let’s count the happiness (part 2)

Dalam hidup, ada hal-hal yang kita inginkan namun belum juga kita dapatkan. Misalnya, seorang perempuan yang terpaksa bekerja dan belum bisa berhenti kerja untuk fokus menjadi ibu rumah tangga karena satu dan lain hal. Ya, sayalah perempuan itu. Jujur saya masih duduk di sini, bukan keinginan saya. Naluri perempuan itu, kalau sudah menjadi ibu, ya nyandhing anak. Ke manapun pergi selalu bersama anak. Tidak ada keinginan untuk meninggalkan anak — kecuali untuk me time lho ya, haha. Apalagi meninggalkan sepanjang hari minimal 8 jam selama 5 hari dalam seminggu. Hmm bikin galau nggak sih guweh? Tapi sudahlah kita tinggalkan saja yang galau-galau ya. Karena saya juga sudah janji sama diri sendiri untuk berhenti mengeluh. Mengeluh itu akan mengikis rasa syukur. Jadi yuk mari bersyukur. Lebih baik mensyukuri apa yang sudah kita punya daripada sibuk meratapi apa yang belum kita punya bukan? Manusia itu memang penuh keluh kesah yah. Padahal Allah sudah memberikan segala yang terbaik bagi kita. Maafin saya ya Allah.

Yang harus saya syukuri padahal banyak banget lho. Apa aja sih? Yang saya tulis di sini cuma sebagian kecil dari luasnya nikmat yang diberikan Allah. Cuma sebagai pengingat aja, supaya saya nggak terus-terusan terjebak sama yang namanya kufur nikmat.

1. Bisa kerja dan tinggal di Jogja, deket sama suami dan keluarga
2. ASI saya sampai detik ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan Ruma di usianya yang kini 8 bulan
3. Ruma tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah dan pintar
4. Dapat babysitter yang cekatan dan lucu
5. Bisa saling dukung sama suami dalam mengasuh Ruma
6. Tempat kerja ngasih keleluasaan waktu untuk pumping ASI
7. Usaha sampingan sebagai dropshipper produk ibu & bayi lumayan ada yang beli hihihi
8. Masih punya banyak waktu untuk keluarga
9. Punya keluarga yang baik banget dan sangat saya sayangi

Alhamdulillaah. Masak dari sejuta nikmat itu masih saya dustakan dengan berulang kali mengeluh tentang betapa nggak enaknya hidup sebagai working mom yang harus “menelantarkan” anak??

Nikmati saja, syukuri saja. Karena kalau semua nikmat itu dicabut dengan satu hentakan, cuma jadi penyesalan aja di akhirnya. Tapi, cita-cita utama saya sih tetep ya, being a real mom yang sukses menjadi madrasah pertama bagi anak-anak, istri yang menjadi penyejuk mata suami dan –teteup — fulltime mom!! Hihihi. Aamiin. Mudahkan ya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: