Archive for breastfeeding

ketika si kecil mulai gtm

Memasuki 9m+ usianya, Ruma mulai GTM, alias gerakan tutup mulut, alias susah makan. Biasanya 3 cup nasi tim saring isi @70 ml habis dalam sekali makan, nggak sampai setengah jam. Sekarang, 1 cup aja lamaaaa banget, diemut soalnya. Emaknya mulai bingung. Apa gara-gara kecepetan naik tekstur?

Memang, sejak Ruma berulang bulan ke-9, saya mulai menyajikan mpasi tanpa dihaluskan, karena menurut Panduan MPASI WHO, tekstur makanan untuk bayi 9 bulan ke atas adalah nasi tim tanpa saring. Sebagai ibu yang saklek, saya ikutin dong (tanpa lihat kesiapan anak). Walhasil, dia bereaksi mau muntah dan nggak bisa menelan makanannya. Duh nggak tega deh. Maklum bahan-bahan makanan kayak daging ayam, wortel dan labu siam cuma saya cincang-cincang (nggak terlalu) kecil dan saya rebus aja bareng sama beras. Berasnya pun cuma jadi nasi yang nggak begitu lembek. Sepanjang disuapi itu dia marah-marah, berontak dan akhirnya ketiduran. Hari berikutnya saya akali dengan mengolah beras sampai kental kayak bubur plus menyerut semua daging dan sayuran. Hasilnya lebih lembut sih, tapi tetep ajaaa nggak terlalu lahap, nggak kayak jaman makan puree atau tim saring gitu.

Akhirnya saya nyerah, saya kembali menghaluskan makanan Ruma dengan blender. Why blender? Saya akui, sebagai WM saya sangat capek dan malas kalau harus ngalusin nasi tim pakai saringan kawat. Lama dan pegel bok. Padahal penggunaan saringan ini lebih direkomendasikan ketimbang blender, yang tentu aja jauh lebih praktis. Efek penggunaan blender ya ginii, bikin anak jadi lambat naik teksturnya. Yah, tapi semoga aja Ruma nggak lambat-lambat banget dan penyebab GTMnya kali ini bukan karena belum siap naik tekstur. Soalnya pas saya haluskan lagi pakai blender, si bebi imut ini juga males makan. Kayak ogah-ogahan gitu. Saya putar otak lagi. Mungkin bosen sama menu yang itu-itu aja kali ya.

Dari awal mpasi sampai sekarang, saya memang jarang improvisasi resep maemnya Uma. Menunya bubur atau nasi tiiiiim terus, cuma bahannya aja yang tiap hari ganti. Penyajiannya juga cuma di babycubes kecil volume 70 ml itu. Akhirnya mulai ngubek-ngubek lagi aneka resep di HHBF (Homemade Healthy Baby Food, grup FB yang ngebahas MPASI) dan nyontek resep-resep yang ada di TUM (The Urban Mama, salah satu website parenting) dan voilaa.. ketemulah saya dengan resep ini.

Mini “Orange” Baked Potatoes with Sauted Beef, inspired by an article on TUM.

Bahan-bahannya sebagai berikut, saya modifikasi dengan bahan yang ada di kulkas:
12 buah kentang mini
1/2 buah wortel
1 potong daging sapi
3 siung bawang putih
Sedikit keju parut
Sedikit unsalted butter atau 1 sdm minyak untuk menumis

Cara bikinnya gampang lho:
1. Belah kentang menjadi 2 bagian, kukus tanpa mengupas kulitnya
2. Serut wortel, kukus
3. Blansir dan rebus daging sapi, blender
4. Tumis daging rebus bersama bawang putih
5. Angkat kentang dan wortel yang sudah matang dari kukusan
6. Kerok bagian dalam kentang yang sudah dikukus, hati-hati jangan sampai kulitnya terbelah, haluskan
7. Campur kentang dan wortel kukus dengan tumisan daging sapi menjadi 1 adonan
8. Masukkan adonan ke dalam kulit kentang hasil kerokan, taburi keju parut, taruh di pinggan tahan panas
9. Panaskan oven dengan suhu 150¬įC, panggang selama 10 menit
10. Alhamdulillah sudah jadi

Oiya, resep ini untuk 3 porsi (porsi Ruma lho ya), sehingga bisa untuk 3 kali makan. Adonan bisa disimpan di kulkas untuk dipanggang sebelum jam makan, jadi fresh from the oven gitu.

Bismillah, langsung saya cobakan ke Ruma yang waktu itu bangun tidur. Masya Allah, lahap, cepat habis tanpa marah-marah. Hihihi, berarti benar kalau dia sedang bosan dan ingin variasi dalam makanannya. I guess she’s bored with puree, tim dan sejenisnya.

Sayang menu sukses ini nggak saya foto. Lain kali saya foto deh. Intinya para ibu dituntut untuk jauh lebih kreatif saat anak GTM. Jangan nyerah gitu aja kalau anak mulai susah makan. Improvisasi menu kayak gini insya Allah bisa meningkatkan minat makan anak.

Semangat ya ibu-ibu ūüėÄ

Comments (2)

Calon bunda, jangan lupakan ini ya…

Menjadi ibu baru tentu satu hal yang penuh dengan excitement. Bagaimana dahsyatnya melahirkan — hmm yang ini saya skip saja karena saya bersalin di meja operasi, betapa kelegaan begitu terasa saat suara tangis memecahkan hening di ruang bersalin, bagaimana rasanya menatap mata bening bayi kita pertama kali, melihat kulit cantiknya yang berkeriput, ah ingin rasanya mengulang momen-momen itu, mengecupnya berkali-kali saat dokter menyorongkan tubuh yang begitu mungil dengan plasenta yang masih menempel di pusarnya, kepada kita.

Lalu detik-detik berikutnya menjadi detik-detik yang membuat hati perempuan mana pun merasa campur aduk. Ada sumringah, lega, haru, tidak percaya, tidak menyangka, sakit, lelah, sedih, rindu, payah, tidak merasa mampu, ah saya kehabisan kata untuk menguraikannya. Yang jelas rasa apapun itu tentu bijaksana jika selalu dibalut syukur. Syukur yang teramat banyak karena Allah telah menggenapkan peran kita sebagai perempuan. Ibu. Tiga huruf yang maknanya jauh melampaui jumlah hurufnya, perannya luar biasa untuk menciptakan generasi yang lebih baik. Tidak salah jika frase ummul madrasah Рibu peradaban, dilekatkan padanya.

Menjadi ibu berarti harus siap untuk belajar banyak hal. Sejak menemukan dua garis merah di testpack pertanda kehamilan, refleks seorang ibu tentu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk janin yang dikandungnya. Untuk itulah dia belajar. Membaca-baca artikel tentang kehamilan, perkembangan janin dari minggu ke minggu, makanan dan minuman yang baik dikonsumsi dan harus dipantang oleh ibu hamil, gangguan-gangguan yang patut diwaspadai dalam kehamilan, perawatan bayi baru, peralatan apa saja yang dibutuhkan dalam menyambut bayi baru, dan¬†masih banyak lagi hal yang dicari tahu oleh ibu yang hamil pertama kali — pengalaman pribadi hihi. Namun¬†ada satu hal penting yang mungkin lupa dipelajari oleh banyak ibu¬†hamil — temasuk saya dulu. Hal apakah itu? Tepat. MENYUSUI.

Banyak yang menganggap bahwa menyusui adalah satu hal yang normal, natural, sehingga terkesan agak digampangkan. Belajar tentang menyusui masih kalah popularitasnya dengan belajar tentang kehamilan,¬†melahirkan normal, merawat bayi baru serta belanja perlengkapan bayi. Padahal menyusui adalah rangkaian perawatan bayi baru yang saaaaangat penting — ah ya, hampir semua¬†ibu pasti tahu sejuta manfaat ASI dan menyusui sehingga tak perlu lagi saya menguraikannya *ngeles. Selain itu pada prakteknya, sulit. Hanya ibu yang pernah menyusui yang bisa merasakan sensasi dahsyat menyusui untuk pertama kali. Bahkan salah satu teman bilang, menyusui itu lebih sulit daripada melahirkan. Sakit, baik fisik maupun psikis. Karenanya, sangat patut bagi setiap ibu hamil yang nantinya akan melahirkan dan menyusui, menyempatkan diri belajar tentang menyusui di tengah kehamilan.

Saya sendiri termasuk orang yang percaya bahwa menyusui bukanlah hal yang mudah. Saya tahu betapa sulit menyusui dan betapa pantasnya ia diperjuangkan. Saya tahu karena saya hanya merasakan disusui selama 4 bulan. Itupun tidak eksklusif. Ibu saya ibu bekerja yang tidak bisa bersama saya sepanjang waktu. Ketika ditinggal kerja saya terpaksa minum susu formula. Bahkan ketika usia saya 4 bulan, ASI ibu begitu saja berhenti, sehingga saya full sufor sewaktu bayi. Makanya saya tahu menyusui itu sulit. Namun kondisi itu tidak lantas membuat saya bersemangat mempelajari hal-hal terkait menyusui sewaktu masih hamil. Alih-alih belajar manajemen ASIP untuk ibu bekerja, saya malah terkesan masa bodoh dan sering berfikir untuk resign saja selepas melahirkan. Itu semua karena saya takut dan tidak bisa membayangkan betapa repotnya menjadi ibu menyusui bekerja yang tiap hari membawa-bawa peralatan tempur macam breastpump, coolerbag, botol-botol penyimpan ASI, dll. Pokoknya pengetahuan tentang menyusui saya skip deh. Takut menghadapi kenyataan ini ceritanya.

Hingga tibalah saat melahirkan dan harus menyusui putri kecil saya. Karena bersalin secara SC saya tidak menjalani prosesi IMD. Ruma baru diberikan pada saya untuk disusui sekitar 3 jam pasca melahirkan. Rasa kebas pasca SC membuat saya merasa tidak leluasa untuk menyusui. Saya hanya bisa menyusui sambil tiduran, tidak bisa mendekap Ruma karena perut nyeri sekali. Alhamdulillah ada Mbak Rini, kakak sepupu yang sudah berpengalaman menyusui membantu memposisikan Ruma dengan pelekatan yang tepat. Jauh lebih helpful daripada para suster di RS bersalin itu. Ah kalau begini rasanya menyesal tidak mendengarkan dengan seksama ketika bu bidan instruktur senam hamil memberi penyuluhan seputar menyusui dulu.

Penyesalan karena tidak belajar tentang menyusui semasa hamil juga terulang saat akan mempersiapkan ASIP Ruma kalau saya tinggal kerja. Yang ada, saya selalu mengandalkan Google dan teman-teman yang lebih berpengalaman untuk belajar manajemen ASIP dan masalah-masalah selama menyusui (saya kena mastitis juga di awal menyusui). Maklum pengetahuan saya nol besar. Pembelajar reaktif istilahnya. Baru mencari tahu setelah ada masalah, bukannya mewaspadai masalah. Urusan belanja perlengkapan menyusui juga sama. Baru beli-beli setelah melahirkan, kalah dengan kehebohan belanja peralatan bayi. Karena itulah saya sampai 3x ganti merek breastpump saking minimnya pengetahuan tentang breastpump yang cocok.

Namun yang saya syukuri, pengetahuan saya yang sedikit tentang ASI, ternyata malah yang paling penting, yakni konsep supply & demand ASI sehingga tidak lantas down dan memilih sufor ketika ada yang bilang ASI saya sedikit, ASI saya tidak bisa mencukupi kebutuhan Ruma dan berbagai macam judgement lain. Karena saya tahu dan yakin bahwa ASI saya selalu cukup untuk Ruma, karena Allah selalu mencukupkan rizqi hambaNya. Dan satu lagi, ini juga penting, saya tahu sebelum melahirkan bahwa pemberian ASIP harus dengan media selain dot, karena akan menyebabkan bayi bingung puting. Fyuh, langsung lega saya karena selama ini membayangkan bayi yang ditinggal kerja ibunya pasti minum susu dari dot. Lega karena berarti saya tidak harus mencuci botol dot yang sulit dibersihkan itu *emak ogah rempong.

Dan Masya Allah, ternyata pengetahuan dangkal saya dulu malah berguna ya. Alhamdulillah. Kini Ruma 8 bulan 20 hari masih full ASI (semoga seterusnya hingga 24 bulan usianya, aamiin). Ini semua tentu atas kuasa Allah, dukungan Pio, ibuk bapak, mama babe, Ici, kerjasama dengan Mbak Atun dan tentu saja, dilarang sutris! Hihi karena stress bisa menghambat kerja hormon prolaktin dan oksitosin penghasil ASI. Haha semenyebalkan apapun hari saya jarang saya pikir banget-bangetlah, takut ASI seret.

Nah, buat ibu-ibu yang lagi hamil nih, pesan saya, jangan malas belajar tentang menyusui ya. Karena pengetahuan ini penting sekali demi masa depan generasi penerus kita. Berikut ini rekomendasi saya yang insya Allah sangat berguna kalau ingin banyak tahu seputar menyusui.
1. Join grup Facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)
2. Follow Twitter @ID_AyahAsi atau @aimi_asi
3. Follow akun Facebook Fatimah Berliana Monika Purba
4. Baca buku Catatan Ayah ASI

Hmm sepertinya itu saja rekomendasi saya. Dijamin nggak nyesal karena kita akan dapat banyak pengetahuan baru dari sana. Tidak hanya soal ASI tapi juga MPASI, vaksinasi, RUM dll deh. Percaya nggak, kalau pengetahuan itu baru saja kita peroleh setelah kita punya bayi? Tuh kaaan jadi malah banyak belajar sama bayi kitaaa hihihi.

Okesip, selamat dan semangat menjadi ibu baru ya.

Leave a Comment