dicintai-Mu, mungkinkah aku?

Menengok kembali blog ini, sudah hampir dua bulan tak lagi saya hiasi dengan postingan. Jangankan postingan bermutu seperti yang memang saya cita-citakan, yang nggak bermutu pun nihil, hehehe. Alasannya: nggak ada ide, nggak ada waktu, nggak ada kesempatan, banyak keruwetan, waah, pokoknya beragam alasan yang sebenarnya saya buat-buat sendiri. Padahal, kalau tujuan menulis adalah menyampaikan kebenaran, nggak akan ada tuh yang namanya stuck alias nggak ada ide. Karena kebenaran yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan itu buanyaaak sekali. Dia ada di sekitar kita, tinggal kita mampu atau tidak untuk menggalinya. Dia ada di setiap peristiwa yang kita lalui. Dia ada di setiap seminar/workshop yang kita ikuti. Dia ada di setiap ucapan narasumber kajian yang kita datangi. Dia ada di setiap lembar majalah yang barusan kita beli. Dan tentu saja, sumber kebenaran mutlak adalah Qur-an dan sunnah, yang bersumber langsung dari Allah dan rasul-Nya.

Jadi, berangkat dari keinginan untuk menyampaikan kebenaran — atau bisa juga dibilang – berbagi atas sesuatu yang saya ketahui, meskipun sedikit, saya akan menulis ulang apa yang pernah disampaikan oleh Ustadzah Teti, dalam Kajian Muslimah di Mushola Daarut Tauhid Cipaku. Kajian pada 12 Mei yang bertepatan dengan 20 Jumadil Akhir itu membahas tentang ciri-ciri orang yang dicintai Allah.

Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu, dengan sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hambaKu akan senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah hingga akhirnya Aku pun mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan Aku adalah penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan Aku adalah tangannya yang dengannya ia meraih sesuatu, dan kakinya yang dengannya ia melangkah. Dan apabila ia meminta kepadaKu, maka sungguh Aku akan mengabulkannya, dan apabila ia meminta perlindungan kepadaKu, maka sungguh aku akan memberinya perlindungan.”

Masya Allah, begitu menyejukkan ya, sabda Baginda Rasul di atas? Tidak inginkah kita menjadi insan-insan yang dicintai oleh Zat Yang Maha Menciptakan Cinta? Yang apabila Allah telah mencintai kita, maka seluruh penduduk bumi pun akan mencintai kita, sehingga tidak akan ada lagi yang dinamakan ketakutan atau kekhawatiran dalam menjalani hidup ini. Bagaimana tidak? Dengan cinta Allah yang sudah melengkapi hidup kita, cinta siapa lagi yang akan lebih kita dambakan?

Menjadi orang yang dicintai Allah, seperti sabda Rasulullah tersebut, mensyaratkan kita mengenal Allah, mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai ibadah wajib, seperti yang telah kita ketahui dalam rukum Islam. Juga menjalankan segala perintah-Nya yang telah termaktub lugas dalam firman-Nya yang suci.  Setelah seluruh kewajiban kita tunaikan dengan baik, tentu ditambah dengan menjauhi larangan-larangan-Nya, ada usaha kita untuk berbuat lebih, yakni dengan menjalankan amal-amal yang sifatnya sunnah, seperti shalat dan shaum sunnah, sampai Dia mencintai kita.

Namun, orang yang dicintai Allah, memiliki tanda-tanda tersendiri yang sebenarnya bisa terbaca oleh setiap kita. Di antara ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang dicintai Allah adalah sebagai berikut:

  1. penduduk bumi yakin bahwa, selalu ada kebaikan pada pribadinya, sehingga seluruh manusia (baik yang beriman maupun yang belum beriman) akan mencintainya. Namun hal ini tidak berlaku bagi orang yang di dalam hatinya sudah membenci kebenaran;
  2. akan diyakini sebagai orang yang memiliki kebaikan, sehingga tidak ada orang yang berniat jahat untuk mencelakakannya;
  3. di wajahnya terlihat pancaran hidayah sehingga terlihat bersih dan tawadhu’;
  4. keberadaannya selalu diterima segala lapisan masyarakat. Hal ini karena Allah memandang kepada orang ini dengan cinta;
  5. diberi ujian oleh Allah (sehingga apabila ia sabar, akan dinaikkan derajatnya);
  6. akan dimasukkan ke dalam hatinya kelemahlembutan, sehingga lisan dan perilakunya senantiasa penuh kelembutan dan kasih sayang. Hal ini karena Allah memiliki sifat Maha Lembut, sehingga Dia wariskan salah satu sifat-Nya kepada hamba yang Dia cintai.

Terkait hal ini, saya akan menjelaskan lebih lanjut tentang poin keenam dan ketujuh, yakni orang yang dicintai Allah akan diberi ujian, dan apabila dia berhasil melewati ujian tersebut, Allah akan mengaruniakan kepadanya kelemahlembutan.

Tersebutlah seorang wanita shalihah pada zaman tiran Gamal Abdul Nasser di Mesir. Zainab Al Ghazali namanya. Beliau adalah seorang pejuang Islam yang karena kegigihan perjuangannya menentang pemerintahan anarki Nasser, sehingga selama beberapa waktu beliau dipenjarakan. Lebih dari itu, beliau juga disiksa secara sadis oleh rezim penguasa saat itu. Siksaan pertama adalah pemberian makanan berbuka puasa berupa setangkap roti dengan ‘selai’ kotoran manusia. Pada saat itu beliau memang sedang berpuasa. Antara lapar dan kekhawatiran melanggar larangan Allah terkait memakan sesuatu yang menjijikkan, akhirnya beliau memutuskan untuk tidak memakannya dan hanya berbuka dengan minum air kran.

Tak puas dengan siksaan pertama, para penguasa pun menambah lagi siksaan mereka kepada Zainab dengan mendatangkan seekor anjing pelacak yang sudah tidak diberi makan selama seminggu ke dalam selnya. Kita semua tentu bisa membayangkan betapa ganasnya anjing ini. Dia tentu akan memangsa apapun yang ada di hadapannya. Dan yang ada di hadapannya saat itu adalah beliau rahimahullah. Sebagai manusia biasa, tentu beliau merasa takut. Namun ketakutannya sedikitpun tak memupus harapnya kepada Allah sebagai sebaik-baik pelindung dan penolong. Ketika anjing itu tepat berada di hadapannya, beliau lantunkan berulang dalam hati QS Ali ‘Imran: 26 yang artinya, “Katakanlah: Wahai Allah Yang Mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pada saat melantunkan ayat-ayat suci tersebut, beliau merasa si anjing sudah mencabik-cabik tubuhnya, tapi ajaibnya, beliau tidak merasakan sakit sedikitpun. Tentu saja ini adalah berkat kuasa Allah yang secerdas apapun logika kita takkan mampu mencapainya. Alih-alih membunuh beliau, anjing itu malah terkulai lemas di hadapan beliau karena kelelahan menggigiti kulit beliau yang, atas izin Allah, menjadi sangat keras.

Karuan saja ketidakmampuan si anjing membunuh Zainab membuat pemerintah semakin geram dan menimpakan siksaan ketiga. Mohon maaf sebelumnya kalau bahasa saya agak vulgar terkait pembahasan ini. Pemerintah yang marah kemudian mendatangkan seorang algojo berpostur tinggi besar untuk memperkosa beliau. Perlu diketahui bahwa sejak beliau dipenjarakan, beliau sudah tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan suami beliau. Dan kabarnya, jika seorang wanita yang sudah lama tidak digauli dipertemukan dengan laki-laki, maka hasrat seksualnya akan bergejolak. Hal itu juga yang disadari oleh pemerintah sehingga berinisiatif mendatangkan seorang tukang pukul ke dalam sel beliau. Beliau kembali memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah dari godaan-godaan syaithan terkutuk itu. Dan sekali lagi, atas kuasa-Nya yang begitu besar, beliau malah berhasil membuat sang algojo tunduk dan mengakui kebesaran Islam. Masya Allah, luar biasa sekali kuasa Allah terhadap orang-orang yang dicintaiNya.

Dari kisah Zainab Al Ghazali di atas, kita dapat belajar, bahwa cobaan seberat apapun, apabila dihadapi dengan kesabaran, bahkan kesyukuran, akan mendatangkan keajaiban-keajaiban yang tak terduga. Karena sungguh, setiap cobaan itu bertujuan menguji seberapa yakin kita terhadap kuasa Allah, seberapa dalam cinta kita kepada Allah, seberapa kuat iman kita menghadapi ujian Allah tersebut. Bila kita sabar, derajat kita akan dinaikkan. Lain halnya jika kita menggugat, menganggap bahwa Allah tidak adil, akan dicatatkan atas diri kita sebagai orang yang putus asa. Dan putus asa dari rahmat Allah adalah ciri-ciri orang kafir.

Bukankah sebenarnya, hanya ridha Allah yang kita cari di dunia ini? Mungkin benar bahwa kita ditimpa kesulitan ekonomi dan jodoh, kehilangan orang-orang tercinta, penyakit, tapi sepanjang ridha Allah membersamai kita, kenapa harus takut? Kenapa harus menggugat keputusan-Nya yang belum kita ketahui secara pasti buruknya bagi kita? Siapa tahu dengan begitu, kita malah lebih dekat dengan Allah, lebih dicintaiNya, dan akan dicatat sebagai orang yang sabar. Dan belum tentu jika kita diberi kelimpahan harta, kemudahan hidup, kesehatan, kita akan menjadi orang yang bertaqwa. Sekali lagi, Allah yang paling tahu keadaan yang terbaik bagi hamba-hambaNya.

Apabila kita berhasil menyelesaikan ujian dari Allah dengan baik, dengan sabar, tanpa mengeluh, tanpa menggugat, tanpa prasangka buruk bahwa Allah tidak adil, niscaya Dia akan mewariskan salah satu sifatnya, Al Lathiif, yang berarti Yang Maha Lembut, kepada kita. Dengan begitu, dari hati, lisan dan perbuatan kita akan terpancar kelemahlembutan yang proporsional. Lemah lembut yang asli, bukan buatan, bukan untuk bergenit-genit ria, bukan bertujuan untuk mencari simpati masyarakat. Tutur kata yang halus, sikap dan perilaku yang ramah dan simpatik, sehingga orang lain pun dengan tulus mencintai kita.

Memang, terhadap hal yang baru saja saya sebutkan di atas, saya pribadi juga harus belajar banyak. Orang yang mencintai dan dicintai Allah itu bukan hanya ibadah individualnya saja yang luar biasa, melainkan akhlaqnya juga mengagumkan. Lemah lembutnya bukan buatan, melainkan karunia dari Al Lathiif sendiri. Lihat saja di sekitar kita, adakah orang yang tutur katanya halus, perilakunya ramah, santun dan simpatik, ibadah yang tidak pernah ditampak-tampakkannya termanifestasi dalam akhlaqnya terhadap sesama, sehingga membuat orang di sekitarnya begitu mencintainya? Adakah orang yang seperti itu? Jika ada, kemungkinan besar orang tersebut adalah orang yang mencintai Allah, sehingga akhirnya Allah pun membalas cintanya.

Beruntunglah jika kita telah berhasil meraih cinta Allah. Tentu saja untuk meraih cinta Allah yang manfaatnya begitu luar biasa baik di dunia maupun di akhirat, kita pun harus berusaha keras mengambil hati-Nya. Dengan cara yang sudah saya sebutkan tadi. Mendekatkan diri dengan menggenapkan ibadah wajib, plus menyempurnakannya dengan ibadah sunnah, sampai Allah mencintai kita. Namun ibadah-ibadah itu juga harus dilandasi keikhlasan, murni untuk mencari ridha-Nya, bukan yang selainNya. Bukan untuk mendapatkan pujian manusia, dikenal sebagai ahli ibadah, dikenal sebagai orang yang baik dan ramah. Sebab dengan begitu, alih-alih mendapatkan cinta-Nya, yang ada kita malah dicatatkan sebagai golongan dalam QS Al Kahfi: 103-104 ini, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Na’udzu billaahi min dzalik.

4 Comments »

  1. Bagus…:D

    Tapi agak sedikit tersenyum saat ekonomi disandingkan dengan jodoh…^-^

    • hehehe, emang nggak nyambung ya? maaf2🙂

      • bukan gak nyambung, kata dan kan biasanya selevel, ekonomi dan politik, atau mungkin rizki dan jodoh..:)

  2. hehehe, iya sih, tampaknya penggunaan kata ‘dan’ kurang tepat ya, mestinya ‘atau’, trimakasih koreksinya🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: