few words about writing: a reflection

Sudah lama saya menulis di blog ini, mungkin dua tahunan ada kali. Selama kurun waktu itu saya juga kerap menulis posting yang mungkin kurang ada manfaatnya bagi pembaca. Untuk itulah saya menulis posting yang sebenarnya merupakan refleksi ini.

Menulis dan Permasalahannya

Kurang ide, alhamdulillah tak membuat kurang akal dalam menulis😀. Sebab saya pernah membaca satu artikel, yang sayangnya saya lupa di mana, kalau suatu saat lagi nggak ada ide mau menulis apa, maka tulislah apa-apa saja yang pernah kita serap/dapatkan. Entah itu dari buku atau majalah yang kita baca, acara yang kita ikuti, peristiwa yang kita alami, pokoknya apa saja deh. Walaupun sumbernya bebas, isi tulisan haruslah sesuatu yang sekiranya bermanfaat bagi para pembaca tulisan kita. Kalau nggak bermanfaat, mending disimpan sendiri di notes pribadi atau file-file private kita deh. Apalagi kalau tujuannya cuma memuaskan nafsu galau kita, hehehe.

Memang menulis itu gampang-gampang susah ya. Nggak ada ide, waktu dan kesempatan, selalu menjadi alasan klise kenapa tulisan-tulisan kita nggak kunjung rampung. Hanya berhenti sebagai draft atau outline. Padahal, pada saat awal-awal memulai penulisan, kita begitu bersemangat menyelesaikannya. Tapi di tengah-tengahnya, kita tiba-tiba stuck dan mandek. Begitulah yang juga terjadi pada beberapa judul tulisan saya. Maka solusinya, menulislah sedikit demi sedikit namun kontinyu. Nggak usahlah bikin target: harus bisa selesai 100 lembar, waaah 40 lembar lagi jadi deh satu buku, dan aneka target muluk lain yang bikin tambah mumet. Kalau stuck, nikmati sajalah. Nggak usah memaksakan diri untuk menyelesaikan. Lebih baik cari kegiatan lain yang bisa memicu lagi datangnya inspirasi.

Selain itu, nggak ada salahnya juga untuk mencari rival dalam menulis. Walaupun mungkin, yang bersangkutan nggak tahu kalau dia kita jadikan rival😛. Rival ini boleh teman atau saudara kita sendiri, teman satu forum kepenulisan, orang-orang yang kita subscribe atau follow blognya, bahkan seorang penulis terkenal! Namun jangan terlalu sakit hati kalau sang penulis terkenal sudah berhasil menerbitkan buku terbarunya sementara kita masih berkutat di outline😀. Yang penting, usaha apapun asal kita bisa terus produktif dalam menulis.

Menulis dan Tujuannya

Kita pasti punya tujuan yang berbeda-beda dalam menulis. Ada yang ingin mem-plong-kan perasaan, mengisi waktu luang, melaporkan suatu peristiwa, mendapatkan uang atau barang yang kita incar (karena ikutan lomba menulis berhadiah), bahkan yang ingin mendapat pujian-penghargaan-prestise pun ada. Tetapi di luar tujuan-tujuan itu, hendaknya niat kita menulis adalah menyampaikan kebenaran, sehingga pembaca dapat merasakan manfaat dari apa yang kita tulis. Menulis bukan semata menyampaikan gagasan yang berputar-putar di benak, yang jika tak bermanfaat, hanya akan menjadi sampah, bahkan racun yang tidak berguna, bahkan berbahaya bagi orang-orang yang membaca tulisan kita. Inilah orang-orang yang beranggapan bahwa menyelesaikan menulis leganya sama dengan merampungkan hajat buang air besar. Hmm, pastilah yang dihasilkan nggak jauh-jauh dari sampah alias nggak bermanfaat sama sekali bagi pembaca.

Lalu, kalau tujuan kita menulis sudah benar, untuk menyampaikan kebenaran, dan kita berkomitmen untuk teguh menjaga tujuan mulia itu, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah walk the talk, atau menerapkan dalam keseharian semua yang telah kita tulis. Misalnya kita menulis tentang pentingnya ketepatan waktu dalam segala aktivitas kita, berarti kita juga harus jadi orang yang selalu on time. Berat memang ya, karena ini terkait dengan menjaga amanah, komitmen untuk menepati apa yang telah kita katakan (baca: tulis). Nggak heran kalau hal terberat di dunia ini disebut amanah. Lagian, siapa sih yang mau dianggap NATO alias No Action Talk Only? Saya yakin nggak satupun dari kita. Lebih dari itu, Allah juga mencela orang yang nggak sama antara hati, perkataan dan perbuatannya, yang Dia sebut sebagai orang munafiq. Jadi, kalau kita nggak menerapkan apa yang sudah kita tulis, siap-siap deh dapat sebutan munafiq. Ngeri juga ya?

Namun jangan sampai ketakutan akan inkonsistensi tulisan dengan implementasi keseharian menghalangi niat kita untuk menulis. Karena menyampaikan yang benar, adalah salah satu cara untuk menjalankan perintah-Nya, yakni: saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, seperti tersebut dalam QS Al ‘Asr. Sambil kita terus istiqamah dalam menerapkan yang kita tulis, sebenarnya kita juga sedang berlatih untuk menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya. Apalagi yang lebih kita baik dari upaya perbaikan diri yang berkesinambungan, baik oleh kita maupun orang-orang di sekitar kita? Insya Allah, kalau niat kita lurus, akan Allah mudahkan.

Kiranya cukup sekian posting terkait refleksi menulis ini. Semoga ada manfaatnya meskipun sedikit. (sebenarnya ini pembelaan karena saya sudah stuck :D)

2 Comments »

  1. Ririn Rosadi said

    Aih Kiki. Aku jadi malu baca tulisanmu. Aku kan nulisnya agak-agak “nyampah”.😛

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: