sebab dunia terlalu mahal, untuk sekedar diisi sesal

Dunia adalah karunia indah, dan memberi kita banyak keindahan. Di sisi lain, dunia juga menyuguhkan kita banyak persoalan. Bahkan memenjarakan kita dalam lingkaran-lingkaran persoalan, sehingga menjadikan langkah hidup kita terasa begitu sempit. Tapi persoalan yang ada tentu tidak sebanding dengan karunia Allah kepada kita yang begitu banyak dan indah. Persoalan kita tak sebanding dengan nikmat-nikmat yang kita terima dari dunia ini.

Sayangnya, banyak orang yang terlihat sangat pandai mengotori hatinya, mendatangkan kegelisahan dan keresahan terhadap jiwanya, dan sangat menguasai seni menciptakan khayalan-khayalan yang merusak pikiran. Kehidupannya selalu diisi dengan mengingat masa lalunya yang diselimuti berbagai kepedihan, sibuk menerka-nerka berbagai kejadian di masa yang akan datang, jatuh sakit karena mendengar atau melihat orang lain mendapat kenikmatan, marah pada pasangan hidup dan anaknya secara berlebihan. Sehingga hidupnya selalu dibalut rasa takut karena mengira bahwa suatu penyakit akan menimpanya, dan selalu berusaha menghimpun daftar berbagai musibah dan kesedihan.

Sikap ini tentu tidak layak menghiasi hidup kita. Sebab bagaimana pun, kita tak bisa mendapatkan satu wilayah pun di dunia ini yang sepi dari masalah. Setiap jengkal dari dari bumi ini punya masalahnya. Maka yang lebih penting bukan mengingat masalahnya, tetapi mensyukurinya, dan menggembirakan diri dengan karunia-karunia indah yang ada, di sela kesulitan yang masih menerpa kita.

Karena itu, jika kita menghendaki kebahagiaan dan kenyamanan, maka kita jangan mempersingkat kehidupan sendiri, sebab pada dasarnya kehidupan itu sudah cukup singkat. Kita harus hidup dengan karunia-karunia Allah yang indah, yang diberikan kepada kita. Kita tidak perlu menangisi yang telah lalu, atau meratapi sesuatu yang tidak ada di tangan kita. Tetapi tersenyum dan bertawakkal kepada-Nya, sebab Dia sebenarnya selalu mencukupi kita dengan karunia-karunia-Nya yang indah, yang mungkin sering kita abaikan, tak kita syukuri.

Dikutip tanpa perubahan dari sebagian Kajian Utama Tarbawi Edisi 268 Th. 13, Rabi’ul Awwal 1433, 9 Februari 2012

4 Comments »

  1. uyayan said

    mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan menjadikan hidup ini semakin indah…

  2. makasih sudah nge-like, benar sekali, kunci kebahagiaan adalah mengubah mindset dan memperbanyak syukur & sabar🙂

  3. nisafirdaus said

    he’em mbak..
    mbak ki..ak pembaca setia blogmu lalalllala
    miss u

    • hahaha, iyo to cak, wah aku dadi tersanjung, hehe, makasih apresiasinya ya, miss you too :*

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: