nasihat kebaikan dari dua penulis favorit

Kalau ditanya tentang penulis favorit, dengan mantap saya akan menyebut dua nama, yakni Mbak Asma Nadia dan Mas Salim A. Fillah. Kedua penulis yang sama-sama menjadi seleb Twitter – lantaran frekuensi ngetwitnya yang cukup sering dan jumlah followers-nya yang buanyak, mencapai 50 ribuan – ini, dalam menulis, memang bergerak dalam jalur yang berbeda. Mbak Asma yang sejak tahun 1990-an sudah dikenal sebagai penulis Novel Remaja Islami (NoRI) berada di jalur fiksi (meskipun sekarang mulai merambah ke dunia nonfiksi), sementara Mas Salim, penulis muda yang buku pertamanya langsung meledak di pasaran (Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan – penj.) ini sampai saat ini konsisten di genre nonfiksi.

Namun, saya menemukan persamaan di antara keduanya, yang dengannya membuat saya semakin menobatkan mereka berdua sebagai penulis favorit. Persamaan apakah itu? Keduanya selalu menasihatkan pentingnya penerapan akhlaq yang mulia dalam segala aspek kehidupan. Nasihat baik itu, hampir selalu ada di sebagian besar karya nonfiksi mereka, juga pada kicauan mereka di Twitter. Jujur, seruan mereka untuk selalu mengamalkan akhlaqul karimah benar-benar membuat saya tersindir sekaligus malu, jleb! bahasa gaulnya. Padahal dalam penyampaiannya, tutur kata yang mereka gunakan selalu penuh kesantunan. Jauh dari menggurui, namun membekas di hati.

Ya, karena pada hakikatnya, agama adalah akhlaq yang mulia. Baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Akhlaq mulia kepada Allah hendaknya ditunjukkan dengan kekokohan iman serta ibadah yang benar dan sesuai tuntunan. Sedangkan akhlaq mulia kepada sesama manusia, serendah-rendahnya adalah membuat sesama merasa aman dari lisan dan tangan kita, serata-ratanya adalah ramah, serta setinggi-tingginya adalah menjadi insan yang bermanfaat.

Alhamdulillah, dengan mengoleksi buku-buku Mbak Asma dan Mas Salim, khususnya yang bertema akhlaq, seperti Jangan Jadi Muslimah Nyebelin dan Twitografi Asma Nadia (Mbak Asma) serta Dalam Dekapan Ukhuwah (Mas Salim), saya jadi sadar, bahwa akhlaq yang mulia merupakan kekayaan tak terkira seorang Muslim. Dan belum tentu, seseorang yang imannya kokoh memiliki akhlaq yang mulia pula. Walaupun seharusnya, iman dan akhlaq mulia yang termanifestasi dalam amal-amal shalih ini harus seimbang dan berjalan seiring. Keseimbangan yang sebenarnya telah dicontohkan sempurna oleh figur panutan kita semua, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kita semua tentu tahu, bahwa akhlaq beliau adalah Al Qur-an. Beliau pun dipuji secara langsung oleh Allah, sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlaq yang agung.

Menjadi orang yang berakhlaq mulia, pada Allah dan pada sesama, memang harus diusahakan dengan sekuat tenaga. Bersemangat dalam amal-amal shalih yang mengantar ke surga-Nya, dengan melakukan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah, juga tidak lantas lupa untuk menjadi manusia yang senantiasa berbuat baik pada manusia lain. Menghindarkan diri dari segala yang dibenci Allah, sekaligus membuat luka pada hati manusia. Sikap sombong, bangga diri, iri dengki, suka mencela dan menghakimi, merasa diri paling benar, serta merasa aman dari azab Allah dikarenakan ibadah-ibadah kita, adalah sikap-sikap yang sepatutnya dijauhi. Karena, seperti kata Ibnu Atthailah, jika kita merasa diri paling baik karena kelebihan-kelebihan yang telah Allah karuniakan, tidak suka jika orang lain mendapat kenikmatan, serta memendam perasaan tidak enak (ghill) dengan orang-orang yang ‘lebih’ dari kita, itu berarti pertanda keimanan kita masih perlu dipertanyakan.

Oleh karena itu, mulai sekarang, tekadkan dengan sungguh-sungguh dan konsistenkan dalam penerapan, menjadi seorang Muslim yang berakhlaq mulia kepada Allah dan sesama, dengan senantiasa menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya, sekaligus menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi manusia di sekitar kita. Semoga Allah selalu menuntun dan memudahkan kita dalam mewujudkan cita-cita mulia ini. Aamiin.

Tulisan ini saya persembahkan untuk dua penulis favorit, Mbak Asma Nadia dan Mas Salim A. Fillah, yang senantiasa menghadirkan kesantunan dalam mengungkapkan gagasan brilian mereka, sekaligus mengajarkan saya untuk menerapkan akhlaq mulia dalam segala aspek kehidupan. Semoga kebaikan yang kalian nasihatkan menjadi amal jariyah yang pahalanya takkan terputus. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: