yang perlu kita tahu tentang tanggung jawab wali seorang perempuan

Berikut ini Kulwit Ustadz Salim A. Fillah pada 26 Juni 2013 tentang Tugas Wali dalam Usaha Menikahkan Perempuan di Bawah Tanggung Jawabnya.

1) Para shalihat; sudahkah disampaikan pada Ayahanda atau Wali; bahwa tugas mereka soal calon suami bukan cuma bertanya & menjadi juri? #nkh

2) Bahwa tugas si Wali adalah turut giat mencari seorang lelaki bertaqwa, untuk dia alihkan tanggungjawab atas putri tercinta padanya. #nkh

3) Seperti seorang Ayah baik hati yang bertanya pada Al Hasan ibn ‘Ali; “Nasehati aku; pada siapakah aku harus menikahkan putriku?” #nkh

4) “Nikahkan putrimu pada pria bertaqwa”, jawabnya, “Jika cinta, dia akan memuliakannya. Jikapun tak cinta, dia takkan menzhaliminya.” #nkh

5) Juga seperti pemilik kebun anggur yang menikahkan putri kesayangannya pada sahaya lugu bernama Mubarak; berkah sifat jujur & amanah. #nkh

6) Dan inilah ‘Umar ibn Al Khaththab yang kalangkabut ketika menantunya nan gagah, Khunais ibn Hudzafah As Sahmi gugur di perang Badr. #nkh

7) Syahidnya Khunais membuat Hafshah binti ‘Umar, wanita mulia nan belia kecintaan Ayahnya itu telah menjanda pada usia 18 tahunnya. #nkh

8) Duka Hafshah amat dalam; inilah suami yang telah mengimami hatinya dalam iman penuh perjuangan & 2 hijrah; ke Habasyah lalu Madinah. #nkh

9) Maka ‘Umar yang tahu apa tugas seorang Ayah bergegas seusai masa ‘iddah; ditemuinya lelaki kurus & tampan berrambut inai kemerahan. #nkh

10) “Wahai Aba Bakr”, ujarnya pada Ash Shiddiq penuh semangat, “Hafshah telah menjanda; maka aku tawarkan padamu untuk menikahinya.” #nkh

11) Lelaki teguh, lembut, & berwibawa itu hanya diam & menunduk. Tak sepatah katapun keluar dari lisan mulia yang memang irit bicara. #nkh

13) “Wahai ‘Utsman”, ujarnya, “Sungguh Hafshah telah menjanda & engkaupun juga seorang duda setelah wafatnya Ruqayyah putri Baginda.” #nkh

14) “Apakah engkau berkenan jika kunikahkan dia padamu?” Lelaki yang juga berhijrah 2 kali itu terhenyak & pipinya pun merah bersemu. #nkh

15) Tak terbiasa dengan pembicaraan yang begitu langsung; si kesayangan Quraisy itu tersipu-sipu. “Berilah aku waktu 3 hari”, tukasnya. #nkh

16) Maka 3 hari tuk mempertimbangkan berlalu pula. Hingga ‘Umar merasa pahit di hati, sebab ‘Utsman dengan halus menyatakan undur diri. #nkh

17) “Dalam waktu dekat-dekat ini”, katanya, “Aku merasa belum perlu untuk tergesa beristri lagi.” Dalam kecewa, ‘Umar coba memaklumi. #nkh

18) Maka sepenuh tawakkal dia curahkan rasa hati pada Sang Nabi, “Ya RasulaLlah betapa pilu; ‘Utsman menolak menikahi Hafshah putriku.” #nkh

19) Sang Nabi tersenyum menghibur dalam doa yang tulus & jujur, “Semoga Hafshah dikaruniai lelaki yang lebih baik daripada ‘Utsman.. #nkh

20) ..Dan semoga Allah karuniakan pada ‘Utsman perempuan yang lebih baik daripada Hafshah.” ‘Umar pun lega, meski masih bertanya-tanya. #nkh

21) Lalu semua terjawab indah ketika ‘Utsman dinikahkan dengan Umm Kultsum putri Nabi, adik Ruqayyah; hingga jadilah dia Dzun Nurain. #nkh

22) Dan Hafshah pun dinikahi oleh RasuluLlah sendiri; dia mendapatkan sebaik-baik lelaki, semulia-mulia pribadi, sebudi-budi suami. #nkh

23) Dalam kegembiraan & kesyukuran ‘Umar, Abu Bakr mendekat & berkata lirih, “Sepertinya ada dongkol di hatimu atas sikapku yang lalu?” #nkh

24) “Betul”, jawab Al Faruq. “Ketahuilah”, ujar Ash Shiddiq tenang, “Saat kau menawarkan Hafshah, maka aku amat ingin menerimanya.” #nkh

25) “Mengapa tak kau katakan?”, tukas ‘Umar. “Sebab aku mendengar RasuluLlah juga telah menyebut-nyebut nama Hafshah!”, sahut Abu Bakr. #nkh

26) “Itu juga mengapa tak kau sampaikan?”, cecar ‘Umar. “Sebab aku takkan membuka rahasia RasuliLlah pada siapapun”, jawab Ash Shiddiq. #nkh

27) “Ketahuilah, seandainya RasuluLlah tak berhendak menyunting Hafshah, pastilah aku yang termula-mula melamarnya padamu”, pungkasnya. #nkh

28) Betapa terbaca keluhuran pada kisah mereka. Ayah yang mulia. Sahabat setia lagi tepercaya. Cinta suci & pengorbanan bakti meraja. #nkh

29) Shalawat-salam tercurah atas RasuliLlah; terlimpah tuk keluarga jua sahabatnya; & moga terliput kita semua dengan mencintai mereka. #nkh

30) Esok pagi; buatkan kopi tuk Ayahanda & bisikkan agar lusa Jumatan mengamati; siapa tahu calon menantu di shaff terdepan menanti ;D #nkh

31) Bagi yang ayahandanya telah tiada; maka Wali lain menggantikan perannya; kakek, paman, abang, & adik lelaki. Semoga Allah berkahi. #nkh

32) Hati ini selalu haru kala sesekali usai berkhuthbah & mengimami Jumat; muncul wajah teduh bertanya, “Apa Nak Ustadz sudah menikah?” #nkh

33) Dengan mata berkaca, jawabnya selalu “AlhamduliLlah sudah Pak, mohon doa agar keluarga kami barakah”; dan beliau-beliau tersenyum. #nkh

34) Saya senantiasa menjabat erat tangan mereka dalam doa; sungguh tanya mereka adalah ibadah agung seorang ayah memenuhi hak putrinya. #nkh

35) Dalam malu atas sangka baik mereka pada diri; terpanjat harap moga para ayah, kakek, paman, & saudara lelaki mengilmui hal ini. #nkh

36) Moga tutur ini jadi renungan; tak ada yang memalukan dalam mengupayakan ridha Allah di jalan halal. Selamat rehat Shalih(in+at:) #nkh

Sengaja saya copas sebagai pengingat bagi kita semua, khususnya bagi yang memiliki anak perempuan dan saudara perempuan yang telah pantas dan ingin menikah namun masih terhalang karena satu hal dan lain sebab.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: