang kita alami, pokoknya apa saja deh. Walaupun sumbernya bebas, isi tulisan haruslah sesuatu yang sekiranya bermanfaat bagi para pembaca tulisan kita. Kalau nggak bermanfaat, mending disimpan sendiri di notes pribadi atau file-file private kita deh. Apalagi kalau tujuannya cuma memuaskan nafsu galau kita, hehehe.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

efek menulis: sembuh dari psikosomatis

Posting ini adalah tulisan yang saya kirimkan dalam Lomba Menulis bersama Jonru pada Desember 2011 yang bertema efek menulis sebagai terapi. Karena temanya masih berbau writing, tidak ada salahnya saya post disini. Selamat menikmati.

Efek Menulis: Sembuh dari Psikosomatis

Bagi saya, menulis bukanlah hobi. Karena saya tidak menulis seproduktif Mas Jonru. Saya juga bukan writing-addict seperti Mbak Afifah Afra yang mencontohkan tips menulis setiap hari minimal satu jam. Saya hanya menulis jika fikiran sedang kacau, perasaan galau, intinya menulis bagi saya adalah sebuah media penyaluran perasaan negatif yang saya miliki.

Saya pernah mengalami satu peristiwa yang saya sebut sebagai sebuah masalah besar, yakni ketika harus hijrah ke ibukota karena diterima bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Lho, bukannya itu membahagiakan ya? Bukannya pekerjaan itu memang saya pilih dan saya mengikuti tesnya dengan kemauan sendiri? Tetapi entah kenapa, menyadari bahwa sebentar lagi saya akan meninggalkan Jogja dan segala kenangan di dalamnya membuat saya begitu sedih. Mungkin mulut bilang ikhlas, tetapi hati dan fikiran saya belum sepenuhnya rela menghadapi kenyataan bahwa saya harus meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabat yang saya cintai di Jogja. Jujur, saya juga takut menghadapi ibukota yang kata orang lebih kejam daripada ibu tiri.
Read the rest of this entry »

Comments (4)

gagal FLP (2)

Gagal maning-gagal maning!! Dua penggal kata andalan Pampam dalam serial Tuyul dan Mbak Yul, masih ingat bukan? Walaupun terkesan lucu (karena diucapkan dengan logat Banyumasan yang kental), makna kata ini begitu mendalam bagi seorang looser – yang sering mengalami kekalahan, kegagalan. Bisa jadi dengan adanya kegagalan yang menerus menimpa membuat mental si looser semakin down dan tidak berminat melangkah lagi.

Hmm, saya menulis ini karena sayalah looser itu. Sebelum bercita-cita menjadi seorang penulis, saya punya banyak sekali cita-cita. Yang masih saya ingat sih penyanyi, penyiar radio, dan mapala sejati. Namun semua kandas di tengah jalan karena setiap mengalami kegagalan pada bidang-bidang itu, saya langsung patah semangat dan tidak ada gairah untuk melanjutkannya lagi. What a really looser.
Read the rest of this entry »

Comments (4)

gagal FLP (1)

Hari ini hatiku agak gelisah. Apa pasal? Hari ini, Selasa 1 Desember 2009 adalah Pengumuman Seleksi Tahap II Calon Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Yogyakarta dimana beberapa minggu lalu aku mengikutinya. Lima hari yang lalu, aku telah dinyatakan lolos seleksi karya dan berhak mengikuti wawancara yang diselenggarakan Sabtu, 28 November 2009. Selepas wawancara, aku merasa biasa saja, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan panitia juga tidak ‘seseram’ seleksi atau audisi lain yang pernah kuikuti.

Tapi entah mengapa hari ini aku lumayan deg-degan. Ba’da shalat dhuha tadi, aku sudah memohon yang terbaik pada Allah. Jika memang ini jalan yang ditunjukkan-Nya untuk memperjuangkan dien-Nya, kumohon kemudahan. Namun jika bukan, kuminta jalan lain yang mungkin lebih baik. Setelah berdoa, alhamdulillah aku sudah agak tenang.
Read the rest of this entry »

Leave a Comment

write for FLP (2)

dear pembaca, ini adalah tulisan kedua saya, masih satu rangkaian dengan tulisan terdahulu pada saat mengikuti seleksi FLP. alhamdulillah, tahap seleksi karya ini lolos. tetapi saya gagal pada sesi wawancara, sehingga sampai detik ini saya belum menjadi anggota FLP, hehehe. monggo kalau mau nyimak 🙂

Tentang Cinta Kita Bicara

Mbak, aku bingung. Kadang aku setuju banget sama aturan Islam yang nggak melegalkan pacaran, tapi aku juga sering ngerasa kalau keberpihakanku itu karena aku udah menjomblo sekitar satu setengah taunan. Dan di sisi lain, kalau ngeliat dua orang cewek-cowok lagi asik-asik pacaran, aku jadi mupeng gitu, pengen juga punya pacar. Soalnya diem-diem aku juga takut, kalau semua sahabatku udah pada punya pacar, cuma aku yang sendirian menjomblo, dan akhirnya jadi perawan tua. Mungkin kesannya lebai ya, Mbak. Tapi aku bener-bener bingung nih. Aku ngerasa mendukung sikap antipacaran hanya karena kebetulan aku lagi nggak punya pacar. Berarti aku munafik dong?! (F, 21 tahun)

Ki, aku udah putus sama cowokku kira-kira 2 taunan. Tapi kayaknya aku nggak bakal bisa lepas dari dia deh! Begitu pun dia ke aku. Kayak udah depend on gitu. Gimana enggak, kalau tiap kali ketemu kita ngelakuin hal-hal yang biasa dilakuin orang-orang pacaran, kayak ciuman, pelukan, mesra-mesraan, ya pokoknya gitu deh. Aku juga bingung, Ki. Kita masih sama-sama sayang tapi tiap kali aku ngajak balik dia nggak mau. Sebenernya gimana sih perasaan dia ke aku? Kadang aku juga bersyukur, mungkin Allah nggak meridhai hubungan ini, karena sebenernya aku juga tau kalau Islam melarang pacaran. Tapi aku juga nggak bisa kalau nggak sama dia. Kayaknya aku nggak bakal bisa sayang sama orang lain selain dia deh! (O, 21 tahun)
Read the rest of this entry »

Leave a Comment

write for FLP (1)

two posts below are my posts was sent to Forum Lingkar Pena (FLP) as a recruitment to joining that authorship forum. this posts have put on me to the next level of judging. but unfortunately I failed on interview session :(. feeling disappointed, of course. but I will never give up to keep writing
this is my first post about my reason to join FLP. let’s check.

Tema: Aku, FLP, dan Dakwah Kepenulisan

Sampaikan dengan Tulisan

Menulis. Memang bukan pekerjaan ringan. Membutuhkan koordinasi apik antara otak kanan dan kiri, yang keduanya tidak boleh bekerja secara bersamaan. Saat mulai menulis, biarkanlah otak kanan yang bekerja. Menulis apapun yang kita pikirkan, kita rasakan. Tak perlu pemikiran panjang. Keluarkan saja semuanya, begitu kata Jonriah Ukur yang akrab disapa Jonru, pendiri Sekolah Menulis Online. Baru jika sudah mantap dan merasa lega karena telah berhasil mencurahkan segala pikiran dan perasaan, gunakan otak kiri untuk menyortir isi tulisan tersebut. Bagian mana yang harus diperbaiki, ditambahi, atau bahkan dibuang, sehingga karya menjadi lebih baik. Teorinya memang sesederhana itu.

Namun teori tak selalu sama dengan prakteknya. Begitu pula yang terjadi padaku. Aku – yang mengaku suka menulis – sudah menerapkan teori itu untuk menyelesaikan tulisan-tulisanku. Nyatanya tetap butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikan, bahkan jika hanya sebuah artikel pendek selembar-dua lembar. Mungkin ini semua karena aku kurang mengoptimalkan kinerja otak kananku, yang notabene adalah media sebuah proses kreatif. Mungkin aku terlalu permisif pada otak kiriku, sehingga ia dengan seenaknya mencampuri urusan yang hanya boleh dilakukan otak kanan, sehingga malah mengganggu proses kreatif itu dengan memberi limitasi-limitasi pengungkung kreativitas. Walhasil, banyak sekali tulisanku yang mengambang, tanpa terselesaikan.
Read the rest of this entry »

Leave a Comment

from nonfiction workshop with Asma Nadia :)

Ahad (3/7) yang lalu saya mengikuti workshop menulis nonfiksi yang diselenggarakan di Asma Nadia Center (pusat pelatihan milik Mbak Asma Nadia) di Depok, tepatnya di Jalan Merapi Raya No 42. Wuih, bener-bener perjuangan lho, mengingat:
1. Depok – yang notabene masuk wilayah Jawa Barat – lumayan jauh dari kos saya, sekitar 2 jaman lah
2. Saya agak takut pergi sendirian ke tempat yang belum pernah saya kenal
3. Saya enggak ngerti mau naik angkot apa menuju kesana
4. Investasi yang nggak terlalu sedikit, hehehe Read the rest of this entry »

Comments (4)

don’t stop blogging!!

Kemunculan dan eksistensi blog bagi penggemar aktivitas menulis layaknya penemuan oase oleh musafir yang kehausan di tengah tandusnya gurun *lebay. Kehadiran blog seolah memuaskan dahaga mereka akan sebuah media ekspresi diri yang nyaris tanpa belenggu dan limitasi. Betapa tidak, dengan adanya media yang merupakan akronim dari kata weblog ini, mereka bisa berekspresi seluasnya melalui tulisan sekaligus mempublikasikannya kepada khalayak. Bahkan sebuah blog bisa menjadi sumber mata pencaharian.

Tentu kita semua tau Raditya Dika, si ‘kambing jantan’ yang melejit popularitasnya ‘hanya’ karena ketelatenannya menuliskan catatan hariannya ke dalam media yang disebut blog. Kini siapa tak kenal Raditya Dika, selain blog pribadinya meraih Indonesian Blog Awards pada 2004, seluruh kejadian konyol yang ia publish ke dalam blog bertajuk kambingjantan itu dibukukan dengan judul yang sama dan sukses meraup best-seller. Tak cukup sampai disitu, Radith – panggilan akrabnya – kini resmi menjadi penulis spesialis novel dan komik komedi, direktur sebuah kantor penerbitan yang dimikinya, bintang film, sekaligus penulis skenario. Lagi-lagi semua berawal dari sebuah media bernama blog. Read the rest of this entry »

Comments (1)

Older Posts »