muliakan dirimu: catatan pendek untuk perempuan

“Kalau Allah memberi kita pasangan yang baik, belum berarti Dia memuliakan kita. Demikian pula, Allah memberi kita pasangan yang buruk, belum tentu untuk menghinakan kita.”

Karena pasangan adalah amanah, yang dengannya berarti kita diuji, seberapa besar kesyukuran dan kesabaran kita menghadapinya. Pasangan adalah tempat kita mengumpulkan kebaikan. Dialah ladang amal bagi kita. Kita semua tentu tahu kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Dipasangkan dengan laki-laki sekelas Nabi pun belum mampu membuat mereka beriman. Sebaliknya, Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun yang lalimnya setengah mati, malah sudah dijanjikan sebuah rumah di surga-Nya.

Itu semua membuktikan, bahwa pasangan kita dalam rumah tangga, belum tentu mencerminkan mulia atau hinanya kita. Belum tentu menjamin kemuliaan dan kehinaan bagi kita. Sehingga bagi kita, hanya ada satu pilihan: menjadi perempuan yang mulia, bersama siapapun pasangan kita. Karena pasangan kita di dunia, belum tentu pasangan kita pula di akhirat. Kecuali mungkin Abu Lahab dan Ummu Jamil yang tampaknya bersatu pula di neraka. Na’udzu billah.

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), dan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).” QS An Nuur [24]: 26

Alhamdulillah kalau Allah mempertemukan kita dengan pasangan yang bisa bersatu di dunia dan surga-Nya. Aamiin. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: