berhibur tiada salahnya *)

Kita pasti pernah – bahkan mungkin sering – merasa lelah, bosan, bete, buthek, stuck dan ingin keluar dari rutinitas yang menjemukan. Misal, mahasiswa tingkat akhir yang sudah jenuh dengan skripsi yang tak kunjung disetujui dosen pembimbing, karyawan yang sudah bosan dengan kegiatan hariannya yang cuma berkutat di ruangan-depan PC-toilet-masjid-warung makan (lho, kok malah curhat?), atau pengusaha pemula yang sudah lelah mempromosikan dagangannya di hampir semua media namun belum juga mendapat respon dari calon pembeli.

Kelelahan dan kejenuhan memang suatu hal yang sangat manusiawi. Oleh karenanya, berbahagia atau menghibur diri sudah pasti merupakan fitrah manusia untuk menyingkirkan hal-hal tidak mengenakkan tersebut. Tetapi seringkali kita terjebak pada dua pemahaman yang salah tentang berhibur atau menghibur diri ini.

Pemahaman pertama: menganggap bahwa berhibur adalah aktivitas yang tidak berguna, hanya buang-buang waktu, tenaga dan uang. Bila memiliki pemahaman seperti ini biasanya kita menjadi orang yang cenderung spaneng alias serius, tidak menikmati hidup, tidak menyadari bahwa hidup ini dipenuhi karunia-karunia berupa keindahan. Kita menganggap kerja keras adalah segalanya, hingga melupakan bahwa tubuh dan otak kita punya hak untuk rileks, beristirahat, dimanjakan, dibahagiakan.

Pemahaman kedua: menganggap bahwa berhibur adalah segalanya sehingga melakukan aktivitas menghibur diri yang berlebihan bahkan sampai melupakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Jika termasuk penganut pemahaman ini, biasanya kita menjadi pribadi yang terlalu santai dan tidak punya target atau tujuan hidup. Menghibur diri sebelum diri ini mendapat hiburan yang pantas atas segala kerja keras yang dilakukannya. Ini sih kebalikan dari pemahaman pertama tadi.

Idealnya sih, kita termasuk pribadi yang pertengahan, bersikap proporsional. Kalau memang lagi capek, ya bersenang-senanglah. Tapi jangan kebablasan dan melupakan tugas-tanggung jawab-kewajiban. Menghibur diri juga harus dengan sesuatu yang dibolehkan, alias halal. Misalnya rekreasi ke tempat wisata alam, makan makanan kesukaan, bercengkrama dengan keluarga dan teman-teman, membaca buku atau mendengarkan musik favorit. Yang perlu diingat lagi, kalau sudah puas menghibur diri, siapkan diri untuk kembali menekuni kewajiban dan aktivitas yang tertunda. Jangan malah keasikan berhibur lalu lupa tugas dan kewajiban.

Jadi, selamat mencari hiburan yang positif🙂

*) dari salah satu lagu nasyid Raihan

6 Comments »

  1. naniknara said

    tiap hari berhibur, bermain dengan anak-anak, guling-gulingan di kasur, lari-larian di taman🙂

    • hehe, selamat kalau begitu mbak, insya Allah bahagia, tapi yang penting tetap produktif kan?🙂

      • naniknara said

        iya dong, pagi – ngantor.
        pulang kerja ajak anak2 jalan2 ke taman
        malam gantian main lompat-lompat di kasur

  2. uyayan said

    waduh ngomongin berlibur… mancing termasuk berlibur gak ya ??

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: