untuk kita yang mengangankan kesempurnaan

Kenapa sebagian besar penulis pengusung tema pernikahan — yang membahagiakan — adalah laki-laki? Dari pengamatan saya yang terbatas ini, memang begitulah adanya. Mohammad Fauzil Adhim, Salim A. Fillah, Mas Udik Abdullah, Cahyadi Takariawan dan sebagian besar nama lain adalah kaum adam. Perempuan jarang sekali menyusun buku dengan tema pernikahan. Kalaupun ada, paling jumlahnya dapat dihitung. Pun mengusung tema yang agak jauh dari bahagia. Salah satunya Asma Nadia bersama para perempuan lain yang memuat kisah nyatanya dalam berumah tangga melalui deretan buku Catatan Hati Seorang Istri (berisi suka-duka para istri selama menjalankan bahtera rumah tangga bersama suaminya), Catatan Hati yang Cemburu (dari judulnya saja kita sudah bisa menebak seperti apa isi buku tersebut), atau Sakinah Bersamamu. Yang disebut belakangan ini agak “lebih bahagia” dibanding dua buku di awal, karena “hanya” berisi kumpulan cerpen bertema rumah tangga berikut aneka tips dan trik untuk bijak dalam kehidupan rumah tangga. Tentu saja masih “kalah bahagia” dibandingkan judul-judul macam Indahnya Pernikahan Dini (Fauzil Adhim), Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan dan Bahagianya Merayakan Cinta (Salim A. Fillah), atau Bila Hati Rindu Menikah (Mas Udik Abdullah). Apa mungkin para perempuan malah merasa kurang bahagia setelah menikah ya?

Namun analisis ngawur ini agak berbanding terbalik dengan realita yang saya temui di dunia maya — terlepas bahwa dunia maya adalah sebuah dunia yang penuh pencitraan. Rata-rata, yang lebih ekspresif dalam menyatakan perasaannya (baik itu sayang, rindu, dll) kepada pasangannya adalah para perempuan. Melalui kicauannya di Twitter yang kerap memensyen pasangannya atau status-status di Facebook yang tak jauh beda, sebagian besar memang kaum hawa. Ehm, saya coba tarik kesimpulan deh. Meskipun masih sama: ngawur.

Jadi perempuan memang cenderung lebih ekspresif serta excited terhadap pasangannya, sehingga berani mengumbar kemesraan di depan umum (baca: dunia maya), sementara laki-laki justru agak cuek. Namun di balik sikapnya yang cuek, ternyata laki-laki menyimpan perasaan bahagia yang mendalam lantaran wujud-wujud perhatian dari pasangan hidupnya, sehingga mereka mengabadikan perasaan — sekaligus ilmu dan wejangan berumah tangga — yang dimilikinya ke dalam sebuah buku (sampe segitunya ya?). Kemudian perempuan yang lebih ekspresif dan excited tadi merasa, kok suaminya adem-adem aja ya, diperhatiin macem gitu? Diam-diam mereka menanggung kecewa, yang kekecewaan itu mereka curatkan lewat buku juga. Hahaha, tapi jangan terlalu dipercaya ya, silogisme nggak jelas yang saya utarakan tadi. Just for intermezzo😀

Well, sebenarnya memang tidak pernah ada pernikahan yang sempurna — kecuali mungkin pernikahan Rasulullah saw. dengan Ummul Mukminin Khadijah Al Kubra. Justru aneka rupa rasa dalam pernikahan kita (senang, sedih, marah, kecewa, cemburu, kangen, empati, gairah, bosan, dongkol, dsb.) yang akan memperkaya dinamika serta memperkuat ikatan antara suami istri. Masalah-masalah yang terjadi selama pernikahan seharusnya membuat kita semakin mendekat kepada Allah. Bayangkan kalau kehidupan pernikahan tanpa masalah: adem-ayem, seneng doang, tanpa cemburu, tanpa ngambek-ngambekan, betapa garingnya. Dan dengan cara apa kita merasa butuh Allah, sementara semua telah Dia penuhi. Eh, ada ding. Syukur. Sebisa mungkin, bagaimanapun kondisi pernikahan kita bersama pasangan, ada dua hal yang harus tetap kita jaga. Syukur dan sabar. Insya Allah pernikahan akan semakin barakah.

Seperti halnya tidak ada pernikahan yang sempurna, pasangan yang sempurna pun nyaris tidak ada, kecuali — lagi-lagi — Rasulullah saw. Kalau masing-masing pihak sudah sempurna, lalu untuk apa ada pernikahan? Lha wong tujuan menikah — selain untuk beribadah dan membentuk generasi yang shalih shalihah — adalah untuk saling melengkapi dan menyempurnakan kekurangan masing-masing diri. Yang mesti kita sempunakan adalah segala kekurangan diri sendiri, cinta, perlakuan, serta penerimaan kita terhadap pasangan.

Seringkali kita dapati pasangan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Dalam artian, memiliki sejumlah sifat yang tidak terlalu kita sukai. Misalnya suami yang agak cuek, atau istri yang terlalu bawel. Lalu bagaimana solusinya? Yang pasti kita tidak bisa memaksanya berubah menjadi yang kita inginkan, atau memintanya melakukan apa yang kita mau, karena dia pasti akan lebih banyak nolaknya. Kuncinya adalah menerimanya dengan sabar. Namun sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, karena kita tetap harus berusaha untuk memperlakukan pasangan dengan lebih baik lagi serta menyentuh hatinya. Menyentuh hati, ini yang paling penting, sungguh tidak akan berhasil apabila dilakukan dengan sikap yang keras serta perkataan yang kasar. Kekerasan hati dan laku seseorang hanya bisa dilunakkan dengan kelembutan. Kalaupun kita ingin sekali mengingatkan pasangan, ternyata cara yang paling baik adalah dengan memberi teladan. Ini yang pernah saya baca dari twitnya Salim A. Fillah suatu ketika: memuji paling baik adalah dengan mendo’akan, mencela paling baik adalah dengan memberi teladan.

Hanya kelembutan, ketulusan dan cinta yang dapat menyentuh hati dan perasaan seseorang, begitupun dengan pasangan kita. Dan tentu saja, dengan selalu melibatkan Allah dalam segala urusan rumah tangga kita. Ingatlah bahwa Dia adalah Yang Maha Membolak-balikkan Hati, maka mohonlah untuk selalu dikaruniai hati (baik kita maupun pasangan) yang bersih dan cenderung kepada ketaatan. Insya Allah, jika yang demikian sudah dilakukan, masalah malah membuat hari-hari pernikahan semakin indah. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: