ketika si kecil mulai GTM (part 2)

Sudah hampir sebulan gadis kecilku nggak mau makan dengan lahap. Sejak mengasup makanan keluarga yang lebih bercita rasa daripada menu MPASInya entah kenapa Ruma jadi sering mengalami GTM. Padahal aku sudah membayangkan akan mengalami saat-saat indah ketika Ruma mulai makan seperti orang dewasa makan. Nggak perlu menyiapkan menu dan peralatan khusus, nggak perlu mensterilkan peralatan makannya, nggak perlu melarangnya saat ia hendak mencicipi makanan yang kumakan, ternyata. Menyediakan makanan untuk batita ini menguji kesabaran juga lho.

Sejak umurnya menginjak 12 bulan alias lulus mpasi non gulgar aku langsung membuatkan makanan keluarga untuknya. Menu pertama untuk Ruma adalah sayur termudah yang nggak perlu buku resep untuk membuatnya: sop. Reaksinya lumayan. Dia mau makan beberapa suap dan dikunyah. Tidak diemut. Yes. Berhasil. Bebas GTM nih. Tapi ternyata cuma sehari aja doyan makannya. Hari-hari berikutnya dia mau mangap tapi itu makanan ngendon aja di mulutnya nggak dikunyah-kunyah. Setelah bosan, Ruma lalu melepeh makanannya. Apapun itu. Lodeh, sayur asem, asem-asem, semua berakhir di perut ayam (habis dilepeh, dibuang terus dimakan ayam). Tapi giliran makan cemilan terutama yang manis-manis, juara banget. Asli bingunglah aku.

Aku lalu masak makanan-makanan yang sekiranya bisa memancing nafsu makannya lagi. Kentang panggang, perkedel, ati ayam goreng, rice pancake, tapi hasilnya nihil. Diemut lalu dilepeh. Akhirnya aku turunin tekstur makanannya kembali ke nasi tim. Awalnya sih suka, belakangan bosen terus jadi GTM lagi yang sampe bener-bener ogah mangap. Duh kalau caranya gini gimana anakku bisa dapat gizi dari makanan?

Aku beneran bingung sampai akhirnya ngebiarin Mbak yang momong Ruma ngambil alih dan bikin keputusan melakukan “cara terlarang” dalam menyuapi anak. Sambil gendong jalan-jalan plus sedikit pemaksaan. Nggak tega sih sebenernya denger dan liat Ruma ngrengek (kadang sampai nangis) waktu makan. Tapi aku berdalih, ah yang penting kemasukan makanan, gizi dapet, bab lancar. Jadi urusan nyuapin Ruma aku kadang udah males dan lepas tangan biar jadi urusannya si Mbak. Ibu macem apa ya aku ini.

Jujur aku sempet kesel sama si Mbak gara-gara dia bilang, “Ruma kalau ada Mbak Kiki jadi nggak mau makan, maunya nenen terus.” Hei, sotoy banget. Emang aku ibu macem apa yang karena keberadaanku anakku sendiri nggak mau makan (emang beneran ada ya rasa cemburu ibu terhadap BS yang ngasuh anaknya. Huh aku benciii. Seandainya aku bisa ngurus anak dengan tanganku sendiri. Udahlah abaikan). Galau banget aku dikatain begitu. Ditambah lagi, “Nggak papa Mbak. Cuma seminggu sekali aja kok nggak doyan makannya. Kalau Mbak Kiki kerja dia mau makan kok sama aku” Hei, seolah-olah dia yang paling ahli dalam ngurus Ruma ya. Dan hei, aku lihat sendiri ternyata apa yang dimaksud “mau makan.” Mau makan itu mulutnya mau mangap dan piring kosong. Nggak peduli gimana caranya. Mau itu tangan Ruma ditepis terus ditahan pas dia berontak ketika mulutnya dimasuki makanan, mau itu dialihkan perhatiannya dengan bilang, “ayam, ayam, kucing, kucing, cicak, cicak,” yang penting Ruma mangap, ngunyah dan makanan abis. Jejel-jejelin aja walaupun sebenernya itu bocah udah nangis nggak karuan saking stress dengan acara makannya.

Lalu aku berpikir Ruma nggak boleh selamanya makan dengan cara dipaksa. Kasihan. Masa dia seumur-umur mengalami cara makan yang kurang menyenangkan dan penuh tekanan kayak gitu. Curhatlah aku sama salah satu teman kuliah, dia menyarankan makan jangan sambil digendong. Atau kalau digendong jangan sambil jalan-jalan. Atau biarkan dia bereksplorasi selama acara makannya. Jangan dibatasi dan dilarang ini-itu, apalagi tangannya ditahan-tahan segala nyaris dipiting. Huhu kejam. Anak itu makhluk sensitif dan pintar lho. Dia tahu dan bisa memutuskan mau atau nggak mau melakukan sesuatu, jangan dipaksa. Saat makan itu baiknya anak diajak terlibat. Emang sih akan lebih banyak mess dan kekotoran, tapi itu PR besar buat ibu. Kalau siap punya anak ya harus siap repot dan capek. Dan kalau nggak berani kotor nanti anak jadi nggak bisa belajar. Hmm bener juga.

Ini juga senada dengan jawaban ibu-ibu di AIMI ketika aku melontarkan pertanyaan tentang gimana caranya menciptakan suasana yang menyenangkan saat anak makan. Kalau anaknya udah nggak mau disuapin, biarkan aja dia makan sendiri. Emang sih lebih kotor, lebih berantakan. Tapi hasilnya anak jadi lebih tenang dan gembira. Dan efek gembira itu bikin dia mau makan sendiri dengan suka rela. Wah harus dicoba nih. Aku juga udah nggak tega ngebiarin Ruma makan abis banyak tapi sambil nangis gitu.

Pagi tadi aku memasakkan Ruma semur telur dadar dengan terong dan tomat. Bismillaah. Aku mengajaknya makan dengan cara yang tidak seperti biasa. Di tengah rengekan minta nenennya abis mandi, aku menawarinya makan. Kusiapkan nasi dan sayurnya di tempat makan terpisah. Kuberi Ruma sendok dan garpu biar dia pegang sendiri. Awalnya dia cuma ngublek-ublek kuah sampai berceceran kemana-mana. Ah biar sajalah, nanti juga bisa dibersihkan. Kemudian ketika aku mencari-cari garpu tambahan, kulihat Ruma sudah mengambil terong dengan tangannya lalu berkata, “aaaaam” kemudian memasukkan terong itu ke mulut. Berikutnya telur, lalu nasi. Memang berantakan dan berceceran di sana-sini, tapi nggak apa-apalah, yang penting dia happy. Memang nggak habis bersih cling, masuk juga cuma beberapa suap. Tapi nggak ada adegan ngerengek dan menangis sama sekali. Alhamdulillaah. Lain kali harus jadi ibu yang lebih sabar lagi nih. Semoga bisa. Aamiin.

Dan tentunya, keinginan yang paling mendasar. Semoga bisa segera jadi ibu yang bisa mengurus anak dengan tangan sendiri. Tanpa menitipkannya pada babysitter, kakek-nenek, daycare, atau apalah. Anak itu sendiri sudahlah merupakan titipan. Masa masih mau dititipkan lagi? Astaghfirullaah. Semoga ada yang segera diberi kesadaran dan tergerak untuk mengubah kehendaknya. Aamiin.

3 Comments »

  1. izzawa said

    bener mbak…anak itu titipan masak dititpin lagi…ah aku juga lagi galau soal ini mbak ..
    salam kenal yaa

    • Rizki KD said

      Salam kenal juga mbak. Iya ni galau banget mbak, pengennya ya diurus dgn tangan sendiri ya mbak? Saya jg g terlalu setuju dgn kesetaraan gender, feminisme dan emansipasi nih mbak

  2. […] kalau punya anak enaknya tu ya ngurus sendiri, kalau boleh minjem kata-katanya mbak rizki anak itu kan titipan masak mau dititipin […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: