tentang sebuah kerinduan

(menunggu Mbak Nunung, sepupuku datang)

Duduk di halte bus Gelora Bung Karno bersebelahan dengan seorang akhwat berbaju coklat muda keabuan. Ingin kusapa, sekedar berbincang sedikit tentang entahlah. Tapi lidah ini terlalu pengecut, bahkan jika hanya beruluk salam. Pemandangan yang begitu khas dalam suasana 11th Islamic Book Fair di Istora Senayan. Pasangan suami istri muda dengan putra/putri mereka yang masih kecil, rata-rata lelakinya bercelana di atas mata kaki, sementara perempuannya bergamis, paling tidak berjilbab panjang. Bertanya dalam hati, “Mungkinkah aku bisa seperti mereka kelak?” (khayalan tingkat tinggi). Lalu, muda-mudi, ikhwan-akhwat, namun tidak berikhtilat lho ya. Maksudnya, ikhwan dengan ikhwan, akhwat dengan akhwat. Sama cirinya: tidak isbal ikhwannya, memakai jilbab syar’i akhwatnya. Batinku kembali bicara, “Duh, kapan ya, bisa tergabung dengan mereka, saudari-saudari yang shalihah itu?” Mungkin penampilanku memang terlihat serupa, dengan rok dan jilbab menutup dada. Tapi sungguh, aku lain sekali dengan mereka, perempuan-perempuan mengagumkan itu. Jangankan tergabung dalam salah satu afiliasi dakwah, ikut kajian pun tak tentu seminggu sekali!

Tiba-tiba aku merindukan suasana bertahun lalu. Ketika aku masih sekolah di sebuah SMA Negeri yang memiliki suasana Islami cukup kental, Rohis-nya pun berkembang pesat. Bahkan aku pernah bergabung dengan organisasi itu, meskipun tidak terlalu aktif berkecimpung. Meskipun penampilanku berbeda dari kebanyakan mereka. Beberapa kali kuikuti kepanitiaan di dalamnya, cari dana dan sponsor ini-itulah. Tetapi jujur saja kuikuti dengan setengah hati. Tiap ada kegiatan kajian pun, kuikuti dengan malas-malasan, malah sengaja membuat keributan selama acara berlangsung (baca: berisik). Sedikitpun aku tak tertarik untuk mengikuti jejak “mereka,” para akhwat itu.

Bahkan ketika kelas 2 di mana aku ditempatkan di sebuah kelas yang heterogen (Islam, Kristen dan Hindu) aku malah lebih bangga bergabung dengan teman-teman yang suka haha-hihi. Di antara mereka bahkan non Muslim.

(tiba-tiba Mbak Nunung datang dan mem-pause semua cerita. Cerita dilanjutkan di kosan keesokan harinya)

Dulu aku sangat bangga berteman dengan para non-Muslim itu, bahkan terkesan “memojokkan” teman-temanku sesama Muslim yang kebetulan agak “keras” alias saklek terhadap prinsip mulia mereka. Tersebutlah seorang ikhwan di kelasku yang dianggap teman-teman sebagai sosok yang sangat “radikal.” Dia sering menulis “buletin” tulisan tangan sendiri yang kemudian ditempelkan di kelas-kelas seantero sekolah. Atau menghiasi papan tulis dengan, tak hanya tulisan “Bismillaahirrahmaanirrahiim,” melainkan juga ayat-ayat Qur-an atau hadits (padahal di kelas heterogen). Selain itu, setiap masuk waktu shalat, dia selalu terdepan menunaikannya, bahkan jika guru masih mengajar, dia bersama sahabatnya langsung minta izin shalat Zhuhur. Wah, ekstrim sekali ya! Begitu fikirku dulu. Bersama teman-teman lain, sering kugunjingkan mereka. Astaghfirullaahal ‘adhiim. Bahkan orang tak terlalu shalih saja haram digunjingkan kok, apalagi yang shalih?

Meskipun sekolahku heterogen, nuansa Islami yang sangat kental juga begitu terlihat dengan adanya kegiatan mentoring (belakangan kuketahui namanya liqa’at) setiap hari Jum’at sepulang sekolah. Dulu waktu kelas 1, kegiatan ini diwajibkan sebagai syarat untuk menyempurnakan nilai mata pelajaran Agama Islam. Namun yang bikin menyesal, mentoring ini kuikuti dengan setengah hati. Bagiku dulu, kegiatan ini nggak lebih semacam pelajaran agama tambahan yang bahkan lebih “rese” dan menjengkelkan. Sudahlah mengganggu waktu bersenang-senang, masih ditambah banyak aturan pula! Waktu mentoring itu, kalau kita nggak ngerjakan shalat dhuha atau nggak puasa sunnah, bisa kena ‘iqab alias hukuman dari mbak mentornya (padahal ini adalah salah satu tangga menuju taqwa yang dinamakan mu’aqabah). Aku tau ajaran agama, ada perintah ini-itu, larangan ini-itu, tapi sedikitpun nggak berniat mengamalkannya.

Hal yang sama juga berlanjut ketika kuliah. Ketika itu, kegiatan mentoring dinamakan AAI alias Asistensi Agama Islam, yang juga diwajibkan ketika mahasiswa masih berada di tingkat 1 dan hanya “disunnahkan” untuk tingkat-tingkat berikutnya. Pada saat mbak mentorku menawarkan untuk follow-up, sedikitpun aku nggak berminat mengikuti. Begitu pun dengan teman-teman satu kelompokku. Walhasil, kelompok mentoringku bubar! Dan aku sedikitpun tidak menyesal. Bahkan malah begitu “kunikmati” masa muda penuh coba-coba: pacaran, ikut kegiatan-kegiatan yang banyak unsur ikhtilatnya, bersenang-senang, dan aneka rupa kegiatan lain yang akupun nggak tau apa tujuan dan manfaatnya. Yang penting saat itu, aku hepi! Peduli amat dengan kalimat-kalimat macam “hidup itu harus penuh manfaat”, “khayrunnas anfa’uhum linnaas”, “optimalkan masa muda sebelum datang masa tua”, “fastabiqul khayrat di usia muda” dan sebagainya. Padahal aku tau, sungguh sangat tau dengan gegap gempita dakwah di jalan-Nya, kegigihan para aktivis memperjuangkan din-Nya, pengorbanan para intifadha untuk bumi Palestina.. Tapi, seperti salah satu judul buku Shafwan Al-Banna: emang gue pikirin??

Aku begitu larut dengan duniaku, hingga pada suatu hari aku disadarkan oleh satu kejadian buruk yang tak terlalu bijaksana bila kuceritakan. Namun aku bersyukur, kejadian itu malah membuka mataku untuk lebih mendalami kemuliaan risalah yang begitu mulia ini. Melalui seorang sahabat (alhamdulillah, telah dipertemukan dengannya) aku diperkenalkan dengan sebuah kelompok (sejenis dengan kelompok yang kuikuti dengan terpaksa ketika sekolah dan awal kuliah) yang begitu menakjubkan. Di sana aku belajar banyak hal: tentang hidup, tentang agama yang kupeluk selama lebih dari 21 tahun usiaku (ketika itu) tetapi sejatinya tak pernah sedetikpun kuamalkan dengan sungguh-sungguh. Ternyata begitu banyak hal yang kulewatkan. Kusia-siakan hidup dengan aneka rupa kegiatan tanpa manfaat. Bersyukur sekali pernah menjadi bagian dari “lingkaran” itu.

Namun lagi-lagi aku harus kehilangan. Semenjak aku tinggal di ibukota, belum lagi kutemui yang seperti itu. Kadang ingiiiiiiin sekali menyapa perempuan-perempuan anggun itu, berbincang menanyakan ini-itu, menyatakan ingin menjadi bagian dari mereka.. Tapi, apa aku bisa — seperti mereka? Sungguh ya Allah, ingin sekali kutemukan keindahan itu lagi, bersaudara di jalan-Mu.

Kumohon saudariku, sisakan aku tempat, izinkan aku menyusuli kalian, ku tak ingin tertinggal lagi dari gempita yang menyejarah ini.. Tunggu aku..

Diselesaikan di salah satu kamar kos di kawasan Blok A, Jakarta Selatan
25 Rabi’uts Tsani — 18 Maret

1 Comment »

  1. […] Posting ini (tanpa sengaja) adalah lanjutan dari dua posting sebelumnya yang kutulis beberapa waktu (pastinya sudah cukup lama) yang lalu, yakni Sebuah Pencarian dan Tentang Sebuah Kerinduan. […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: