sebuah cinta tanpa syarat (2)

teringat masa kecilku
kau peluk dan kau manja
indahnya saat itu buatku melambung di sisimu
terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
patuhi perintahmu
jauhkan godaan yang mungkin kulakukan
dalam waktu ku beranjak dewasa
jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya
ku trus berjanji takkan khianati pintanya
ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu
kan kubuktikan kumampu penuhi maumu

andaikan detik itu kan bergulir kembali
kurindukan suasana, basuh jiwaku
membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Masih menghadirkan tema orang tua, kali ini saya tuliskan lagi lirik sebuah lagu tak terlalu lawas dari Ada Band yang berjudul “Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah).” Sumpah saya mau nangis banget kalau dengar lagu ini, terutama sekarang, saat saya nggak bisa bertemu Bapak setiap hari dikarenakan terpisah jarak ratusan kilometer jauhnya.

Mungkin Bapak adalah laki-laki yang paling menyayangi saya di dunia ini. Walaupun saya tahu sih, perempuan paling disayang Bapak adalah Ibu dan mbah putri saya yang sudah sedo, hehehe. Bapak memang laki-laki biasa yang nggak terlalu sempurna seperti malaikat. Tapi saya berani bersumpah, nggak ada ayah yang seperti Bapak di dunia ini. Seorang yang berdedikasi tinggi terhadap apapun, terutama ibadah, pekerjaan, keluarga dan membantu orang lain.

Dalam hal ibadah misalnya, beliau selalu membiasakan shalat sunnah mulai dari tahajud, dhuha, rawatib, sampai pernah pula shalat mutlak setelah wudhu. Tahajudnya, jangan ditanya, tidur larut pun beliau bisa bangun dini hari untuk menggenapkan sebelas raka’atnya. Ditambah lagi, beliau selalu mengusahakan untuk shalat berjama’ah di masjid, sebuah kewajiban bagi laki-laki yang belakangan ini terasa “disunnahkan” bahkan “dimubahkan” oleh sebagian besar mereka. Berlatar kebiasaan Bapak itulah, dalam memilih pendamping hidup, pernah pula saya cantumkan kriteria “rajin shalat berjama’ah di masjid.”😛

Terhadap keluarga, wah apapun rela Bapak lakukan. Mengantar-jemput kami (saya dan Ica), membelikan titipan kami (kadang kami malas keluar rumah karena ribet harus ganti baju :P), selalu menyediakan stok pulsa bagi kami, selalu mengisikan bensin dan menyiapkan motor kami sebelum dipakai, selalu sigap membelikan semua keperluan di rumah mulai dari sabun, sampo, aqua galon dan lain-lain yang nggak bisa saya uraikan satu per satu saking banyaknya. Coba, ada nggak bapak-bapak kayak bapak saya ini?

Masalah pekerjaan, sama aja dedikasi tingginya! Berangkat pagi-pagi sebelum absen fingerprint menunjukkan batas minimal, dan pulang setelah absen tersebut menunjukkan batas maksimal. Yang pasti beda sekali dengan putrinya yang terkenal tukang telat ini. Sampai-sampai Ibu sering sebal sendiri, gara-gara Bapak lebih memilih lembur daripada pulang agak awal untuk menjemput Ibu di kantor.

Bapak juga hobi sekali membantu orang lain yang butuh bantuan. Setiap ada permintaan donatur, peminta sumbangan, orang yang pinjam uang, selalu Bapak beri tanpa pernah beliau tolak. Kecuali kalau sedang kepepet banget kali ya? Bahkan terhadap peminjam uangnya, nggak pernah beliau tanyakan kapan uang beliau akan kembali. Pokoknya kalau nggak kembali, ya sudah, diikhlaskan saja. Nggak pernah dianggap hutang.

Terkait menjaga lisan, tampaknya saya juga harus belajar banyak dari Bapak. Sedikitpun saya belum pernah dengar kata-kata kasar keluar dari mulut beliau. Beliau pernah cerita bahwa ramanya (mbah kakung saya almarhum) melarang keras putra-putrinya untuk berkata kasar “sehalus” apapun. Jangankan a*u, b*****n dan kawan-kawannya, kata “asem” dan “kurang ajar” saja sudah tergolong kasar bagi beliau. Yang paling saya kagumi adalah ketangguhan beliau untuk nggak membicarakan keburukan orang lain di belakang. Ini sih berbanding terbalik sama saya yang sampai sekarang belum bisa mengurangi kebiasaan buruk berghibah. Beneran lho, selama 24 tahun hidup, belum pernah saya dengar Bapak menggosipkan orang. Mengeluhkan kelakuan buruk orang lain pada beliau pun, juga nggak pernah. Bapak, juga sedikitpun, nggak pernah mengajarkan saya untuk menyimpan dendam. Apapun yang orang lain lakukan terhadap saya, baik atau buruk, tetap harus dibalas kebaikan. Minimal mendiamkan dan nggak usah mengambil pusing lah. Tetapi beliau melarang saya untuk membalas dendam. Benar-benar sosok lelaki yang pemaaf.

Bapak memang dari kampung. Bapak memang nggak bisa mengoperasikan komputer. Bapak memang nggak mengerti segala macam olah raga kecuali pingpong. Bapak memang nggak menguasai satu alat musik pun. Bapak memang nggak terlalu tahu musik dan lagu-lagu. Bapak memang bukan orang yang pemberani dan selalu melakukan hal-hal yang luar biasa serta out of the box. Tapi saya sangat bangga dengan beliau. Mungkin beliau adalah idola saya setelah Rasulullah dan para sahabat yang mulia.

Saya berjanji akan selalu membahagiakan beliau. Membuat beliau bangga dan nggak menyesal telah dikaruniai anak seperti saya. Saya juga akan berusaha tidak membuat beliau sedih dan kecewa dengan apa-apa yang saya lakukan. Insya Allah. Ya Allah, mampukanlah saya untuk berbakti dan berbuat baik pada beliau ya. Hanya Engkau yang Maha Mengabulkan Do’a. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: