it can solve the probs, maybe

Tanya sama diri sendiri, kenapa tiap posting blog pasti temanya itu-itu melulu? Nggak jauh-jauh dari anak, menyusui, and of course.. masalah klasik seputar WM, SaHM dan terbaru nih, WfHM. Btw, apaan tuh WfHM? Yep, WfHM is work from home mom. Hehe, karena isu-isu itulah yang memenuhi kepala saya setiap hari. Rasanya sudah nggak ada tempat buat mikirin kerjaan di kantor *yaiyalah kerjaan kantor kan emang buat dikerjain, bukan dipikirin apalagi ditulis di blogūüėÄ

Jadi gini, sebagai ibu, saya sering menganggap bahwa langkah yang saya ambil ini salah. Tetap bekerja di kantor sementara Ruma saya tinggal di rumah dengan pengasuh. Ya walaupun saya cukup sering pulang pas jam istirahat untuk main-main dan nyusuin dia yang selalu sukses bikin saya ketiduran. Tapi, bukankah tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya? Lalu, kalau setiap 5 hari dalam seminggu saya meninggalkannya selama 9-10 jam per hari apakah saya masih punya waktu? Sementara sebagian besar waktu Ruma lebih banyak dihabiskan dengan si Mbak di rumah. Tapi ya sudahlah ya, insya Allah ini nggak selamanya. Aamiin.

Gagasan menjadi WfHM ini sebenarnya sudah terpikir sejak lulus-lulusan kuliah. Tahun 2010-an itu yang namanya online shop masih jarang banget loh. Saya mikir kalau orang berbisnis, jualan, berdagang itu ya harus punya toko. Sewa sepetak bangunan terus diisi barang dagangan kita deh. Istilah lapak tempat kita menggelar dagangan itu wujudnya bangunan fisik beneran. Seiring merajalelanya internet, sekarang rasanya semua orang udah punya online shop aja, semua orang udah jadi enterpreneur aja, hehehe.

Dulu saya pengennya punya toko yang jualan produk-produk muslimah yang syar’i semacam kerudung dengan bahan agak tebelan¬†(waktu itu ngetrennya kerudung bahan paris yang tipisss banget sehingga terkesan kurang syar’i) mungkin kayak sakura jepang (aduh, masih ada nggak ya, bahan kayak gini, secara kerudung syar’i sekarang rata-rata bahannya dobel hicon yang didobel lagi sehingga bisa digunakan bolak-balik atau twistcone yang saya juga belum pernah pegang itu bahan), kemeja dan rok yang nggak mamerin bentuk tubuh, dress atau gamis, juga pin/bros lucu. Saya pengen kulakan di Tanah Abang gitu dulu ceritanya. Jadi setalah 5 tahun kerja di Jakarta sambil kulakan barang, terus saya resign dari tempat kerja gitu dan jadi womanpreneur. Hihihi. Kebanyakan baca buku Ippho Santosa¬†plus ikut seminarnya juga bikin saya tambah pengen berbisnis. Tapiiii ya gitu deh. Pengen-pengen aja tapi belum ada realisasinya SAMPE SEKARANG.

Sempat pengen juga buka perpustakaan yang nyewain buku-buku bermutu dan inspiratif. Udah bikin logo yang saya desain sendiri juga lho (halah, emang lu bisa desain) plus nama perpusnya. Apa coba? Dreambrary! Jadi misi Dreambrary itu pengen meningkatkan minat baca anak Indonesia, pengen menyadarkan bahwa buku benar-benar jendela dunia, pengen mewujudkan cita-cita anak Indonesia melalui buku-buku oke, pengen menjadikan perpus yang nggak sekedar baca tapi juga ada psikolog dan motivatornya, dan sederet misi mulia lainnya. Tapi, lagi-lagi, keinginan itu mandek aja di tengah jalan. Keasikan mencari-cari calon suami *ups dan setelah menikah, lupa lagi lho sama cita-cita mulia ini.

Hmm, yang paling pengen sih jadi penulis. Itu jelas pekerjaan yang masuk kategori WfHM kan ya? Kayak Mbak Asma Nadia itu lho. Dari menulis bisa jadi womanpreneur dan motivator juga. Komplit banget ya. Tapiii nulis blog aja males dan cuma berkutat sama cerita diri sendiri yang mungkin nggak ada menggugah-menggugahnya sama sekali. Nulis cuma semacam curhat yang baru dilakukan kalau lagi galau, ada masalah dan nggak ada pelarian selain menuangkannya dalam tulisan. Self healing gitu deh. Jadi cuma inspiring buat diri sendiri aja hihi. Bahasa tulisan juga random gini. Mau bikin yang terstruktur kadang-kadang malah pusing duluan. Hayah, kayak gitu mau jadi penulis? Etapii, gini-gini saya pernah ikut workshop menulisnya Mbak Asma lho. Terus tulisan saya dikomentari cukup bagus juga sama beliau. Waktu itu sih seneng banget, tapii kok tetep belum menggerakkan saya menulis juga ya? Ah bodo amat, nulis di blog gini juga menulis kan? Yang penting niat menulis itu harus lurus, menyampaikan kebenaran, bukan cari popularitas, cari duit, cari prestise dll. Itu yang bilang bukan sembarang orang lho. Ustadz Fauzil Adhim bok. Jadi selama saya nulis ini bener, yasudah, nulis terus. Masa bodo orang lain mau bilang apa. Eh tapi ada satu poin dalam menulis yang belum saya lakukan juga. Poin apakah itu? Yak, walk the talk, alias melakukan apa yang kita katakan (baca: tuliskan). Misalnya nih, saya pernah bikin tulisan tentang peran utama seorang perempuan yang harusnya jadi ummul madrasah bagi anak-anaknya, alias tetap berdiam di rumah untuk mendidik anak-anaknya, kalaupun dia pengen bekerja ya dari rumah, alias ber-WfHM (nah lo), tapi saya sampai detik ini masih kerja kantoran jugaaak (hihih, akhir-akhirnya balik ke kegalauan utama lagi).

Nah belakangan ini kegalauan saya makin menjadi-jadi sebagai seorang WM. Udahlah denger berita tentang kekerasan terhadap anak yang semakin menggila, ngelihat “piring” SaHM yang hidupnya terlihat sangat nyaman, komen-komen di luar tentang fitrah dan peran wanita sebagai ummul madrasah tadi, plus tantangan hidup di era digital ini yang bikin siapapun bunda jadi resah gelisah terhadap nasib anak-anaknya kelak. Huah rasanya makin mantap untuk ngendon di rumah aja ngejagain anak. Tapi kaaan kenyataan nggak seindah harapan ya. Biaya hidup juga makin mahal bok, yang seolah-olah bikin double income dalam sebuah keluarga jadi sebuah keharusan. Ya walaupun sebenernya siiih, tugas mencari nafkah itu dibebankan sepenuhnya di pundak para suami. Jadi, kalau istri¬†udah merasa cukup dengan pemberian suami, suami¬†juga merasa cukup dengan hanya dia menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarga, mendingan di rumah aja deh¬†ya.

Tapi, kalau keadaan belum memungkinkan untuk menjadi SaHM, keluarga masih butuh dukungan finansial saya, kayaknya “berpenghasilan” tetap menjadi tuntutan deh. Lagipula perempuan mana sih yang nggak pengen punya penghasilan sendiri? Taruhlah pendapatan suami sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan primer¬†keluarga, tapi kalau ada kebutuhan sekunder atau tersier yang pengen dibeli, masa ya harus selalu minta sama¬†suami? Apalagi kalau suami memang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, peran sebagai perempuan yang berpenghasilan sangat diperlukan untuk membantu suami. Diniatkan shadaqah aja. Tapi ya itu, jangan sampai lupa dengan fitrah dan peran utama istri sebagai pengurus anak dan rumah tangga. Kalau keasikan kerja sampai lupa ngurusin anak, suami, rumah kayaknya mendingan dipertimbangkan lagi untuk cari pekerjaan lain yang kira-kira nggak terlalu menuntut banyak waktu dan perhatian untuk keluarga.

Karena itu, kayaknya WfHM adalah solusi ideal untuk mengatasi masalah dan kegalauan saya ya. Anak, suami dan rumah keurus (dengan catatan: ART masih perlu loh ya), pendapatan dan aktualisasi diri juga didapat. Apalagi bergeraknya dalam bidang yang sesuai passion, makin mangstab. Tapiii memulainya gimana ya? Kalau nggak sukses gimana? Dan.. apa sih sebenernya passion saya? Gubrak! Kalau udah kebanyakan nanya gitu bikin selalu ragu dan nggak mulai-mulai deh. Ujung-ujungnya, rencana tinggal rencana lagi seperti yang sudah-sudah. Parah. Aduh harus semangat deh saya. Walaupun semangat, tapi ya nggak usah terlalu memaksakan diri dan terlalu banyak berekspektasilah. Setel kendho saja, diawalinya dengan sukacita dan santai, nggak terlalu berharap muluk. Karena too much expectation malah bikin sakit kalau akhirnya jatuh.

Jadi, dimulai saja yuk apa yang sudah diniatkan. Bismillah. Biidznillah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: