Obituary: Ratna Sogian Siwang

Rabu, 23 April 2014. Nggak tau kalau hari itu akan jadi hari yang berarti buat saya. Hari itu saya ngintipin timeline Facebook pas lagi coffee morning (semacam rapat) di kantor, terus nemu shared notes berjudul Curhatan Karel #24 yang ditulis oleh ayah dari nama yang disebut. Saya bertanya-tanya, siapakah sebenarnya Karel dan abinya ini? Kenapa mereka begitu gencar mencari ASIP untuk Karel? Di manakah umminya? Pergi jauhkah? Tidak bisa menyusuikah? Lalu kenapa ada banyak sekali donor ASIP untuk Karel? Saking banyaknya hingga bisa mendonorkan ASIP ke resipien lain yang juga membutuhkan. Lalu kemudian saya menyusuri notes-notes yang ditulis oleh akun Facebook bernama Nazrul Anwar tersebut. Ternyata tak hanya Curhatan Karel, melainkan ada pula Letters to Karel, cerita seorang ayah yang membesarkan anak tanpa didampingi seorang istri di sisinya. Kisah keluarga kecil itu begitu mengharukan, sangat inspiratif.

Adalah Ratna Sogian Siwang, ibu dari bayi bernama lengkap Karel Sulthan Adnara itu. Beliau meninggal pada 17 Oktober 2013 ketika melahirkan Karel. Ya, mati syahid. Meninggal dalam kondisi terbaik untuk seorang perempuan. Bagaimanapun, semenyakitkan apapun peristiwanya, meninggal dunia dalam perjuangan untuk melahirkan anak adalah cara terindah untuk menghadap sang Khaliq. Insya Allah surga balasannya. Hanya orang-orang terpilih saja yang berkesempatan meninggal dalam keadaan terbaik itu. Dan Mbak Ratna dalah salah satu yang dipilih untuk menghadap dengan cara terindah. Tidak heran, karena semasa hidupnya Mbak Ratna dikenal sebagai orang yang begiiitu baik dan shalehah.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Abi Karel tentang sosok istrinya yang betul-betul shalehah, tentang ibu dari anak yang kini dibesarkannya seorang diri tanpa sosok istri yang menemani, benar-benar membuka mata saya untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Perempuan yang memiliki banyak peran dalam kehidupan ini. Sebagai hamba Allah, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai anak, sebagai warga masyarakat, sebagai tetangga, sebagai kerabat, sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai pembelajar, sebagai pekerja, sebagai pengusaha, dan berjuta peran lain yang diemban oleh ciptaan Allah bernama perempuan. Dan Mbak Ratna, adalah satu dari hamba Allah yang mampu menjalankan peran-peran itu dengan sangat baik.

Sebagai istri, beliau shalehah nggak ketulungan. Bahkan Mas Nazrul benar-benar meridhainya. Apalagi sih yang dicari seorang istri untuk masuk surga selain ridha suaminya? Membaca kisah Mbak Ratna dan Mbak Nazrul benar-benar membuat saya malu. Betapa saya masih sangat jauh dari profil istri yang baik, yang diridhai suami. Yang banyak memberi bukan menuntut. Yang taat dan lemah lembut.

Sebagai ibu, jelas, bahkan nyawa pun rela ditukar demi melahirkan anak yang sehat. Anak yang beruntung lahir dari rahim seorang ibu luar biasa seperti beliau. Anak yang beruntung masih bisa merasakan kolostrum ibunya untuk perkembangan otaknya. Anak yang beruntung karena ada seseorang yang luar biasa mencintainya hingga rela mengorbankan nyawa untuk melahirkannya. Ya, beliaupun rela meninggalkan karir yang telah dirintis, mengabaikan pendidikan master yang diperolehnya di luar negeri, menunda cita-cita dan passionnya sebagai dosen dan peneliti, untuk menjalani cita-cita tertingginya, sebagai ibu. Beliau yang akan mendampingi anaknya menjalani masa-masa golden ages yang tidak mungkin terulang.
Ah Ruma, miomu ini juga sedang berusaha menjadi ibu terbaik untukmu, yang rela mengorbankan apa saja demi kebaikanmu. Meski mungkin saya, sekali lagi, masih jauh dari profil ibu yang baik.

Sebagai anak, ah saya malu. Satu kesamaan saya dan Mbak Ratna, mempunyai ibu yang juga bekerja, sehingga sedikit banyak menyebabkan kami sebagai anak kurang mendapatkan perhatian penuh dari ibu. Tapi Mbak Ratna, yang pada awalnya tidak dekat dengan ibunya, memiliki hubungan yang canggung dengan ibunya, berhasil memperbaiki hubungan tersebut sehingga menjadi anak yang sangat berbakti pada ibunya. Sedangkan saya? Sudahlah memiliki ibu yang sangat baik tapi saya masih sangat kurang dalam bakti kepada beliau. Saya belum bisa memberi apa-apa untuk beliau, berkorban apa-apa untuk beliau, hanya beliau yang selalu dan selalu berbuat baik pada saya. Begitupun bapak saya, saya juga belum bisa berbuat apa-apa untuk beliau. Sungguh anak macam apa saya ini.

Mestinya sebagai hamba Allah, seperti Mbak Ratna, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain. Bukan menuntut orang lain melakukan yang terbaik bagi saya. Nggak peduli orang itu baik, kurang baik, bahkan jahat sekalipun sama kita. Jadi ingat ada quote seperti ini, tapi lupa siapa yang bilang,”bukan orang baik kalau hanya bersikap baik dengan orang yang baik dengannya. orang biasa itu. baru disebut baik kalau bisa berbuat baik dengan orang yang kurang baik bahkan jahat dengan kita.” Nah saya, sama orang yang baik saja belum tentu bisa berbuat baik. Apalagi sama orang yang kurang baik bahkan jahat?

Begitu baiknya Mbak Ratna. Begitu banyak orang yang merasakan kebaikannya semasa beliau hidup. Kalau Mbak Ratna orang yang biasa-biasa saja, mana mungkin akan ada begitu banyak donor ASIP untuk Karel yang bisa memenuhi kebutuhannya selama setahun penuh, bahkan saking berlebihnya hingga bisa mereka donorkan lagi untuk bayi lain yang juga membutuhkan? Mana mungkin orang-orang bisa sesedih itu dengan kepergiannya? Mana mungkin ada begitu banyak manusia yang membanjiri tanah pekuburannya? Mana mungkin Mas Nazrul, suaminya, sampai membuat fanpage di Facebook saking banyaknya manusia yang tersentuh dengan cerita dan kebaikan keluarga kecil mereka? Mana mungkin Letters to Karel sampai dibukukan saat ini?

Masya Allah, betapa luar biasa ya orang beriman itu? Bahkan sudah meninggal pun masih membawa manfaat bagi manusia lain. Yang tidak kenal langsung dengan beliau sekalipun. Ya, manfaat itu bagi saya, para likers fanpage Nazrul Anwar, pembaca buku Letters to Karel. Ah, semoga saya benar bisa meneladani kebaikan-kebaikan Mbak Ratna Sogian Siwang dalam menjalani peran-peran yang Allah amanahkan pada saya saat ini. Aamiin.

Untuk yang ingin tahu lebih dalam tentang keluarga Adnara yang luar biasa ini, bisa kunjungi ini, ini, ini dan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: