Archive for hidup

ujian dan kesabaran

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datangnya pertolongan Allaah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allaah itu dekat.” (QS Al Baqarah: 214)

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (QS Al ‘Ankabut: 2)

Seseorang yang mengaku beriman pasti akan menemui ujian dalam hidupnya. Entah itu berupa kesenangan – hal yang disukai, atau kesedihan – hal yang dibenci. Banyaknya harta, anak-anak yang brilian, rumah dan perabotan mewah, jabatan tinggi, adalah beberapa ujian berupa kesenangan yang semestinya kita sikapi dengan penuh syukur.

Lalu jika suatu saat dalam hidup kita ditimpa kesedihan, langkah apa yang harus kita ambil untuk melaluinya? Ada satu kata yang begitu mulia. SABAR.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allaah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al Baqarah: 45)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allaah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allaah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 153)

“Dan bumi Allaah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS Az Zumar: 10)

Setiap orang yang beriman pasti diuji. Setiap orang yang ingin meneguhkan dirinya, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allaah, menetapkan diri di atas jalan yang lurus, pasti akan menemui ujian. Itu pasti, niscaya. Dan seringkali ujiannya berupa suatu hal yang tidak kita sukai. Pahit, sungguh pahit cobaan itu. Tapi yakinlah, Allaah tidak akan menimpakan cobaan yang kita tidak sanggup untuk menanggungnya. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Sangat jelas perkataan Allaah dalam ayat terakhir surah Al Baqarah.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya. Apalagi hamba yang ingin mendekatkan diri padaNya. Ingin beribadah kepadaNya dengan sepenuh cara. Selalu ada ujian saat ingin melakukan ketaatan. Allaah ingin menguji sejauh mana kesungguhan kita dalam menaatiNya. Menguji komitmen kita, syahadat yang selalu kita lantunkan dalam setiap shalat kita.

Setiap kesulitan yang datang menimpa kita, jangan pernah berhenti yakin dan berharap, bahwa itu semua akan menjadi penggugur dosa-dosa kita, yang meringankan hisab di akhirat nanti. Insya Allaah.

Setiap kezhaliman yang dilakukan orang lain pada kita, setiap kenyataan pahit yang harus kita terima, setiap keadaan yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan harapan, itu adalah cara Allaah untuk menguji kita, seperti apa kesabaran kita. Jika kita mampu mengahadapinya dengan sepenuh kesabaran, derajat kita akan diangkat. Namun jika tidak, kita mengeluh, marah-marah, berkata kasar, mengingkari takdir Allaah, menyesal terhadap semua yang telah terjadi, yaaa kita akan selalu diuji dan diuji dengan permasalahan yang sama sampai kita mampu mengahadapinya dengan baik.

Namun, sekuat-kuatnya kita, sesabar-sabarnya kita, tetap saja kita butuh sesuatu atau seseorang untuk menumpahkan semua kegundahan. Tentu sebaik-baik tempat untuk mengadu adalah Allaah. Maka menangislah dalam setiap sujud kita, basahilah sajadah kita dengan memujiNya dan meminta pertolonganNya agar dikuatkan menghadapi segala kesulitan. Kita selalu butuh Allaah. Dengan kegundahan itu, Allaah seperti mengingatkan kita bahwa Dia adalah sebaik-baik tempat untuk bergantung, meminta pertolongan.

Tidak ada salahnya juga untuk mengeluhkan permasalahan yang rasa-rasanya tidak dapat kita tanggung sendirian. Bagilah ia kepada orang-orang terdekat yang bisa kita percaya. Sepanjang orang itu tidak mempunyai niat buruk untuk semakin menghancurkan kita, mengompori kita untuk bermaksiat padaNya, membuat kita semakin sedih dan ingin mengeluh terus. Paling baik jika orang itu menasihatkan sabar.

Saat iman diuji, tak perlulah kita menceritakan detailnya di socmed. Nyetatus, ngetwit, atau apalah yang berbau kegundahan hati kita. Cukup Allaah dan orang-orang terdekat kita saja yang tahu. Apakah menulis status di FB dapat menyelesaikan masalah? Bukannya malah mengundang orang-orang untuk menanggapi, berkomentar apa saja, terhadap suatu masalah yang seharusnya kita simpan rapat.

Sebagai penutup, saya kutipkan perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah tentang kesabaran,

“Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….”

Sabar memang sulit. Hanya orang-orang terpilih yang mampu melakukannya. Namun pahalanya tanpa batas, sehingga sabar itu harusnya tanpa batas, tak bertepi. Jika ada yang mengatakan, “sabar itu juga ada batasnya” berarti dia sudah tidak sabar. Semoga kita semua mampu melalui semua ujian dan cobaan yang diberikanNya dengan sepenuh kesabaran. Aamiin.

 

Advertisements

Leave a Comment

what are we looking for?

Sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor, biar lebih semangat saya dengarkan rekaman kajian ustadz Syafiq Riza Basalamah beberapa waktu lalu yang berjudul “Berebut Seekor Bangkai.” Awalnya saya fikir kajian itu akan membahas tentang ghibah (hihi ngasal banget mentang-mentang bawa “bangkai”) ternyata tentang berlomba-lomba masalah dunia yang pada hakikatnya sama hinanya dengan bangkai.

Subhanallaah, ternyata dunia, yang kita perjuangkan mati-matian, yang kita kejar habis-habisan, dimana kita kerahkan segala daya upaya untuk meraihnya, hakikatnya hanya seperti bangkai. Betapa hinanya. Dan betapa ruginya kita yang tertipu. Lalai dengan urusan akhirat demi mengejar dunia yang sama rendahnya dengan bangkai.

Dunia itu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat. Kenikmatannya. Pun juga siksanya. Jadi, kalau kita merasa mulia dan dimuliakan Allaah tersebab banyaknya harta yang dikaruniakanNya pada kita, atau anak-anak yang semuanya “jadi orang” di dunia ini, jangan bangga dulu. Boleh jadi itu ujian. Begitupun jika kita merasa dihinakan karena kekurangan harta, belum diberi keturunan, dsb itupun juga ujian. Bisa jadi di akhirat nanti yang kita dapatkan ternyata berkebalikan dengan yang kita dapatkan di dunia.

Kalau sudah begini, fikiran kembali melayang pada anak di rumah. Untuk apa saya berpayah-payah mencari kemuliaan di dunia sementara amanah yang menjamin kemuliaan di akhirat malah saya tinggalkan. Ibu, adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Bukan sekolah mahal bertaraf internasional. Ibu, adalah pemberi kasih sayang terbaik bagi anak-anaknya. Bukan babysitter profesional yang dibayar mahal. Apalagi cuma pembantu yang dicari asal-asalan. Dan saya jauh lebih ingin anak saya menjadi anak shalihah yang do’anya menjadi amal jariyah bagi kami orang tuanya.

Saya yakin, jika pada waktu kecil mereka dididik dengan pendidikan terbaik oleh ibunya, dialiri kasih sayang tanpa tepi yang bukan sekedar dibanjiri fasilitas mewah, mereka akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Membanggakan disini bukan cuma sebatas punya pekerjaan wah, penghasilan wow, pangkat jabatan top, tapi membanggakan dalam akhlaknya kepada Allaah, kepada Rasulullaah, kepada bapak ibunya, kepada kerabat dan sahabatnya, serta kepada manusia-manusia lain di sekitarnya.

Dunia itu cuma sementara. Hilang sudah semua nikmat jika Allaah telah takdirkan waktu kita habis untuk menikmatinya. Harta juga tidak dibawa mati. Hanya amal shalih sahabat sejati kita di alam barzakh sana. Jadi buat apalagi sih saya bersusah payah mencari dunia? Menghambakan diri pada pundi-pundi rupiah yang katanya merupakan alat utama pemuas kebutuhan anak. Lupa bahwa tugas utama wanita adalah mendidik dan membesarkan anak-anaknya menjadi generasi yang mengagungkan Rabbnya. Mengajari mereka aqidah, akhlak, iman, Islam, Al Qur’an dan sunnah yang dengan itu semua insya Allaah kita akan selamat dunia akhirat. Untuk apa hidup bergelimang harta jika setelah kita meninggal, anak-anak bukannya mendo’akan kita melainkan berebut warisan? Untuk apa selagi muda kita bersibuk-sibuk meninggalkan anak, menitip anak pada babysitter, kemudian setelah kita tua dan menjadi jompo mereka membalas kelakuan kita dengan menitipkan kita di panti jompo. Aduhai menyedihkannya. Sudahlah di dunia hidup malang, di akhirat lebih malang lagi.

Untuk itu, saya ingin berpesan. Wahai para suami yang masih tega membiarkan istrinya bekerja demi membantunya menyambung hidup, kumohon tawakkal sajalah. Yakinlah bahwa rezeki itu sudah ada jatahnya masing-masing. Dan pintu rezekimu bisa jadi terbuka lebih lebar jika engkau ikhlaskan istrimu bekerja di rumah, melayani kebutuhanmu dan anak-anakmu. Kumohon bertakwalah kepada Allaah, takutlah engkau dengan siksaNya, pertanyaanNya tentang pertanggungjawabanmu atas istri dan anak-anakmu. Milikilah rasa cemburu hingga kau tak membiarkan istrimu keluar rumah dan bercampur baur dengan lelaki hanya demi membantumu menambah rupiah, untuk duniamu. Kumohon para suami yang masih menginginkan ridho Allaah, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat yang keras lagi kasar. Engkau adalah qawwam keluarga, jagalah kewibawaanmu dengan keberanianmu bertanggung jawab atas mereka, dalam hal apapun.

Wahai para istri yang masih ingin mencari kemuliaan dunia dengan memiliki penghasilan sendiri, beralasan tidak ingin bergantung pada suami, menjunjung tinggi emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender. Kumohon kembalilah pada fitrah penciptaanmu. Allaah menjadikanmu sebagai penanggung jawab di rumah suamimu. Manajer rumah tangga. Bukan manajer perusahaan bonafid. Patuhilah keinginan suamimu yang ingin dilayani sepenuhnya olehmu, bukan oleh pembantu. Ingatlah anak-anakmu. Investasi terbesarmu. relakah jika mereka tumbuh dan berkembang tanpa penjagaanmu? Anak-anak lebih butuh kasih sayang dan belaianmu. Perhatian dan sambutanmu saat mereka pulang sekolah. Bukan mainan mahal, baju-baju branded yang kau belikan dari gajimu. Ingat, anak-anak lebih membutuhkan ibunya. Bukan uang ibunya.

Jadi, apa lagi yang kita cari? Dunia ini cuma permainan. Jangan kita gadaikan akhirat demi dunia yang hanya sehina bangkai.

Leave a Comment

merasa salah pilih?

jangan pernah merasa salah pilih dalam hidup ini. salah pilih sekolah. salah pilih jurusan. salah pilih tempat kerja. salah pilih pasangan. salah pilih orang tua. astaghfirullaah.

yang saya maksud salah pilih, yakni ketika kita memang tidak menyukai pilihan yang kita ambil (hey, emangnya orang tua bisa dipilih ya?) dan sedang kita jalani itu, lalu kita hanya diam, menyesali semuanya, tanpa memperbaiki keadaan, mengeluh pada setiap orang, menganggap bahwa orang lain hidupnya jauh lebih menyenangkan daripada kita, serta menyalahkan orang lain.

saya SERING sekali merasakan itu. ketika sekolah masuk jurusan IPA, saya menyesal dan banyak mengeluh. mestinya saya masuk jurusan IPS saja ya: biar nggak banyak hitung-hitungan (saya memang benci ilmu eksak), biar banyak hafalannya (karena saya suka menghafal), biar banyak sejarahnya (pelajaran favorit saya adalah sejarah). dua tahun harus saya lalui dengan kepala pusing, karena pelajaran eksak memang menguasai porsi jam pelajaran.

hal itu berlanjut juga di kuliah. bapak saya menyuruh saya masuk prodi planologi. saya sendiri lebih tertarik kuliah di psikologi. walhasil, ketika kuliah, saya sering tidak memperhatikan penjelasan dosen. menganggap planologi sama sekali bukan passion saya. malas belajar. malas mengembangkan diri. malas mengembangkan ilmu. merasa salah jurusan. tapi anehnya selepas kuliah, mahasiswi planologi gadungan ini malah melamar kerja di Kementerian PU (yang cukup identik dengan planologi) dan ajaibnya, diterima. ditempatkan di ditjen penataan ruang pula. planologi banget.

selama kerja, karena merasa planologi bukan passion saya, saya merasa tidak pernah optimal dan maksimal. berangkat sering terlambat. kerja seringnya ngeblog atau internetan doang. ya maklum, karena memang jarang ada kerjaan. sama sekali nggak berminat meng-upgrade wawasan. berpuluh-puluh rekan kerja mengajukan beasiswa  ke mana saja, sama sekali tak menarik minat saya untuk melakukan hal yang sama. alasannya, saya cuma ingin memprioritaskan keluarga. suami dan anak-anak saya kelak. benarkah demikian? bukannya karena memang malas berfikir dan nggak berani maju? hehehe.

astaghfirullaah. padahal hidup ini harusnya disyukuri, bukan dipenuhi keluh-kesah. nikmat Allah sangatsangatsangaaaat tak terhitung bukan?? nah saya, bukannya bersyukur malah membanding-bandingkan hidup saya dengan orang lain. istilah bahasa jawanya, wang sinawang. kayaknya, si A hidupnya enak banget ya? tiap hari cuma posting nongkrong dimana, sama siapa, makan apa. hahaha. lalu, saya juga seringkali iri dengan teman yang pekerjaannya jadi ibu rumah tangga. ih sumpah, bikin iri banget. kerjaan cuma masak, beberes rumah, nyobain menu baru, ngurus anak, enak banget ya? sementara saya, berkutat dengan kemacetan, terkurung di meja kerja, haha sumpah yang saya liat cuma sesuatu yang nggak enak-nggak enak aja.

padahal, untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, saya tetap harus banyak belajar. belajar memasak, merajut, keterampilan membereskan rumah, kreatif memanfaatkan barang bekas, kreatif menata perabotan, dan sebagainya. selama ini saya sudah merasa sudah melakukan peran-peran itu dengan baik. kenyataannya? justru suami saya yang jauh lebih terampil. saya jadi malu. ngakunya ingin jadi ibu rumah tangga, tapi mengurus rumah kontrakan dengan baik aja masih nggak karu-karuan.

sepertinya saya harus lebih banyak belajar. belajar bersyukur dan menikmati hidup yang dikaruniakan Allah. karena hanya dengan bersyukur, kehidupan yang sudah indah ini akan semakin indah.

Comments (2)

posting edisi banjir Jakarta

Rolls-Royce Rp10 M Mogok Terendam di Bundaran HI
Air bah masuk mesin dan mobil mewah itu tak sanggup melaju lagi.

Rolls-Royce Phantom mogok terendam di Bundaran HI, Jakarta

Begitulah headline artikel berikut foto yang saya kutip dari vivanews. Betapa mobil semewah dan semahal apapun, begitu lemah nggak berdaya menghadapi air bah, yang kalau dibagikan gratis pun, nggak ada orang yang mau mengambilnya. Bahkan di artikel tersebut, dikatakan bahwa “Di hamparan air bah, Rolls-Royce dan BMW tak ada bedanya dengan belasan bus dan mikrolet yang juga mogok terjebak di kawasan tersebut.”

Kejadian tersebut menurut saya kok analog dengan yang dialami kapal pesiar supermewah Titanic yang hancur menghantam gunung es pada pelayaran perdananya di April 1912. Betapa luar biasanya ciptaan manusia, jelas nggak akan sanggup menandingi keluarbiasaan ciptaan Allah. Contohnya ya air hujan dan gunung es tadi.

Begitu pula kita manusia, sekaya-kayanya, seterhormat-terhormatnya, setinggi apapun pangkat dan jabatan kita, di hari akhir nanti akan disamaratakan dengan manusia-manusia yang di dunia nggak punya kedudukan sama sekali. Nggak ada bedanya. Betapa kita akan sama-sama tidak berdaya menghadapi panasnya mahsyar, betapa kita akan sama-sama terbenam di lautan keringat kita sendiri. Hanya satu yang membedakan keadaan kita di yaumul hisab, ketakwaan kita kepada Allah.

Ya Allah, betapa luar biasanya kuasaMu terhadap kami. Betapa kami begitu nggak berdaya di hadapanMu. Betapa yang datang dariMu selalu terbaik untuk kami. Mungkin kami selama ini lalai dan tidak mengadakan perbaikan. Ya Allah, semoga yang Kau turunkan kepada kami ini bukan hukuman. Melainkan peringatan bagi kami untuk selalu berbenah. Semoga ini adalah ujian, yang jika kami berhasil melaluinya dengan baik, maka Engkau akan meningkatkan derajat kami. Ya Allah, kuatkan saudara-saudara kami yang sedang kehilangan. Semoga segala yang terjadi ini semakin meningkatkan iman dan takwa kami kepadaMu. Aamiin.

Mari bersama-sama membantu saudara-saudara kita korban banjir dengan apapun yang kita punya: makanan, atau pakaian, atau uang, atau waktu, atau tenaga, atau barang lain yang sekiranya mereka butuhkan, atau do’a yang kita kirimkan untuk mereka. Semoga kepedulian itu masih ada pada diri kita masing-masing.

Astaghfirullah, bahkan saya malu membaca postingan saya sendiri. Terutama di paragraf terakhir.

photo source: http://otomotif.news.viva.co.id/news/read/383012-rolls-royce-rp10-m-mogok-terendam-di-bundaran-hi

Leave a Comment

yes, we are beautiful

agak lucu juga ya, kalau kita suka membanding-bandingkan fisik kita sama orang lain.

“wah, cewek ini lebih tinggi. lebih putih. lebih cantik. lebih langsing. lebih seksi. rambutnya lebih bagus. kulitnya lebih mulus. alisnya lebih tebal. matanya lebih besar. hidungnya lebih mancung. bibirnya lebih tipis. dagunya lebih nyathis. senyumnya lebih manis.”

sementara segala yang physically itu adalah ciptaan Allah.

kalau kita membanding-bandingkan milik kita dengan milik orang lain, merasa diri nggak cukup cantik, berarti sama aja kita menghina Allah, nggak bersyukur dengan karuniaNya.

sebaliknya, kalau kebetulan kita yang “beruntung” karena dianugerahi fisik yang rupawan.

nggak pas juga kalau kita sombong, merasa diri paling cantik dan menganggap orang-orang yang fisiknya nggak semenarik kita nggak sekelas dengan kita.

hey, semua itu kan juga hasil karya Allah, dan kita nggak ikut campur tangan sedikitpun!

lalu, apa yang pantas kita sombongkan?

yang harus kita lakukan adalah mensyukurinya, menjaga dan merawatnya agar semakin indah, bukan menolaknya, berusaha ekstrim agar cantik dengan merubah ciptaanNya, atau bahkan memamer-mamerkannya, berdandan berlebih dari yang disyariatkan, dan merasa mulia karena itu semua.

sungguh, semuanya hanya titipan yang kelak harus kita kembalikan.

jangan berkecil hati, jangan menghinakan diri.

cukup syukuri, dan jangan sampai merasa tinggi.

#ntms

Comments (2)

obat antigalau nomer satu

“Bayangkan keadaan ketika, ”Pada hari ketika manusia melihat apa yang diperbuat oleh kedua tangannya” (an Nabaa: 40). Maka renungkan apa yang telah diperbuat oleh kedua tangan kita? Apakah keduanya sudah menolong agama Allah? Apakah keduanya sudah membantu hamba-hamba Allah? Apakah keduanya sudah menghormati wali-wali Allah? Apakah makhluk-makhluk Allah selamat dari kejelekan keduanya?

@Dr_Alshathry – Dr. Sa’ad Asy Syitsriy, Doktor dalam bidang Ushul Fiqh, pernah menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior di Saudi Arabia), kini menjabat dosen di King Saud University (KSU), Riyadh.

pagi-pagi di kantor ketika merasa nggak produktif, nggak bahagia, agak sedikit galau, nggak tau mau ngapain, dan bingung mau nulis apa di wordpress (dimana bagi saya, produktif = ngeblog :D) terus ngecek-ngecek dasbor tumblr, dan menemukan posting dari salah satu akun yang saya follow, twitulama, yang postingnya saya blockquote di atas.

dan ajaibnya hilang semua kegalauan. astaghfirullaahal ‘adhiim. selama ini sering sekali ruwet mikirin banyak hal yang seharusnya nggak difikirin. dan seperti yang pernah saya dengar, bahwa fikiran mempengaruhi perasaan. ya jujur aja, fikiran-fikiran tentang dunia kerap kali membuat seseorang menjadi galau (tentu saja yang saya maksud adalah saya sendiri). namun anehnya, otak ini jaraaaang sekali memikirkan akhirat, yang notabene jauh lebih pantas digalaukan. padahal kalau kita mau mikirin ya, nggak akan ada alasan berbuat jahat sekecil apapun. nggak akan ada iri dengki (kecuali sama amalan-amalan orang shalih). ya, dengan itu semua, segala-segala hal yang duniawi yang bikin galau-galau tadi, jadi serasa keciiiiil dan nggak layak buat fikiran terceceh-ceceh.

hmm, pantesan aja ya, saya seneng banget kalau habis ketemu orang-orang shalih. dalam pembahasan kali ini adalah seorang “adik” pengajar tahsin saya, mbak nia namanya (memang usianya jauh lebih muda dari saya, tetapi tetap saya panggil mbak, karena dia guru saya). kayaknya hidupnya tenaaaaang banget. nggak ada hasad, nggak ada ghibah (apalagi fitnah), mendengarkan keluhan orang lain sepenuh perhatian tapi nggak berempati dengan cara mengorek-ngorek atau semakin mengompori, nggak ada ketertarikan berlebihan terhadap gemerlapnya dunia, pokoknya setiap lihat mbak nia saya jadi semangat lagi, nggak tertarik kelamaan berkubang dalam kefuturan, dan lain-lain. mungkin ini yang dinamakan, “sebaik-baik kawan adalah yang dengan memandang wajahnya, akan mengingatkan kita pada Allah.”

rasanya, ingin selalu berkumpul dengan mereka, dalam lingkaran itu, dalam kumpulan orang-orang yang saling menyemangati dalam meraih akhirat, menjadi bagian dari mereka, tapi bukan berarti tidak beramal di dunia. bukan berarti hanya shalat saja, puasa saja, berlomba-lomba dalam ibadah-ibadah individual saja, melainkan bermasyarakat, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain (dan umat), yang jelas menolong agama Allah. sungguh, saya merindukan orang-orang itu. dengan kerudung syar’inya yang berkibar-kibar, dengan jilbab yang menutup seluruh tubuhnya tanpa kecuali, dan tentu saja, dengan akhlaknya yang luar biasa. wah, mengingat mereka benar-benar bisa mencekatkan tenggorokan saya, memicu luh bening keluar dari sudut-sudut mata.

mungkin inilah keunggulan akhirat atas dunia, salah satu dari keunggulan-keunggulan lain yang memang sudah tampak nyata: dunia jika digalaukan, akan membuat kita semakin galau karena selalu ada rasa nggak pernah cukup, nggak pernah puas, selalu merasa kurang. namun jika kita menggalaukan akhirat, akan semakin melecut semangat kita untuk berlomba-lomba meraih kebahagiaannya, plus tambahan, Allah akan menentramkan dunia kita, menanamkan rasa kebahagiaan di hati kita.

“Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Q.S Al-An’aam 48. semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang demikian. aaamiin.

Leave a Comment

jangan menunggu

Pagi-pagi dapat forwarded message dari sahabat saya, Intan yang bagus sekali, sampai pengen saya tulis ulang. Inilah 12 kata jangan menunggu yang harus dihindari:

1. jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
2. jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
3. jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
4. jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain, maka kamu akan dipedulikan.
5. jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.
6. jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
7. jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.
8. jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
9. jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang, percayalah bukan sekedar uang yang datang tapi juga rezeki yang lainnya.
10. jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
11. jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
12. jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah, maka kamu pasti bisa.

Semoga kita semua bisa mengamalkan yang mudah ditulis tapi susah dilakukan ini, aamiin.

Comments (2)

is life not easy? #isengbikinkultwitdiwordpress

1) Hidup itu sebenarnya mudah, kitanya aja yang suka mempersulit.
2) Ada sesuatu di luar rencana dikit aja, langsung deh bikin kita bete dan jadi masalah.
3) Padahal kalau kita nggak terlalu mempermasalahkan, ya nggak akan jadi masalah.
4) Memang, aneka keruwetan sebenarnya adalah buah karya fikiran kita sendiri.
5) Kuncinya yaitu, husnudhdhan alias positive thinking — pada siapapun, terutama pada Allah.
6) Nggak mungkinlah Allah sengaja menciptakan keburukan bagi hamba-hamba-Nya.
7) Kadang kita jadi ruwet sendiri, karena terlalu banyak yang kita ingin dan angankan.
8) Makanya Rasulullah bersabda, “Pemuda yang paling tidak aku sukai adalah yang panjang angan-angan namun miskin ‘amal”
9) Pernah lihat ilustrasi ini?
10) Konon katanya, Rasulullah yang membuat gambar seperti ini (dari Abdullah r.a.).
11)
12) Kotak persegi panjang adalah ajal.
13) Garis merah adalah angan-angan.
14) Lalu, garis-garis kecil di dalam kotak adalah peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
15) Hal itu membuktikan bahwa, angan-angan manusia dibatasi ajalnya.
16) Tapi, angan-angan selalu lebih panjang dari ajal.
17) Mengapa begitu? Maklumlah, sifat manusia yang nggak pernah puas dan jarang bersyukur.
18) Dengan banyak berangan-angan, namun tanpa usaha meraihnya, akan membuat hidup semakin nggak produktif.
19) Ujung-ujungnya, apalagi kalau bukan ketidakbahagiaan?
20) Hidup sibuk berandai-andai, membanding-bandingkan antara “yang terjadi” dengan “yang seharusnya terjadi” lalu menyesali diri.
21) Harusnya perbaiki, jangan hanya sibuk bermimpi.
22) Makanya, jangan juga jadi multi-tasker, merasa semua harus bisa dikerjakan.
23) Pengen ini, pengen itu, sampai akhirnya nggak satupun yang dikerjakan.
24) Jadi kita harus punya fokus dan prioritas yang jelas.
25) Kunci kebahagiaan yang satu lagi: jangan iri!!
26) Iri potensial banget tuh bikin mood yang bagus jadi jelek setengah mampus.
27) Iri juga mencerminkan bahwa kita adalah hamba yang kufur nikmat.
28) Lagipula nggak fair membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.
29) Lebih baik, kalau mau membandingkan ya hidup kita jaman dulu dengan yang sekarang.
30) Kalau ada perubahan yang lebih baik, dipertahankan sekaligus ditingkatkan.
31) Kalau lebih buruk, segera perbaiki, jangan malah larut dalam keterpurukan.
32) Yang paling penting, niatkan semua hanya karena Allah.
33) Dengan begitu, apapun yang kita lakukan akan dinilai sebagai ibadah.
34) Apapun kejadian yang menimpa, bisa kita terima dengan ikhlas.
35) Apapun anugerah yang kita terima, selalu bernilai lebih dengan syukur.
36) Kalau sudah lillaahi ta’ala begitu, gimana bisa hidup kita nggak bahagia, ya nggak?

Comments (2)

catatan untuk hati yang kehilangan

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” QS Al Baqarah: 216

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” QS Al Ahzab: 36

Kiranya cukup dua firman-Nya itulah yang menguatkan saat hati diliputi kesedihan. Saat dunia mendadak tak ramah. Saat yang disayangi tiba-tiba pergi. Saat yang diangankan tak menjadi kenyataan. Pasti ada hikmah di balik kepahitan yang terjadi. Mungkin kini belum kita pahami, tapi nanti, lihat saja, betapa Dia tak akan pernah menyalahi janji.

Ketetapan-Nya itu pasti. Dan seharusnya, tak boleh ada pilihan lain ketika ketetapan-Nya berlaku. Hanya Dia yang paling mengetahui yang terbaik untuk kita. Apa yang kita benci, belum tentu buruk bagi kita. Sementara apa yang kita sukai, belum tentu baik menurut pandangan-Nya. Satu lagi yang pasti, aturan yang dibuatNya, bertujuan untuk memuliakan kita, bukan mempersulit atau bahkan membuat kita bersedih. Lagipula, apa sih yang kita cari di dunia ini? Kesenangan-Nya atau kesenangan kita sendiri? Tentu kesenangan-Nya bukan?

Jangan pernah mendikte-Nya. Merasa tau yang terbaik sehingga terluka atas apa yang telah Dia tetapkan untuk kita. Mungkin saat ini kita masih begitu berduka, mungkin luka masih membuat hati nyeri, mungkin kenangan buruk itu belum bisa tersapu bersih dari hati dan fikiran, tetapi lihat saja, esok atau lusa kita akan tersenyum seraya berucap syukur atas ketetapan-Nya.

Selalu ada ganti yang pergi. Selalu ada yang kembali ketika yang lain luput. Selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Dua kali diabadikan dalam salah satu surah-Nya yang mulia. Bahkan kemudahan itu menawarkan jauh lebih banyak pilihan dibanding kesulitan itu sendiri.

Atas semua itu, apalagi yang kita risaukan? Kembali saja kepadaNya. Hanya Dia satu-satunya pengobat resah, penyembuh gundah. Bukan segala hiruk-pikuk duniawi yang hanya memberi kesenangan temporer. Berjalanlah kepadaNya, karena sungguh Dia akan berlari menghampiri kita. Mendekatlah kepadaNya sejengkal, karena Dia akan mendekati kita sedepa. Dia, sungguh lebih dekat dari urat leher kita. Dialah Rahman dan Rahim. Sudah sepantasnya Dia mendapatkan cinta tertinggi kita, bukan nama-nama lain yang sungguh tak abadi.

Percayalah, Dia melakukannya untuk menjagamu, sayang.

Comments (2)

Older Posts »