di balik urgensi saling mengingatkan

Sejak awal tahun ini, saya rutin membeli Tarbawi, majalah Islam yang terbit setiap dua pekan sekali. Yang saya suka dari majalah ini adalah rubrik Dirosat (Kajian Utama)-nya yang mengetengahkan hal-hal yang selama ini kita anggap kecil, ternyata jika digali lebih dalam mengandung makna besar. Hal-hal seperti tidur, wudhu, menghibur diri, mendengarkan cerita, sepertinya sepele bukan? Ya, itu karena kita belum mengetahui sesuatu di balik hal-hal kecil tersebut. Bahkan saking tertariknya dengan pembahasan yang diangkat Tarbawi, saya sampai terfikir untuk merangkum dirosat-dirosat tersebut dalam satu kategori baru di blog ini, yang juga saya beri nama dengan Tarbawi. Do’akan saya konsisten menuliskannya ya😛

Tulisan pertama dalam kategori baru ini berisi tentang urgensi saling mengingatkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pembahasannya sendiri meliputi: hal-hal yang dapat menjadi pengingat, prinsip-prinsip, atau selera yang digunakan dalam mengingatkan sesama, adab-adab mengingatkan dan diingatkan. Baiklah, mari kita mulai pembahasan pertama.

Sumber Pengingat

Pada dasarnya dalam menjalani hidup, setiap kita memang memerlukan pengingat. Bukan hanya karena kita sebagai manusia tempatnya salah dan lupa. Namun lebih dari itu, kita juga memerlukan pengingat sebagai penimbang, pembanding dan penguat. Kita tentu pernah mendengar sabda Rasulullah saw. yang menyatakan bahwa “agama adalah nasihat.” Namun tentunya, masing-masing dari kita memiliki selera yang berbeda baik dalam mengambil nasihat yang ingin kita dengarkan maupun dalam memilih nasihat yang akan kita berikan pada orang lain.

Islam mengkategorikan empat hal sebagai sumber pengingat/nasihat manusia, yakni sebagai berikut:

  1. pengingat yang mengikat secara mutlak. Hal ini karena kebenarannya yang final. Tentu saja yang dimaksud adalah Al Qur-an dan sabda-sabda Rasulullah yang terkait dengan perintah dan larangan;
  2. pengingat yang mengikat karena status, yakni nasihat orang tua kita. Kita harus mematuhinya sepanjang hal yang dinasihatkan tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. Juga karena dalam nasihat kedua orang tua terkandung do’a untuk kebaikan kita;
  3. pengingat yang melekat dengan otoritas, yaitu nasihat dari orang-orang yang memiliki kapasitas, kemampuan dan kecakapan dalam bidang-bidang tertentu yang membuatnya layak memberi nasihat atau anjuran. Yang termasuk dalam jenis ini misalnya arahan dari atasan kita saat memberi tugas kepada kita, atau nasihat dokter saat kita memeriksakan diri ketika sakit;
  4. pengingat yang datang dari kehidupan sesama. Pengingat ini bisa berasal dari sahabat, teman, orang-orang lain di sekitar kita, peristiwa yang kita alami, bahkan yang hanya kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Prinsip Saling Mengingatkan

Di dalam saling mengingatkan, kita semua harus selalu ingat bahwa hal itu untuk kebaikan sesama, sehingga tawashshau bil haq menjadi sangat penting, seperti disabdakan Rasulullah dalam salah satu riwayat Tirmidzi, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar, atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepadaNya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.”

Meskipun demikian, saling mengingatkan tidak bisa dilakukan jika hanya berdasar selera kita saja, tanpa peduli isi hati, watak, karakter dan fikiran sesama kita. Ya, karena niat baik tak selamanya bisa diterima dengan baik, kalau kita hanya tahu selera kita sendiri tanpa mau tahu hakikat saling mengingatkan itu sendiri.

Oleh karena itu, di dalam kita saling mengingatkan setidaknya harus berdasarkan pada lima prinsip atau selera sebagai berikut:

  1. saling menolong, bukan saling menjatuhkan. Karena seperti termuat dalam firman Allah QS At Taubah: 71, “Dan orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong (auliya’) bagi sebahagian yang lain.” Dan auliya’, memiliki ciri-ciri: saling mengingatkan, pihak satu mencintai kebaikan untuk pihak lain, tidak menyakiti, tidak menyinggung, tidak menzhalini harta dan kehormatan, tidak melaknat, tidak menyesatkan, tidak bersaksi palsu, serta tidak mengkhianati dan menipu dalam bermu’amalah. Oleh karena itu, saling mengingatkan haruslah diniatkan sebagai sebuah perkara besar atas dasar saling menolong, yakni menyeru pada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
  2. saling menutupi, bukan saling menelanjangi. Hakikatnya, mengingatkan bukan untuk melukai, menyakiti, atau membongkar dan menyebarkan keburukan orang yang kita ingatkan. Bahkan motivasi terbesarnya adalah saling menutupi dan menjaga. Oleh karena itu, dalam mengingatkan saudara kita, kita harus menunjukkan aibnya secara rahasia, antara dia dan kita saja. Seorang ulama bahkan berkata, “Hendaklah nasihatmu kepada saudaramu sekedar isyarat, bukan terus terang, nyata dan melukai.”
  3. saling menjaga dan menguatkan. Nasihat harusnya membuat saudara yang kita nasihati menjadi kuat, bukan malah jatuh. Prinsipnya adalah kita saling mengingatkan demi menjadi umat yang terbaik.
  4. saling membagi tentang yang kita ketahui. Hal ini karena saling mengingatkan tidak sembarang mengingatkan. Apa yang kita sampaikan hendaknya kita ketahui secara mendalam, sehingga menuntut kita untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman tentang agama.
  5. saling memuliakan dengan kalimat-kalimat yang baik, karena hanya kalimat baik yang memberi pengaruh. Kalimat kasar, mencela dan melaknat adalah kalimat-kalimat yang tidak pantas diucapkan seorang Muslim. Apalagi jika kita ingin nasihat kita diterima dengan baik, hendaknya kita memilih kata-kata yang lemah lembut namun sampai maksudnya.

Akhirnya, di dalam saling mengingatkan kita perlu menimbang rasa, mengukur selera baik tentang orang-orang yang kita hadapi maupun tentang nasihat itu sendiri. Hal ini bertujuan agar kebaikan yang kita bagi benar-benar bisa melahirkan kebaikan-kebaikan lain.

Adab-adab Mengingatkan

Mengingatkan tak boleh hanya sekedar menginginkan, seyogyanya harus menyapa hati dan menegur jiwa. Sekali lagi, karena mengingatkan harus diniatkan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Di antara adab-adab dalam mengingatkan adalah sebagai berikut:

  1. tulus, hendaknya yang kita kejar adalah ridha Allah. Bukan untuk riya’, disanjung atau dilebihkan dari orang yang diingatkan.
  2. mendahulukan prasangka baik, yang menuntut kita untuk tidak menuduh, menghakimi, mengorek aibnya tetapi melupakan aib kita sendiri.
  3. pada waktu dan tempat yang tepat, yakni pada saat hanya berdua, tanpa diketahui orang lain, serta tidak dilakukan pada saat yang bersangkutan sedang marah. Nasihat pada saat orang tersebut marah hanya akan melahirkan sesuatu yang tidak kita harapkan.
  4. bijak dan lemah lembut, agar pengaruhnya lebih terasa sekaligus mencerminkan akhlaq seorang Muslim.

Jika Kita yang Diingatkan

Mungkin mengingatkan akan lebih mudah ketimbang jika kita berada pada posisi sebagai orang yang diingatkan. Terkadang kita merasa malu, bahkan marah jika pada saat melakukan kesalahan, saudara kita datang untuk mengingatkannya. Hati-hati, karena itu sudah manifestasi sombong dan merasa diri paling benar. Lalu, apa yang harus kita lakukan jika kita sedang dalam posisi diingatkan?

  1. menerima dengan lapang dada (ridha, lapang dada, ikhlas)
  2. melepaskan kesombongan, dengan kembali pada kebenaran.
  3. meninggalkan yang salah sebisa mungkin
  4. berterima kasih karena telah diingatkan, karena tujuannya pasti untuk kebaikan kita.

Pada akhirnya, mengingatkan dan diingatkan, keduanya harus disikapi secara proporsional agar kebaikan dan manfaat saling mengingatkan dapat lebih dirasakan.

Disarikan dari Majalah Tarbawi Edisi 276 Th. 13 Rajab 1433, 31 Mei 2012

1 Comment »

  1. […] https://storyofthedreamer.wordpress.com/2012/05/29/di-balik-urgensi-saling-mengingatkan/ […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: