penilaian manusia

Astaghfirullaah. Tidak menyangka saja kalau akhirnya akan begini. Aku fikir penilaian itu, ya sudahlah. Sekedar mengisi blangko anonim berisi nama-nama pegawai kantorku berikut kolom-kolom berlabel Disiplin, Komitmen, Kerjasama, Integritas, Orientasi Pelayanan, dsb yang aku sendiri nggak apal gimana persisnya. Kutulislah angka-angka yang berdasar analisis pribadiku. Mulai dari atasan langsungku, teman-teman sebelah-sebelah dan depan meja kerja, satu seksi, kemudian seluruh pegawai termasuk kepala kantornya. Aku mengisinya ya mengisi saja. Yang kebetulan aku pernah bermualamah dengannya dalam urusan kantor dan dalam pandanganku baik, kuisi angka baik, sementara yang biasa-biasa saja kutulis biasa. dan yang tidak pernah berurusan kutulis rata-rata lah ya, sama rata semua pokoknya. Dan tak lupa aku menilai rendah diriku sendiri, terutama bab Disiplin-nya. Namanya juga penilaian terhadap manusia, sulitlah lepas dari unsur subjektif.

Aku yang sering mendapat teguran dari atasan langsungku terkait kedisiplinanku, menilai atlasku itu dengan penilaian nggak terlalu tinggi yang bagiku nggak rendah-rendah banget juga. Ya gimana, entah kenapa dulu aku menulis seperti itu dan aku nggak menyangka aja kalau ternyata dari penilaianku, beliau itu yang kunilai paling rendah dari semua eselon IV. Astaghfirullaah. Bagaimanalah ini.

Jujur aku takut karena sikapku itu beliau jadi agak menjaga jarak denganku. Tidak taulah. Sejujurnya aku samaaaa sekali tidak berniat menjelek-jelekkan beliau. Namanya juga disuruh mengisi dengan penilaian yang sejujur-jujurnya, kuisilah jujur. Tapi kok begini akhirnya? Beliau di depan umum bilang begini, “kowe nilai aku jelek to.” Duh kalau tau akhirnya bakal begitu lebih baik aku mengisi dengan asal-asalan saja ya. Sama semua seluruh pegawai semua kriteria penilaiannya. 85 semua gitu. Aman.

Ah bagaimana ya? Haruskah aku minta maaf? Tapi sumpah aku nggak ada niat jelek-jelekin. Duh aneh-aneh aja kebijakan di kantorku ini. Nyuruh ngisi begituan dengan jujur, begitu diisi jujur (dan nggak sesuai dengan harapan), langsunglah dicari-cari siapa penulisnya, diapal-apalin tulisan penulisnya, ditanyakan kesana-sini, begitu ketahuan, langsungĀ dibicarakan ke yang bersangkutan plus diomongin juga ke orang lain, grenang-greneng nggak jelas. Ini kan namanya nggak fair. Kalau nggak boleh jujur, nggak usah dicarilah itu siapa-siapa saja yang menilai. Introspeksi diri saja. Oh aku begini to menurut si A, si B, si C. Lalu perbaikan pun dimulai.

Ah ya susah kalau di dunia kerja ghibah alias nggosip alias ngrasani alias ngomongin kejelekan orang lain masih jadi budaya.

Semoga selalu dijauhkan dari ghibah dan namimah ya Allaah. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: