Archive for family

Obituary: Ratna Sogian Siwang

Rabu, 23 April 2014. Nggak tau kalau hari itu akan jadi hari yang berarti buat saya. Hari itu saya ngintipin timeline Facebook pas lagi coffee morning (semacam rapat) di kantor, terus nemu shared notes berjudul Curhatan Karel #24 yang ditulis oleh ayah dari nama yang disebut. Saya bertanya-tanya, siapakah sebenarnya Karel dan abinya ini? Kenapa mereka begitu gencar mencari ASIP untuk Karel? Di manakah umminya? Pergi jauhkah? Tidak bisa menyusuikah? Lalu kenapa ada banyak sekali donor ASIP untuk Karel? Saking banyaknya hingga bisa mendonorkan ASIP ke resipien lain yang juga membutuhkan. Lalu kemudian saya menyusuri notes-notes yang ditulis oleh akun Facebook bernama Nazrul Anwar tersebut. Ternyata tak hanya Curhatan Karel, melainkan ada pula Letters to Karel, cerita seorang ayah yang membesarkan anak tanpa didampingi seorang istri di sisinya. Kisah keluarga kecil itu begitu mengharukan, sangat inspiratif.

Adalah Ratna Sogian Siwang, ibu dari bayi bernama lengkap Karel Sulthan Adnara itu. Beliau meninggal pada 17 Oktober 2013 ketika melahirkan Karel. Ya, mati syahid. Meninggal dalam kondisi terbaik untuk seorang perempuan. Bagaimanapun, semenyakitkan apapun peristiwanya, meninggal dunia dalam perjuangan untuk melahirkan anak adalah cara terindah untuk menghadap sang Khaliq. Insya Allah surga balasannya. Hanya orang-orang terpilih saja yang berkesempatan meninggal dalam keadaan terbaik itu. Dan Mbak Ratna dalah salah satu yang dipilih untuk menghadap dengan cara terindah. Tidak heran, karena semasa hidupnya Mbak Ratna dikenal sebagai orang yang begiiitu baik dan shalehah.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Abi Karel tentang sosok istrinya yang betul-betul shalehah, tentang ibu dari anak yang kini dibesarkannya seorang diri tanpa sosok istri yang menemani, benar-benar membuka mata saya untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Perempuan yang memiliki banyak peran dalam kehidupan ini. Sebagai hamba Allah, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai anak, sebagai warga masyarakat, sebagai tetangga, sebagai kerabat, sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai pembelajar, sebagai pekerja, sebagai pengusaha, dan berjuta peran lain yang diemban oleh ciptaan Allah bernama perempuan. Dan Mbak Ratna, adalah satu dari hamba Allah yang mampu menjalankan peran-peran itu dengan sangat baik.

Sebagai istri, beliau shalehah nggak ketulungan. Bahkan Mas Nazrul benar-benar meridhainya. Apalagi sih yang dicari seorang istri untuk masuk surga selain ridha suaminya? Membaca kisah Mbak Ratna dan Mbak Nazrul benar-benar membuat saya malu. Betapa saya masih sangat jauh dari profil istri yang baik, yang diridhai suami. Yang banyak memberi bukan menuntut. Yang taat dan lemah lembut.

Sebagai ibu, jelas, bahkan nyawa pun rela ditukar demi melahirkan anak yang sehat. Anak yang beruntung lahir dari rahim seorang ibu luar biasa seperti beliau. Anak yang beruntung masih bisa merasakan kolostrum ibunya untuk perkembangan otaknya. Anak yang beruntung karena ada seseorang yang luar biasa mencintainya hingga rela mengorbankan nyawa untuk melahirkannya. Ya, beliaupun rela meninggalkan karir yang telah dirintis, mengabaikan pendidikan master yang diperolehnya di luar negeri, menunda cita-cita dan passionnya sebagai dosen dan peneliti, untuk menjalani cita-cita tertingginya, sebagai ibu. Beliau yang akan mendampingi anaknya menjalani masa-masa golden ages yang tidak mungkin terulang.
Ah Ruma, miomu ini juga sedang berusaha menjadi ibu terbaik untukmu, yang rela mengorbankan apa saja demi kebaikanmu. Meski mungkin saya, sekali lagi, masih jauh dari profil ibu yang baik.

Sebagai anak, ah saya malu. Satu kesamaan saya dan Mbak Ratna, mempunyai ibu yang juga bekerja, sehingga sedikit banyak menyebabkan kami sebagai anak kurang mendapatkan perhatian penuh dari ibu. Tapi Mbak Ratna, yang pada awalnya tidak dekat dengan ibunya, memiliki hubungan yang canggung dengan ibunya, berhasil memperbaiki hubungan tersebut sehingga menjadi anak yang sangat berbakti pada ibunya. Sedangkan saya? Sudahlah memiliki ibu yang sangat baik tapi saya masih sangat kurang dalam bakti kepada beliau. Saya belum bisa memberi apa-apa untuk beliau, berkorban apa-apa untuk beliau, hanya beliau yang selalu dan selalu berbuat baik pada saya. Begitupun bapak saya, saya juga belum bisa berbuat apa-apa untuk beliau. Sungguh anak macam apa saya ini.

Mestinya sebagai hamba Allah, seperti Mbak Ratna, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain. Bukan menuntut orang lain melakukan yang terbaik bagi saya. Nggak peduli orang itu baik, kurang baik, bahkan jahat sekalipun sama kita. Jadi ingat ada quote seperti ini, tapi lupa siapa yang bilang,”bukan orang baik kalau hanya bersikap baik dengan orang yang baik dengannya. orang biasa itu. baru disebut baik kalau bisa berbuat baik dengan orang yang kurang baik bahkan jahat dengan kita.” Nah saya, sama orang yang baik saja belum tentu bisa berbuat baik. Apalagi sama orang yang kurang baik bahkan jahat?

Begitu baiknya Mbak Ratna. Begitu banyak orang yang merasakan kebaikannya semasa beliau hidup. Kalau Mbak Ratna orang yang biasa-biasa saja, mana mungkin akan ada begitu banyak donor ASIP untuk Karel yang bisa memenuhi kebutuhannya selama setahun penuh, bahkan saking berlebihnya hingga bisa mereka donorkan lagi untuk bayi lain yang juga membutuhkan? Mana mungkin orang-orang bisa sesedih itu dengan kepergiannya? Mana mungkin ada begitu banyak manusia yang membanjiri tanah pekuburannya? Mana mungkin Mas Nazrul, suaminya, sampai membuat fanpage di Facebook saking banyaknya manusia yang tersentuh dengan cerita dan kebaikan keluarga kecil mereka? Mana mungkin Letters to Karel sampai dibukukan saat ini?

Masya Allah, betapa luar biasa ya orang beriman itu? Bahkan sudah meninggal pun masih membawa manfaat bagi manusia lain. Yang tidak kenal langsung dengan beliau sekalipun. Ya, manfaat itu bagi saya, para likers fanpage Nazrul Anwar, pembaca buku Letters to Karel. Ah, semoga saya benar bisa meneladani kebaikan-kebaikan Mbak Ratna Sogian Siwang dalam menjalani peran-peran yang Allah amanahkan pada saya saat ini. Aamiin.

Untuk yang ingin tahu lebih dalam tentang keluarga Adnara yang luar biasa ini, bisa kunjungi ini, ini, ini dan ini.

Leave a Comment

it can solve the probs, maybe

Tanya sama diri sendiri, kenapa tiap posting blog pasti temanya itu-itu melulu? Nggak jauh-jauh dari anak, menyusui, and of course.. masalah klasik seputar WM, SaHM dan terbaru nih, WfHM. Btw, apaan tuh WfHM? Yep, WfHM is work from home mom. Hehe, karena isu-isu itulah yang memenuhi kepala saya setiap hari. Rasanya sudah nggak ada tempat buat mikirin kerjaan di kantor *yaiyalah kerjaan kantor kan emang buat dikerjain, bukan dipikirin apalagi ditulis di blog 😀

Jadi gini, sebagai ibu, saya sering menganggap bahwa langkah yang saya ambil ini salah. Tetap bekerja di kantor sementara Ruma saya tinggal di rumah dengan pengasuh. Ya walaupun saya cukup sering pulang pas jam istirahat untuk main-main dan nyusuin dia yang selalu sukses bikin saya ketiduran. Tapi, bukankah tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya? Lalu, kalau setiap 5 hari dalam seminggu saya meninggalkannya selama 9-10 jam per hari apakah saya masih punya waktu? Sementara sebagian besar waktu Ruma lebih banyak dihabiskan dengan si Mbak di rumah. Tapi ya sudahlah ya, insya Allah ini nggak selamanya. Aamiin.

Gagasan menjadi WfHM ini sebenarnya sudah terpikir sejak lulus-lulusan kuliah. Tahun 2010-an itu yang namanya online shop masih jarang banget loh. Saya mikir kalau orang berbisnis, jualan, berdagang itu ya harus punya toko. Sewa sepetak bangunan terus diisi barang dagangan kita deh. Istilah lapak tempat kita menggelar dagangan itu wujudnya bangunan fisik beneran. Seiring merajalelanya internet, sekarang rasanya semua orang udah punya online shop aja, semua orang udah jadi enterpreneur aja, hehehe.

Dulu saya pengennya punya toko yang jualan produk-produk muslimah yang syar’i semacam kerudung dengan bahan agak tebelan (waktu itu ngetrennya kerudung bahan paris yang tipisss banget sehingga terkesan kurang syar’i) mungkin kayak sakura jepang (aduh, masih ada nggak ya, bahan kayak gini, secara kerudung syar’i sekarang rata-rata bahannya dobel hicon yang didobel lagi sehingga bisa digunakan bolak-balik atau twistcone yang saya juga belum pernah pegang itu bahan), kemeja dan rok yang nggak mamerin bentuk tubuh, dress atau gamis, juga pin/bros lucu. Saya pengen kulakan di Tanah Abang gitu dulu ceritanya. Jadi setalah 5 tahun kerja di Jakarta sambil kulakan barang, terus saya resign dari tempat kerja gitu dan jadi womanpreneur. Hihihi. Kebanyakan baca buku Ippho Santosa plus ikut seminarnya juga bikin saya tambah pengen berbisnis. Tapiiii ya gitu deh. Pengen-pengen aja tapi belum ada realisasinya SAMPE SEKARANG.

Sempat pengen juga buka perpustakaan yang nyewain buku-buku bermutu dan inspiratif. Udah bikin logo yang saya desain sendiri juga lho (halah, emang lu bisa desain) plus nama perpusnya. Apa coba? Dreambrary! Jadi misi Dreambrary itu pengen meningkatkan minat baca anak Indonesia, pengen menyadarkan bahwa buku benar-benar jendela dunia, pengen mewujudkan cita-cita anak Indonesia melalui buku-buku oke, pengen menjadikan perpus yang nggak sekedar baca tapi juga ada psikolog dan motivatornya, dan sederet misi mulia lainnya. Tapi, lagi-lagi, keinginan itu mandek aja di tengah jalan. Keasikan mencari-cari calon suami *ups dan setelah menikah, lupa lagi lho sama cita-cita mulia ini.

Hmm, yang paling pengen sih jadi penulis. Itu jelas pekerjaan yang masuk kategori WfHM kan ya? Kayak Mbak Asma Nadia itu lho. Dari menulis bisa jadi womanpreneur dan motivator juga. Komplit banget ya. Tapiii nulis blog aja males dan cuma berkutat sama cerita diri sendiri yang mungkin nggak ada menggugah-menggugahnya sama sekali. Nulis cuma semacam curhat yang baru dilakukan kalau lagi galau, ada masalah dan nggak ada pelarian selain menuangkannya dalam tulisan. Self healing gitu deh. Jadi cuma inspiring buat diri sendiri aja hihi. Bahasa tulisan juga random gini. Mau bikin yang terstruktur kadang-kadang malah pusing duluan. Hayah, kayak gitu mau jadi penulis? Etapii, gini-gini saya pernah ikut workshop menulisnya Mbak Asma lho. Terus tulisan saya dikomentari cukup bagus juga sama beliau. Waktu itu sih seneng banget, tapii kok tetep belum menggerakkan saya menulis juga ya? Ah bodo amat, nulis di blog gini juga menulis kan? Yang penting niat menulis itu harus lurus, menyampaikan kebenaran, bukan cari popularitas, cari duit, cari prestise dll. Itu yang bilang bukan sembarang orang lho. Ustadz Fauzil Adhim bok. Jadi selama saya nulis ini bener, yasudah, nulis terus. Masa bodo orang lain mau bilang apa. Eh tapi ada satu poin dalam menulis yang belum saya lakukan juga. Poin apakah itu? Yak, walk the talk, alias melakukan apa yang kita katakan (baca: tuliskan). Misalnya nih, saya pernah bikin tulisan tentang peran utama seorang perempuan yang harusnya jadi ummul madrasah bagi anak-anaknya, alias tetap berdiam di rumah untuk mendidik anak-anaknya, kalaupun dia pengen bekerja ya dari rumah, alias ber-WfHM (nah lo), tapi saya sampai detik ini masih kerja kantoran jugaaak (hihih, akhir-akhirnya balik ke kegalauan utama lagi).

Nah belakangan ini kegalauan saya makin menjadi-jadi sebagai seorang WM. Udahlah denger berita tentang kekerasan terhadap anak yang semakin menggila, ngelihat “piring” SaHM yang hidupnya terlihat sangat nyaman, komen-komen di luar tentang fitrah dan peran wanita sebagai ummul madrasah tadi, plus tantangan hidup di era digital ini yang bikin siapapun bunda jadi resah gelisah terhadap nasib anak-anaknya kelak. Huah rasanya makin mantap untuk ngendon di rumah aja ngejagain anak. Tapi kaaan kenyataan nggak seindah harapan ya. Biaya hidup juga makin mahal bok, yang seolah-olah bikin double income dalam sebuah keluarga jadi sebuah keharusan. Ya walaupun sebenernya siiih, tugas mencari nafkah itu dibebankan sepenuhnya di pundak para suami. Jadi, kalau istri udah merasa cukup dengan pemberian suami, suami juga merasa cukup dengan hanya dia menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarga, mendingan di rumah aja deh ya.

Tapi, kalau keadaan belum memungkinkan untuk menjadi SaHM, keluarga masih butuh dukungan finansial saya, kayaknya “berpenghasilan” tetap menjadi tuntutan deh. Lagipula perempuan mana sih yang nggak pengen punya penghasilan sendiri? Taruhlah pendapatan suami sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga, tapi kalau ada kebutuhan sekunder atau tersier yang pengen dibeli, masa ya harus selalu minta sama suami? Apalagi kalau suami memang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, peran sebagai perempuan yang berpenghasilan sangat diperlukan untuk membantu suami. Diniatkan shadaqah aja. Tapi ya itu, jangan sampai lupa dengan fitrah dan peran utama istri sebagai pengurus anak dan rumah tangga. Kalau keasikan kerja sampai lupa ngurusin anak, suami, rumah kayaknya mendingan dipertimbangkan lagi untuk cari pekerjaan lain yang kira-kira nggak terlalu menuntut banyak waktu dan perhatian untuk keluarga.

Karena itu, kayaknya WfHM adalah solusi ideal untuk mengatasi masalah dan kegalauan saya ya. Anak, suami dan rumah keurus (dengan catatan: ART masih perlu loh ya), pendapatan dan aktualisasi diri juga didapat. Apalagi bergeraknya dalam bidang yang sesuai passion, makin mangstab. Tapiii memulainya gimana ya? Kalau nggak sukses gimana? Dan.. apa sih sebenernya passion saya? Gubrak! Kalau udah kebanyakan nanya gitu bikin selalu ragu dan nggak mulai-mulai deh. Ujung-ujungnya, rencana tinggal rencana lagi seperti yang sudah-sudah. Parah. Aduh harus semangat deh saya. Walaupun semangat, tapi ya nggak usah terlalu memaksakan diri dan terlalu banyak berekspektasilah. Setel kendho saja, diawalinya dengan sukacita dan santai, nggak terlalu berharap muluk. Karena too much expectation malah bikin sakit kalau akhirnya jatuh.

Jadi, dimulai saja yuk apa yang sudah diniatkan. Bismillah. Biidznillah.

 

Leave a Comment

[random] ASI, MPASI dan working mom

Assalaamu ‘alaikum, halo-halo semua pembaca blog saya (hihi, kaya punya pembaca aja). Akhirnya saya ngeblog lagi loh. Setelah absen nyaris setahunan dari dunia perpostingan blog (apaan sih) (tapi blogwalking mah teuteuup) (walaupun blog-blog yang saya ikuti malah nyaris ngga kebaca karena keasikan blogwalking ke blog-blog yang ngebahas parenting, breastfeeding, and such thing like that) maklum titel saya sekarang nambah (penting banget) di samping istri. Ibu. Menyusui dan bekerja lagi.

Bukan hal mudah lho melakukan dua, eh tiga peran sekaligus. Udah gitu salah dua dari ketiganya bertolak belakang pula. Ibu dan istri. Serta pekerjaan. Dan tau ngga sih, urusan pekerjaan ini yang bikin setiap bangun pagi berasa selalu diburu-buru. Apa pasal? Selain harus pumping ASI juga harus masak buat my beloved Ruma yang makin hari makin menggemaskan. Saking ga pernah ngeblognya, tau2 anak saya udah 7 bulan aja. Dan pastinya sudah mengasup makanan lain selain ASI. Saya memang bukan orang yang gesit, klelar-kleler kalau kata orang Jawa. Urusan pompa-memompa ASI saja sudah habis minimal 30 menit. Belum masak MPASI-nya. Maklum, belum beli senjata pamungkasnya working mom. Apalagi kalau bukan slow cooker, yang tinggal cemplang-cemplung bahan makanan malam hari, sehingga ketika bangun pagi, taraaa makanan bayi udah siap aja tinggal dihaluskan. Hmm, tapi saya masih menikmati peran-peran ini kok. Kapan lagi masa-masa ini bakal terulang coba? Tapi akan sangat bersyukur sekali loh kalau kantor ngga bikin buru2 saya dengan membebaskan karyawannya masuk jam berapapun dia mau (yang sayangnya sangat ngga mungkin).

Alhamdulillaah, sangat bersyukur dengan semua pencapaian ini. Ruma bisa lulus S1 ASIX walaupun di tengah-tengah perjuangan sempat ngalamin bingung puting 3 harian akibat minum ASIP pakai dot selama 2 minggu, saya sempat merasa desperate ketika tiap malam harus nyuci dan sterilin pompa ASI plus botol-botol kaca buat nyimpan ASIP (untungnya sering dibantu suami), saya sangat sering galau dan ketar-ketir kalau ASIP yang ditinggalkan buat Ruma ga cukup untuk menuhin kebutuhannya sehari itu, sering bete ketika harus ngeskip jadwal pumping di kantor, dan yang paling bikin ketar-ketir adalah kalau mendadak ada tugas dinas di luar kota. Huhu, alhamdulillah selama ini belum pernah. Kalau ada pun pasti dengan tegas saya tolak. Alasannya tentu saja karena anak saya masih dalam masa ASI eksklusif. Namun alasan sebenarnya adalah, karena saya ngga punya stok ASIP yang mencukupi untuk kebutuhan Ruma berhari-hari. Paling ASIP di kulkas cuma cukup buat 1-2 hari aja, dan tentu ngga seharian full. Itu juga yang bikin saya “rela” jadi commuter menempuh perjalanan Jogja-Magelang selama 2 hari ketika belum sebulan saya masuk kerja lagi setelah cuti.

Alhamdulillaah juga, sampai hari ini Ruma masih minum ASI plus MPASI yang saya bikin sendiri. Semoga akan terus begitu hingga usianya menjejak 2 tahun nanti. Berilah kemudahan mionya Ruma ini ya Allah. Aamiin.

Leave a Comment

ketika double income menjadi keharusan

Hari masih begitu pagi ketika seorang wanita muda dengan agak tergesa keluar dari rumah mungil di lingkungan perumahan pinggiran kota itu. Pakaiannya stylish. Dress motif bunga kecil berwarna pastel dipadu blazer hitam model cropped. Kepalanya ditutupi shawl pastel ala hijabers yang belakangan ini sangat happening. Senada dengan dress  yang dikenakannya. Kakinya tertutup flat shoes yang kontras dengan pakaiannya namun tetap pantas dipandang mata. Sebuah tote bag sewarna flat shoes tersandang di bahunya. Tak lupa tangannya menenteng sebuah cooler bag yang tak asing digunakan para ibu muda untuk memompa ASI. O-ow, ternyata wanita muda itu sudah mempunyai anak. Ditilik dari make-up natural yang memoles wajah manisnya, usianya baru beranjak satu dua angka dari seperempat abad. Hendak kemana pula wanita muda itu di hari yang masih sepagi ini?

Pertanyaan yang langsung terjawab ketika beberapa detik kemudian seorang pria yang tak berbeda jauh umurnya dari sang wanita membuka garasi rumah dan mengeluarkan sepeda motornya. Jaket tahan angin yang tampak tebal karena di dalamnya telah terpasang  body protector untuk melindungi tubuhnya dari hawa pagi yang dingin serta jauhnya perjalanan yang ditempuh. Pastilah pasangan muda itu menuju sebuah pusat perkantoran di jantung kota. Menghabiskan hari di sebuah gedung bertingkat yang menjanjikan pundi-pundi uang. Mencoba tak hirau pada sosok kecil yang baru lahir empat bulan lalu.

Keduanya memang memasrahkan pengasuhan bayi imut seumur jagung pada baby sitter bertarif lumayan yang cukup tinggi pendidikannya sehingga dirasa mumpuni untuk mengurus segala keperluan terkait si bayi. Memang untuk menyusui hanya bisa dilakukan oleh sang ibu, itulah sebabnya cooler bag berisi peralatan memompa ASI tadi tak pernah absen dibawanya ke kantor. Namun urusan pengasuhan yang lain, itu tugas dan tanggung jawab baby sitter. Bisa dikatakan sepanjang hari sang baby sitter-lah yang menemani sekaligus menyaksikan perkembangan menakjubkan bayi kecil tampan itu, karena bukan hanya bilangan jam mereka meninggalkan buah hati mereka, setengah hari bahkan lebih jika suatu kali jalanan yang mereka lalui macet parah karena kebanjiran misalnya.

Ilustrasi di atas merupakan salah satu fenomena yang jamak terjadi terutama di kota-kota besar yang persentase working-mom-nya jauh lebih besar daripada yang ada di pedesaan. Ibu bekerja merupakan hal yang sangat lumrah. Meninggalkan anak yang sebenarnya masih sangat memerlukan pengasuhan optimal dari tangan langsung sang ibu. Bukan asisten, bukan baby sitter, bukan pula kakek-nenek si bayi. Idealnya sih demikian. Apalagi hingga 8 tahun sejak kelahiran anak merupakan masa golden ages perkembangan otaknya, yang tak sepatutnya dilewatkan begitu saja oleh ibu. Meskipun alasannya adalah untuk bekerja.

Hari-hari ini kita begitu rindu akan kehadiran ibu seutuhnya, yang bertanggung jawab penuh terhadap urusan pengasuhan anak. Menanamkan nilai agama, norma  kebaikan, perilaku teladan, pendidikan berbasis karakter hingga anak-anak tumbuh menjadi generasi membanggakan, yang tak hanya cerdas dari sisi akademis, namun juga emosional serta spiritual. Ibu yang telaten mengurus rumah tangganya, mulai dari urusan domestik hingga teknis sehingga layak disebut sebagai manajer rumah tangga. Kehadiran ibu yang beberapa puluh tahun lalu sangat akrab dengan pekerjaan-pekerjaan domestik rumah tangga seperti memasak, mencuci, menyetrika, membereskan rumah, yang dewasa ini agak asing dilakukan apalagi oleh ibu bekerja. Idealnya memang seorang wanita tetap tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga. Kalau saja dia keluar rumah, tentu bukan untuk mencari nafkah, atau membantu suaminya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun kondisi tidak selamanya ideal. Zaman semakin berkembang. Kebutuhan hidup semakin banyak dan perlu dana yang tidak sedikit untuk memenuhinya. Biaya pendidikan anak yang semakin mahal, begitu pun kebutuhan primer. Pangan, sandang dan papan yang sudah dibicarakan sejak kita duduk di bangku kelas 3 SD menuntut pemenuhan yang celakanya, sama sekali tidak mudah. Padahal itu semua merupakan kebutuhan primer. Belum lagi yang sekunder dan tersier yang jika diikuti semakin membuat pusing kepala. Ketika itulah double income antara suami dan istri bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Istri tak bisa lagi bergantung kepada suami dalam masalah finansial. Istri yang berpenghasilan kini menjadi tuntutan. Memang seolah tidak adil bagi wanita. Menjalankan peran ganda yang tentunya tak mudah. Ketidakberdayaan itulah yang membuat sebagian wanita mempercayakan urusan rumah tangganya pada asisten. Bahkan sampai pada urusan pengasuhan anak. Jika sebatas pekerjaan domestik saja, tentu tak terlalu menjadi masalah, karena pada dasarnya tugas istri tidak sama dengan asisten rumah tangga. Namun pengasuhan anak adalah tanggung jawab istri sepenuhnya yang tidak sepatutnya diserahterimakan kepada asisten atau baby sitter.

Seandainya cara fikir sedikit kita ubah. Tetap mematuhi apa yang diperintahkan kitab suci, bahwa wanita harus tetap di rumah. Ini bukan pengekangan yang membatasi wanita untuk tetap berkarya dan produktif. Ini justru pemuliaan, yang menempatkan wanita pada kodrat dan fitrahnya. Betapa anak-anak kita membutuhkan sentuhan tangan ibunya secara langsung, ikatan yang kuat antara keduanya, pendampingan saat menjalani masa keemasan perkembangan otaknya,  ASI eksklusif selama 6 bulan pertama yang tetap diteruskan dengan makanan pendamping hingga usianya 2 tahun, dan setumpuk kebutuhan yang tentunya tak terbeli dengan uang. Kita selama ini terlalu memikirkan dan mengkhawatirkan kebutuhan fisiknya: bagaimana bisa membeli pakaian-pakaian yang mencukupi, mainan-mainan yang diinginkannya, bagaimana menyekolahkannya di sekolah internasional bermutu, namun abai terhadap kebutuhan jiwanya. Keinginan anak itu sederhana saja. Ingin selalu ada di dekat kita (itulah sebabnya jika kita tinggal ke kantor mereka selalu menangis atau klayu), ingin setiap pulang sekolah ada ibu yang menyambutnya, menanyakan kesehariannya di sekolah, membantunya mengerjakan PR…

Jika memang sekiranya double income itu menjadi keharusan, mengingat harga bahan pokok yang semakin mencekik dan terlalu berat bagi ayah untuk menanggung semuanya sendirian, memang tidak ada salahnya bagi para istri membantu finansial suaminya. Bahkan itu akan tercatat sebagai pahala sedekah bagi istri. Namun sekali lagi, jangan sampai mengabaikan anak atau rumah tangga dalam urusan ini. Istri bisa memilih untuk bekerja dari rumah. Bukan kerja kantoran yang menuntut pelakunya untuk work from 8 to 5. Pilihan kerja dari rumah ini pun beragam, bisa membuka warung kecil-kecilan di depan rumah, menjadi reseller suatu produk kemudian dijual secara online, atau jika memiliki keahlian khusus bisa menjadi penjahit, desainer, crafter, dan memasarkan produk-produk yang dihasilkan sendiri. Atau kalau merasa kurang mumpuni untuk menjalankan bisnis, bisa juga mencoba bidang kerja yang lain, seperti penulis, kontributor majalah, penerjemah, editor, desainer yang tentunya dilakukan secara freelance, tidak terikat waktu kerja dan bisa dilakukan dari rumah. Sudah banyak cerita sukses tentang kerja dari rumah ini. Namun jangan sampai cerita sukses tersebut malah menciptakan pressure dan kekhawatiran yang tidak perlu. Yang perlu diniatkan dalam hati agar tetap bisa membantu keuangan keluarga tanpa perlu meninggalkan anak.

Mungkin sebagian dari kita berfikir sangat disayangkan jika sudah menempuh pendidikan tinggi tetapi akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga. Padahal siapa bilang pendidikan kita tidak terpakai sama sekali? Yang kuliah di jurusan keguruan bisa membuka les privat di rumah. Yang mengambil profesi dokter, apoteker, bidan, perawat, akuntan, psikolog, konsultan, notaris bisa membuka praktek di rumah. Memang tidak sesederhana itu, tetapi jika niat dan tujuan kita baik, tidak ada yang tidak mungkin bukan? Bayangkan indahnya hidup seperti itu: bakat dan keahlian tersalurkan, manfaat bagi masyarakat dirasakan, serta buah hati tidak terabaikan. Dengan demikian, sebagai wanita kita tetap berdaya guna.

Jangan terlalu galau terhadap masalah rezeki. Sesuatu yang telah ditetapkanNya untuk kita tak mungkin luput, sebaliknya jika Dia tidak berkehendak, sejauh apapun kita mencari tidak akan kita temukan. Anak adalah rezeki, jangan anggap kehadirannya sebagai beban yang akan memberati langkah kita. Justru anggap mereka sebagai investasi abadi yang akan membantu dan menyelamatkan saat kita tak mampu lagi beramal. Berikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi mereka. Jangan sampai kita menyesal. Anak kita bukan anak pengasuh, bukan anak baby sitter, bukan anak kakek-nenek, namun anak kita, orang tuanya. Camkan juga bahwa apa yang telah ditetapkanNya (tugas ayah adalah mencari nafkah sementara ibu tetap di rumah) sama sekali bukan untuk memberatkan kita. Semoga fikiran-fikiran itu tetap ada dalam hati kita dan disadari oleh orang-orang di sekitar kita.

Ya Allah, semoga kami pun bisa mengamalkannya. Mohon perkenanMu ya Allah. Aamiin.

Leave a Comment