ketika double income menjadi keharusan

Hari masih begitu pagi ketika seorang wanita muda dengan agak tergesa keluar dari rumah mungil di lingkungan perumahan pinggiran kota itu. Pakaiannya stylish. Dress motif bunga kecil berwarna pastel dipadu blazer hitam model cropped. Kepalanya ditutupi shawl pastel ala hijabers yang belakangan ini sangat happening. Senada dengan dress  yang dikenakannya. Kakinya tertutup flat shoes yang kontras dengan pakaiannya namun tetap pantas dipandang mata. Sebuah tote bag sewarna flat shoes tersandang di bahunya. Tak lupa tangannya menenteng sebuah cooler bag yang tak asing digunakan para ibu muda untuk memompa ASI. O-ow, ternyata wanita muda itu sudah mempunyai anak. Ditilik dari make-up natural yang memoles wajah manisnya, usianya baru beranjak satu dua angka dari seperempat abad. Hendak kemana pula wanita muda itu di hari yang masih sepagi ini?

Pertanyaan yang langsung terjawab ketika beberapa detik kemudian seorang pria yang tak berbeda jauh umurnya dari sang wanita membuka garasi rumah dan mengeluarkan sepeda motornya. Jaket tahan angin yang tampak tebal karena di dalamnya telah terpasang  body protector untuk melindungi tubuhnya dari hawa pagi yang dingin serta jauhnya perjalanan yang ditempuh. Pastilah pasangan muda itu menuju sebuah pusat perkantoran di jantung kota. Menghabiskan hari di sebuah gedung bertingkat yang menjanjikan pundi-pundi uang. Mencoba tak hirau pada sosok kecil yang baru lahir empat bulan lalu.

Keduanya memang memasrahkan pengasuhan bayi imut seumur jagung pada baby sitter bertarif lumayan yang cukup tinggi pendidikannya sehingga dirasa mumpuni untuk mengurus segala keperluan terkait si bayi. Memang untuk menyusui hanya bisa dilakukan oleh sang ibu, itulah sebabnya cooler bag berisi peralatan memompa ASI tadi tak pernah absen dibawanya ke kantor. Namun urusan pengasuhan yang lain, itu tugas dan tanggung jawab baby sitter. Bisa dikatakan sepanjang hari sang baby sitter-lah yang menemani sekaligus menyaksikan perkembangan menakjubkan bayi kecil tampan itu, karena bukan hanya bilangan jam mereka meninggalkan buah hati mereka, setengah hari bahkan lebih jika suatu kali jalanan yang mereka lalui macet parah karena kebanjiran misalnya.

Ilustrasi di atas merupakan salah satu fenomena yang jamak terjadi terutama di kota-kota besar yang persentase working-mom-nya jauh lebih besar daripada yang ada di pedesaan. Ibu bekerja merupakan hal yang sangat lumrah. Meninggalkan anak yang sebenarnya masih sangat memerlukan pengasuhan optimal dari tangan langsung sang ibu. Bukan asisten, bukan baby sitter, bukan pula kakek-nenek si bayi. Idealnya sih demikian. Apalagi hingga 8 tahun sejak kelahiran anak merupakan masa golden ages perkembangan otaknya, yang tak sepatutnya dilewatkan begitu saja oleh ibu. Meskipun alasannya adalah untuk bekerja.

Hari-hari ini kita begitu rindu akan kehadiran ibu seutuhnya, yang bertanggung jawab penuh terhadap urusan pengasuhan anak. Menanamkan nilai agama, norma  kebaikan, perilaku teladan, pendidikan berbasis karakter hingga anak-anak tumbuh menjadi generasi membanggakan, yang tak hanya cerdas dari sisi akademis, namun juga emosional serta spiritual. Ibu yang telaten mengurus rumah tangganya, mulai dari urusan domestik hingga teknis sehingga layak disebut sebagai manajer rumah tangga. Kehadiran ibu yang beberapa puluh tahun lalu sangat akrab dengan pekerjaan-pekerjaan domestik rumah tangga seperti memasak, mencuci, menyetrika, membereskan rumah, yang dewasa ini agak asing dilakukan apalagi oleh ibu bekerja. Idealnya memang seorang wanita tetap tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga. Kalau saja dia keluar rumah, tentu bukan untuk mencari nafkah, atau membantu suaminya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun kondisi tidak selamanya ideal. Zaman semakin berkembang. Kebutuhan hidup semakin banyak dan perlu dana yang tidak sedikit untuk memenuhinya. Biaya pendidikan anak yang semakin mahal, begitu pun kebutuhan primer. Pangan, sandang dan papan yang sudah dibicarakan sejak kita duduk di bangku kelas 3 SD menuntut pemenuhan yang celakanya, sama sekali tidak mudah. Padahal itu semua merupakan kebutuhan primer. Belum lagi yang sekunder dan tersier yang jika diikuti semakin membuat pusing kepala. Ketika itulah double income antara suami dan istri bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Istri tak bisa lagi bergantung kepada suami dalam masalah finansial. Istri yang berpenghasilan kini menjadi tuntutan. Memang seolah tidak adil bagi wanita. Menjalankan peran ganda yang tentunya tak mudah. Ketidakberdayaan itulah yang membuat sebagian wanita mempercayakan urusan rumah tangganya pada asisten. Bahkan sampai pada urusan pengasuhan anak. Jika sebatas pekerjaan domestik saja, tentu tak terlalu menjadi masalah, karena pada dasarnya tugas istri tidak sama dengan asisten rumah tangga. Namun pengasuhan anak adalah tanggung jawab istri sepenuhnya yang tidak sepatutnya diserahterimakan kepada asisten atau baby sitter.

Seandainya cara fikir sedikit kita ubah. Tetap mematuhi apa yang diperintahkan kitab suci, bahwa wanita harus tetap di rumah. Ini bukan pengekangan yang membatasi wanita untuk tetap berkarya dan produktif. Ini justru pemuliaan, yang menempatkan wanita pada kodrat dan fitrahnya. Betapa anak-anak kita membutuhkan sentuhan tangan ibunya secara langsung, ikatan yang kuat antara keduanya, pendampingan saat menjalani masa keemasan perkembangan otaknya,  ASI eksklusif selama 6 bulan pertama yang tetap diteruskan dengan makanan pendamping hingga usianya 2 tahun, dan setumpuk kebutuhan yang tentunya tak terbeli dengan uang. Kita selama ini terlalu memikirkan dan mengkhawatirkan kebutuhan fisiknya: bagaimana bisa membeli pakaian-pakaian yang mencukupi, mainan-mainan yang diinginkannya, bagaimana menyekolahkannya di sekolah internasional bermutu, namun abai terhadap kebutuhan jiwanya. Keinginan anak itu sederhana saja. Ingin selalu ada di dekat kita (itulah sebabnya jika kita tinggal ke kantor mereka selalu menangis atau klayu), ingin setiap pulang sekolah ada ibu yang menyambutnya, menanyakan kesehariannya di sekolah, membantunya mengerjakan PR…

Jika memang sekiranya double income itu menjadi keharusan, mengingat harga bahan pokok yang semakin mencekik dan terlalu berat bagi ayah untuk menanggung semuanya sendirian, memang tidak ada salahnya bagi para istri membantu finansial suaminya. Bahkan itu akan tercatat sebagai pahala sedekah bagi istri. Namun sekali lagi, jangan sampai mengabaikan anak atau rumah tangga dalam urusan ini. Istri bisa memilih untuk bekerja dari rumah. Bukan kerja kantoran yang menuntut pelakunya untuk work from 8 to 5. Pilihan kerja dari rumah ini pun beragam, bisa membuka warung kecil-kecilan di depan rumah, menjadi reseller suatu produk kemudian dijual secara online, atau jika memiliki keahlian khusus bisa menjadi penjahit, desainer, crafter, dan memasarkan produk-produk yang dihasilkan sendiri. Atau kalau merasa kurang mumpuni untuk menjalankan bisnis, bisa juga mencoba bidang kerja yang lain, seperti penulis, kontributor majalah, penerjemah, editor, desainer yang tentunya dilakukan secara freelance, tidak terikat waktu kerja dan bisa dilakukan dari rumah. Sudah banyak cerita sukses tentang kerja dari rumah ini. Namun jangan sampai cerita sukses tersebut malah menciptakan pressure dan kekhawatiran yang tidak perlu. Yang perlu diniatkan dalam hati agar tetap bisa membantu keuangan keluarga tanpa perlu meninggalkan anak.

Mungkin sebagian dari kita berfikir sangat disayangkan jika sudah menempuh pendidikan tinggi tetapi akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga. Padahal siapa bilang pendidikan kita tidak terpakai sama sekali? Yang kuliah di jurusan keguruan bisa membuka les privat di rumah. Yang mengambil profesi dokter, apoteker, bidan, perawat, akuntan, psikolog, konsultan, notaris bisa membuka praktek di rumah. Memang tidak sesederhana itu, tetapi jika niat dan tujuan kita baik, tidak ada yang tidak mungkin bukan? Bayangkan indahnya hidup seperti itu: bakat dan keahlian tersalurkan, manfaat bagi masyarakat dirasakan, serta buah hati tidak terabaikan. Dengan demikian, sebagai wanita kita tetap berdaya guna.

Jangan terlalu galau terhadap masalah rezeki. Sesuatu yang telah ditetapkanNya untuk kita tak mungkin luput, sebaliknya jika Dia tidak berkehendak, sejauh apapun kita mencari tidak akan kita temukan. Anak adalah rezeki, jangan anggap kehadirannya sebagai beban yang akan memberati langkah kita. Justru anggap mereka sebagai investasi abadi yang akan membantu dan menyelamatkan saat kita tak mampu lagi beramal. Berikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi mereka. Jangan sampai kita menyesal. Anak kita bukan anak pengasuh, bukan anak baby sitter, bukan anak kakek-nenek, namun anak kita, orang tuanya. Camkan juga bahwa apa yang telah ditetapkanNya (tugas ayah adalah mencari nafkah sementara ibu tetap di rumah) sama sekali bukan untuk memberatkan kita. Semoga fikiran-fikiran itu tetap ada dalam hati kita dan disadari oleh orang-orang di sekitar kita.

Ya Allah, semoga kami pun bisa mengamalkannya. Mohon perkenanMu ya Allah. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: