what are we looking for?

Sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantor, biar lebih semangat saya dengarkan rekaman kajian ustadz Syafiq Riza Basalamah beberapa waktu lalu yang berjudul “Berebut Seekor Bangkai.” Awalnya saya fikir kajian itu akan membahas tentang ghibah (hihi ngasal banget mentang-mentang bawa “bangkai”) ternyata tentang berlomba-lomba masalah dunia yang pada hakikatnya sama hinanya dengan bangkai.

Subhanallaah, ternyata dunia, yang kita perjuangkan mati-matian, yang kita kejar habis-habisan, dimana kita kerahkan segala daya upaya untuk meraihnya, hakikatnya hanya seperti bangkai. Betapa hinanya. Dan betapa ruginya kita yang tertipu. Lalai dengan urusan akhirat demi mengejar dunia yang sama rendahnya dengan bangkai.

Dunia itu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat. Kenikmatannya. Pun juga siksanya. Jadi, kalau kita merasa mulia dan dimuliakan Allaah tersebab banyaknya harta yang dikaruniakanNya pada kita, atau anak-anak yang semuanya “jadi orang” di dunia ini, jangan bangga dulu. Boleh jadi itu ujian. Begitupun jika kita merasa dihinakan karena kekurangan harta, belum diberi keturunan, dsb itupun juga ujian. Bisa jadi di akhirat nanti yang kita dapatkan ternyata berkebalikan dengan yang kita dapatkan di dunia.

Kalau sudah begini, fikiran kembali melayang pada anak di rumah. Untuk apa saya berpayah-payah mencari kemuliaan di dunia sementara amanah yang menjamin kemuliaan di akhirat malah saya tinggalkan. Ibu, adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Bukan sekolah mahal bertaraf internasional. Ibu, adalah pemberi kasih sayang terbaik bagi anak-anaknya. Bukan babysitter profesional yang dibayar mahal. Apalagi cuma pembantu yang dicari asal-asalan. Dan saya jauh lebih ingin anak saya menjadi anak shalihah yang do’anya menjadi amal jariyah bagi kami orang tuanya.

Saya yakin, jika pada waktu kecil mereka dididik dengan pendidikan terbaik oleh ibunya, dialiri kasih sayang tanpa tepi yang bukan sekedar dibanjiri fasilitas mewah, mereka akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Membanggakan disini bukan cuma sebatas punya pekerjaan wah, penghasilan wow, pangkat jabatan top, tapi membanggakan dalam akhlaknya kepada Allaah, kepada Rasulullaah, kepada bapak ibunya, kepada kerabat dan sahabatnya, serta kepada manusia-manusia lain di sekitarnya.

Dunia itu cuma sementara. Hilang sudah semua nikmat jika Allaah telah takdirkan waktu kita habis untuk menikmatinya. Harta juga tidak dibawa mati. Hanya amal shalih sahabat sejati kita di alam barzakh sana. Jadi buat apalagi sih saya bersusah payah mencari dunia? Menghambakan diri pada pundi-pundi rupiah yang katanya merupakan alat utama pemuas kebutuhan anak. Lupa bahwa tugas utama wanita adalah mendidik dan membesarkan anak-anaknya menjadi generasi yang mengagungkan Rabbnya. Mengajari mereka aqidah, akhlak, iman, Islam, Al Qur’an dan sunnah yang dengan itu semua insya Allaah kita akan selamat dunia akhirat. Untuk apa hidup bergelimang harta jika setelah kita meninggal, anak-anak bukannya mendo’akan kita melainkan berebut warisan? Untuk apa selagi muda kita bersibuk-sibuk meninggalkan anak, menitip anak pada babysitter, kemudian setelah kita tua dan menjadi jompo mereka membalas kelakuan kita dengan menitipkan kita di panti jompo. Aduhai menyedihkannya. Sudahlah di dunia hidup malang, di akhirat lebih malang lagi.

Untuk itu, saya ingin berpesan. Wahai para suami yang masih tega membiarkan istrinya bekerja demi membantunya menyambung hidup, kumohon tawakkal sajalah. Yakinlah bahwa rezeki itu sudah ada jatahnya masing-masing. Dan pintu rezekimu bisa jadi terbuka lebih lebar jika engkau ikhlaskan istrimu bekerja di rumah, melayani kebutuhanmu dan anak-anakmu. Kumohon bertakwalah kepada Allaah, takutlah engkau dengan siksaNya, pertanyaanNya tentang pertanggungjawabanmu atas istri dan anak-anakmu. Milikilah rasa cemburu hingga kau tak membiarkan istrimu keluar rumah dan bercampur baur dengan lelaki hanya demi membantumu menambah rupiah, untuk duniamu. Kumohon para suami yang masih menginginkan ridho Allaah, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat yang keras lagi kasar. Engkau adalah qawwam keluarga, jagalah kewibawaanmu dengan keberanianmu bertanggung jawab atas mereka, dalam hal apapun.

Wahai para istri yang masih ingin mencari kemuliaan dunia dengan memiliki penghasilan sendiri, beralasan tidak ingin bergantung pada suami, menjunjung tinggi emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender. Kumohon kembalilah pada fitrah penciptaanmu. Allaah menjadikanmu sebagai penanggung jawab di rumah suamimu. Manajer rumah tangga. Bukan manajer perusahaan bonafid. Patuhilah keinginan suamimu yang ingin dilayani sepenuhnya olehmu, bukan oleh pembantu. Ingatlah anak-anakmu. Investasi terbesarmu. relakah jika mereka tumbuh dan berkembang tanpa penjagaanmu? Anak-anak lebih butuh kasih sayang dan belaianmu. Perhatian dan sambutanmu saat mereka pulang sekolah. Bukan mainan mahal, baju-baju branded yang kau belikan dari gajimu. Ingat, anak-anak lebih membutuhkan ibunya. Bukan uang ibunya.

Jadi, apa lagi yang kita cari? Dunia ini cuma permainan. Jangan kita gadaikan akhirat demi dunia yang hanya sehina bangkai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: