Archive for Islam

ridho Allah dan ridho manusia

sebesar apapun keinginan duniawi tetaplah ia kecil

sesungguhnya keinginan yang paling agung adalah mencari ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala

Maka barangsiapa mencari ridho manusia

dengan kemurkaan Allah

niscaya Allah akan murka kepadanya

dan membuat manusia menjadi murka karenanya,

dan barangsiapa mencari keridhoan Allah

dengan kemurkaan manusia

niscaya Allah akan meridhoinya dan membuat manusia

menjadi ridho padanya.

(from salafiyyun’s post on Instagram 12122014)

Advertisements

Leave a Comment

masih ada harapan

Kadang ketika sudah lelah dengan berbagai cobaan hidup, kita mengeluh, merasa menjadi hamba termalang, merasa dihinakan serendah-rendahnya dengan ujian bertubi itu, merasa Allah tidak adil terhadap hamba-hambaNya, ingin lari dari kenyataan, ingin menggugatNya, ingin menjadi orang lain yang hidupnya dianggap lebih baik. Namun kita lupa bahwa setiap ujian itu pasti punya tujuan. Dan kalaupun memang benar tidak bahagia di dunia, bukankah ada kehidupan lain yang jauh lebih pantas kita harapkan? Itulah istimewanya orang beriman. Masih bisa mengharapkan akhirat di saat orang-orang kafir tak mampu mengharapkannya.


 

Allah, kalau semua ini akan membuahkan ridhoMu, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk melalui semuanya, dengan selapang-lapangnya hati. Bukan dengan sesak, dengki pada orang lain yang dikaruniai kehidupan yang  — menurut kami — lebih baik.

Allah, kalau semua ini akan meningkatkan derajat kami di hadapanMu, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk terus bersabar, dengan sebaik-baik do’a, ikhtiar dan tawakkal.

Allah, kalau ini semua akan meringankan hisab kami di akhirat nanti, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk tetap berbuat baik pada orang-orang yang menzhalimi kami.

Allah, kalau ini semua merupakan pertanda bahwa Engkau memilih kami, ingin kami lebih mendekatkan diri kepadaMu, kami ikhlas. Berilah kami kekuatan untuk lebih menguatkan iman, meningkatkan khauf dan raja’ hanya kepadaMu.

Allah, kalau ini semua merupakan peringatanMu atas kesalahan-kesalahan kami sebelumnya, kami ikhlas. Semoga dengannya lebih ringan hisab kami di pengadilanMu kelak, semoga dengannya dosa-dosa kami yang begiiiiiitu banyaknya itu berguguran.

Berilah kami keyakinan bahwa ini hanya di dunia. Berilah kami kebahagiaan di akhirat jika apa-apa yang di dunia sudah tidak dapat lagi kami harapkan. Jangan hukum kami atas kesalahan-kesalahan yang dengan terpaksa kami lakukan karena tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Jangan bebani kami melebihi batas kesanggupan kami.

Ijinkan kami terus berharap, bahwa kami bisa menjadi wanita-wanita shalihah penyejuk mata suami, madrasah pertama dan terbaik bagi putra-putri kami.

Kami yakin Engkau sebaik-baik penolong, sebaik-baik tempat bergantung, sebaik-baik tempat mengadu, Engkau Maha Membolak-balikkan Hati, Maha Berkehendak dan Maha Menunjuki.

Hanya kepadaMu kami memohon segala sesuatu ya Allah. Kami percaya sekali bahwa jika ada satu hal yang mampu mengubah takdir, itu adalah do’a, kami akan terus berdo’a. Kami juga percaya, bahwa Engkau tidak akan membebani di luar batas kemampuan kami.

Kami mencintaiMu ya Allah. Dan kami ridho jika semua ini merupakan ketetapanMu.

 

 

Leave a Comment

6 Dzulhijjah 1435: sebuah hijrah

Menelusuri isi blog sejak awal dibuat hingga hari ini, tampaknya pola fikir saya banyak berubah. Yang paling kelihatan di kategori Islam. Tampak ada beberapa manhaj yang saya dalami dari dulu sampai sekarang. Jujur, awal mula kecintaan saya terhadap Islam dimulai dengan mengenal manhaj tarbiyah melalui program mentoring di SMA, dilanjutkan dengan liqo sewaktu kuliah. Selama masa-masa itu ada masa futurnya juga yang tidak perlu saya sebutkan. Sampai saya bekerja di luar kota pun, saya masih cinta sekali dengan manhaj ini. Buku-buku terbitan penerbit “beraliran” tarbiyah pun masih memenuhi rak buku saya hingga kini. Kajian-kajian muslimah, liqo, tahsin semangat sekali saya ikuti (terutama ketika belum punya anak). Bahkan saya mulai berpenampilan “syar’i” dengan rok, gamis dan kerudung lumayan lebar juga karena mengenal manhaj ini.

Tidak saya pungkiri, media internet punya peranan penting dalam mengubah pola fikir saya, mungkin lebih tepatnya, cara Allaah menyampaikan hidayahNya juga melalui media ini. Tak apalah saya dianggap “belajar dari buku, bukan dari guru” tapi memang kenyataannya internet ini benar-benar bermanfaat bagi para pencari ilmu yang agak kesulitan berguru langsung dengan ustadz (walaupun pasti akan beda sekali rasanya menimba ilmu langsung dari ustadz dengan belajar via internet).

Di tengah-tengah menyelami manhaj tarbiyah, saya juga mengenal manhaj lain lagi yakni khilafah. Entah benar atau tidak ya nama manhajnya, hizbut tahrir itu lho pokoknya. Saya juga sempat “mengidolakan” salah satu ustadz dari khilafah yang belakangan ini naik daun, tapi tak perlulah saya sebut namanya.

Namun, ada satu manhaj yang benar-benar lain dari yang lain. Manhaj ini “paling meyakinkan” karena selalu menyertakan dalil-dalil ilmiyah, yakni Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Bahkan dengan mengenal manhaj ini, banyaaaaaaak sekali kebiasaan saya jaman jahiliyah yang layak dihapuskan: seperti nyanyian dan musik, berdandan di depan non mahram, berhias berlebihan alias tabarruj, ngobrol nggak penting dan beramah-tamah dengan lelaki ajnabi, bersalaman dengan non mahram, dsb. Intinya saya lebih mantap dengan Islam setelah mengenal manhaj ini. Manhaj apa sih yang sekeren ini? Tak lain adalah manhaj yang diikuti para pendahulu kita, salafush shalih. Manhaj salaf yang teguh memegang sunnah-sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Bermula dari blogwalking ke blog-blog akhawat salaf (ketika hamil Ruma pada tahun 2013), saya menyimpan rasa penasaran yang begitu tinggi dengan manhaj mereka. Untuk apa mereka benar-benar menutup dirinya dari khalayak? Tidak memajang foto diri, mengenakan niqab di keseharian, masya Allaah mereka benar-benar tidak punya hasrat ingin tampil. Ternyata memang begitulah yang diperintahkan Allaah bahwa wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya, dan seluruh tubuh wanita merupakan perhiasan yang harus ditutup.

Oooh ternyata begitu toh. Betapa Islam memuliakan wanita ya. Tidak membiarkan mereka dipajang, diekspos, diumbar. Melainkan dijaga, ditutup rapat-rapat. Bahkan hijab terbaik bagi wanita adalah rumahnya. Duhai, kurang apalagi coba syariat Islam ini? Dengan mendalami manhaj salaf pun saya semakin mantap untuk resign dari pekerjaan, karena dengan bekerja saya terhalang dari pahala mengurus anak, mengurus rumah tangga, berkhidmat pada suami, dsb. Saya juga takut sekali jika Allaah menanyakan bagaimana pertanggung jawaban saya atas rumah dan anak-anak, mengingat sebagian besar waktu saya habiskan di luar rumah dengan alasan membantu suami mencari nafkah. Ya, memang seorang wanita boleh bekerja. Tapi seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu wajib mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga. Tidak boleh sesuatu yang mubah mengalahkan yang wajib.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berhijrah. Pertama yang harus dirubah adalah gaya berpakaian. Memang sudah lama saya berkerudung, tetapi.. berkerudung dan berjilbab yang sesuai syariat? Belum sama sekali. Akhirnya saya beranikan diri untuk memakai pakaian syar’i perdana pada 6 Dzulhijjah 1435 (30 September 2014) yang saya anggap sebagai momen hijrah. Saya cuek saja, meskipun saya masih belum menjadi IRT, status saya sampai detik ini masih ibu bekerja. Tapi saya lakukan sajalah apa yang sudah mampu saya lakukan, yakni dengan berjilbab yang sesuai syariat. Saya tutup telinga terhadap perkataan yang sempat mampir, di antaranya: ikut aliran apa, kok berubah, kok kurang membaur (kalau di kantor sedang ngobrol nggak jelas bercandaan laki perempuan ngomongin ngeres-ngeres gitu penting banget saya ikut berbaur, ngobrol nggosip ngomongin orang gitu apa harus ikut nimbrung, jadilah di kantor saya lebih banyak diam).

Banyak sekali PR dan perbaikan yang harus saya lakukan, tidak hanya yang sifatnya pribadi saja. Mengikuti manhaj salaf bukan cuma mengikuti serangkaian ibadah-ibadah sunnah yang dicontohkan Rasulullaah saw., mengikuti kajian dengan ustadz-ustadz yang tsiqoh, melainkan juga memperbaiki akhlak dengan Rasulullaah saw. sebagai contohnya. Akhlak kepada suami, kepada anak, kepada kedua orang tua dan mertua, kepada saudara, kepada karib kerabat, kepada sahabat, kepada teman, kepada orang-orang di lingkungan sekitar, dan disitulah tantangan terbesarnya. Dengan berakhlak baik pada mereka tentu akan membuahkan kecintaan pada kita, sehingga mereka pun menjadi tertarik mempelajari manhaj yang kita ikuti. Insya Allaah. Aamiin. Wallaahul musta’an.

 

Comments (2)

Protected: I love jilbab

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.

journey to be syar’i

Akhirnya kutuliskan juga tulisan ini. Tentang perasaan yang kusimpan rapat-rapat dalam diam. Perasaan yang sulit kulukiskan, ya, aku mengaguminya. Awalnya sama sekali tak terfikirkan akan merasa begini. Aku ingin sekali seperti mereka.

Mereka yang menutupkan hijab rapat-rapat ke seluruh tubuh, bahkan juga ke wajah-wajah mereka. Mereka yang begitu terlindung, tersembunyi di istana ternyaman, rumah-rumah mereka. Mereka yang kesehariannya berjibaku di rumah bersama anak-anak, benar-benar menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Ya, mereka begitu spesial, tak tersentuh. Bagaikan mutiara cantik yang tersimpan rapat di dalam cangkangnya. Bagaikan logam mulia yang tersimpan rapat di kotak indahnya. Mereka yang, di jaman serba terbuka seperti saat ini, benar-benar seperti terasing, langka, sedikit. Berbeda, sehingga menjadi begitu istimewa.

Saat selfie dan hashtag ootd (outfit of the day) menjadi trend seiring menjamurnya social media, mereka memilih untuk tidak memajang foto diri, bahkan tidak pula berfoto dengan niqabnya. Saat orang rame-rame membeli tongsis untuk semakin mengekspresikan narsismenya, sama sekali tak terbersit dalam benak mereka untuk mengikutinya. Untuk apa pula ya. Saat orang berlomba-lomba untuk tampil cantik dengan gaya terkini, dengan make-up yang semakin mempermanis penampilan mereka, mereka semakin menyederhanakan hijabnya, tidak tergiur dengan trend masa kini.

Dulu aku berfikir, hijab syar’i itu

  1. tidak membentuk lekuk tubuh, yang mana sepemahamanku tidak membentuk lekuk tubuh itu sepanjang tidak memakai baju ketat alias ngepress body, memakai rok panjang atau gamis yang tidak membentuk lekuk kaki, sudah termasuk syar’i
  2. memakai kerudung yang menutup dada, dada saja, bagian perut tidak tertutup kerudung tidak masalah, pun punggung yang hanya tertutup pakaian, yang penting dada tertutuplah, meskipun kerudungnya dari bahan yang tipis seperti katun paris atau sifon

Sungguh, hanya itu saja pemahamanku terkait hijab syar’i itu. Sehingga sejak November 2011 sampai sekarang, aku selalu setia berhijab syar’i — versiku sendiri. Aku selalu mengenakan rok panjang atau gamis, atau daster. Kerudungku juga selalu menutup dada. Anti lilit atau dimodel macam-macam seperti hijabers masa kini. Paling banter gaya overslag Ratih Sang yang hanya sekali lilit ke atas kemudian bagian yang tidak dililit diberi bros/pin. Cukup menutup dada menurutku waktu itu. Ketika sedang insaf alias ingin berjilbab yang rada gede, aku hanya menumpukkan dua jilbab bahan paris menjadi satu jilbab, melipatnya dengan lipatan yang lebar, kemudian memakainya tanpa melilit, dibiarkan saja hingga sempurna menutup dada. Bagiku yang demikian itu, syar’i. Aku melenggang dengan penuh percaya diri dengan pakaian yang menurut pendapatku sudah syar’i. Rok panjang — entah bagaimanapun warna dan motifnya, kemeja lengan panjang — entah bagaimanapun model dan bahannya, gamis — entah bagaimanapun bahannya, kerudung dobel-dobel — entah bagaimanapun material dan warnanya.

Tahun demi tahun berganti, tidak terasa sudah hampir 3 tahun aku berpenampilan “syar’i.” Mendadak aku dilanda kebosanan melihat tumpukan baju di lemari. Baju sih banyak tapi yang dipakai itu lagi, itu lagi. Ditambah lagi aku adalah ibu menyusui sehingga semakin terbataslah pilihanku dalam berpakaian. Setiap membuka lemari pakaian yang penuh sesak itu aku selalu dan selalu ingin membeli baju baru. Tapi apa daya, baju jaman sekarang mahal-mahal. Apalagi kalau ingin mengikuti trend. Ditambah lagi sejak adanya Instagram, socmed andalan para pebisnis online, bikin semakin lapar mata. Incaranku adalah butik-butik untuk kalangan menengah ke atas yang tentu saja perlu merogoh banyak kocek bahkan jika hanya untuk membeli selembar pashminanya. Lalu gamis atau dressnya? Jangan ditanya. uang setengah juta saja hanya dapat sepotong. Aku makin meringis. Tiba-tiba terbersit ide. Kenapa aku tidak beli kain lalu menjahitkannya saja ya? Pasti jatuhnya lebih murah. Akupun semangat 45 mendatangi satu toko kain di kotaku. Semakin lapar matalah aku. Cerutti, jersey, chiffon, katun jepang, warna-warni cantiknya semua sungguh menarik minatku. Semua ingin kubeli. Padu padan kain ini dengan kain itu, ditambah aksesoris ini-itu, renda cantik di sana-sini, motif ini dan motif itu, sungguh membuat semangatku menyala. Apalagi jika membayangkan pujian dari teman-temanku kalau aku berhasil menjahitkan sebuah model baju saja. Bakal ditanya, “beli di mana? kok lucu?” lalu dengan bangga kujawab, “bikin sendiri” dan dengan jumawa membatin, limited edition, nggak bakal ada yang ngembarin.

Namun seketika itu juga aku langsung pusing. Pusing saja membayangkan, mau bikin model apa lagi ya? Sackdress dan cardigan, dress panjang, gamis dengan aksen begini begitu. Tambah asesoris apalagi ya? Pita cantik, renda, atau apa. Kerudungnya mau dibikin bagaimana? Gaya apalagi yang bisa menutup dada? Duh pusing. Mendadak di tengah kepenatan itu, aku teringat dengan blog-blog akhwat dan ummahat yang bagiku, keren abis. Mereka yang deskripsinya sudah kusebutkan di bagian awal tulisan ini. No need tutorial for hijab syar’i. Syar’i itu simpel, sederhana. Memudahkan yang sulit, bukan menyulitkan yang mudah. Syar’i itu tidak pernah berkorelasi dengan fashion. Syar’i itu tidak stylish. Kalau masih mau fashionable dan stylish, tidak usah berjilbab syar’i. Dan jangan pernah menggabungkan syar’i dengan stylish atau fashionable. Kalau masih pengen dibilang cantik, jangan berjilbab syar’i. Karena sejatinya hijab syar’i itu menutupi perhiasan, bukan menjadi perhiasan baru. Jangan pernah berharap untuk bisa tampil lebih cantik setelah berjilbab syar’i.

Lalu aku seperti ditampar.

Akupun membayangkan, betapa nyamannya berjilbab syar’i itu. Sudahlah simpel, tidak perlu waktu lama memadu-padankan ini itu. Satu setel jubah dan jilbab instan, siap dalam waktu kurang dari 5 menit. Betapa enaknya. Waktu tidak terbuang percuma untuk pilih-pilih pakaian, melipat-lipat jilbab, menusukkan jarum pentul dan peniti, mengepaskan jilbab ke wajah. Kalau mau shalat, tidak perlu pakai mukena karena jilbab syar’i sudah sangat layak dijadikan pakaian shalat. Betapa asyiknya jalan kemana-mana tas tidak berat karena harus bawa mukena. Betapa hemat waktunya setelah wudhu tidak kelamaan dandan membetulkan jilbab. Pergi kemana-mana tidak perlu pakai make-up, bahkan jika hanya seulas eyeliner di kelopak mata pun, di acara walimahan sekalipun. Bagaimanalah make-up dibolehkan sedangkan wajah saja dianjurkan untuk ditutup? Aiiih sepertinya seru sekali berjilbab yang benar-benar syar’i.

Tapiii, pakaian-pakaian cantik itu? Motif-motif itu, renda-renda itu, warna-warni itu, berarti harus say goodbye dong? Iya. Karena syar’i itu tidak boleh tabarruj. Syar’i bukan cuma bergamis, ber-rok panjang, tapi masih menonjolkan kecantikan yang kita punya. Syar’i juga bukan cuma berkerudung menutup dada. Syar’i itu tidak menonjolkan lekuk tubuh, termasuk lekuk tangan, sehingga jilbab yang ideal itu sepaha, yang menutup lekuk tangan (baru tau banget kalau ini mah). Syar’i itu tidak ketat sehingga material yang membentuk tubuh seperti spandex-jersey sebaiknya ditinggalkan. Pakaian syar’i itu tebal, sehingga katun paris, chiffon, cerutti jika tanpa inner tebal, coret saja. Syar’i itu sederhana, jadi sekarang PRnya, sederhanakan hijab saja dulu. Dan setelah punya keinginan berjilbab syar’i, alhamdulillah keinginan untuk membeli baju-baju cantik lucu itu pun musnah sudah.

Namun sayang kini keinginan itu kini berganti untuk membeli setelan hijab, yang untung saja harganya tidak semahal pakaian cantik lucu itu. Tapi tetap saja, belinya pakai uang juga kan? Zzzz beginilah wanita. Dimaklumi saja ya 🙂

Comments (2)

ini hijabku, mana hijabmu?

Sudah lama tidak posting tentang Islam, religion that I believe in. Terakhir posting kayaknya tentang hijab syar’i, tepat pada Ramadhan setahun yang lalu. Subhanallaah, sudah lama sekali ternyata ya. Dan kali ini hal yang mau saya posting juga agak nyerempet ke hijab-hijab gitu deh.

Jujurly (nyontek bahasanya Karel Sulthan Adnara, babyvis kece yang eksis di Facebook itu), saya sering labil perkara hijab syar’i ini. Sudah tahu dalil dan kewajiban mengenakannya, syarat-syarat pakaian yang dikategorikan syar’i untuk Muslimah, sudah beberapa kali menulis tentang hal tersebut entah itu di blog ataupun notes pribadi, tapi teteeep aja bandel belum mengenakannya perfectly. Oke, saya memang berhijab (berpakaian muslimah plus kerudung). Sejak akhir 2009 saya sudah mengenakan pakaian muslimah di manapun saya berada dan di depan orang-orang yang bukan mahram saya. Tapi sudahkah hijab saya memenuhi syarat untuk disebut pakaian muslimah? Sudahkah pakaian yang saya kenakan membuat saya lebih dicintai Allah karena telah memenuhi perintahNya? Sepertinya belum ya.

Jujur nih ya, saya bukan orang yang konsisten. Beberapa kali dalam beberapa kesempatan saya mengenakan pakaian yang terhitung syar’i. Beberapa kali saya melebarkan khimar yang saya pakai, mengulurkannya tanpa melilitkan seperti yang biasa saya lakukan. Adik saya aja sampai apal dengan kebiasaan saya yang nggak konsisten ini. Terkadang dia mengolok-olok, dan parahnya, saya ikut terpancing sama olokannya lho. Dan benar saja, setelah itu saya tak lagi berkhimar lebar. Kadang “kegoncangan” itu juga saya alami saat mematut diri di cermin dengan khimar lebar, mendadak ada bisikan yang saya yakini berasal dari syaithan sebagai berikut: “tuh, tua banget mukamu pakai kerudung begituan. nggak ada cantik-cantiknya. malu-maluin ajee” atau “yailah Ki, kelakuan masih minus, shalat masih buru-buru, nggak selalu di awal waktu, tilawah juga bolong-bolong aja masih pede ya makai kerudung gede begini, nggak malu gitu?” atau “aktivis dakwah bukan, ikut liqo’ juga belum, dateng kajian hampir nggak pernah, masa mau pake hijab syar’i, kayak udah pengalaman gitu berIslamnya” atau “nggak kepengen keliatan cantik kayak si X, gaya kerudungnya itu loh, oke banget, rapi, manis, selalu update, nggak kayak kamu yang ngebosenin” dan seketika itu pula luruhlah niat saya untuk berhijab sesuai syariat. Ampuni saya Allah.

Saya labil banget urusan ini. Baru-baru ini saya order gamis plus khimar syar’i dari satu teman SMA. Saya coba di cermin. Cantik, seperti bukan saya. Tapi apa saya pantas mengenakan pakaian seperti itu dalam keseharian? Sementara hari-hari masih saya habiskan di kantor, meninggalkan anak satu-satunya dengan babysitter, ibu macam apa itu (tuh kan galau lagi!) dan saya bekerja sebuah instansi pemerintahan yang notabene nggak bersih-bersih amat (banyak uang syubhat gitu). Udah gitu di kantor saya kebanyakan browsing plus ngeblog kayak gini kalau lagi nggak ada kerjaan (makin nggak jelas dan menunjukkan bahwa I’m not a professional Muslimah). Ah sudahlah ya, kebanyakan galau gini malah bikin apa yang baik untuk dikerjakan (baca: berhijab lebih baik) jadi gagal lagi. Berubah ke arah yang lebih baik itu harus. Meski sedikit demi sedikit. Istiqamah, itu sulitnya. Bantu saya ya, Allah.

Dan kali ini saya masih mengenakan pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Kemeja, rok, kerudung paris yang didobel dengan kerudung paris dan “agak” diulurkan menutup dada, kaos kaki yang agak menerawang. Apa yang kurang dari penampilan saya menurut syariat Islam? Mungkin kerudung dan kaos kakinya ya. Kerudung harusnya lebih dilebarkan lagi hingga menutup pantat dan menggunakan bahan yang lebih tebal dibanding paris meskipun sudah didobel. Kaos kaki juga seharusnya dengan bahan yang lebih tebal sehingga tidak menerawang. Yak, harus belajar lebih baik lagi. Beramal lebih baik lagi. Dan… jangan cuma di bulan Ramadhan!

note: saya juga sering males pakai kaos kaki kalau perginya deket rumah, alias cuma ngambil jemuran, beli sesuatu di warung deket rumah, nemuin tamu yang datang ke rumah, atau pergi di malam hari dalam acara yang nggak direncanakan (X: mendadak suami ngajak makan di warung deket rumah atau beli apa gitu di malam hari). saya juga kadang sembarangan aja ambil kerudung instan, kadang itu nggak terlalu lebar walaupun masih menutup dada sih karena sebagian besar kerudung yang saya punya emang menutup dada. saya juga kadang ambil cardigan yang lengannya cuma 7/8 gitu tanpa saya dobelin lagi dengan deker pendek agar menutup lengan perfectly, just in case of ngangkat jemuran, beli barang di warung deket rumah. saya selalu mikir ‘ah, gak papa, cuma deket ini. lagian yang nggak ketutup cuma dikit ini. udah malem juga nggak ada yang ngeliat.’ padahal Allah Melihat. Allah Tahu. dan sekecil apapun bagian tubuh yang nggak tertutup hijab bisa jadi bahan bakar api neraka. ampun dah, serem amat. na’udzu billah. semoga yang buruk-buruk itu nggak terulang. aamiin.

 

Leave a Comment

sudah syar’ikah hijabku?

Banyak ilmu baru yang diperoleh habis baca buku terbarunya ustadz @felixsiauw yang diilustratori mbak @benefiko Yuk Berhijab. Diantaranya akan aku share disini. Beberapa poin terasa tidak menyenangkan bahkan “menyakitkan.” Seakan keluar dari zona nyaman selama ini begitu susahnya. Tapi surga Allah juga begitu jauhnya. Sementara dosa begitu bertumpuk, sehingga yang terbayang nyata adalah suasana kubur dan neraka yang mencekam.

Jangan dulu ngomongin neraka deh. Ngomongin mati aja luar biasa syeremnya. Bayangkan kita mati. Ruh kita melayang menuju Sang Khaliq. Sementara jasad kita dimandikan, lalu dikafani. Ya, hanya selembar kain putih melingkupi tubuh. Nggak ada perhiasan sama sekali yang kita bawa. Nggak tersisa sedikitpun kecantikan. Lalu, bagian tersyeremnya, ketika sandal para pelayat mulai menjauh (ya Allah, apakah akan ada yang melayat aku? Berapa banyakkah, mengingat selama ini belum bisa jadi manusia yang bermanfaat bagi sesama :(( ), hingga sandal terakhir menjauhi tanah pekuburan kita, muncullah dua malaikat yang bertanya, “Siapakah Tuhanmu?” Oh bisakah kita menjawab, “Allah”? Atau justru kita terbengong karena selama ini lebih sering mengabaikan perintahNya.

Oke, back to the topic tentang hijab. Inilah poin-poin penting yang baru kuketahui dan penting untuk dishare.

  • hijab syar’i terdiri dari jilbab sepanjang bawah mata kaki dan khimar/kerudung menutup dada
  • jilbab lain dengan kerudung, karena jilbab adalah pakaian longgar yang menutup (cover) seluruh tubuh, bukan sekedar membungkus (wrap), sehingga yang dikategorikan jilbab antara lain: gamis, jubah, mantel sampai bawah mata kaki (lebih panjang malah lebih baik)
  • rumus hijab syar’i = pakaian rumah (ats tsaub) + jilbab + khimar – tabarruj
  • tabarruj adalah berhias berlebihan, bertingkah laku berlebihan sehingga menarik perhatian lawan jenis bukan mahram
  • tujuan berhijab adalah untuk menutupi kecantikan/perhiasan wanita, bukan malah menjadi perhiasan baru (ini yang paling jlebb, sebab sengaja atau nggak, kita juga pengen terlihat cantik kan dengan pakai hijab?)
  • tidak perlu tutorial hijab segala macam, seharusnya cukup QS An Nur: 31 (perintah menutupkan kain kerudung ke dada) dan QS Al Ahzab:59 (perintah mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh, sehingga  yang terlihat hanya muka dan kedua telapak tangan)
  • sejatinya hijab itu menyederhanakan yang rumit, bukan merumitkan yang sederhana
  • kehidupan wanita terdiri dari kehidupan khusus dan kehidupan umum. Kehidupan khusus adalah kehidupan wanita di rumahnya sendiri bersama para mahramnya. Dalam kehidupan khusus ini wanita boleh memakai ats tsaub/pakaian rumah yang dapat memperlihatkan perhiasannya (antara lain leher, tangan, kaki, dsb) atau anggota wudhunya. Jika di rumahnya tersebut ada pria non mahram, wanita tersebut hendaknya mengenakan ats tsaub yang lebih panjang (menutupi auratnya) ditambah khimar. Sedangkan kehidupan umum wanita meliputi tempat-tempat umum dimana wanita tersebut beraktivitas, seperti: kantor, sekolah, pasar, masjid, rumah sakit, kampus, dll. Dalam kehidupan umum ini wanita diwajibkan memakai hijab syar’i yang meliputi ats tsaub, dirangkap dengan  jilbab dan khimar, plus kaos kaki
  • syarat hijab syar’i adalah tidak membentuk lekuk tubuh, tidak transparan, tidak ketat, bukan merupakan pakaian syuhrah (pakaian pencari perhatian/popularitas), tidak menyerupai pakaian laki-laki, tidak menyerupai pakaian kaum lain (yahudi, nasrani), tidak diberi wewangian, menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan
  • lalu kalau ingin tampil cantik bagaimana? silakan tampil cantik di hadapan suami atau mahram dengan memakai ats tsaub secantik-cantiknya ketika berada di rumah (dengan catatan tidak ada pria non mahram lho)
  • untuk keluar rumah, sederhanakan hijab agar tidak jatuh pada tabarruj
  • syar’i tidak pernah bisa disandingkan dengan fashion
  • hijab juga bukan pelarian para fashionista yang menjadikan gaya hijab sebagai style baru dalam dunia fashion
  • menginisiasi hijab modis dengan alasan agar hijab dapat lebih diterima masyarakat, bukan pilihan bijaksana, sebab jika masyarakat mengikutinya, kita sebagai inisiatornya bisa kena dosa jariyah (hiii na’udzu billahi min dzalik), jadi sebaiknya bagaimana? gunakan hijab syar’i dan syiarkan

Nah, beginilah ilustrasi hijab syar’i itu.

rumus hijab syar’i

Huaaa.. kesindir abiss. Mengingat selama ini hijab yang aku pakai masih jauh sekali dari kriteria itu. Masih dililitin ke belakang salah satu sisinya (meski masih menutup dada), masih kepingin nyoba tutorial hijab yang -aslinya- ruwet  itu, kadang masih pakai atasan yang agak ngepas, kadang masih pakai cardigan yang lengannya 7/8 tanpa manset tangan, kaos kaki yang dipake masih yang bahan tipis sehingga agak transparan, dan sederet kesalahan lain dalam pemakaian hijab yang syar’i.

Dan yang paling bikin kesindir, adalah bagian sejatinya hijab itu untuk menutupi perhiasan, bukan menjadi perhiasan baru. Jujur aja kerap merasa nggak cantik seandainya memakai hijab yang syar’i. Tetapi memang itulah tujuan pemakaian hijab.

Sama-sama belajar memperbaiki hijab yuk. Biar dicintai Allah. Biar cuma cantik di mata Allah. Walaupun pasti, godaannya buanyaaakk banget. Ketika aneka jenis pakaian modis dan trendi menyerbu, ketika futur iman melanda sehingga kita merasa tidak pantas, ketika banyak orang mengompori untuk meninggalkan yang syar’i, ketika banyak orang memandang aneh dan mengolok-olok. Aaaarghh.. betapa sulitnya istiqamah pasti.

Hanya Allah satu-satunya penolong.

Leave a Comment

10 muwashshaffat tarbiyah from hassan al banna

  1. salimul ‘aqidah (akidah yang selamat)
  2. shahihul ‘ibadah (ibadah yang benar dan sesuai sunnah)
  3. matinul khuluq (akhlak yang mantap)
  4. mujahidul linafsihi (bersungguh-sungguh)
  5. qadirun ‘alal kasbi (mandiri)
  6. qawiyyul jismi (fisik yang sehat dan kuat)
  7. mutsaqaful fikri (berwawasan luas)
  8. munazham fi syu’nihi (tertata/organized)
  9. haritsun ‘ala waqtihi (menjaga dan menghargai waktu)
  10. nafi’ul lighayrihi (bermanfaat bagi orang lain)

Pertama tau 10 muwashshaffat ini pas baca Gue Never Die-nya Salim A. Fillah tahun 2007 (benernya itu buku udah terbit tahun 2005-an). Saking terkesannya langsung saya catet di notes jaman kuliah. Padahal waktu itu belum terlalu ngerti tentang tarbiyah (emangnya sekarang ngerti?). Di lampiran buku itu, Akh Salim menjabarkan berbagai bentuk implementasi sepuluh muwashshaffat yang dicetuskan oleh Asy Syahid Hassan al Banna, yang ternyata maksudnya adalah bentuk pribadi Muslim ideal yang ingin dibentuk oleh dakwah tarbiyah, ke dalam tiga aspek: fisik, emosi dan spiritual.

Pengamalannya, wow, sungguh bukan perkara mudah. Di mana kalau kita berhasil menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, akan melahirkan pribadi Muslim yang komplet dan oke banget deh pokoknya. Penjabarannya gini nih (versi idealnya saya, tapi comot-comot dari Gue Never Die juga sih).

Read the rest of this entry »

Comments (4)

fabi-ayyi alaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan

Allah swt. memiliki seratus rahmat yang salah satunya telah diturunkan ke muka bumi, yang dengan rahmat itu membuat makhluk-makhluk ciptaanNya mulai dari manusia, jin, hewan dan tumbuhan saling mencintai dan berkasih sayang, serta membuat seorang perempuan jahat menyayangi anaknya. Sementara 99 rahmat lainnya masih disimpan-Nya untuk hari kiamat (HR Bukhari dan Muslim)

Bayangkan, hanya dengan satu rahmat dariNya saja dunia ini sudah begitu indah, bagaimana di akhirat nanti ya? Terhadap semua kenikmatan itu, sudahkah kita bersyukur? Atau kita lebih sering menghitung-hitung amal apa saja yang telah kita lakukan untuk-Nya? Padahal tidak akan sebanding. Sungguh sampai kapanpun.

Dari salah satu chapter buku terbaru Ustadz Fauzil Adhim, Mencari Ketenangan di tengah Kesibukan: Di Mata Kita Ada Nikmat-Nya.

Leave a Comment

Older Posts »