let’s count the happiness

Akhir-akhir ini saya merasa menjadi orang yang gagal. Dalam segala hal. Gagal jadi ibu, gagal jadi istri, gagal jadi pekerja. Rasanya semua yang sudah saya lakukan nggak ada bener-benernya, nggak ada maksimal-maksimalnya, dan merasa pengen quit aja dari semua ini. Astaghfirullaah. Semacam kufur nikmat gitu deh. Menganggap semua yang udah diberi Allah nggak ada nikmat-nikmatnya sama sekali. Eh terus, saya nemu artikel di Mommies Daily yang ini nih. Langsung sadar. Ternyata, saya sedang mengalami apa yang namanya facebook envy, itu lho yang diklaim sebagai hidden threat to users’ life satisfaction. Jadi gini, orang yang mengalami penyakit ini sering merasa kebahagiaannya lenyap mendadak sesaat setelah buka home facebook, ngepoin profile facebook orang lain, baik itu temen atau saudara sendiri, temen yang nggak seberapa dekat, bahkan artis/desainer yang jelas-jelas nggak kenal. Hahaha kocak ya. Tapi fenomena ini bener-bener ada lho. Buktinya ya saya ini. Hmmm. Nggak cuma facebook aja sih tepatnya. Social media envy. Soalnya kadang-kadang perasaan sedikit nggak enak itu juga ada saat buka instagram, hihihi. Ngeliat temen makan di mana liburan ke mana, pengen. Ngeliat temen punya outfit keren dan modis, mikir kapan ya bisa beli gituan? Ngeliat temen romantisan sama pasangan, iri. Ngeliat temen nikah dan punya baby, ih kok aku nggak “jadi-jadi” ya? Kira-kira gitu deh penjelasan socmed envy.

Jadi, saya tuh sering banget mengalami envy sama para SaHM yang ada di luar sana. Kok kayaknya hidupnya enak banget ya? Bisa seharian main sama enak, bisa jadi saksi pertama yang melihat milestones anak, nggak diburu-buru waktu berangkat ke kantor dan berurusan sama deadline, nggak ngalamin pikiran bercabang yang sering banget dialami para WM, nggak pernah punya rasa bersalah karena “menelantarkan” anak, dll. Pikiran-pikiran itu bener-bener mengganggu saya dan bikin saya nggak maksimal menjalankan peran-peran sentral saya. Jiah sentral. Nah abis  baca artikel mommies daily itu saya insap deh, tobat, nggak mau ngeluh-ngeluh lagi, nggak bersyukur dan ngerasa jadi orang yang nggak bahagia. Saya memutuskan untuk nggak mau memperhatikan “piring” orang lain. Hidupku ya hidupku. Nggak usah dibanding-bandingkan dengan hidup orang lain. Bikin nyesek aja. Aslinya hidup saya juga nggak parah-parah banget lho. Malah buanyaaaaaakkkk banget yang harus saya syukuri. Akhirnya saya putuskan mulai hari ini untuk count the happiness & grate for it aja deh. Tentu dengan gitu saya jadi jaaaaauh lebih bersyukur dan bahagia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: