ujian dan kesabaran

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datangnya pertolongan Allaah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allaah itu dekat.” (QS Al Baqarah: 214)

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (QS Al ‘Ankabut: 2)

Seseorang yang mengaku beriman pasti akan menemui ujian dalam hidupnya. Entah itu berupa kesenangan – hal yang disukai, atau kesedihan – hal yang dibenci. Banyaknya harta, anak-anak yang brilian, rumah dan perabotan mewah, jabatan tinggi, adalah beberapa ujian berupa kesenangan yang semestinya kita sikapi dengan penuh syukur.

Lalu jika suatu saat dalam hidup kita ditimpa kesedihan, langkah apa yang harus kita ambil untuk melaluinya? Ada satu kata yang begitu mulia. SABAR.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allaah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al Baqarah: 45)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allaah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allaah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 153)

“Dan bumi Allaah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS Az Zumar: 10)

Setiap orang yang beriman pasti diuji. Setiap orang yang ingin meneguhkan dirinya, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allaah, menetapkan diri di atas jalan yang lurus, pasti akan menemui ujian. Itu pasti, niscaya. Dan seringkali ujiannya berupa suatu hal yang tidak kita sukai. Pahit, sungguh pahit cobaan itu. Tapi yakinlah, Allaah tidak akan menimpakan cobaan yang kita tidak sanggup untuk menanggungnya. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Sangat jelas perkataan Allaah dalam ayat terakhir surah Al Baqarah.

Allaah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya. Apalagi hamba yang ingin mendekatkan diri padaNya. Ingin beribadah kepadaNya dengan sepenuh cara. Selalu ada ujian saat ingin melakukan ketaatan. Allaah ingin menguji sejauh mana kesungguhan kita dalam menaatiNya. Menguji komitmen kita, syahadat yang selalu kita lantunkan dalam setiap shalat kita.

Setiap kesulitan yang datang menimpa kita, jangan pernah berhenti yakin dan berharap, bahwa itu semua akan menjadi penggugur dosa-dosa kita, yang meringankan hisab di akhirat nanti. Insya Allaah.

Setiap kezhaliman yang dilakukan orang lain pada kita, setiap kenyataan pahit yang harus kita terima, setiap keadaan yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan harapan, itu adalah cara Allaah untuk menguji kita, seperti apa kesabaran kita. Jika kita mampu mengahadapinya dengan sepenuh kesabaran, derajat kita akan diangkat. Namun jika tidak, kita mengeluh, marah-marah, berkata kasar, mengingkari takdir Allaah, menyesal terhadap semua yang telah terjadi, yaaa kita akan selalu diuji dan diuji dengan permasalahan yang sama sampai kita mampu mengahadapinya dengan baik.

Namun, sekuat-kuatnya kita, sesabar-sabarnya kita, tetap saja kita butuh sesuatu atau seseorang untuk menumpahkan semua kegundahan. Tentu sebaik-baik tempat untuk mengadu adalah Allaah. Maka menangislah dalam setiap sujud kita, basahilah sajadah kita dengan memujiNya dan meminta pertolonganNya agar dikuatkan menghadapi segala kesulitan. Kita selalu butuh Allaah. Dengan kegundahan itu, Allaah seperti mengingatkan kita bahwa Dia adalah sebaik-baik tempat untuk bergantung, meminta pertolongan.

Tidak ada salahnya juga untuk mengeluhkan permasalahan yang rasa-rasanya tidak dapat kita tanggung sendirian. Bagilah ia kepada orang-orang terdekat yang bisa kita percaya. Sepanjang orang itu tidak mempunyai niat buruk untuk semakin menghancurkan kita, mengompori kita untuk bermaksiat padaNya, membuat kita semakin sedih dan ingin mengeluh terus. Paling baik jika orang itu menasihatkan sabar.

Saat iman diuji, tak perlulah kita menceritakan detailnya di socmed. Nyetatus, ngetwit, atau apalah yang berbau kegundahan hati kita. Cukup Allaah dan orang-orang terdekat kita saja yang tahu. Apakah menulis status di FB dapat menyelesaikan masalah? Bukannya malah mengundang orang-orang untuk menanggapi, berkomentar apa saja, terhadap suatu masalah yang seharusnya kita simpan rapat.

Sebagai penutup, saya kutipkan perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah tentang kesabaran,

“Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….”

Sabar memang sulit. Hanya orang-orang terpilih yang mampu melakukannya. Namun pahalanya tanpa batas, sehingga sabar itu harusnya tanpa batas, tak bertepi. Jika ada yang mengatakan, “sabar itu juga ada batasnya” berarti dia sudah tidak sabar. Semoga kita semua mampu melalui semua ujian dan cobaan yang diberikanNya dengan sepenuh kesabaran. Aamiin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: