Archive for fiksi

bicara pada kertas (1)

Hanya pandangan dua detik dan berhasil membuatku memikirkannya berjam-jam kemudian. Senyumnya yang santun segera membungkam tawa liarku. Tatapannya hanya sekilas menyapu wajahku yang kata banyak orang lebih dari lumayan ini. Walaupun hanya sekilas, aku tau, ada perasaan bersalah di dalamnya sehingga ia buru-buru beralih pandang.

Hey, sedikitpun dia tidak tampan, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku terpana. Kharisma atau apalah namanya mungkin. Dan yang paling membuatku masih mengenangnya hingga belum bisa tidur di malam selarut ini, suara merdunya saat menggemakan azan maghrib di masjid kantorku. Read the rest of this entry »

Comments (5)

me and you versus internet

Siang itu di ruang makan sebuah keluarga. Terdengarlah dialog sepasang ibu dan anak. Mama Wendy dan Kanya. Kanya adalah putri tunggal Mama Wendy yang masih berumur sembilan tahun.

Kanya (K): Ma, tau nggak sih, si Dora hapenya baru, blackberry, trus Kanya kapan dibeliin Ma?

Mama Wendy (MW): (mengusap rambut Kanya) Hmm, Kanya pengen punya handphone kayak punya Dora?

K: Yaa, kadang pengen juga sih Ma, habis kayaknya enak, tiap hari dia chattiiing terus, nggak tau sama siapa Read the rest of this entry »

Leave a Comment

under the bridge

Yang satu ini adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan ke majalah Gogirl! Ya ampuuun, kok berani ya, ngirim cerpen amatiran gini ke salah satu popular teenagers magazine in this country?? Lagian ceritanya piyeeee gitu, agak sesuai sama kehidupan saya *waktu itu lhooo, tapi jelas aja nggak sepenuhnya begitu, hehehe. Cerpen ini saya kirim sekitar akhir 2008, bulannya apa saya lupa. Buat yang penasaran, simak ya *halah

“Nala! Makan malem dulu, Nak! Ni udah ditunggu Papa di meja makan, lho!” teriak Mama dari dapur.

Tapi aku masih juga bergelung di balik bed cover motif Lion King kesayangan yang kudesain sendiri ini. Rasanya males banget keluar dari kamar dan diinterogasi Papa Mama soal penyebab kebeteanku hari ini. Emang sih, sejak pulang kuliah tadi aku selalu ngurung diri di kamar, padahal biasanya aku selalu ceria dan menjadi sumber kebahagiaan bagi keluargaku (haha. Lebai banget). Makan siang bareng Rafki tadi masih terbayang di benakku dan nyaris melumpuhkan sel-sel otakku. Di warung mie ayam langganan kami tiba-tiba ada pengamen keren banget yang bawain lagunya RHCP yang judulnya Under the Bridge. Read the rest of this entry »

Leave a Comment