kultwit ustadz @kupinang: perselingkuhan via gadget

Berikut ini saya copas kultwit Ustadz Mohammad Fauzil Adhim pada 22-23 Mei 2013.

  1. Berhati-hatilah jika konsultasi berubah jadi curhat karena ia mudah menjelma menjadi obrolan hangat tanpa tujuan yang ciptakan kerinduan.
  2. Inilah transferensi. Banyak terjadi saat konsultasi, terutama masalah yang sarat emosi. Atau masalahnya netral, tapi ia alami kehampaan.
  3. Transferensi tak hanya perlu dikhawatiri konselor yang profesinya beri konsultasi. Justru “konsultasi tak sengaja” lebih mengkhawatirkan.
  4. Sejumlah kasus “jatuh cinta patron-klien” (untuk tidak mengatakan terapis-klien) bermula dari komunikasi hangat tanpa sekat.
  5. Beberapa kasus, selingkuh dari yang ringan sampai rada berat bermula dari penggunaan gadget yang nyerempet-nyerempet.
  6. Saya tidak berani menyimpulkan. Sepanjang kasus yang saya jumpai dan berdasarkan apa yang saya pelajari, yang paling potensial >>
  7. >> menimbulkan masalah “hubungan emosi lawan jenis” adalah ym-an (istilah pop untuk chatting) dan bbm. Saya tidak tahu kenapa persisnya.
  8. Salah satu penjelasannya, komunikasi via ym sangat mengalir. Saat mengetik, terlihat aktivitas lawan chatting yang sedang mengetik.
  9. Interface ym menampilkan percakapan yang sangat interaktif, ditambah kemudahan menampilkan smiley yang amat beragam. Menghanyutkan.
  10. Aktivitas bbm termasuk yang paling potensial menimbulkan “klik hubungan emosi” dengan lawan jenis. Tapi saya tak bisa menggambarkan.
  11. Saya tak memiliki blackberry dan tidak terpikir untuk memiliki sehingga tidak dapat mendeskripsikan dengan baik. Tapi intinya: mengalir.
  12. Apakah kalau tidak ym-an & bbm-an berarti kita sudah aman? Tidak. SMS-an pun kalau gayeng mirip chating, potensi errornya juga sama.
  13. Meski tak sebanyak bbm & ym, hubungan emosi lawan jenis juga mudah terjadi via twitterland; berbalas mention, berlanjut DM-an intens.
  14. Tak sedikit orang yang merasa sangat senang di-mention. Ia terasa sebagai perhatian yang bersifat pribadi. Namanya disebut itu “sesuatu.”
  15. Di antara berbagai kasus, ada yang sampai mengancam keutuhan rumah-tangga. Mereka hampir cerai karena suami banyak berkorban untuk “dia.”
  16. Ini tidak hanya menimpa orang-orang yang awam dalam masalah agama karena godaan itu tak pilih-pilih tingkat pemahaman & harakah.
  17. Suatu saat ada seorang istri yang memiliki banyak binaan, menyerahkan kepada saya satu bendel yang berisi print out percakapan suaminya.
  18. Ini adalah print out ym (paling banyak) selama beberapa bulan dan bbm. Istrinya rupanya memiliki “kemampuan khusus” buka akses bbm.
  19. Pernah juga ada yang serahkan print out ym yang berlanjut dengan email. Penanda umum titik rawan komunikasi itu adalah >>
  20. >> jika keduanya mulai menggunakan ungkapan yang bersifat personal, setelah sebelumnya menggunakan bahasa yang bersifat standar formal.
  21. Ironisnya, mereka adalah orang yang masing-masing memiliki binaan (saya tidak gunakan istilah khusus karena beragamnya latar belakang).
  22. Masalah mulai terjadi ketika cara bertutur sudah lebih personal. Awalnya menimbulkan rasa tidak enak kalau lama tak bbm-an/ym-an…
  23. Rasanya ada yang hilang kalau lama tak berbincang. Ini merupakan sinyal bahaya. Paling aman segera hentikan & batasi secara ketat.
  24. Jika sudah mulai memancing dengan ungkapan-ungkapan asosiatif atau memancing ungkapan-ungkapan emosional, bahaya lebih dekat lagi.
  25. Ungkapan yang memancing daya tarik emosional itu misalnya “sudah malam belum bobok? Nggak ada yang menemani?”
  26. “Makan sendirian ternyata nggak enak. Siapa yang mau menemani, ya?” Lebih ngeri lagi kalau tembak langsung maupun setengah langsung.
  27. “Do’a saya pengen dapat suami ideal persis seperti Antum.” Ini hanya contoh. Variannya bisa “do’akan”. Kalau diteruskan, >>
  28. >> ungkapannya bisa berubah menjadi dirimu. Yang benar-benar parah kalau pakai sebutan “papa-mama” “ummi-abi”.
  29. Dari beberapa print out yang pernah saya pelajari, ungkapan ini merupakan titik rawan yang jika tak segera distop dapat timbulkan >>
  30. >> perselingkuhan, baik ringan maupun sangat berat. Ada yang sampai cerai. Ada yang retak hampir cerai. Tetap suami-istri, tapi hambar.
  31. Ada yang berusaha kuat untuk bertahan, meski hati sudah remuk redam, terutama karena alasan menghindarkan terjadinya fitnah dakwah >>
  32. >> yang lebih penting lagi (sebenarnya) adalah alasan kasihan kepada anak-anak. Ini tentu mengkhawatirkan untuk keutuhan jangka panjang.
  33. Apakah kalau begitu kita sebaiknya meninggalkan gadget dan tidak lagi menggunakan social media maupun fasilitas internet lainnya?
  34. Bukan! Bukan demikian. Yang kita perlukan adalah aktivitas internet yang sehat dan terkendali dengan melibatkan anggota keluarga,
  35. Memang kurang asyik, tepatnya tidak seasyik kalau melakukan aktivitas melalui gadget di genggaman. Tetapi internetan secara terbuka >>
  36. >> akan menjadikan kita lebih terkendali. Kita, misalnya, dapat melakukan aktivitas tersebut melalui PC atau laptop yang terbuka.
  37. Jika memang sangat diperlukan, bisa saja kita berkomunikasi menggunakan fasilitas ym, bbm dan sejenisnya. Tapi gunakan bahasa standard.
  38. Hindari ungkapan-ungkapan yang “memancing.” Apalagi yang sudah sangat menjurus. Abaikan jika ada yang menggunakan ungkapan seperti itu.
  39. Jika curhat berkepanjangan, menghentikan segera dengan langsung fokus pada diskusi pemecahan masalah, akan lebih aman.
  40. Berpanjang-panjang dengan curhat, selain tak selesaikan masalah juga (justru) berpotensi menimbulkan masalah hubungan emosi lawan jenis.
  41. Masih banyak yang ingin saya perbincangkan. Tapi agaknya untuk kali ini, cukup sampai di sini. Saya dapati kasus semacam ini mulai >>
  42. >> bermunculan sejak tahun lalu. Semoga catatan sederhana ini bermanfaat untuk mengurangi dan menghindarkan kita dari fitnah syahwat.
  43. Jika putra Umar bin Khaththab saja dapat terjatuh pada dosa, maka apalagi kita yang hidup di zaman semacam ini. Semoga Allah tolong kita.

Bijaksanalah dalam menggunakan gadget. Usahakan untuk membatasi interaksi tidak esensial dengan lawan jenis — ini buat yang belum menikah juga lho. Karena sungguh, interaksi “mengalir” potensial munculkan chemistry-chemistry yang menggoyahkan keteguhan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: