harapan vs kenyataan

Dalam kaitannya dengan pembagian peran antara suami dan istri, saya cenderung bahkan sangat setuju dengan pandangan konvensional di mana suami bertugas mencari nafkah dan istri mengurus rumah serta anak-anak. Benar-benar potret ideal sebuah keluarga. Terkait isu emansipasi wanita, kesetaraan gender dan feminisme yang marak didengungkan belakangan ini jujur saya tidak terlalu tertarik. Toh sejak semula cita-cita saya memang tidak pernah menjadi wanita karir. Kalaupun terpaksa bekerja untuk membantu suami mencari nafkah, saya juga tidak berencana untuk memprioritaskan pekerjaan di atas urusan keluarga dan anak-anak saya. Jangan harap saya akan mengambil lembur, atau mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Boro-boro yang demikian, pekerjaan domestik di rumah seperti nyetrika pakaian akan saya tunda sampai anak tidur.

Kalau sekarang ini berkembang isu-isu emansipasi, feminisme dan kesetaraan gender yang didukung pula oleh wanita-wanitanya, para wanita merasa tidak adil jika dipandang sebelah mata, tidak dianggap karena tidak memiliki pekerjaan dan karir yang membanggakan, aduh saya mikirnya kok kasihan sekali ya. Sementara ibu-ibu yang bekerja seperti saya begitu mendambakan indahnya kebersamaan dengan anak 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Banyak yang bilang hidup ini sawang-sinawang. Yang WM ingin menjadi SaHM, dan yang SaHM begitu iri dengan para WM yang dipandang lebih mandiri dan “terlihat.”

Nggak saya pungkiri, jika akhirnya saya berhasil menjadi SaHM (insya Allaah aamiin) pasti akan capeeeeek sekali karena kerjaan rumah itu nggak ada habisnya. Seakan nggak bisa istirahat. Kalau masih belum punya anak mungkin tidak terlalu berasa ya, karena pasti akan banyak me-time dan nyaris tak ada “gangguan” atau “tuntutan” ini-itu. Lain kalau sudah punya anak. Ketika anak tidur, justru ibu harus kerja lebih keras karena saat anak bangun biasanya tidak bisa ditinggal (kalau anaknya masih kecil hihi). Selain itu menjadi SaHM juga perlu sumbu sabar yang lebih panjang, sikap santai dan tidak terlalu perfeksionis. Kalau kitanya terlalu perfeksionis pasti bawaannya nggak mood terus ngelihat apa-apa yang sudah direncanakan ternyata berjalan nggak sesuai rencana. Misal sudah capek ngepel ruang tamu eh ternyata si adek numpahin sirup. Buat orang yang nggak sabaran dan kurang santai kayak saya, hal kayak begitu pasti bikin mencak-mencak. Contoh lain, kalau waktu suami sudah mau pulang kerja tapi rumah belum beres, cucian dan setrikaan numpuk, masakan belum tersedia, anak belum dimandikan, wah wah kalau ibunya super panik kayak saya, alamat kacau. Ini yang harus diantisipasi dan dicari solusinya sebelum benar-benar jadi SaHM.

Jadi SaHM juga pasti ada titik jenuhnya. Ketika pakaian andalan kita sehari-hari hanya daster. Itupun kucel. Basah sana-sini kecipratan air pas mandiin anak. Bau masakan. Ketumpahan makanan anak. Rambut berantakan, keringetan. Liat cermin aja pasti males hihi. Kalau lagi bosen dan jenuh melanda begitu nanti pasti ingat betapa enaknya ketika masih jadi orang kantoran. Bisa jalan-jalan, punya uang sendiri, pakaian selalu rapi. Eits tapi tunggu dulu. Meskipun jadi SaHM itu beraaat, suliiit, lelaaah, pahalanya masya Allaah. Ladang jihadnya perempuan yang sudah menikah. Bahkan punya khadimat alias ART pun nggak terlalu dianjurkan lho. Ya, itu buat ibu-ibu yang ingin meraih kesempurnaan sebagai ibu rumah tangga. Pernah dengar kisah Fathimah radhiyallaahu ‘anha putri Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang meminta ayahnya mencarikan khadimat untuknya karena dirinya merasa sangat kepayahan mengerjakan pekerjaan rumah? Rasulullaah pun tak menuruti keinginan putrinya tersebut. Beliau menganjurkan Fathimah untuk membaca tasbih, tahmid dan takbir yang jauh lebih baik dari keberadaan khadimat. Masya Allaah, begitu mulia ternyata ya ibu rumah tangga yang bersungguh-sungguh itu?

Karenanya saya ingiiin sekali bisa meraih keutamaan-keutamaan itu. Ingin sungguh-sungguh menjadi ibu yang merupakan pendidik pertama bagi anak, mengurus mereka secara langsung, bukan dengan perantara babysitter profesional sekalipun, menyusui langsung mereka, tidak perlu memerah asip, menjadi saksi pertama perkembangan mereka dan membersamai tumbuh kembang mereka setiap saat. Saya juga ingin sekali berkhidmat pada suami. Menuruti perintah suami selama hal itu tidak bertentangan dengan perintah Allaah. Dan tentu saja, tetap bekerja sementara anak dan rumah yang menjadi tanggung jawab utama saya malah didelegasikan kepada babysitter atau ART itu sudah menyalahi perintah Allaah. Mengingkari fitrah wanita. Meskipun alasannya adalah membantu suami.

Semoga Allaah segera memberi kami jalan keluar dari kerumitan ini dan semoga kami bisa menjalankan peran-peran kami secara profesional sesuai fitrah penciptaan masing-masing. Semoga setelah berhasil menjadi ibu rumah tangga saya bisa menjadi ibu yang sabar, tenang, tidak gampang panik atau kemrungsung, selalu memprioritaskan suami dan anak, selalu ceria, merasa cukup, dan tentu saja yang PR banget lemah lembut. Wallaahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: