adab-adab di bulan suci

Sebelumnya, mohon maaf karena penulisan posting ini sedikit terlambat. Hari ini (29 Mei) kita telah memasuki bulan Rajab, tepatnya hari kedelapan (jika posting ini selesai ba’da Magrib maka sudah hari kesembilan). Kita ketahui bahwa bulan haram dalam penanggalan Hijriyah berjumlah empat, masing-masing: Dzulqa’dah (11), Dzulhijjah (12) dan Muharram (1) yang letaknya berurutan, serta Rajab (7) yang berada di antara Jumadil Akhir (6) dan Sya’ban (8).

Syahril haram atau bulan haram bukan berarti bulan yang terlarang, layaknya makanan haram yang kita kenal. Haram di sini berarti bulan-bulan suci yang dimuliakan, dan karenanya Allah menetapkan adab-adab dalam menghadapi bulan-bulan suci ini.

Mungkin beberapa hari lalu di antara kita banyak yang mendapat sms, bbm, e-mail atau sebangsanya yang merupakan forwarded broadcast dari suatu sumber yang tidak kita ketahui secara pasti, yang salah satunya berisi: “Alhamdulillah, pada 22 Mei nanti kita akan memasuki bulan Rajab. “Barang siapa berpuasa dua hari pada awal Rajab akan mendapat pahala seakan-akan ia beribadah selama dua tahun, dan barang siapa mengingatkan perihal ini akan diganjar pahala laksana ibadah delapan puluh tahun (Al Hadits).”” Mengingat kita harus selalu melakukan klarifikasi sebelum menyebarkan sesuatu – karena memang lanjutan dari sms ini adalah untuk menyebarkannya pada Muslim lain – saya tidak menanggapi. Apalagi kemudian, di berbagai social media ramai dibicarakan tentang kepalsuan hadits ini oleh para ustadz.

Wah, ini sih namanya bid’ah ya, karena Rasulullah saw. pun sama sekali tidak mencontohkan amalan-amalan seperti itu. Lalu, bagaimana sebenarnya adab-adab di bulan suci ini? Berikut saya laporkan hasil kajian muslimah pada Sabtu, 26 Mei (5 Rajab) di Mushola Daarut Tauhid Cipaku oleh Ustadzah Erika yang membahas adab-adab di bulan suci.

Di antara adab-adab di bulan suci adalah sebagai berikut:

  1. menghentikan kezhaliman, dengan cara: menjauhi kemunkaran, menjaga darah dan kehormatan sesama Mu’min, serta menghindari pertengkaran dan perselisihan
  2. memperbanyak amal shalih, dengan cara: ‘amar ma’ruf nahi munkar, shadaqah, menjaga hablumminannaas, menahan hawa nafsu, serta mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan
  3. meningkatkan kualitas amal ibadah, dengan cara: shalat fardhu tepat waktu, memperbanyak shalat sunnah, menunaikan shaum wajib, memperbanyak shaum sunnah, tilawah Qur-an dengan tajwid, dan lain-lain.

Menghentikan Kezhaliman

Firman Allah dalam QS At Taubah: 36 menyatakan bahwa, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”

Berdasarkan firman tersebut, kita dilarang untuk menzhalimi diri sendiri (melakukan segala perbuatan yang merugikan diri sendiri), termasuk juga menzhalimi orang lain. Karena pada hakikatnya, menzhalimi orang lain sama dengan menzhalimi diri sendiri. Selain itu, apabila kita dizhalimi orang lain, kita boleh saja membalasnya, tetapi dengan satu syarat: pembalasan yang kita lakukan harus persis sama dengan kezhaliman yang dilakukannya. Sebab apabila pembalasan kita lebih menyakitkan, justru kita yang terhukumi dosa yang lebih besar. Oleh karena itu, yang jauh lebih baik kita lakukan adalah memaafkan, melupakan, bahkan memohonkan ampunan untuknya. Berat memang ya, tetapi segala yang jauh dari hawa nafsu insya Allah membawa kita pada ridha-Nya.

Memperbanyak Amal Shalih

Amal shalih di sini terkait amalan-amalan yang berhubungan dengan sesama. Yang pertama, ‘amar ma’ruf nahi munkar. ‘Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban kita terhadap Mu’min lain, seperti yang disabdakan Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Tirmidzi, bahwa jika sudah tidak ada lagi orang-orang yang saling ber-‘amar ma’ruf nahi munkar, Allah akan menurunkan siksa-Nya kepada kita, dan apabila kita memohon kepada Allah, do’a kita tidak akan dikabulkan.

Kemudian yang kedua, shadaqah. Shadaqah terbaik adalah pada empat kondisi, yakni: sehat, enggan shadaqah, takut miskin dan ingin kaya. Namun sekali lagi, yang terpenting dari shadaqah adalah keikhlasan. Karena shadaqah sebanyak apapun, apabila diniatkan untuk tujuan-tujuan duniawi tidak akan ada artinya. Oleh karena itu, kita hendaknya berlomba-lomba dalam bershadaqah, iringi dengan keikhlasan dan jaga keikhlasan tersebut sampai mati. Jangan sampai kita batalkan pahala shadaqah kita dengan terus mengungkitnya.

Ketiga, menjaga hablumminannaas (hubungan baik dengan sesama manusia). Hal ini merupakan refleksi keimanan kita kepada Allah. Memang hendaknya posisi hablumminallah di atas hablumminannaas, tetapi tidak seharusnya ibadah-ibadah individual kita menghalangi perbuatan-perbuatan baik kepada sesama. Dan syarat utama perbuatan-perbuatan baik kita diterima Allah adalah iman. Tidak berarti amal tanpa iman, seperti juga tidak sempurna iman tanpa amal. Allah memang tidak akan menzhalimi orang-orang baik yang melakukan amal-amal tanpa iman. Mereka memperoleh balasan perbuatannya di dunia, yang antara lain berupa ketenaran, kelimpahan harta, kesehatan, dan sebagainya. Sementara itu, jika kita memiliki iman sekaligus melakukan amal shalih, harapan kita tak sebatas di dunia. Kita juga punya harapan akan balasan di akhirat yang tentunya jauh lebih baik dari apa yang kita dapatkan di dunia. Sepanjang ikhlas melingkupi amal-amal kita lho. Insya Allah.

Meningkatkan Kualitas Amal Ibadah

Amal ibadah ini terkait hubungan kita dengan Allah. Seperti, shalat fardhu tepat waktu. Mungkin selama ini kita memang melakukan shalat. Namun jangan sampai kita termasuk golongan yang dicela Allah seperti tersebut dalam QS Al Maa-uun: 4-5, yakni orang yang celaka karena lalai dari shalatnya. Lalai di sini bukan berarti shalat yang kurang khusyu’, sebab jika begitu firman Allah menjadi berbunyi, “celakalah orang yang lalai dalam shalatnya.” Lalai bermakna malas-malasan, menyia-menyiakan, menunda-nunda, hingga mengakhirkan waktu shalat. Ketika panggilan adzan menggema, kita tak terlalu bersemangat memenuhinya, malah masih asyik dengan kegiatan lain. Shalat tidak dicela karena ketidakkhusyu’annya, sebab Allah Maha Tahu keadaan hamba-Nya yang tak mudah mencapai kekhusyu’an, kecuali hamba-hamba-Nya yang terpilih. Lagipula, jika tujuan shalat kita hanya mencari kekhusyu’an, maka Allah tidak akan kita temukan. Sementara jika tujuan kita dalam shalat adalah mencari Allah, khusyu’ akan tercapai dengan sendirinya. Begitulah yang pernah saya baca dalam blog Salim A. Fillah, meskipun saya hingga kini belum bisa menerapkannya dengan baik. Untuk itulah, hendaknya kita berusaha untuk menyempurnakan shalat yang merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di yaumul akhir nanti, dengan menjaga waktu utamanya, sekaligus berjama’ah.

Selain itu, agar shalat fardhu kita yang belum sempurna dapat lebih maksimal, perlu kiranya menambahi dengan shalat sunnah, seperti shalat rawatib yang mengiringi shalat fardhu (qabliyah-ba’diyah), shalat tahajud, shalat dhuha, dan shalat sunnah lain yang pelaksanaannya  tidak menyalahi waktu-waktu yang diharamkan untuk shalat. Apakah pantas kita hanya berharap dari shalat-shalat fardhu kita yang masih jauh dari sempurna, bahkan lebih sering lalainya?

Shaum wajib di bulan haram, misalnya shaum qadha’ (mengganti puasa yang tidak kita jalankan pada bulan Ramadhan karena suatu alasan), shaum nazar (karena janji yang kita ucapkan dalam menghajatkan sesuatu), atau shaum kafarat (puasa sebagai denda akibat melakukan suatu perbuatan yang dilarang). Sementara shaum sunnah, meliputi shaum Daud (puasanya Nabi Daud, sehari puasa-sehari berbuka), Senin Kamis, atau ayaumul bidh (puasa pada pertengahan bulan Hijriyah, biasanya tanggal 13, 14, 15). Jadi sebenarnya, tidak ada kekhususan untuk puasa satu atau dua hari pada awal bulan suci seperti yang banyak disebarkan melalui sms, bbm, e-mail belakangan ini.

Terkait tilawah Qur-an dengan tajwid, ada baiknya kita untuk mempelajari tahsin, yakni latihan untuk memperbagus bacaan Qur-an kita. Bacaan Qur-an bisa menggetarkan hati, mempertebal keimanan, manakala kita membacanya dengan benar sesuai tajwidnya. Jujur saja saya belum boleh bicara banyak karena saya sendiri belum mengikuti program tahsin itu sendiri, sehingga bisa jadi bacaan saya pun belum baik dan jauh dari sempurna😛. Namun seyogyanya kita punya niat untuk mempelajarinya, bahkan menghafalnya (tahfizh). Baiklah, jika kita belum diberi kesempatan untuk belajar tahsin atau tahfizh, paling tidak kita mulai konsisten untuk tilawah Qur-an setiap hari. Jangan biarkan satu hari terlewat tanpa membaca dan mendalami firman-Nya yang suci. Jangan biarkan mushaf kita hanya menjadi asesoris lemari, atau bahkan berdebu saking jarangnya kita membukanya. Bahkan, kita harus berkaca pada para shalafushshalih dan orang-orang yang istiqamah dalam tilawahnya, yang membagi bacaan Qur-an dalam tujuh hizb, sehingga Qur-an bisa mereka khatamkan dalam sepekan! Sedangkan kita, baru khatam sekali pada Ramadhan saja bangganya setengah mati! Pada zaman salafushshalih, jika ada orang yang menamatkan bacaan Qur-an sebulan sekali sudah disebut al hajir (lalai). Kalau begitu, kita ini apa ya?

Namun demikian, adab-adab di bulan suci ini juga harus kita terapkan di luar bulan-bulan suci. Hal ini juga bukan berarti, di luar bulan suci kita bebas melakukan kezhaliman, malas beramal shalih, dan tidak bersemangat meningkatkan kualitas amal ibadah. Hanya, apabila kezhaliman dilakukan pada bulan suci, dosanya akan dilipatgandakan sebagaimana amal ibadah jika ditingkatkan pahalanya juga akan dibalas berkali-kali lipat.

Begitulah kiranya yang dapat saya sampaikan dalam posting yang disarikan dari berbagai sumber ini. Semoga kita dapat mengambil manfaatnya. Wallahu a’lam bish shawwab.

1 Comment »

  1. Reblogged this on Ipung.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: