write for FLP (2)

dear pembaca, ini adalah tulisan kedua saya, masih satu rangkaian dengan tulisan terdahulu pada saat mengikuti seleksi FLP. alhamdulillah, tahap seleksi karya ini lolos. tetapi saya gagal pada sesi wawancara, sehingga sampai detik ini saya belum menjadi anggota FLP, hehehe. monggo kalau mau nyimak🙂

Tentang Cinta Kita Bicara

Mbak, aku bingung. Kadang aku setuju banget sama aturan Islam yang nggak melegalkan pacaran, tapi aku juga sering ngerasa kalau keberpihakanku itu karena aku udah menjomblo sekitar satu setengah taunan. Dan di sisi lain, kalau ngeliat dua orang cewek-cowok lagi asik-asik pacaran, aku jadi mupeng gitu, pengen juga punya pacar. Soalnya diem-diem aku juga takut, kalau semua sahabatku udah pada punya pacar, cuma aku yang sendirian menjomblo, dan akhirnya jadi perawan tua. Mungkin kesannya lebai ya, Mbak. Tapi aku bener-bener bingung nih. Aku ngerasa mendukung sikap antipacaran hanya karena kebetulan aku lagi nggak punya pacar. Berarti aku munafik dong?! (F, 21 tahun)

Ki, aku udah putus sama cowokku kira-kira 2 taunan. Tapi kayaknya aku nggak bakal bisa lepas dari dia deh! Begitu pun dia ke aku. Kayak udah depend on gitu. Gimana enggak, kalau tiap kali ketemu kita ngelakuin hal-hal yang biasa dilakuin orang-orang pacaran, kayak ciuman, pelukan, mesra-mesraan, ya pokoknya gitu deh. Aku juga bingung, Ki. Kita masih sama-sama sayang tapi tiap kali aku ngajak balik dia nggak mau. Sebenernya gimana sih perasaan dia ke aku? Kadang aku juga bersyukur, mungkin Allah nggak meridhai hubungan ini, karena sebenernya aku juga tau kalau Islam melarang pacaran. Tapi aku juga nggak bisa kalau nggak sama dia. Kayaknya aku nggak bakal bisa sayang sama orang lain selain dia deh! (O, 21 tahun)

Saat ini, statusku masih pacar seseorang. Aku masih sayang banget sama dia, begitu juga sebaliknya. Kami juga sama-sama tau kalau nggak pernah ada istilahnya pacaran halal dalam agama yang kami anut. Bedanya, aku yang sekarang semakin yakin kalau aktivitas-aktivitas itu nggak ada gunanya sama sekali, malah bikin tambah dosa. Apalagi gaya pacaran kami juga nggak sepolos anak-anak jaman dulu yang cuma ke taman, nonton bioskop, piknik, tapi lebih dari itu. Walaupun kami belum sampai tahap horor sih, tapi kayaknya aku pengen udahan aja deh sama dia, daripada ntar kebablasan. Setiap kali abis pacaran gitu, aku sering ngerasa berdosa lho. Aku bingung, kalau aku mutusin dia, aku takut sakit hati. Jujur aku belum siap kehilangan dia. Tapi di sisi lain, kalau keterusan, aku juga bakalan nyesel seumur hidup. Aku takut azab Allah, mengingat aku sekarang makin rajin ikut mentoring plus kajian keislaman gitu. Aku nggak mau jadi orang STMJ – shalat terus maksiat jalan terus. Tolongin aku dong, what should I do? (D, 21 tahun)

Tiga kisah. Beda wajah, walaupun sama-sama dalam usia yang relatif sama, awal kepala dua. Sama-sama bicara tentang cinta. Suatu perkara yang tiada pernah tuntas dikupas. Tiada pernah habis diiris. Di mana masing-masing memiliki cerita yang beda, namun berujung pangkal pada satu perkara. Keragu-raguan. Ragu akan nasib perjalanan cinta mereka. Akankah bahagia yang menjelang, atau justru duka lara dan kekecewaan? Begitulah. Jika masing-masing kita, kurang memasrahkan segala sesuatu kepada Zat pencipta cinta itu sendiri, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sesungguhnya aku takut jadi perawan tua.

Aku benar-benar bingung akan sikapnya, haruskah aku memintanya kembali menjadi pelipur laraku? Tapi jika jalan itu yang kupilih, berarti aku telah mengkhianati-Nya?

Aku takut sedih lagi. Aku takut takkan ada lagi yang menyayangiku lagi jika aku mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang membuatku jatuh ke dalam jurang kehinaan sebenarnya.

Kalimat-kalimat itu sebenarnya tak perlu diucapkan lagi, jika seorang hamba berserah, pasrah, terhadap segala sesuatu yang akan dan telah menimpanya. Jangankan hanya urusan cinta, segalanya harus kita pasrahkan hanya kepada-Nya.

Bukankah sudah jelas, tersebut dalam firman-Nya yang suci:

“Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Al Baqarah [2]: 112)

Jangan takut – jangan bimbang – jangan ragu, untuk selalu dan senantiasa berjalan di jalan-Nya yang lurus, menapakkan kaki kita dalam jalur yang telah digariskan-Nya, menuju surga yang telah dijanjikan untuk hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perilakunya dari segala hal yang Ia haramkan dan melakukan segala sesuatu hanya untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Sungguh, segala masalah yang saya lampirkan dalam pembuka tulisan saya, bagaimana pun itu, adalah petunjuk dari Sang Maha Cinta, bagi hamba-hamba-Nya yang Ia sayangi. Ketidaknyamanan dan kebimbangan yang dirasakan oleh saudari-saudari saya, adalah bukti nyata kasih sayang Sang Khaliq. Betapa Ia masih menjaga dan melindungi sang hamba dari segala sesuatu yang akan menghinakannya, di dunia dan akhirat. Bagaimana pun, menjalin cinta melalui aktivitas pacaran adalah suatu perkara yang tidak disukai-Nya. Bahkan termasuk dalam larangan-Nya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra [17]: 32)

Memang tidak ada larangan langsung dalam dien mulia ini: janganlah kamu pacaran. Sesungguhnya pacaran itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Pacaran tidak disarankan, bahkan diharamkan dalam Islam karena aktivitas ini tak ubahnya akan membuat sesorang semakin mendekat ke arah zina. Bukankah tidak mungkin, zina terjadi begitu saja di antara dua anak manusia, bila tidak ada aktivitas-aktivitas pemicunya? Dan pacaran tentu saja merupakan salah satu pemicu perbuatan nista itu.

Nampaknya hal ini telah disadari sepenuhnya oleh tiga nama yang tersebut dalam pembuka di atas. Betapa pacaran akan semakin menjauhkan manusia dari fithrahnya, yakni mencintai dan dicintai dalam bingkai keridhaan-Nya. Namun yang menjadi masalah, adalah kebimbangan dan keraguan yang menyelinap di saat kesadaran akan sesuatu yang benar itu menyeruak, menghempaskan pikiran, hati, dan perasaan berdosa yang teramat sangat pada Sang Pencipta karena telah menodai hakikat cinta itu sendiri. Kebimbangan akan segala yang terjadi setelah suatu keputusan besar dan demi Allah sangat tepat, itu diambil.

Akankah bahagia bila aku tak menjalin hubungan dengan siapapun sebelum orang itu menikahiku? Akankah bahagia bila kuputuskan akan menjauh darinya selamanya? Akankah bahagia bila akhirnya kuakhiri hubungan yang belum halal ini?

Sekarang marilah kita sama-sama membayangkan. Resapi dan hayati dalam-dalam apa-apa yang akan saya sebutkan di sini. Pertama, betapa menyenangkannya punya pacar.

Ini pacarku. Ganteng banget kan? Liat deh, muka kita mirip kan? Kata orang, kalo mukanya mirip gini tandanya jodoh lho!

Seneng banget deh, habis dibeliin eskrim sama si Tomi. Dia emang paling ngerti cara ngehibur kalo aku lagi ngambek.

Hmm. Bete-bete gini paling enak kalo udah ketemu pacar. Ntar kan bisa dimanja-manja, disayang-sayang. Dijamin segala kebetean ilang tanpa bekas deh!

Habis kuliah kemana ya? Pacaran lah! Dimana? Ya dimana-mana: makan, nonton, jalan-jalan, bobok di kost-nya (ups, keceplosan)

Atau yang ini: betapa tidak enaknya sekedar menjadi pacar.

Kangen banget sama kamu nih, Yang. Pengen dipeluk, pengen dicium, pengen bareng-bareng terus, tapi.. kalo kebablasan dosa kan ya, Yang?

Dosa atau nggak, urusan belakangan. Yang penting sekarang kita hepi. Janji deh, aku bakalan tanggung jawab kalo ada apa-apa, Yang. Jadi kamu tenang aja. Let’s enjoy this night.

Aku hamil, Yang. Kamu mau nikahin aku kan?

Apa? Nikahin kamu? Gila aja! Mau dikasih makan apa anak kita nanti? Duit aja aku masih minta ortu. Udahlah, gugurin aja! Aku anterin deh.

What? Tanggung jawab? Siapa suruh dulu kamu mau? Aku nggak pernah maksa. We just did it once. Yaudahlah, buruan ke dukun aja, keburu perut kamu tambah gede, kamu sendiri kan yang malu?

Astaghfirullahal adzim. Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kejadian yang demikian tidak menimpa kita. Sekarang, mari kita membayangkan yang lain. Masih dari segi ‘kesengsaraan.’ Betapa tersiksanya tidak punya pacar di saat semua teman dan orang terdekat memilikinya.

Malem minggu sendirian lagi. Enaknya ngapain ya? Garing banget. Coba aku punya pacar!

Apa? Sampe umur segini belom punya pacar juga? Ati-ati jadi perawan tua lho!

Pengen juga dong, foto-fotoan sama pacar gitu. Habisnya lama nggak punya pacar sih. Sampe lupa rasanya.

Sampe kapan kayak gini terus? Apa ada orang yang bakal sayang sama aku dan berminat menjadikan aku istrinya kelak?

Apa aku salah ya mutusin dia kemaren? Kok aku jadi kesepian gini.

Tunggu dulu. Segala ‘penderitaan’ itu tak seberapa dengan nikmat yang akan kita peroleh kelak. Memutuskan untuk tidak pacaran di saat nyaris semua orang melakukannya dan sebenarnya kita pun berpeluang untuk itu, adalah jihad al akbar. Karena yang kita lawan adalah hawa nafsu, diri kita sendiri dan keinginan-keinginannya. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa perang melawan hawa nafsu adalah perang besar – bahkan lebih besar dari perang badar – yang sangat sulit untuk dimenangi, hanya segelintir saja yang berhasil menundukkannya. Maka, jika kita termasuk di dalamnya, sungguh beruntunglah kita, menjadi hamba-Nya yang terpilih untuk dijauhkan-Nya dari segala perkara pemantik api perzinaan.

Dan beruntung jugalah orang-orang yang memang sudah terjaga dari muasalnya, untuk tidak pernah sedikit pun mencicipi ‘lezatnya’ rasa zina. Dengan kata lain, orang-orang yang belum atau sedang tidak punya pacar, janganlah pernah malu, minder, atau menyalahkan diri sendiri serta keadaan. Justru kita harus selalu khusnudzan kepada Allah: pasti Ia sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya, pasti Ia akan mempertemukan saya dengan orang yang baik, dengan cara yang baik, yang pasti disukai-Nya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 216)

Tenang saja. Allah jelas mengetahui segala yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Dia selalu bersama hamba-Nya yang sabar dan bersungguh-sungguh. Pasrahkan segala sesuatu hanya pada-Nya, termasuk urusan jodoh tentu saja. Yang pasti, tidak ada yang sia-sia dalam ketetapan dan hukum-Nya. Jika Ia telah menggariskan sesuatu, entah itu perintah atau larangan, tentu saja ada manfaat dan hikmah besar bagi hamba-hamba-Nya, yang konsisten menjaga pengabdian pada Sang Khaliq. Demikian juga larangan-Nya untuk berpacaran, demi menjaga diri dan kehormatan sang hamba sebagai umat Islam.

Dan Allah juga sangat mengerti kebutuhan seorang hamba untuk dicintai sesamanya. Dijadikanlah menikah sebagai solusi atas kegundahan hatinya, keinginannya akan cinta dan kasih sayang dari sesama manusia. Dan tidak ada jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai, kecuali menikah, begitulah kata ‘Ali bin Abi Thalib. Pernikahan: benteng diri dari nafsu yang diharamkan, penyempurna separuh agama, pengubah segala yang haram menjadi halal yang dosa menjadi pahala, penyatu tak hanya dua hati namun dua keluarga yang sebelumnya tak saling kenal, pencetak generasi Qur’ani yang shaleh dan shalehah. Sungguh, begitu mulia definisi pernikahan dalam agama kita. Tak tergerakkah untuk menyegerakannya? Memang tidak semudah dalam ucapan. Namun niat tulus lillahi ta’ala untuk menjaga diri dan kehormatan agar tidak terperosok segala yang diharamkan-Nya, akan dimudahkan. Insya Allah.

Pasti akan sangat indah jika kita disandingkan dengan seseorang yang sama-sama menjaga diri dan kehormatan sebagai muslim-muslimah dan selalu bangga terhadap keislamannya. Cinta yang hadir di antara mereka, tentu saja, cinta yang suci dilandasi cinta kepada Sang Pencipta cinta itu sendiri. Cinta yang demikian insya Allah akan dijaga-Nya hingga maut menjemput, bahkan bukan tidak mungkin bila keduanya kembali dipertemukan di surga-Nya kelak. Amin ya Rabb.

Namun, terkadang jodoh yang telah digariskan-Nya tidak kita temui di dunia yang fana ini. Menghadapi ini semua, tentunya tak perlulah kita khawatir jika kita punya bekal kepasrahan kepada Allah. Pasti ini yang terbaik bagi kita. Pasti di akhirat yang jauh lebih abadi nanti, kita akan dipertemukan dengan pasangan hidup yang terjamin kelanggengannya, tak terbatas masa. Dalam pembahasan ini, izinkan saya mencantumkan epilog dalam novel favorit saya, Bidadari-bidadari Surga, yang ditulis oleh Tere-Liye.

Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.

Bidadari surga. Subhanallah, sungguh kata-kata yang sangat indah didengar. Tidak inginkah kita menjadi salah satunya? Ya, hanya ada satu cara menggapainya. Menjadi wanita yang shalehah. Entah bagaimana pun keadaan kita di dunia, betapa pun berat cobaan yang diberikan-Nya – mungkin salah satunya belum dipertemukan dengan jodoh – sepanjang kita tak meragukan sedikit pun akan kekuasaan dan ketetapan-Nya hingga tetap mengisi hari dengan segala hal yang baik dan bermanfaat di sisi Allah, bersiaplah menjemput janji-Nya yang pasti benar. Menjadi bidadari surga yang dipasangkan dengan laki-laki shaleh yang pernah ada di dunia.

Lalu, bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur mencicipi tipu daya syaithan berkedok manisnya dunia melalui aktivitas baku syahwat – pacaran ini? Masihkah tersisa ampunan-Nya? Masihkah kita berkesempatan bersanding dengan laki-laki shaleh layaknya bidadari-bidadari surga kelak?

“Tetapi barangsiapa bertaubat setelah melakukan kezhaliman itu dan memeperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al Maidah [5]: 39)

Ya, bertaubatlah dengan sebenar-benar taubat. Taubatan nasuha. Mengakui dan tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah kita perbuat, kemudian mengiringinya dengan perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan cinta dan keridhaan-Nya. Seperti tersebut dalam ayat di atas, Allah Maha Pengampun. Maha Penerima Taubat. Dia akan mengampuni dosa-dosa dan menerima taubat kita, sebelum dua hal terjadi. Saat maut datang menjemput, dan mentari tak lagi terbit di ufuk timur. Hanya saat-saat itulah Ia benar-benar menutup pintu ampunan-Nya. maka, segera sajalah bertaubat, memutus hubungan haram yang memancing kecemburuan-Nya. Dan rasakanlah kasih sayang-Nya yang luar biasa pada hamba-Nya yang bertaubat serta memperbaiki diri.

“Sesungguhnya seorang muslim yang terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat kesalahan, melainkan mereka yang tiap kali melakukan kesalahan mengakuinya, menerimanya, dan kemudian berusaha bangkit lagi untuk memperbaikinya, lagi, dan lagi.” (Sabda Rasulullah saw. yang saya kutip dari ‘Hari Ini Aku Makin Cantik’ karya Azimah Rahayu).

Begitulah kiranya. Selama ruh masih mengisi jasad, tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah taubat. Namun bukankah kita takkan pernah tau sampai kapan ruh ini tetap setia mendampingi jasad? Maka, sebelum terlambat dan yang tersisa hanya kata sesal, marilah kita bertaubat dan memperbaiki diri. Saksikanlah diri kita yang baru, yang hanya mempersembahkan cinta tertinggi pada Allah. Kemudian berturut-turut pada Rasul-Nya, kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, dan menunjukkan cinta komunal kepada semua manusia, tak hanya sebatas satu nama.

Diselesaikan pada 26 November 2009 di Minomartani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: