pendidikan seperti apa yang kita harapkan?

Pagi ini agak galau. Kemarin sore menyimak kumpulan twit Ustadz Felix Siauw yang sudah dirangkum dalam chirpstory tentang “Sistem Pendidikan di Indonesia.” Entah mengapa, justru pesimis yang melanda. Sebetulnya sudah sering baca, terutama tulisan-tulisan Ustadz Fauzil Adhim tentang pendidikan karakter, yang ternyata tidak pernah tereksekusi penuh di Indonesia.

Semakin saya renungi, ilmu tanpa amal takkan pernah berarti. 22 tahun menempuh pendidikan formal, apakah lantas saya menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, mampu memanfaatkan ilmu yang saya miliki untuk kemaslahatan umat? Jawabannya: Tidak! Saya jadi parno sendiri, untuk apa sekolah, kalau akhirnya bertujuan akhir untuk: mendapatkan nilai terbaik, menjadi juara kelas, lulus dengan nilai memuaskan, diterima di sekolah lanjutan/universitas favorit, kerja di tempat bonafid, menjabat posisi penting, menjadi kaya, itu saja! Minus pendidikan untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti.

Okelah, taruhlah bahwa sekolah memang tujuannya untuk mencari ilmu, tetapi ilmu itupun harus diterapkan dalam pengamalan, karena sekali lagi, ilmu tanpa amal, tak pernah berarti. Memangnya mau jadi apa kalau kita pintar? Baiklah, dengan kecerdasan yang kita miliki kita jadi tahu segala hal, terbuka kesempatan untuk mengenal dunia dan orang-orang di dalamnya. Sekolah tinggi-tinggi sampai memperoleh gelar yang lebih panjang dari nama, wow, tampaknya membanggakan ya? Lalu, kita mau ngapain ya? Menjabat posisi strategis, menjadi keynote speaker baik di forum nasional maupun internasional, itu sudah pasti. Lha wong kapabilitas sudah tidak diragukan kok. Namun sekali lagi, mau apa ya, kalau cuma mahir berbicara tanpa impelementasi nyata?

Dan agaknya, misi-misi itulah yang banyak disuarakan oleh sistem pendidikan di Indonesia. Mencetak manusia dengan kecerdasan intelegensia tinggi namun tanpa akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Sudah bukan rahasia lagi kalau di sini ijazah bisa dibeli. Anak-anak hanya diajarkan bagaimana mencari nilai tinggi, tanpa mengerti dan memahami. Kalaupun memahami, tak pernah ada pelajaran untuk implementasi.

Saya jadi khawatir dengan masa depan anak-anak kelak. Mau disekolahkan dimana ya, mereka? Saya tidak ingin anak-anak menjadi generasi masa kini yang cenderung hedon, materialis, konsumtif dan fikirannya tercemari oleh budaya barat atau orientalis yang jauh dari nilai-nilai Islam. Saya ingin anak-anak memiliki akhlak mulia. Hal itu hanya bisa terwujud jika anak-anak dibekali pendidikan karakter sejak dini. Dan landasan utama dari itu semua adalah saliimul ‘aqidah atau akidah yang selamat.

Rasulullah dalam membina para sahabat, pertama-tama adalah dengan penanaman akidah yang kuat, sehingga meresap dan berakar kuat di dada mereka. Ibadah mereka unggul, akhlak mereka pantas diteladani, prestasi mereka mengangkasa. Hasilnya, mereka menjadi sebaik-baik generasi di mana masa-masa kejayaan Islam terjadi pada masa mereka. Begitulah, ketika akhirat yang menjadi orientasi, dunia pun otomatis mengikuti. Sehingga tidak diragukan, dunia dalam genggaman mereka, tetapi hanya akhirat yang menguasai hati mereka.

Membandingkan pola pendidikan ala Rasulullah dengan pola pendidikan saat ini kok rasanya terlalu jauh ya? Begitu pun berharap terlalu jauh pada pola pendidikan Indonesia yang menitikberatkan pada materi semata. Semakin mustahil. Dalam kondisi seperti ini, peran pendidik paling fundamental justru lahir dari seorang ibu. Pada perempuan mulia itu, terdapat kunci-kunci peradaban. Beliaulah madrasah agung yang paling potensial mencetak generasi yang mengagungkan asma dan meninggikan agama-Nya.

Namun seketika, kegalauan saya bertambah. Akankah kewajiban dan tanggung jawab berat itu dapat saya pikul dengan baik? Tiba-tiba saya teringat kalimat almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh yang berhasil mendidik ketiga belas putra-putrinya menjadi generasi Qur’ani, “Titipkan amanah itu pada Allah, niscaya Dia akan menjaganya.” Semoga kita semua bisa meneladani beliau, figur seorang ibu yang dimuliakan Allah. Insyaa Allah, aamiin.

Diselesaikan di kamar kos pada Kamis, 1 Sya’ban — 21 Juni jam 5:27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: