bahagia di dua “dunia”

Ehm, katanya untuk ‘mengawetkan’ kebahagiaan yang ada di hati caranya adalah dengan selalu berbahagia, nggak negative thinking, nggak underestimate, pokoknya nggak membiarkan sisi kelabu yang lebih mendominasi hati dan fikiran, zzzzz. Tapi kenapa saya sering banget ya, sebel banget sama everything’s alay, kayak: status Facebook yang nggak penting, tweets yang isinya ngeluh-ngeluh dan penuh RT nggak jelas (itu lho, kalo orang bales-balesan twit sama temen-temennya nggak pake ‘reply’ alias cuma ‘RT’ atau ‘quote tweet’), ih sebel banget!!

Bukannya gimana-gimana sih, saya emang bukan tipe orang yang terlalu public display, jadi apa yang terjadi dalam hidup saya nggak saya buka di social media, even itu adalah kejadian yang membahagiakan. Saya lebih suka berbagi secara personal, dengan orang-orang yang emang pengen saya ceritain. Misalnya lewat telepon atau sms. Nggak terlalu baik juga sih sebenernya, kesannya jadi introvert banget. Apalagi di era virtual kayak sekarang, di mana orang lagi gandrung-gandrungnya sama internet dan gadget. Orang yang nggak terlalu ambil pusing, atau malah terkesan “menghindar” dari perkembangan dan kemajuan IT akan “terlindas” zaman.

Dan tentunya saya nggak ingin begitu. Mungkin dengan menyeimbangkan dua “dunia” yang saya miliki, nyata dan maya, akan membuat hidup semakin bermakna. Toh kita juga nggak bisa menafikan peran teknologi. Teknologi untuk menjalin silaturrahim, teknologi untuk mengembangkan bisnis, teknologi untuk menuntut ilmu, teknologi untuk mengembangkan kapasitas dan potensi diri.

Ambil yang positif, buang yang kurang bermanfaat. Kalau sedang berinteraksi langsung dengan seseorang, simpan dulu handphone kita. Atau alihkan pandangan sejenak dari layar komputer yang mengungkung mata. Tapi juga jangan bersikap terlalu “galak” dengan dunia maya. Apresiasilah teman kita yang sedang berbahagia, hibur yang sedang galau. Kalaupun kita memang terlalu risih, atau bahkan terganggu dengan kegalauan dan kenorakan teman kita, cukup tertawakan saja. Anggap saja itu sesuatu yang menghibur. Jangan malah memasukkan kebencian dalam hati, yang malah merusak kebahagiaan kita sendiri. Bayangin aja, kalau nggak ada orang yang alay atau galau, waah nggak bakal ada yang ketawa-ketawa ngakak dong.

Tapi ingat juga, kalau nggak pengen dianggep norak, ya nggak usah pasang status atau twit yang alay dan bikin risih. Pikirkan dulu, sebelum tulis. Apakah yang kita tulis ini sesuatu yang bermanfaat, menghibur, atau cuma pengen memuaskan narsisme kita (baca: cari perhatian doang). Kalau ternyata cuma pengen caper, pikir lagi. Mendingan bikin status atau twit yang private alias cuma kita sendiri yang bisa baca. Lagian, untuk apa sih bikin status caper (baik yang ngeluh-ngeluh atau terlalu pamer) gitu? Ehm, khusus untuk Twitter, lebih asik lagi bikin account private yang cuma buat curhat-curhat personal. Kalau memang beneran pengen curhat, mendingan jangan via social media deh. Yang begini nggak asik banget, sumpah!!

Kesimpulan dari posting tak terstruktur di atas:
1. bersikap proporsional di dua “dunia”;
2. tinggalkan gadget saat momen “nyata” dengan keluarga, sahabat, teman (jangan sampe jadi nggak menikmati dunia nyata yang kita punya;
3. apresiasilah teman “maya” kita yang sedang berbahagia, dengan kalimat-kalimat bernada antusias dan positif;
4. hibur teman “maya” yang sedang galau dengan kalimat yang menguatkan (kalau bisa sih via sms atau telepon, agar kegalauannya tidak semakin menyebar);
5. kalau kegalauan teman sudah akut banget, alias dia emang orang tukang galau yang galau untuk tujuan cari perhatian, yaudah, lupain aja dan nggak usah diambil pusing;
6. upayakan untuk membuat status atau twit yang bernada positif, semangat, menghibur, bikin teman atau followers kita bisa mengambil manfaat;
7. bikin account Twitter pribadi supaya bisa curhat sepuas hati tanpa ada yang merasa terganggu;
8. kalau suka nulis, tumpahkan semua kegalauan di diary atau blog pribadi yang sudah diset private atau di-protect dengan password;
9. ambil sisi positif dari setiap kejadian sehingga nggak bikin kita sering-sering mengeluh;
10. mengeluhlah hanya kepada Allah di setiap shalat dan doa kita.

Karena kebahagiaan itu diciptakan, maka berbahagialah!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: