fokus: jadilah single tasker

Begitu banyak pekerjaan yang ingin dilakukan. Begitu banyak tempat yang ingin disinggahi. Begitu banyak buku yang ingin dibaca. Begitu banyak tantangan yang ingin ditaklukkan. Begitu banyak cita-cita yang ingin dicapai. Begitu banyak hal baru yang ingin dipelajari. Semua itu bermuara pada satu kesimpulan: keinginan manusia yang tidak terbatas tidak sebanding dengan kemampuannya yang terbatas.

Sebut saja namanya Rita. Rita adalah salah satu mahasiswi universitas terkemuka di kotanya. Gadis biasa tersebut sangat terobsesi menjadi “seseorang,” sedikitpun Rita nggak ingin jadi mahasiswi standar yang cuma berorientasi pada kuliah  alias punya kehidupan 3K: kampus, kost dan kantin. Makanya, segala cara Rita tempuh untuk jadi extraordinary student.  Berbagai kegiatan kemahasiswaan Rita ikuti untuk sekedar dapet julukan “aktivis kampus” yang anti banget dengan istilah “kupu-kupu” alias “kuliah pulang-kuliah pulang.” Mulai dari klub film, paduan suara, keluarga mahasiswa universitas dan jurusan, sampai organisasi kepecintaalaman! Semua itu demi label mahasiswi aktif yang  punya banyak pengalaman berorganisasi (kan lumayan buat menuh-menuhin CV, begitu alasan Rita). Sayangnya, semua kegiatan Rita ikuti dengan setengah-setengah, tanpa fokus yang jelas dan terarah. Sebelum sukses menjadi sutradara handal, sopranos beken, aktivis tahan banting dan pendaki gunung tangguh (karena nggak jelas apa cita-cita utamanya), eh si Rita malah menerima tawaran teman kuliahnya untuk joinan bikin bisnis online! Asli gubrak dotkom deh.

Teman-teman, pengen nyoba sesuatu yang baru tentu saja bukan merupakan hal yang dilarang, apalagi ketika darah muda masih menggelegak. Pengennya bergeraaaak terus dengan aktif dan dinamis. Mumpung masih muda dan masih semangat, begitu alasannya. Emang sih, ikut berbagai kegiatan positif banyak sekali manfaatnya. Menambah pengalaman dan wawasan, memperluas pergaulan dan jaringan, meningkatkan softskill, mengisi waktu luang, dan seabrek manfaat lain yang bisa diperoleh dari berbagai aktivitas/kegiatan tersebut. Namun yang patut diingat, manfaat optimal suatu kegiatan hanya dapat diperoleh jika kita fokus melakukannya.

Fokus berarti memusatkan perhatian dan konsentrasi pada tujuan yang akan dicapai, tidak terbagi dan terpecah kepada kegiatan lain di luar bidang yang ditekuni, atau yang melenceng dari tujuan. Atau dengan kata lain, fokus berarti menetapkan pada satu atau lebih tujuan, berusaha keras meraih tujuan tersebut, serta meninggalkan hal-hal yang tidak prioritas dalam mencapai tujuan tersebut.

Dari kisah Rita di atas, kelihatan banget kalau Rita belum punya fokus yang jelas dalam hidupnya. Cita-cita Rita yang sebenarnya masih belum tampak karena Rita sangat terobsesi menjadi mahasiswi aktif, hanya ingin mencoba hal-hal baru yang menurutnya menarik, sama sekali bukan untuk menggali bidang apa yang sebenarnya dia cintai, dia kuasai, dan dapat dia optimalkan. Nah kira-kira, gimana hasilnya kalau seseorang tidak fokus?

Sangat jelas dan sudah bisa ditebak: gagal total. Karena yang namanya melakukan usaha itu nggak boleh setengah-setengah. Bahkan G. Sembada dalam “The Power of Nekat”-nya menyatakan bahwa keinginan bisa tercapai dengan usaha seratus persen, sementara kesuksesan adalah mengerahkan upaya seratus lima puluh persen. Teman-teman tentu bisa menebak sendiri, hasil akhir orang yang upayanya hanya lima puluh persen bahkan kurang dari itu, ya kan?

Lalu, bagaimana cara untuk fokus? Misalnya kita punya cita-cita jadi penulis nih, dalam mewujudkan tujuan itu, usaha-usaha yang kita lakukan juga harus dalam skenario besar “being a writer,” misalnya dengan bergabung dalam organisasi atau forum kepenulisan, mengikuti workshop kepenulisan, rajin membaca untuk meningkatkan pengetahuan, konsisten dalam membuat tulisan alias membuat jadwal menulis dan selalu berusaha menepatinya.

Lalu, apakah fokus harus melulu pada bidang-bidang yang kita cita-citakan? Salah satu trainer Indonesia yang sekaligus penulis, Jamil Azzaini, pernah diprotes salah satu follower Twitternya, katanya, “Pak Jamil ini trainer atau writer sih? Katanya mengajarkan fokus, kok Bapak sendiri malah tidak fokus?” yang dibalas Pak Jamil dengan statement-nya, “Saya menulis buku untuk meningkatkan kapasitas saya sebagai trainer. Saya baru tidak fokus kalau aktivitas menulis buku itu melemahkan saya sebagai trainer.” Kesimpulannya, fokus nggak harus melulu pada aktivitas dalam bidang yang sama. Kalau aktivitas yang kita lakukan masih mendukung bahkan menyokong tujuan utama kita, berarti kita masih disebut fokus.

Termasuk fokus juga adalah menentukan prioritas sebelum melakukan sesuatu. Urutkan pekerjaan berdasarkan skala prioritas yang dipopulerkan Stephen Covey berikut ini: penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, mendesak tetapi tidak penting dan tidak mendesak sekaligus tidak penting. Dengan membuat prioritas seperti ini, insya Allah kita akan menjadi orang yang lebih fokus dan produktif. Nggak ada deh yang namanya waktu terbuang sia-sia cuma gara-gara bingung mikirin twit atau status Fecebook apa yang akan dibuat hari ini.

Musuh dari fokus adalah segala yang multitasking. Apalagi di zaman virtual kayak sekarang. Duduk di meja kerja langsung buka Twitter atau Facebook, nanti giliran dikasih tugas sama atasan, belum kelar bikinnya, udah disambi twitteran atau blogging. Ditugasi cari bahan via internet, malah buka-buka situs gosip artis. Yang masih kuliah sama aja, kelihatannya sibuk di depan laptop atau komputer mengerjakan tugas akhir, eh dideketin ternyata chattingan via Skype. Payah.

Intinya, dengan nggak fokus alias setengah-setengah, nggak bakal dapat apa-apa deh. Termasuk nggak fokus juga kalau kita adalah orang yang pinginan. Pinginan ini bahasa Indonesianya apa ya? Gampang kepengen sesuatu. Misalnya, cita-cita kita sebenernya adalah penulis. Tapi lihat temen sukses bisnis online, kita kepengen juga, lalu banting setir ke bidang e-commerce. Atau, kita lagi nabung buat beli netbook yang emang diperlukan buat urusan kuliah, tetapi tiba-tiba kita tergiur ajakan teman untuk liburan ke luar kota, yang budget-nya dijamin menguras tabungan. Nah, kalau orang fokus nggak bakal deh tergiur dengan tawaran beginian.

Sebagai muslimah beriman, senantiasa fokuskan hidup kita untuk meraih ridha-Nya semata. Beribadah untuk Dia, berbuat baik pada sesama untuk Dia, rajin belajar dan bekerja untuk Dia, bercita-cita tinggi untuk Dia. Pokoknya hidup mati kita hanya untuk Allah deh! Intinya sih, melakukan segala sesuatu di dunia tetapi tujuan utamanya adalah akhirat. Jadikan dunia “hanya” sebagai ladang amal yang akan dituai di akhirat. Sepakat?

Berikut ini ada tips yang semoga berguna bagi kita yang ingin fokus:

  1. tetapkan SATU tujuan yang ingin kita raih, tentu saja harus yang baik, bermanfaat dan menggugah;
  2. dalam menetapkan tujuan, pilih bidang yang kita cintai dan kuasai, sehingga kemungkinan lebih sedikit kemungkinan untuk quit saat ada masalah;
  3. tanamkan antusiasme dalam melakukan aktivitas yang mendukung tercapainya tujuan kita tersebut. Ingat, antusiasme adalah perkara hidup dan mati;
  4. didik diri untuk berani menunda kesenangan sesaat untuk tujuan yang lebih everlasting;
  5. jangan mudah terpengaruh kata-kata orang lain kalau kita sudah yakin dengan tujuan kita, asal tujuan kita benar dan bukan perkara maksiat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: