Archive for do’s from a to z

jujur: walau pahit, tetap harus kukatakan

Nyaris semua orang benci dibohongi. Bahkan pembohong ulung pun merasa nggak terima kalau satu waktu dia orang lain membohonginya. Kesimpulannya, yang namanya jujur itu selalu lebih baik dari kebohongan. Honesty is the best policy, tampaknya masih jadi pemeo tentang kejujuran yang paling beken, meskipun saat ini, penganutnya kian menipis. Sungguh kondisi yang ironis.

Di era kapitalisme ini, tampaknya kejujuran semakin menjadi barang langka. Utopis, alias hanya menjadi impian semata. Orang yang jujur, tak lagi mujur, melainkan kojur atau ajur (celaka atau hancur). Lihatlah saja di instansi-instansi pemerintahan, orang-orang yang jujur, berhati-hati dan senantiasa memilah-milih uang yang diterimanya apakah halal atau nggak, malah bernasib nggak enak. Dijauhi teman, dianggap terlalu saklek atau idealis, bahkan ada yang sampai dimutasi ke bagian yang nggak menyenangkan atau ke pelosok yang terpencil. Begitupun yang terjadi di sekolah/kampus, pelajar/mahasiswa jujur yang nggak ingin nyontek,  ngepek, atau bekerja sama dengan teman saat ujian akan dianggap cupu dan nggak disukai. Bahkan ada yang, saking jujurnya dalam ujian, sampai nggak lulus (mungkin yang bersangkutan kurang belajarnya, wallahu a’lam).

Read the rest of this entry »

Comments (7)

ikhlas: jangan kotori niatmu

Subhanallah, beratnya bahasan ini. Sungguh, berani bicara tentang ini bukan berarti saya adalah orang yang sudah ikhlas. Ikhlas, hanya 6 huruf tetapi sangat menentukan akan jadi apa amal-amal kita kelak di mata Allah. Bisa jadi yang kita lakukan adalah kerja besar yang bermanfaat luar biasa bagi kemaslahatan umat. Bangun rumah yatim, pesantren, taman bacaan, rumah singgah; wakaf tanah untuk dibangun masjid, panti asuhan, rumah tahfizh; sungguh merupakan amal jariyah besar yang pahalanya terus mengalir selama dimanfaatkan. Investasi dengan keuntungan paling menjanjikan. Yakni jannahNya. Tetapi sebuah amal besar akan lebih besar dari namanya, akan jauh lebih besar pahalanya, manakala kita melakukannya dengan ikhlas.

Jadi, apakah yang dinamakan ikhlas? Belakangan ini muncul banyak gerakan untuk bersedekah yang patut disyukuri. Dengan gerakan generousity improvement ini insya Allah masa depan negeri kita akan lebih menjanjikan. Tetapi, harapan dan optimisme itu harus menguncup ketika menyadari bahwa keikhlasan masih dianggap sebagi prioritas kesekian dalam amal-amal dan kerja-kerja besar tersebut.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

fokus: jadilah single tasker

Begitu banyak pekerjaan yang ingin dilakukan. Begitu banyak tempat yang ingin disinggahi. Begitu banyak buku yang ingin dibaca. Begitu banyak tantangan yang ingin ditaklukkan. Begitu banyak cita-cita yang ingin dicapai. Begitu banyak hal baru yang ingin dipelajari. Semua itu bermuara pada satu kesimpulan: keinginan manusia yang tidak terbatas tidak sebanding dengan kemampuannya yang terbatas.

Sebut saja namanya Rita. Rita adalah salah satu mahasiswi universitas terkemuka di kotanya. Gadis biasa tersebut sangat terobsesi menjadi “seseorang,” sedikitpun Rita nggak ingin jadi mahasiswi standar yang cuma berorientasi pada kuliah  alias punya kehidupan 3K: kampus, kost dan kantin. Makanya, segala cara Rita tempuh untuk jadi extraordinary student.  Berbagai kegiatan kemahasiswaan Rita ikuti untuk sekedar dapet julukan “aktivis kampus” yang anti banget dengan istilah “kupu-kupu” alias “kuliah pulang-kuliah pulang.” Mulai dari klub film, paduan suara, keluarga mahasiswa universitas dan jurusan, sampai organisasi kepecintaalaman! Semua itu demi label mahasiswi aktif yang  punya banyak pengalaman berorganisasi (kan lumayan buat menuh-menuhin CV, begitu alasan Rita). Sayangnya, semua kegiatan Rita ikuti dengan setengah-setengah, tanpa fokus yang jelas dan terarah. Sebelum sukses menjadi sutradara handal, sopranos beken, aktivis tahan banting dan pendaki gunung tangguh (karena nggak jelas apa cita-cita utamanya), eh si Rita malah menerima tawaran teman kuliahnya untuk joinan bikin bisnis online! Asli gubrak dotkom deh.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

halal lifestyle: berjuanglah demi diin-mu

Kayak apa sih menerapkan gaya hidup halal dalam segala aspek kehidupan kita? Saya terinspirasi menulis ini setelah baca Majalah Aulia edisi Juni 2011. Edisi tersebut memuat aneka rupa tips dan trik bergaya hidup halal yang kini semakin didambakan masyarakat (alhamdulillah). Apa pasal? Masyarakat kita semakin kritis dan sadar akan pentingnya aspek kehalalan dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan, mulai dari memilih makanan; bahan makanan; bahan kosmetik, membangun rumah, mencari sumber rezeki, dan lain-lain.

Penerapan halal lifestyle ini juga sesuai dengan salah satu muwashshaffat (sifat-sifat) seorang Muslim (baca: target tarbiyah) yang dirinci oleh Hasan Al Banna, salah satu pelopor tarbiyah, yakni mujahidun linafsihi alias menjauhi segala sesuatu yang diharamkan Allah. Tetapi dalam bagian ini, saya hanya akan membahas mengenai memilih makanan dan bahan makanan halal serta penerapan halal lifestyle di rumah.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

(ber)guna: menjadi sebaik-baik manusia

“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”(HR Thabrani dan Daruquthni, dishahihkan Al Albani dalam “Ash Shahihah”)

Waktu abg dulu, saya langganan sebuah majalah remaja. Nah, di salah satu rubrik psikologinya pernah ada bahasan tentang “Tips & Trik Biar Nggak Dimanfaatin Teman.” Dalam rubrik itu, ilustrasinya adalah sebuah peer group yang di dalamnya terdiri dari beberapa remaja. Nah, satu orang dalam kelompok ini kayak disia-siakan gitu. Teman-teman yang orang Jawa pasti tahu deh, istilahnya dipakakke. Jadi satu orang yang dipakakke itu bawa beberapa teh botol yang udah kosong, sementara teman-temannya seakan-akan nyuruh dia balikin ke penjualnya.

Dulu sih saya percaya banget, kalau yang terpenting dari suatu persahabatan adalah saling memberi dan saling menerima (bahasa sinetron jaman 90-an banget). Atau istilahnya take and give-lah. Dan term “memanfaatkan dan dimanfaatkan” ini kok kayaknya jahat banget ya, serta terkesan menodai prinsip take and give yang dijunjung-junjung tinggi tadi. “Menggunakan” teman untuk urusan nganter-jemput, nganterin belanja, nemenin makan, dan lain-lain keperluan kita menurut saya udah dalam kategori memanfaatkan.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

enerjik: demi tiga ratus enam puluh sendi itu

Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak. (Albert Einstein)

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.” (QS An Nisaa’ [4]: 95)

Tubuh kita terdiri dari 360 sendi yang bertugas menopang tegaknya. Demi keberlanjutan sendi-sendi itu, kita harus bekerja, berkarya, beramal nyata. Iman, yang kita akui eksistensinya di dada kita, bukanlah kata benda yang pasif. Ia adalah kata kerja yang menggerakkan seluruh persendian, tulang belulang, panca indera, serta organ-organ yang kita miliki untuk selalu beramal. Walaupun iman dan amal nggak selalu berbanding lurus. Atas nama iman dan Islam yang merupakan anugerah terindah-Nya, kontribusi kita sangat diharapkan.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

dermawan: uluran tangan untuk saudaraku

Adalah lawan dari pelit alias terlalu perhitungan (soal uang tentunya). Sekarang, siapa yang suka deket-deket sama orang pelit bin kikir bin bakhil? Nggak ada kan pasti? Maunya ditraktir terus, tanpa pernah usaha buat nraktir. Seneng banget dapet gratisan, tanpa merasa perlu menggratisi teman. Selalu berharap diberi tapi nggak terlalu tertarik memberi. Mental free banget dah! Pas tongpes, andalannya tebengan atau traktiran. Giliran teman yang tongpes, jangankan ngasih gratis, ngutangin aja pakai mikir. Teman model begitu jelas nggak asik, Kawan!

Nggak mau kan, jadi orang pelit? Lebih baik jadi orang loma atau dermawan. Kalau punya uang atau makanan lebih, jangan cuma disimpan atau dimakan sendiri, ajak teman untuk menikmati “kelebihan” rezeki yang kita punya. Bukannya kebersamaan itu lebih indah ya? Meskipun yang kita punya nggak terlalu banyak atau mewah, misalnya kita beli gorengan beberapa biji nih, ajaklah teman-teman kos rame-rame menikmati. Jangan terus ngunci diri di kamar dan berharap teman nggak tahu kalau kita sedang “pesta pora.” Lain cerita kalau makanan yang kita punya cuma pas untuk kita sendiri, makannya boleh sambil sembunyi-sembunyi, hehehe.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

ceria: agar dunia selalu tersenyum

Nggak dipungkiri, keceriaan merupakan cermin hati yang gembira. Lihat teman yang wajahnya cerah terus pasti jauh lebih seneng kan, daripada lihat temen yang kerjaannya cemberut, muka ditekuk dan jarang senyum? Jangankan mau ngajak ngobrol, ngedeketin aja udah males banget kan? Nah, orang lain juga kayak gitu, Non! Lihat muka kita yang tampak jutek, “bermasalah,” nggak ramah, mereka jadi nggak berani ngedeketin! Karena oro-boro bakal ditanggepin, nggak kena semprot aja udah bagus!

Sebagai muslimah yang pengen baik, kita juga harus nunjukin wajah yang selalu cerah ceria. Senyum tulus yang terpancar dari sapaan yang hangat dan ramah. Katanya pengen ngikutin Rasulullah? Rasul adalah orang yang wajahnya paling cerah lho! Seberat apapun beban dakwah, beliau selalu tampil gembira. Membuat para sahabat begitu mencintai beliau. Jadi, meskipun sedang bete-betenya, pastikanlah tetap tersenyum cerah. Lupakan masalah, siapa tahu dengan tersenyum tulus, masalah kita malah hilang lenyap tak berbekas?

Read the rest of this entry »

Comments (4)

broad-minded: berlayar di samudera ilmu

Perkembangan iptek yang begitu pesat telah “memaksa” diri kita untuk selalu update dengan beragam informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia. Karenanya, wawasan luas jelas diperlukan agar tidak semakin tertinggal di era – yang kata orang – keberlimpahan ini. Walaupun zaman sekarang, mencari informasi sudah bukan menjadi hal yang rumit lagi. Berbagai gadget yang menyediakan menu-menu social dan information media seperti Facebook dan Twitter seolah “disiapkan” untuk kita yang tidak ingin ketinggalan berita, informasi maupun isu hangat baik skala regional, nasional maupun internasional.

Derasnya arus informasi dan kemudahan pengaksesannya tentu saja bagai mata uang yang memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya tentu saja, kita dengan mudah dapat menjadi orang yang paling up to date dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar. Namun negatifnya, terkadang sumber-sumber dari berbagai informasi ini sering saling tumpang tindih sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat awam seperti kita.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Older Posts »