(ber)guna: menjadi sebaik-baik manusia

“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”(HR Thabrani dan Daruquthni, dishahihkan Al Albani dalam “Ash Shahihah”)

Waktu abg dulu, saya langganan sebuah majalah remaja. Nah, di salah satu rubrik psikologinya pernah ada bahasan tentang “Tips & Trik Biar Nggak Dimanfaatin Teman.” Dalam rubrik itu, ilustrasinya adalah sebuah peer group yang di dalamnya terdiri dari beberapa remaja. Nah, satu orang dalam kelompok ini kayak disia-siakan gitu. Teman-teman yang orang Jawa pasti tahu deh, istilahnya dipakakke. Jadi satu orang yang dipakakke itu bawa beberapa teh botol yang udah kosong, sementara teman-temannya seakan-akan nyuruh dia balikin ke penjualnya.

Dulu sih saya percaya banget, kalau yang terpenting dari suatu persahabatan adalah saling memberi dan saling menerima (bahasa sinetron jaman 90-an banget). Atau istilahnya take and give-lah. Dan term “memanfaatkan dan dimanfaatkan” ini kok kayaknya jahat banget ya, serta terkesan menodai prinsip take and give yang dijunjung-junjung tinggi tadi. “Menggunakan” teman untuk urusan nganter-jemput, nganterin belanja, nemenin makan, dan lain-lain keperluan kita menurut saya udah dalam kategori memanfaatkan.

Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan (ceileh), terus juga belajar sana-sini tentang Islam, ternyata (lagi-lagi) risalah mulia ini menyatakan lewat sabda rasul akhir zamannya, bahwa khayrunnas anfa’uhum linnaas, yakni sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Saya jadi mikir, aneka tips dan trik dari majalah remaja itu kok malah nggak relevan ya? Lha wong menurut Rasulullah, manusia paling baik aja yang paling bermanfaat kok, ngapain resah dan gelisah kalau kita seakan-akan “dimanfaatin”? Sepanjang kita mampu dan itu adalah bukan sesuatu yang negatif, jabanin aja!

Dan jangan pula merasa dimanfaatin, anggaplah itu sebagai permintaan tolong. Jadi, dimintain tolong ngajarin materi pelajaran yang teman nggak ngerti, dimintain bantuan nemenin teman nyari kado buat mamanya, selama kita bisa, hajar aja Kawan! Siapa tahu itu bisa jadi ladang pahala buat kita. Dengan catatan ikhlas lho ya! Kalau di benak kita sempat terlintas “Nggak papalah, paling ntar dapet traktiran” atau “Hmm, berarti besok dia juga harus bisa nemenin aku daftar les.” Itu sudah merusak murninya amal, teman-teman.

Masih ingat pesan Pak Harfan, kepala sekolah dalam tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, kepada murid-muridnya? Begini kurang lebih pesan beliau: Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Saya yakin pasti beliau terinspirasi dari sabda Rasulullah di atas. Ya, hidup memang tentang memberi, bukan menerima. Bukan pula memberi, lalu menerima. Berilah sebanyak-banyaknya. Yakinlah bahwa Allah yang akan membalas semuanya di hari akhir nanti, sepanjang kita melakukannya dengan ikhlas karena Allah, mengharap ridha-Nya, bukan ridha manusia.

Menjadi orang yang berguna dan bermanfaat juga tidak perlu dimulai dengan harapan yang besar dan (seolah) muluk-muluk. Kalau kita masih mahasiswa, nggak usahlah dulu mikir gimana mau bangun panti asuhan, wakafin tanah buat bangun masjid, punya ribuan anak asuh. Lakukan dulu yang kita mampu dan bisa. Misalnya, jadi relawan korban banjir, menggalang dana buat bantu penderita kanker dari keluarga yang nggak mampu, ngebantu dengan ikhlas teman-teman yang butuh bantuan, berkomitmen untuk selalu sedekah tiap bulan, dan sebagainya yang kecil dan mudah. Bukannya apa-apa, kalau kita langsung konsen ke hal-hal yang besar, yang ada nanti malah stress karena “Kok targetku nggak nyampai-nyampai ya?”, walhasil malah nggak jadi bantu-bantu deh! Lain kalau kita memulai dari yang kecil. Udah lebih mudah, kitanya juga lebih fokus dan nggak merasa underpressure. Dan seiring berjalannya waktu serta bertambahnya kemampuan finansial kita, semua hal besar itu jadi lebih mudah terwujud, tentunya karena kita biasa start from the small things.

Berbekal khayrunnas anfa’uhum linnaas tadi, sebisa mungkin kita nggak cuma numpang hidup di dunia ini, melainkan turut berkontribusi, melakukan hal-hal yang bermanfaat, yang tentunya nggak cuma buat diri kita sendiri. Ehm, tapi stop jadi manusia yang bermanfaat, jangan pernah membantu teman dalam melakukan kejahatan atau hal-hal negatif lainnya. Seperti yang sudah termaktub dalam firman Allah berikut ini.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al Maa-idah [5]: 2)

Jadi, kalau ada teman yang minta jawaban ujian, ya jangan dikasih. Meskipun kita nanti dibilang pelit, dijauhin, dll segala macem. Itu kan tolong-menolong dalam kejahatan. Terus lagi, kita dimintain tolong untuk merahasiakan keberadaan teman yang ternyata adalah seorang pengedar narkoba (contohnya ekstrim banget yak!), hmm jangan sampai dibantu deh! Karena dengan begitu kita akan melegalkan obat-obatan terlarang. Bukan pula menjadi orang yang berguna kalau kita menerima suap pihak yang mau memasukkan anggota keluarganya ke perusahaan di mana kita adalah manajer HRD-nya. Pokoknya, jadi muslimah yang bermanfaat itu juga harus selektif. Nah, terhadap yang negatif-negatif gini, baru boleh kita sebut dengan istilah “dimanfaatkan.”

Tips:

  • Mulai dari yang kecil dan mudah, seperti: jadi relawan, rutin bersedekah setiap bulan, jadi penggalang dana korban bencana alam.
  • Mulai dari bidang-bidang yang kita kuasai, misalnya: kita dokter nih, jangan sampai jadi dokter yang komersil dan nggak sensitif terhadap penderitaan masyarakat miskin; kalau kita penulis ya jangan sampai bikin buku yang memuat tulisan nggak bermutu dan nggak bermanfaat.
  • Cari komunitas yang satu faham, satu tujuan, satu cita-cita dan satu semangat agar lebih optimal dalam membantu orang lain. Semakin banyak kepala berarti semakin banyak ide, so beban makin ringan deh!
  • Bikin tujuan yang jelas dan spesifik: berguna dalam bidang apa, bentuknya gimana, kapan dimulai, dll.
  • Bikin prioritas dari pihak-pihak yang butuh bantuan, urutannya: penting dan mendesak, mendesak tetapi tidak, penting tetapi tidak mendesak, serta tidak penting dan tidak mendesak.
  • Itsar, alias mengutamakan orang lain di atas diri sendiri (kecuali dalam hal ibadah), contoh: sama-sama butuh pakai setrikaan nih, tapi teman mau pinjam. Nah, kalau kita masih punya pilihan melakukan hal lain sebelum nyetrika, pinjami dululah teman kita yang lagi buru-buru itu. Ehm, kalau nggak itsar dalam ibadah tentunya para ikhwan yang lebih tahu, misalnya berlomba-lomba dapat shaf terdepan pas shalat Jum’at, berlomba-lomba bersegera menikah (ehm). Tapi sikap itsar juga harus selektif, misalnya kita mau bantu teman, tetapi itu malah menjerumuskan kita, ya lebih baik tolak aja.
  • Buang jauh-jauh sifat egois yang bercokol dalam diri dengan mengingat sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
  • Jangan sungkan-sungkan menolak permintaan bantuan yang bersifat negatif.
  • Luruskan niat sebelum, saat dan setelah melakukan kerja-kerja bermanfaat bagi sekitar. Lillah, fillah, ilallah.

Keselamatan seseorang tergantung pada seberapa besar usahanya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Sebab itu kita wajib berbuat baik kepada sesama manusia dari segala sisi kita bisa memberi manfaat.” (Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: