apresiatif: harga sebuah penghargaan

Gimana reaksi kita kalau ketemu teman yang semangat cerita sampai berbusa-busa tentang hal menggembirakan yang dialaminya? Apa kita akan menanggapinya dengan semangat yang sama? Atau memilih untuk bersikap datar-datar saja? Dingin, layaknya es di kutub selatan! Atau yang paling parah nih, sengaja merusak kegembiraannya dengan ungkapan-ungkapan yang bikin kuping panas?

Tentu sebagai insan yang mengaku beriman, kita memilih opsi yang pertama dong? Ketika ada teman yang cerita kalau dia baru aja diajak ta’aruf oleh seorang ikhwan yang emang sudah lama diidamkannya, sudah sepantasnya kita menanggapi dengan apresiatif, ikut merasakan kegembiraannya, ngasih selamat sekaligus mendoakan untuk kelancaran proses selanjutnya. Bukan malah menanggapi dengan kalimat-kalimat pendek plus ekspresi lempeng yang mengisyaratkan ketidaktertarikan pada berita baik yang dibawakannya. Yang lebih menyedihkan lagi, kalau kita sampai berkomentar “Ah, belum tentu juga jadi, udah cerita-cerita aja. Yang namanya ta’aruf itu belum pasti lho, Neng!” Meskipun memang, yang kita lontarkan adalah statement yang nggak sepenuhnya salah. Tetapi bukan pada tempatnya untuk merusak kegembiraan teman di saat dia cuma ingin berbagi kebahagiaan, bukan bermaksud pamer. Apalagi kalau kita memang teman dekatnya. Wajar dong ya, kalau kita adalah orang pertama yang dapat cerita membahagiakan itu? Lha wong sama orang yang berkeluh-kesah aja kita dianjurkan untuk memberi suntikan semangat kok, apalagi sama orang yang sedikitpun nggak ada niat ngeluh? Mutlak kiranya, untuk ikut berbahagia bersamanya.


Teman-teman, sikap kita yang nggak apresiatif dengan kegembiraan yang dirasakan teman kita itu juga bisa jadi pertanda sifat iri dengki yang kita pelihara lho! Makanya, buruan periksa hati kita, siapa tahu ada penyakit hati yang potensial hilangkan kebaikan laksana api membakar kayu di sana. Ih, nggak mau kan jadi tukang iri dengki? Mulai sekarang, biasain diri yuk, untuk ikut senang saat orang lain merasa senang. Caranya gampang kok, tanggapi semua hal positif yang dikabarkannya dengan sikap mental positif juga. Tersenyum, tertawa, menatap matanya agar tertulari semangat yang sama, dan bayangkan kita yang sedang merasakan kegembiraan itu, insya Allah bisa membantu kita untuk menjadi orang yang lebih apresiatif.

Nah, gimana kalau kabar bahagia dari teman kita itu datang pada saat yang tidak tepat? Misalnya kita lagi galau-galaunya nih, punya masalah yang ruwet banget, tentu ketika dikabari berita baik itu kita nggak mood banget untuk menanggapi dengan apresiatif. Walhasil, kabar baik itu malah jadi “siksaan” buat kita. Akhirnya kita menanggapinya dengan adem-adem saja, hambar. Kita nyoba senyum, tapi yang terjadi malah senyum terpaksa yang gaswatnya kebaca oleh teman kita yang sedang berbahagia itu. Ending-nya sudah bisa ketebak, teman kita malah jadi merasa bersalah karena mengabarkan berita baik, tanpa tahu sikon sahabatnya yang sedang berduka. Nah, itu juga secara nggak langsung bikin kegembiraan yang tadi dirasakannya jadi rusak bukan?

So, nggak ada salahnya berusaha ikut berbahagia saat teman sedang berbahagia meskipun kita dalam kondisi yang tidak terlalu mendukung untuk itu. Bikin orang senang itu berpahala lho! Lagipula, dengan ikut berbahagia siapa tahu kegalauan kita juga akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Karena idealnya, sesuatu yang positif berpotensi menumbuhkan sikap positif bagi siapapun yang mendengarnya, kecuali bagi mereka yang dikuasai iri dengki di hatinya.

Bukan juga orang yang apresiatif kalau kita menunjukkan sikap nggak mau kalah saat ada teman yang menginformasikan sesuatu, meskipun tentu saja itu tidak bermaksud pamer. Seperti percakapan berikut ini.

A: Kemaren aku beli pashmina murah banget deh. Polkadot gini cuma dua puluh ribu.
B: (agak malas) Beli di mana? Kayak apa sih?
A: Di toko grosir baru deket rumah.
B: Halah. Kayak gitu di pasar deket rumah tanteku cuma tujuh setengah.
A: (speechless)

Bikin keki kan jadinya? Kenapa nggak menunjukkan apresiasi atas ceritanya aja? Kita seneng, teman juga seneng. Atau, jangan-jangan kita malah seneng dan puas banget bikin teman kecewa karena komentar spontan kita yang nggak apresiatif itu?

Tips:

  • Biasakan tertarik dengan orang lain, bukan “menuntut” orang lain tertarik dengan kita.
  • Berusaha menjadi good listener. Ingat, to listen is not just to hear.
  • Bayangkan kejadian menarik yang dialami teman kita juga kita alami.
  • Tempatkan diri kita sebagai teman kita, bukankah kita akan senang jika cerita bahagia kita diapresiasi dengan positif?
  • Kalau kondisi kita sedang bete, lupakan sejenak kebetean kita. Menyenangkan orang lain pahalanya besar lho!
  • Kalau memang kebetean kita udah akut banget dan nggak memungkinkan ditutupi lagi, bilang maaf ke teman dan katakan kalau kita sedang bete sehingga tidak terlalu semangat. Tapi ingat, jangan lantas gantian mengeluh lho ya!
  • Kalau kondisi kita sudah lebih baik, datangi teman kita dan mintalah dia menceritakan lagi kabar bahagianya.
  • Buang jauh-jauh sifat iri dengki yang menyebabkan kita nggak apresiatif dengan kabar baik teman kita.
  • Kalau memang yang kita katakan kebenaran (namun pahit di telinga teman kita), tahan diri dan jangan katakan pada waktu itu karena jelas akan sangat merusak kegembiraannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: