ini hijabku, mana hijabmu?

Sudah lama tidak posting tentang Islam, religion that I believe in. Terakhir posting kayaknya tentang hijab syar’i, tepat pada Ramadhan setahun yang lalu. Subhanallaah, sudah lama sekali ternyata ya. Dan kali ini hal yang mau saya posting juga agak nyerempet ke hijab-hijab gitu deh.

Jujurly (nyontek bahasanya Karel Sulthan Adnara, babyvis kece yang eksis di Facebook itu), saya sering labil perkara hijab syar’i ini. Sudah tahu dalil dan kewajiban mengenakannya, syarat-syarat pakaian yang dikategorikan syar’i untuk Muslimah, sudah beberapa kali menulis tentang hal tersebut entah itu di blog ataupun notes pribadi, tapi teteeep aja bandel belum mengenakannya perfectly. Oke, saya memang berhijab (berpakaian muslimah plus kerudung). Sejak akhir 2009 saya sudah mengenakan pakaian muslimah di manapun saya berada dan di depan orang-orang yang bukan mahram saya. Tapi sudahkah hijab saya memenuhi syarat untuk disebut pakaian muslimah? Sudahkah pakaian yang saya kenakan membuat saya lebih dicintai Allah karena telah memenuhi perintahNya? Sepertinya belum ya.

Jujur nih ya, saya bukan orang yang konsisten. Beberapa kali dalam beberapa kesempatan saya mengenakan pakaian yang terhitung syar’i. Beberapa kali saya melebarkan khimar yang saya pakai, mengulurkannya tanpa melilitkan seperti yang biasa saya lakukan. Adik saya aja sampai apal dengan kebiasaan saya yang nggak konsisten ini. Terkadang dia mengolok-olok, dan parahnya, saya ikut terpancing sama olokannya lho. Dan benar saja, setelah itu saya tak lagi berkhimar lebar. Kadang “kegoncangan” itu juga saya alami saat mematut diri di cermin dengan khimar lebar, mendadak ada bisikan yang saya yakini berasal dari syaithan sebagai berikut: “tuh, tua banget mukamu pakai kerudung begituan. nggak ada cantik-cantiknya. malu-maluin ajee” atau “yailah Ki, kelakuan masih minus, shalat masih buru-buru, nggak selalu di awal waktu, tilawah juga bolong-bolong aja masih pede ya makai kerudung gede begini, nggak malu gitu?” atau “aktivis dakwah bukan, ikut liqo’ juga belum, dateng kajian hampir nggak pernah, masa mau pake hijab syar’i, kayak udah pengalaman gitu berIslamnya” atau “nggak kepengen keliatan cantik kayak si X, gaya kerudungnya itu loh, oke banget, rapi, manis, selalu update, nggak kayak kamu yang ngebosenin” dan seketika itu pula luruhlah niat saya untuk berhijab sesuai syariat. Ampuni saya Allah.

Saya labil banget urusan ini. Baru-baru ini saya order gamis plus khimar syar’i dari satu teman SMA. Saya coba di cermin. Cantik, seperti bukan saya. Tapi apa saya pantas mengenakan pakaian seperti itu dalam keseharian? Sementara hari-hari masih saya habiskan di kantor, meninggalkan anak satu-satunya dengan babysitter, ibu macam apa itu (tuh kan galau lagi!) dan saya bekerja sebuah instansi pemerintahan yang notabene nggak bersih-bersih amat (banyak uang syubhat gitu). Udah gitu di kantor saya kebanyakan browsing plus ngeblog kayak gini kalau lagi nggak ada kerjaan (makin nggak jelas dan menunjukkan bahwa I’m not a professional Muslimah). Ah sudahlah ya, kebanyakan galau gini malah bikin apa yang baik untuk dikerjakan (baca: berhijab lebih baik) jadi gagal lagi. Berubah ke arah yang lebih baik itu harus. Meski sedikit demi sedikit. Istiqamah, itu sulitnya. Bantu saya ya, Allah.

Dan kali ini saya masih mengenakan pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Kemeja, rok, kerudung paris yang didobel dengan kerudung paris dan “agak” diulurkan menutup dada, kaos kaki yang agak menerawang. Apa yang kurang dari penampilan saya menurut syariat Islam? Mungkin kerudung dan kaos kakinya ya. Kerudung harusnya lebih dilebarkan lagi hingga menutup pantat dan menggunakan bahan yang lebih tebal dibanding paris meskipun sudah didobel. Kaos kaki juga seharusnya dengan bahan yang lebih tebal sehingga tidak menerawang. Yak, harus belajar lebih baik lagi. Beramal lebih baik lagi. Dan… jangan cuma di bulan Ramadhan!

note: saya juga sering males pakai kaos kaki kalau perginya deket rumah, alias cuma ngambil jemuran, beli sesuatu di warung deket rumah, nemuin tamu yang datang ke rumah, atau pergi di malam hari dalam acara yang nggak direncanakan (X: mendadak suami ngajak makan di warung deket rumah atau beli apa gitu di malam hari). saya juga kadang sembarangan aja ambil kerudung instan, kadang itu nggak terlalu lebar walaupun masih menutup dada sih karena sebagian besar kerudung yang saya punya emang menutup dada. saya juga kadang ambil cardigan yang lengannya cuma 7/8 gitu tanpa saya dobelin lagi dengan deker pendek agar menutup lengan perfectly, just in case of ngangkat jemuran, beli barang di warung deket rumah. saya selalu mikir ‘ah, gak papa, cuma deket ini. lagian yang nggak ketutup cuma dikit ini. udah malem juga nggak ada yang ngeliat.’ padahal Allah Melihat. Allah Tahu. dan sekecil apapun bagian tubuh yang nggak tertutup hijab bisa jadi bahan bakar api neraka. ampun dah, serem amat. na’udzu billah. semoga yang buruk-buruk itu nggak terulang. aamiin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: