sebuah cinta tanpa syarat

ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
seperti udara, kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas.. ibu.. ibu..
ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku
dengan apa membalas.. ibu.. ibu..

Sebait lagu “Ibu” dari musisi legendaris Indonesia, Iwan Fals itu begitu sering teralun dari bibirku, terutama sepulang mudikku dari kampung halaman. Sebuah lagu dengan lirik dan musik sederhana, namun begitu mengena. Ya, dengan apa bisa membalas jasa seorang ibu? Jangankan perlakuan kita yang tak seberapa, bahkan emas sebesar Gunung Uhud pun tetap tak mampu menandingi ketulusan, kasih sayang dan pengorbanan beliau!

Bodohnya aku, selalu menganggap ibuku “rese,” panikan, cerewet, khawatir berlebihan, overprotektif, suka ngruwet-ngruweti, dan beraneka kata-frasa lain yang nggak pantas keluar dari mulut seorang anak. Bahkan mengucapkan “Ah!” pada beliau saja sudah termasuk membangkang, lalu apalah aku ini? Setelah balik ke Jakarta, baru deh nyesal, “Kenapa tadi nggak kuperlakukan ibu dengan baik ya?”, “Kenapa marah-marah, kenapa membentak, kenapa nggak manut?”

Bahkan saat ibuku menelepon pun — terkadang memang telepon ibuku bertepatan dengan jadwal mau mandiku, jadwal mau nyuciku, jadwal mau beres-beres kamarku — kata-kata yang keluar dari mulutku bukannya yang lemah lembut penuh kesantunan dan kasih sayang, melainkan kalimat bernada galak, buru-buru dan nggak sabar! Setelah ibu menyadarinya dan memutus sambungan telepon, barulah aku tersadar kalau aku sudah keterlaluan. Sedih sekali waktu ibuku bilang, “Gatel banget po ditelepon ibumu?”

Astaghfirullaah. Padahal aku juga nggak sibuk-sibuk banget di kos. Masih sempat baca novel atau majalah, masih sempat nulis-nulis notes, masih sempat ngobrol dan ngopi bareng mbak heti, tapi meluangkan sedikiiiiit saja waktu buat teleponan sama ibuku? Malah nggak kulakukan. Gimana perasaan ibuku ya? Pasti beliau sangat sedih.

Padahal beliau memprioritaskan putri-putrinya di atas segalanya. Kuceritakan kejadian waktu pulang kemarin ya. Ketika aku menanyakan keberadaan rok jinsku yang lama sekali tak kupakai untuk kubawa balik ke Jakarta, ibuku langsung mencari-carinya di seluruh lemari. Membongkar-bongkar baju yang sudah tersusun rapi di tempatnya. Bertanya pada bapakku, di mana gerangan rok lawas itu. Lalu bertanya pada diri sendiri, “Opo wis tak kekne wong yo?” Beliau terus mencari sampai aku kasihan melihatnya. Kusuruh tak usah mencari lagi, karena aku bisa pakai rok yang lain, toh cuma untuk beli makan di kos. Beliau memang menghentikan pencarian itu, tapi mungkin hatinya belum tenang. Sampai keesokan harinya rok itu ditemukan, beliau lega sekali sampai berseru, “Tujokno ketemu yo Kiiii, nek ketemune pas kowe wis bali kan Ibu gelo banget.”

Ibuku memang perempuan paling top. Aku berani bersumpah, beliau orang yang paling menyayangiku di dunia ini. Padahal rasa cintaku pada beliau belum tentu sebesar itu. Astaghfirullaah. Aku sungguh takut jika aku tak lagi punya kesempatan melakukan perbuatan baik pada beliau. Sungguh aku takut ya Allah. Mudahkanlah aku untuk menjadi anak yang bisa berbakti, berbuat baik dan dapat membahagiakan ibuku, ya Allah. Aamiin.

3 Comments »

  1. uyayan said

    amiinnn ….

    untuk mengetahui sejauh mana cinta dan sayangnya seorang ibu, jadilah seorang ibu..

    saya suka memperhatikan istri di rumah yang tak pernah mengenal lelah dari mulai bangun sampai tidur lagi merawat dan menjaga anak.. masalah bawel, ngomel, jangan ini jangan itu, itu semata untuk kebaikan. biasanya yang di omeli itu karena emang si anak salah.

    • dan ketika si anak dewasa, barulah dia menyadari betapa besar pengorbanan dan kasih sayang ibunya selama ini🙂

      • uyayan said

        benar,, seperti itulah adanya..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: