Archive for Indonesiaku

pendidikan seperti apa yang kita harapkan?

Pagi ini agak galau. Kemarin sore menyimak kumpulan twit Ustadz Felix Siauw yang sudah dirangkum dalam chirpstory tentang “Sistem Pendidikan di Indonesia.” Entah mengapa, justru pesimis yang melanda. Sebetulnya sudah sering baca, terutama tulisan-tulisan Ustadz Fauzil Adhim tentang pendidikan karakter, yang ternyata tidak pernah tereksekusi penuh di Indonesia.

Semakin saya renungi, ilmu tanpa amal takkan pernah berarti. 22 tahun menempuh pendidikan formal, apakah lantas saya menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, mampu memanfaatkan ilmu yang saya miliki untuk kemaslahatan umat? Jawabannya: Tidak! Saya jadi parno sendiri, untuk apa sekolah, kalau akhirnya bertujuan akhir untuk: mendapatkan nilai terbaik, menjadi juara kelas, lulus dengan nilai memuaskan, diterima di sekolah lanjutan/universitas favorit, kerja di tempat bonafid, menjabat posisi penting, menjadi kaya, itu saja! Minus pendidikan untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Penerapan Syariat: Kunci Penegakan Hukum di Indonesia

Muak bicara masalah penegakan hukum di Indonesia. Betapa tidak, jika setiap hari kita disuguhi rentetan kasus pelanggaran hukum yang nyaris tak ada habisnya. Belum tuntas satu kasus, kasus lain segera mengikuti. Banyaknya badan, lembaga, atau komisi, yang berfungsi menguatkan penegakan hukum di Indonesia juga belum menjamin terpecahkannya berbagai masalah hukum yang semakin menggila ini.

Aneka problema yang dihadapi dunia hukum di Indonesia bersumber dari satu hal: pemberian sanksi yang masih kurang memberatkan dan tidak membuat jera para pelakunya. Bagaimana bisa jera, jika hukuman yang setimpal untuk para koruptor hanya dimasukkan dalam penjara yang full of amenities layaknya hotel berbintang. Sudah itu, agaknya hukum Indonesia sudah terkotori dengan politik uang. Semakin banyak seseorang memiliki uang, semakin kebal hukumlah ia. Read the rest of this entry »

Comments (5)

Corruption from Education??

Tulisan ini resmi saya selesaikan pada April 2008. Ketika duduk di semester 4 itu saya sedang getol-getolnya menulis, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa saya memang berbakat menulis, ya ampuun. Dengan pedenya, saya mengirimkan artikel ini ke surat kabar kesayangan saya, Kedaulatan Rakyat. Dan sangat berharap tulisan saya ini masuk dalam salah satu rubriknya: Suara Mahasiswa. Hmm, tapi hingga kini harapan saya belum menjadi kenyataan, hihihi. Tulisan ini juga mendapat komentar – sekaligus kritik – dari salah satu teman, katanya tulisan saya ini bahasannya kurang up to date, jadi wajar aja kalau belum dimuat. Hmm, mendengar kritik tersebut, saya makin semangat menulis. Apaaa saja saya tulis, walaupun hingga kini masih ngendon di laptop saya, alias belum saya publikasikan. Yasudahlah, lets enjoy my first-sent-to-newspaper writing.

Korupsi, kata yang mulai kerap didengungkan seiring kejatuhan rezim almarhum Soeharto pada 1998 ini rupanya sedikit banyak bersumber dari bobroknya sistem pendidikan Indonesia. Mengapa demikian?!

Read the rest of this entry »

Leave a Comment