halal lifestyle: berjuanglah demi diin-mu

Kayak apa sih menerapkan gaya hidup halal dalam segala aspek kehidupan kita? Saya terinspirasi menulis ini setelah baca Majalah Aulia edisi Juni 2011. Edisi tersebut memuat aneka rupa tips dan trik bergaya hidup halal yang kini semakin didambakan masyarakat (alhamdulillah). Apa pasal? Masyarakat kita semakin kritis dan sadar akan pentingnya aspek kehalalan dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan, mulai dari memilih makanan; bahan makanan; bahan kosmetik, membangun rumah, mencari sumber rezeki, dan lain-lain.

Penerapan halal lifestyle ini juga sesuai dengan salah satu muwashshaffat (sifat-sifat) seorang Muslim (baca: target tarbiyah) yang dirinci oleh Hasan Al Banna, salah satu pelopor tarbiyah, yakni mujahidun linafsihi alias menjauhi segala sesuatu yang diharamkan Allah. Tetapi dalam bagian ini, saya hanya akan membahas mengenai memilih makanan dan bahan makanan halal serta penerapan halal lifestyle di rumah.

1. Makanan Halal

Kalau zaman dulu orang-orang menilai keharaman suatu makanan dari bahan bakunya yakni daging babi atau bukan, sekarang mereka lebih peka. Iyalah, kan makanan yang diharamkan nggak cuma daging babi aja! Ada bangkai (kecuali ikan dan belalang), darah, khamr dan sejenisnya yang memabukkan, hewan buas (bertaring atau bercakar), hewan menjijikkan, hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, hewan yang mati bukan karena disembelih, serta jallalah alias hewan pemakan feses/kotoran.

Nah, tapi gimana kita bisa tahu kalau makanan itu halal baik bahan maupun prosesnya? Tenang Kawan, bersyukurlah kita hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, sehingga urusan kayak gini serahkan saja pada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Lembaga bentukan MUI ini bertugas meneliti, mengkaji, menganalisa dan memutuskan apakah produk-produk baik pangan dan turunannya, obat-obatan dan kosmetika aman dikonsumsi baik dari sisi kesehatan dan agama (Islam) yakni halal atau boleh dikonsumsi umat Muslim khususnya di wilayah Indonesia.

Caranya gampang, cek aja, apakah produk makanan – baik makanan kemasan maupun makanan di restoran favorit – yang akan kita santap itu sudah ada logo sertifikasi halal dari MUI? Kalau sudah, alhamdulillah, insya Allah makanan itu memang halal, karena proses sertifikasi juga sudah melalui kriteria kehalalan dan prosedur yang njlimet, meliputi:

  1. tidak mengandung babi dan bahan-bahan yang berasal dari babi;
  2. tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan, seperti: bahan dari organ manusia, darah dan kotoran-kotoran;
  3. semua bahan yang berasal dari hewan disembelih dengan syariat Islam;
  4. semua tempat penyimpanan, penjualan, pengolahan dan transportasinya tidak boleh digunakan untuk babi atau bahan tidak halal lainnya, jika pernah makan terlebih dahulu dibersihkan dengan tata cara menurut syariat.

Lalu muncul masalah lain, kalau makanan yang akan kita makan itu bukan makanan kemasan dan nggak dijual di restoran-restoran gimana dong? Maksudnya, kalau kita beli makan di warung pinggir jalan, atau tempat makan lain (tentunya di luar mall-mall) yang nggak ada sertifikasi MUI-nya. Gimana kita bisa ngecek halal-haramnya produk tersebut? Semoga tips di bawah ini bisa membantu.

  1. Ngecek: pengelolanya Muslim atau bukan?
  2. Baca daftar menu dan periksa seksama, apakah ada menu yang mengandung babi?
  3. Jangan sungkan tanya titik-titik kritis seperti: apakah dimasak menggunakan arak? Apakah dapur terpisah dari tempat tinggal? (untuk mewaspadai kalau pemilik adalah non-Muslim).
  4. Teliti harga: kalau terlalu murah kita pantas curiga.
  5. Jangan malu bertanya: ini halal nggak ya?

Memang terkesan agak merepotkan. Saya yakin, akan banyak yang komentar: mau makan aja kok repot? Tapi urusan halal-haram bukan main-main, Neng! Makan makanan syubhat aja nggak berkah, gimana kalau haram? Lagipula, kita semua masih mau jadi hamba Allah yang bertakwa kan? Ehm, kalau saya sih, biar nggak terlalu ruwet dan memberatkan, pilih menu ikan, telur, tahu-tempe atau sayuran yang nggak melibatkan daging-daging yang perlu disembelih. Kalau terpaksa makan daging, di tempat makan yang udah bersertifikat aja, hehehe.

Oh iya, meskipun makanan yang tersaji di hadapan kita adalah makanan yang terjamin kehalalannya (baik bahan maupun prosesnya, sudah dapat sertifikasi LPPOM MUI), cara memperoleh makanan itu bukan dari proses yang disyariatkan Islam (uang haram, mencuri, memaksa, tanpa sepengetahuan pemilik) tetap aja makanan itu dikategorikan haram lho! Yang jelas makanan bertipe kayak gini berkahnya sudah hilang. Maka, waspadalah!

2. Bahan Makanan Halal

Namanya juga era pasar bebas, udah pasti banyak banget produk impor yang mampir ke Indonesia, dan celakanya, hampir sebagian besar masyarakat – terutama kelas menengah ke atas nih, tergiur banget sama produk-produk itu. Rasanya bangga, mengkonsumsi produk luar, lebih gimanaa gitu! Rasanya lebih yummy, kemasannya lucu-lucu, bentuknya variatif, tapiiii… belum tentu halal, Kawan! Udahlah nggak ada sertifikat MUI-nya, bisa juga bahan-bahan yang dipakai, proses pembuatannya, nggak sesuai standar syariah. Makanya, biar lebih kita nggak sampai ketipu, saya sebutin aja ya, bahan-bahan yang JELAS HARAM (versi The Islamic Food and Nutrition Council of America/IFANCA).

Jadi, kalau kita nemuin bahan-bahan ini di ingredients makanan yang mau kita beli, better leave it deh. Di antaranya:

animal shortening, bacon, bacon bits, pork gelatin, ham hydrolized animal protein, hydrolized porcine collagen, lard, pork, shortening, ethyl alcohol, beer, gin, malt liquor, rhum scotch, vodka, whiskey, wine, wine coolers

Selain yang disebut di atas, ternyata masih ada lho, bahan baku yang masih dipertanyakan, diragukan kehalalannya, alias SYUBHAT. Apa aja sih?

pewarna alami dan buatan, perasa alami dan buatan, calcium stearoyl lactylate, enzim, asam lemak, gliserin, glicerol stearate, gum base, hydrolized bovine collagen, lactylaced fatty acid esters, magnesium starate, mono and diglycerides, phospholipids, polysorbates, potassium stearate, propylene glycol monostearate, stearic acid, stearoyl lactylate, tallow, whey

3. Gaya Hidup Halal di Rumah

Tentu sebagai muslimah yang pengan selalu memperbaiki diri dari waktu ke waktu, mendambakan rumah yang nggak cuma sekedar tempat tinggal. Kalau bisa insya Allah, bayti jannati. Surga ketika di dunia. Baik secara fisik maupun non fisik (baca:  rumah tangga), rumah adalah lembaga peradaban pertama kita sebelum terjun ke masyarakat luas. Rumah dan keluarga, mestinya menjadi prioritas utama yang harus kita perbaiki sebelum “memvermak” yang lain. Tetapi berhubung bukan kapabilitas saya untuk membahas hal-hal non fisik seperti membina rumah tangga, di sini hanya dipaparkan gaya hidup halal di rumah secara fisik.

Berikut ini beberapa larangan yang harus diperhatikan sebelum dan ketika membangun rumah:

  1. Menentukan hari baik dan bulan baik sebelum membangun rumah
  2. WC menghadap atau membelakangi kiblat
  3. Membangun rumah dan pagar terlalu tinggi
  4. Area jemur terlalu terbuka
  5. Memasang gambar dan patung
  6. Memelihara anjing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: