ibu bekerja dan saya

Sejujurnya, dari lubuk hari yang teeeerdalam, saya tidak terlalu tertarik menjadi pegawai kantoran seperti yang saat ini sedang saya jalani. Kedengaran sangat tidak bersyukur kan? Dan cukup aneh mengingat sejak lulus kuliah – akhir 2010 – saya sudah “terdampar” di salah satu instansi pemerintahan hingga saat ini. 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah ketidakbetahan bukan?

Jaauh hari sebelum menikah, selepas prajabatan tepatnya, saya sudah sering merasa galau-resah-gelisah gitu deh. Pertama, perkara uang syubhat yang sering saya terima di kantor, alhamdulillah sudah ada solusinya. Kedua, kok rasanya jadi pegawai kantoran bikin semakin jauh dari cita-cita saya ya? Halah, cita-cita apaan sih? Penulis dan womanpreneur lah. Wihihi, setinggi itukah cita-cita saya? Terus udah usaha ekstra keras belum tuh untuk meraih semua itu? Usaha aja belum, usaha ekstra keras apalagi! *langsung nutup muka malu*

Daaaan, di sinilah saya sekarang. Alasan utama saya merasa semakin nggak pengen jadi pegawai kantoran sampai pensiun, sampai uzur, sampai tua dimakan umur. Kanya Rumaysa Putri, putri pertama saya yang lahir delapan bulan lalu. Ruma, panggilan akrabnya. Bocah kecil itu sedang lucu-lucunya. Merangkak, rambatan, memegang apapun benda untuk membantunya berdiri, mengoceh tiada henti. Wajah super imutnya selalu membuat saya ingin cepat pulang, dan parahnya, bikin saya nggak konsen ngerjain kerjaan kantor. Saya menyayanginya, sangat. Rasanya sungguh tak cukup hanya memberi hak dasarnya, ASI dan makanan pendampingnya. Dia pasti jauh lebih menginginkan sentuhan, belaian dan kehangatan kasih sayang ibunya. Ibu kandungnya. Bukan pengasuh yang saya bayar hampir separuh gaji saya sebagai pegawai kantoran.

Sejak lahir sampai usia 3 tahunnya kelak, Ruma sedang berada di masa golden ages. Otaknya sedang berkembang sepesat-pesatnya. Pada usia inilah dia sangat perlu pendampingan menyeluruh. Dan perhatian menyeluruh itu hanya optimal jika dilakukan oleh kedua orang tuanya, terutama ibunya. Nggerus banget nggak sih, kalau sebagian besar waktu anak saya dihabiskan bersama si mbak. Alhamdulillah saya mendapat pengasuh bayi yang memuaskan. Tapi gimana ya, namanya juga perempuan, setitik rasa cemburu itu pasti ada. Ketika saya akan berangkat ke kantor, anak saya merengek. Dan si mbak langsung mengajaknya jalan-jalan sambil berkata plus senyum-senyum, “Yuk dek, bosen kan? Jalan-jalan yuk. Mio nggak usah diajak. Dadah Mio.” Jujur, saya beteeeeee berat. Ngerasa gagal jadi ibu yang baik.

Ingin rasanya dapat izin untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus anak dan keluarga. That’s the most I want. Lebih dari apapun di dunia ini. Dan jujur aja, dalam mengerjakan pekerjaan kantor, saya semakin nggak produktif. Gimana mau produktif sih, keingetan anak terus. Browsing juga soal parenting, breastfeeding, cloth-diapering. Belum lagi urusan pompa-memompa ASI yang jadwalnya tiap 3 jam sekali. Atasan mungkin udah pengen nyopot saya kali ya? Tapi gimana bisa, kalau terbukti melakukan pelanggaran disiplin kelas berat itu baru bisa mencopot saya sebagai karyawan.

Kepengenan saya yang lain lagi, jadi pebisnis produk-produk bayi, utamanya soal menyusui sih. Mulai dari breastpump (pompa ASI), kantong ASI, botol ASI, baju bayi, cloth diaper. Atau freelancer macam konselor laktasi (konsultan soal menyusui), yang Masya Allah, bidang yang kini sangat menarik. Atau punya usaha bidang sewa-menyewa breastpump. Widih, tapi modalnya gede pake banget lho. Saya baruuu aja nge-message orang yang punya usaha begituan dan dia menyebutkan deretan angka yang bisa dibilang fantastis *langsung minder*

Oh indahnya dunia kalau bisa resign dari pekerjaan ini dan bener-bener fokus mengurus my beloved Ruma. Ruma, taukah kamu kalau Mio sangat menyayangimu? Maafkan Mio kalau sebagian besar waktu Mio habis di meja kerja dan bukannya malah bermain denganmu. Maafkan Mio kalau Mio pulang kerja Mio serasa nggak punya banyak energi untuk menemanimu melakukan apapun yang kau suka. Maafkan Mio atas apapun yang Mio lakukan dan tidak Mio lakukan kepadamu.

Hope it won’t lasts forever. Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi putri saya, tanpa harus meninggalkannya lama-lama. Insyaa Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: