write for FLP (1)

two posts below are my posts was sent to Forum Lingkar Pena (FLP) as a recruitment to joining that authorship forum. this posts have put on me to the next level of judging. but unfortunately I failed on interview session😦. feeling disappointed, of course. but I will never give up to keep writing
this is my first post about my reason to join FLP. let’s check.

Tema: Aku, FLP, dan Dakwah Kepenulisan

Sampaikan dengan Tulisan

Menulis. Memang bukan pekerjaan ringan. Membutuhkan koordinasi apik antara otak kanan dan kiri, yang keduanya tidak boleh bekerja secara bersamaan. Saat mulai menulis, biarkanlah otak kanan yang bekerja. Menulis apapun yang kita pikirkan, kita rasakan. Tak perlu pemikiran panjang. Keluarkan saja semuanya, begitu kata Jonriah Ukur yang akrab disapa Jonru, pendiri Sekolah Menulis Online. Baru jika sudah mantap dan merasa lega karena telah berhasil mencurahkan segala pikiran dan perasaan, gunakan otak kiri untuk menyortir isi tulisan tersebut. Bagian mana yang harus diperbaiki, ditambahi, atau bahkan dibuang, sehingga karya menjadi lebih baik. Teorinya memang sesederhana itu.

Namun teori tak selalu sama dengan prakteknya. Begitu pula yang terjadi padaku. Aku – yang mengaku suka menulis – sudah menerapkan teori itu untuk menyelesaikan tulisan-tulisanku. Nyatanya tetap butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikan, bahkan jika hanya sebuah artikel pendek selembar-dua lembar. Mungkin ini semua karena aku kurang mengoptimalkan kinerja otak kananku, yang notabene adalah media sebuah proses kreatif. Mungkin aku terlalu permisif pada otak kiriku, sehingga ia dengan seenaknya mencampuri urusan yang hanya boleh dilakukan otak kanan, sehingga malah mengganggu proses kreatif itu dengan memberi limitasi-limitasi pengungkung kreativitas. Walhasil, banyak sekali tulisanku yang mengambang, tanpa terselesaikan.

Anyway, aku memang suka menulis. Walaupun belum pernah menghasilkan output yang berarti (buku yang diterbitkan, tulisan yang dimuat di surat kabar harian, lomba penulisan cerpen yang berhadiah uang), sering stuck pada satu titik yang akhirnya membuatku blank, aku tetap suka menulis. Bagiku, menulis adalah kebutuhan. Media penyalur emosi dan aktualisasi diri paling mujarab.

Kegemaranku menulis ini tentu saja dipicu oleh kegilaan terhadap buku-buku bacaan. Aku memang booklover. Dulu memang hanya membaca fiksi-fiksi populer macam Harry Potter, tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari perlunya pencerahan. Kini aku beralih pada buku-buku yang lebih bernuansa relijius, baik fiksi maupun nonfiksi. Dari banyak buku-buku relijius tersebut, jika aku membaca biografi penulisnya, sebagian besar adalah anggota sebuah kelompok penulis, Forum Lingkar Pena (FLP) namanya. Penasaran, kutanya kakak sepupuku yang kebetulan pernah aktif berkecimpung di dalamnya. Ternyata FLP adalah sebuah forum kepenulisan yang menjadikan dakwah sebagai tujuan dan sasaran utamanya. Tengok saja visinya, Menggapai Taqwa dengan Tinta. Betapa mulia kalimat itu. Terasa menyejukkan bagi siapa saja yang mendengarnya.

Memang pena dan tinta tajamnya dapat melebihi pedang. Maksudnya, tulisan adalah salah satu media dakwah yang tidak kalah efektif dengan pengajian atau tabligh akbar. Apalagi jika tulisan tersebut benar-benar menyentuh dan menggugah. Tentu akan meninggalkan kesan mendalam bagi para pembacanya. Dengan demikian, kebenaran tersampaikan. Dakwah yang menjadi sasaran utama telah terbidik tepat di hati dan pikiran para pembaca yang tergugah. Mereka akan semakin bersemangat memperbaiki diri.

Sama sekali tak ada pihak yang dirugikan dalam dunia ini, dakwah kepenulisan. Dengan media ini, seorang penulis dapat membantu seseorang yang ingin menjadikan hidupnya lebih berarti. Mengetahui kebenaran yang belum tersingkap. Dan apabila diamalkan oleh orang yang membaca tulisannya, yang merasakan pahalanya tidak hanya pembaca tersebut. Bahkan amal yang dilakukan penulis pun dianggap sebagai amal jariyah – yang pahalanya takkan terputus walaupun maut menjemput. Tentu saja jika disertai keikhlasan sang penulis. Jadi, bisa dikatakan bahwa dakwah lewat dunia tulis-menulis akan menguntungkan semua pihak, di samping keuntungan finansial.

Apalagi di zaman sekarang, di saat minat baca masyarakat semakin meningkat. Toko-toko buku merebak, pembaca yang hadir dalam setiap launching buku baru pun makin membludak. Inilah kesempatan bagi penulis plus aktivis dakwah untuk melebarkan sayap, menggapai taqwa dengan tinta. Dan FLP pun akan semakin eksis mewadahi penulis-penulis yang dengan semangat membara, menyuarakan dakwah lewat pena dan tinta. Semoga aku pun bisa berkesempatan ambil peran dalam sebuah wadah yang merupakan, menyitir dari kata-kata sastrawan besar Taufiq Ismail, hadiah Tuhan untuk Indonesia. Amin.

Diselesaikan pada 26 November 2009 di Minomartani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: