always do your best!

Melanjutkan posting sebelumnya tentang menghitung kebahagiaan, rasanya masih ada yang kurang kalau kita tidak do the best untuk mewujudkan kondisi terbaik, kondisi ideal yang kita harapkan. Meskipun yang paling tahu segala yang terbaik bagi kita cuma Allah sih. Tapi setidaknya, kata hati nggak pernah bohong. Bahwa sejatinya, karir terbaik seorang perempuan adalah di rumahnya. Menjadi pemimpin rumah tangga suaminya, guru pertama bagi anak-anaknya. Tapi sekali lagi, kalau itu belum bisa terwujud nyata, masih banyak hal yang jauh lebih bermanfaat untuk dilakukan ketimbang mengeluh dan meratap.

Bersyukur

Dengan menginsafi bahwa apa yang Allah berikan untuk kita jauh lebih banyak dari apa yang kita minta, dengan menyadari bahwa masih banyak orang yang belum seberuntung kita, dengan menyadari bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita, hati akan jauh lebih lapang dan kita akan lebih legowo menerima setiap ketentuanNya. Selalu hadirkan syukur dalam segala kondisi, baik senang maupun susah, niscaya gundah gulana yang menyelimuti akan berkurang bahkan lenyap karena berganti dengan kesyukuran.

Beramal

Daripada energi kita habiskan untuk marah-marah, komplain sana-sini, lihat “piring” kanan kiri lalu membandingkannya dengan milik sendiri, capek sendiri kan akhirnya? Lebih baik energi itu kita lampiaskan untuk berbuat baik semaksimal mungkin, semampu kita. Resapi mendalam peran-peran yang kita emban selama ini. Sebagai perempuan, istri, ibu, anak, menantu, pekerja, kakak, adik, dll. Sebagai ibu bekerja misalnya, berikan yang terbaik untuk anak saat dia bersama kita, dengan menyusuinya, memandikannya, menyuapinya sepenuh hati. Hadirkan hati dan perasaan saat melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, bukannya malah sibuk dengan handphone atau mengerjakan yang lain. Lalu sebagai istri, ya benar-benar menjadi partner suami dalam segala hal. Seperti kata Pak Noveldy, konselor pernikahan, bahwa perempuan itu harus bisa menjadi Partner, Istri, Sahabat, Ibu dan Kekasih bagi suaminya. Intinya banyak memberi yang terbaik, bukan menuntut pasangan menjadi yang terbaik.

Menerima

Saat Allah belum mengabulkan keinginan kita, saat keinginan kita terhalang oleh keinginan orang lain, yang bisa jadi merupakan keinginan orang banyak, untuk manfaat yang lebih banyak, mau nggak mau, suka nggak suka kita harus menerima dan menjalankan ketentuan itu sebaik-baiknya. Misalnya, kita terpaksa bergelut dalam bidang yang kurang diminati dan tidak ada pilihan lain selain tetap melakukan pekerjaan itu. Ya sudah, lakukan saja. Kerjakan semampu kita semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik dan stop mengeluh. Nantinya bidang tersebut malah menjadi keahlian kita lho.

Terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya

Sambil bersyukur, beramal dan menerima, kita juga harus terus bermimpi dan berusaha mewujudkan impian kita. Yang punya mimpi jadi IRT plus caretaker untuk anak sendiri ya usaha dengan terus mencari bekal dalam dunia parenting, home-schooling, psikologi anak, kesehatan anak dan keluarga, kebersihan rumah, masak-memasak, beberes rumah. Belajar dan cari bekal ini juga plus melakukan lho. Jangan cuma kebanyakan belajar tapi nggak ada prakteknya. Yang punya mimpi jadi pengusaha juga usaha dikit-dikit dengan menjadi dropshipper atau reseller dulu, misalnya. Nanti modal terkumpul terus bikin usaha sendiri deh. Kalau sudah berhasil jadi pengusaha, juga jangan lupa siapkan mentalnya. Siap rugi, siap produk yang kita jual nggak laku, siap promosi dengan muka tembok, dll. Jangan malah akhirnya mundur ketika keinginan nyaris berada di genggaman.

Poin pentingnya, tetep jangan membanding-bandingkan hidup kita dengan hidupnya orang lain. Apalagi dengan hidup orang lain yang cuma kita lihat di sosial media. Sadar nggak, apa-apa yang ditampilkan di sosial media itu udah dicitrakan jauh berkali lipat lebih indah dari kenyataan aslinya lho. Secara nggak mungkin kita menampilkan keburukan kita sendiri di socmed kita. Terbukti, foto-foto yang kita jadi avatar atau profpic socmed kita pasti foto terbaik yang sudah ditake berkali-kali sampai menemukan yang paling pas hahaha. Lagipula hidup orang itu wang-sinawang. Kadang saat berhasil mendapatkan hal yang kita inginkan, kita malah ingin kembali ke masa di mana kita belum menjadi atau mendapatkan yang kita inginkan. Jadi, bersyukur terus ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: