ikhlas: jangan kotori niatmu

Subhanallah, beratnya bahasan ini. Sungguh, berani bicara tentang ini bukan berarti saya adalah orang yang sudah ikhlas. Ikhlas, hanya 6 huruf tetapi sangat menentukan akan jadi apa amal-amal kita kelak di mata Allah. Bisa jadi yang kita lakukan adalah kerja besar yang bermanfaat luar biasa bagi kemaslahatan umat. Bangun rumah yatim, pesantren, taman bacaan, rumah singgah; wakaf tanah untuk dibangun masjid, panti asuhan, rumah tahfizh; sungguh merupakan amal jariyah besar yang pahalanya terus mengalir selama dimanfaatkan. Investasi dengan keuntungan paling menjanjikan. Yakni jannahNya. Tetapi sebuah amal besar akan lebih besar dari namanya, akan jauh lebih besar pahalanya, manakala kita melakukannya dengan ikhlas.

Jadi, apakah yang dinamakan ikhlas? Belakangan ini muncul banyak gerakan untuk bersedekah yang patut disyukuri. Dengan gerakan generousity improvement ini insya Allah masa depan negeri kita akan lebih menjanjikan. Tetapi, harapan dan optimisme itu harus menguncup ketika menyadari bahwa keikhlasan masih dianggap sebagi prioritas kesekian dalam amal-amal dan kerja-kerja besar tersebut.

Yang tersirat dari gerakan tersebut, sedekah tak harus ikhlas. Keikhlasan bisa dilatih, istilahnya sih ikhlas by doing. Menurut gerakan “brutal” (karena seringkali menghimbau untuk melakukan sedekah besar-besaran) itu, keikhlasan berarti memberi dengan ringan, tanpa terpaksa, tanpa berharap balasan dari sang penerima. Mungkin saya tidak akan seemosi ini ketika pengertian keikhlasan berhenti pada definisi yang saya sebutkan tadi. Ternyata tidak. Meskipun tidak berharap balasan dari sang penerima, sedekah-sedekah itu mengisyaratkan berharapnya balasan dari Allah akan kemuliaan di dunia. Kekayaan yang berlipat, rezeki yang bertambah, usaha yang berkembang pesat, bahkan terlunasinya hutang!

Memang, yang demikian itu merupakan manfaat dari sedekah-sedekah yang kita lakukan. Seperti firman Allah dalam ayat berikut ini.

“Perbandingan (pahala) orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah (adalah) seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di tiap-tiap bulir ada seratus biji, dan Allah akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah itu Luas (pemberianNya) lagi Sangat Mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 261)

Namun, jika semua amal hanya dilandasi tujuan untuk dunia? Ikhlaskah itu? Hey, Allah sedikitpun tak membutuhkan harta kita. Masa Allah yang Maha Kaya disogok dengan harta kita yang nggak seberapa? Allah juga tidak melihat rupa dan harta yang kita punya. Yang bernilai di sisi Allah adalah ketakwaan kita. Dan salah satu usaha menuju takwa, adalah melandaskan segala amal perbuatan yang kita lakukan hanya karena Allah.

Ada satu kisah yang berkaitan dengan pembahasan ini, yakni tentang amal yang berubah menjadi bencana. Kisah ini saya baca dari versi online Majalah Hidayatullah. Begini.

Salah satu sudut Madinah ramai oleh kerumunan orang siang itu. Ternyata ada satu orang yang dikerubuti belasan orang lain macam pedagang mainan anak-anak yang dikerumuni anak-anak kecil. Ternyata dialah Abu Hurairah, salah satu periwayat hadits Rasulullah. Maka bertanyalah Syafiy Al Ashbahi, satu di antara mereka, “Wahai Abu Hurairah, beritahukan kepada kami hadits Rasulullah yang kau ketahui hakikatnya.

“Akan aku sampaikan salah satu hadits Rasulullah yang kuketahui dan kupahami, “ jawab Abu Hurairah. Tetapi setelah mengucapkan itu, beliau malah pingsan. Tak tanggung-tanggung, hingga empat kali beliau tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya di yaumul hisab adalah ahli jihad. Kemudian didatangkanlah mujahid tersebut ke hadapan Allah. Ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya di dunia dan iapun mengakuinya. Lalu Allah bertanya, “Apa yang telah kau lakukan atas nikmat itu?” Dijawabnya, “Aku berperang di jalanMu hingga menjemput syahidku.” Tetapi apa kata Allah, “Bohong kau! Kau melakukan semua itu agar semua orang mengenalmu sebagai orang yang pemberani dan yang demikian itu telah Aku perlihatkan kepadamu di dunia, kau dikenal sebagai orang yang pemberani.” Lalu Allah menyuruh malaikat memasukkan orang tersebut ke neraka.

Kemudian setelah itu, Allah memanggil hambaNya yang ahli ilmu, mengajar dan menghafal Al Qur-an. Lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah Allah berikan dan ditanya lagi dengan pertanyaan sama yang diberikan kepada orang pertama. Kemudian dijawabnya, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya kepada orang-orang yang belum tahu, serta membaca dan menghafal Al Qur-an untukMu.” Allah tetap menyebutnya sebagai pendusta, “Yang kau lakukan tak lain hanya agar manusia menganggapmu sebagai orang yang paling berilmu, kau juga ingin dikenal sebagai hafizh Qur-an yang baik. Semua juga sudah kukabulkan di dunia dan kini tak ada balasan yang lebih baik selain meraka.”

Lalu didatangkanlah orang ketiga, seorang yang diberi nikmat berupa keluasan rezeki dan keberlimpahan harta. Semua nikmat itu ditunjukkan padanya hingga ia mengakuinya. Allah pun menanyakan pertanyaan yang sama dengan orang pertama dan kedua. Orang terakhir ini pun menjawab dengan bangga, “Tidak ada sepeserpun dari hartaku yang tidak kusedekahkan di jalanMu, ya Allah.” Ironis, Allah pun menolak jawaban tersebut dengan mengatainya pembohong, “Kau bersedekah agar dianggap orang sebagai ahli sedekah yang dermawan. Semua itu juga sudah telah Kucukupkan untukmu di dunia. Orang-orang mengenalmu sebagai sang dermawan.” Kemudian, sama seperti sebelumnya, Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya ke neraka.’” (HR Muslim)

Begitulah. Betapa pentingnya keikhlasan dalam setiap amal perbuatan yang kita lakukan. Amal sekecil apapun, asal ikhlas, jauh lebih berarti di sisi Allah daripada amal besar namun tanpa dilandasi keikhlasan.

Karena ikhlas, beda dengan memberi dengan ringan. Karena ikhlas berarti, tetap melakukan ketaatan walaupun terasa berat. Perhatikan juga ilustrasi berikut. Si A yang berpenghasilan 3 juta per bulan, membelanjakan hartanya sebesar 2 juta per bulan untuk sedekah. Dia melakukannya karena ingin menaati perintah Allah, berharap balasan dan pahala dari Allah di akhirat, dan takut disiksa Allah karena menolak bersedekah. Lalu, si B yang berpenghasilan sama menyedekahkan harta yang sama di jalan Allah. Keduanya juga sama, memberi dengan ringan alias tanpa beban. Bedanya, si B menambah sedikit niatnya, “Semoga dengan sedekahku ini usahaku makin berkembang pesat, rezekiku ngalir lancar.” Dengan niat yang berbeda inilah, tingkat keikhlasannya juga berbeda.

Bisa jadi lho, apa yang kita harapkan bakal terwujud di dunia, juga nggak dikabulkan sama Allah. Misalnya udah merasa banyak sedekah, eh rezeki seret juga. Ini nih yang bikin kita menggugat, “Mana keadilan Allah? Mana janjiNya yang katanya pasti benar?” Sedih kan? Udah di dunia nggak dapat bagian, di akhirat pun demikian, masih ditambah siksa pula! Maukah kita?

Yang dianjurkan dalam Islam adalah, beramal untuk mendapatkan ridha Allah, berharap pahala di akhirat dan dilakukan karena takut akan siksa-Nya. Bukan untuk kegemilangan dunia, profit yang bertambah, rezeki yang melimpah, atau cita-cita dunia yang tercapai. Jangan pernah beralasan melakukan amal-amal akhirat tersebut, baik sedekah, shalat dhuha, maupun shalat tahajud, untuk tujuan dunia!

Tambah kacau lagi tuh pemahaman begini: sedekah besar kunci rezeki besar. Atau menyedekahkan barang yang kita cintai demi mendapatkan sesuatu yang kita cintai, seperti jodoh atau keturunan. Sungguh Kami berlindung padaMu dari yang demikian, ya Allah.

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Al Muddatstsir [74]: 6)

Bukannya Allah juga sudah menegaskan dalam salah satu ayatnya yang tersebut di atas? Apakah kita belum memahaminya? Apakah kita begitu percaya dengan kata-kata yang menonjolkan begitu pentingnya beramal untuk tujuan-tujuan yang sama sekali nggak abadi itu? Apakah kita malah meragukan Allah yang sudah sangat gamblang memberi perintah? Atau kita merasa lebih pintar dengan membuat hitungan-hitungan yang didasarkan pada untung-rugi ala pedagang semata?

Teman-teman, Allah itu sungguh Zat yang paling mengetahui apa yang paling baik untuk kita. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Dia nggak pernah membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya. PerhitunganNya, perintahNya, sedikitpun nggak ada yang bermaksud untuk menyulitkan kita. Jadi kalau kita beramal tetapi sebenarnya kita kesulitan dengan amal-amal itu, cukuplah melakukan dengan apa yang sudah kita mampu dan punyai. Jangan pernah terbebani dengan kata-kata, “Pelit amat sih sedekahnya” atau “Dikit amat sih dhuhanya.” Sekali lagi, kualitas lebih utama daripada kuantitas. Allah lebih suka amal yang kecil tapi kontinyu daripada besar tapi nggak berkelanjutan.

Namun, bukan berarti pembahasan ini menganjurkan kita untuk bermalas-malasan atau beramal sedikit lho ya! Kalau kita sudah mampu, ya lakukan sesuai dengan kemampuan kita! Optimalkan dan maksimalkan. Hanya tunjukkan yang terbaik. Misalnya, diberi keluasan rezeki yang jangan sampai pelit untuk berbagi atau cuma berbagi sedikit. Yang banyak malah dinikmati sendiri padahal untuk sesuatu yang nggak penting-penting banget. Atau, pas ndilalah banyak waktu kosong ya manfaatkan untuk menambah raka’at shalat dhuha. Bukannya malah menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang nggak bermanfaat atau malah maksiat!

Ah, betapa sulitnya! Insya Allah, dengan kemauan keras dan menjadikan akhirat sebagai satu-satunya motivasi kita bisa menerapkannya dengan baik. Aamiin.
Oh iya, satu lagi. Sebagaimana kita nggak diperkenankan nggak ikhlas dalam hablumminallah, kita juga nggak boleh tuh nggak ikhlas dalam hablumminannaas. Itu namanya pamrih alias berharap balasan. Menolong teman tapi niatnya biar ditolong juga suatu hari nanti. Memberi dengan harapan juga diberi pada saat yang lain. Terus merasa gimanaa gitu, saat balasan itu nggak kunjung diterima. Ada rasa nggak enak bahkan sebel dan kecewa. Nah, inilah nggak enaknya berharap sama manusia. Makanya, sebagai muslimah kita dianjurkan untuk hanya berharap kepada Allah. Dijamin nggak bakal kecewa deh!

Mari kita tutup pembahasan ikhlas ini dengan satu puisi karya almarhum WS Rendra yang benar-benar… jleb! Menohok boook!

Renungan Indah

Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan ini padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja, untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil, ingin lebih banyak popularitas, dan
Kutolak sakit, kutolak kemiskinan
Seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauhiku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku,”
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

4 Comments »

  1. Linda said

    Assalamualaikum,
    salam kenal
    aq ijin share tulisan ini ya mbak
    wassalam
    Linda

  2. Maria said

    ayat 2:261 itu untuk PAHALA…bukan HARTA, dari dulu sampai sekarang SEDKAH ITU HARUS IKHLAS, mengharap RIDHO ALLAH..sy stuju “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Al Muddatstsir [74: 6]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: