keberlanjutan di perdesaan: permasalahan dan solusi

Pengembangan kawasan perdesaan berkelanjutan di Indonesia adalah salah satu ‘perpanjangan’ dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang pertama kali dicetuskan pada tahun 1987 oleh Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup saat itu. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial dan ekologi (lingkungan) dalam satu sistem yang terpadu.

Kawasan perdesaan sangat penting untuk dijaga keberlanjutannya karena merupakan sumber pangan, energi, air dan mineral yang dibutuhkan baik oleh kawasan perkotaan maupun kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Desa juga memiliki berbagai fungsi esensial yakni ekologi, ekonomi dan rekreasi. Namun kecenderungan yang terjadi saat ini, kita semakin kehilangan perdesaan. Desa-desa mengalami transformasi, baik berupa pengurangan jumlah penduduk maupun luasan wilayah. Transformasi ini adalah hasil dari aktivitas urbanisasi dan konversi lahan pertanian yang semakin marak.

Beberapa Permasalahan

Aktivitas urbanisasi yang marak terlihat dari adanya perubahan wilayah di mana persentase penduduk perkotaan pada tahun 2005 sebesar 47.9% dari keseluruhan penduduk, sementara pada tahun 2025 diperkirakan jumlah penduduk perkotaan akan mencapai 68% (jauh lebih besar daripada penduduk perdesaan). Memang salah satu indikasi peningkatan pendapatan masyarakat adalah laju urbanisasi yang besar, karena berarti perekonomian tumbuh dan produktivitas juga meningkat. Namun, apakah kita siap “membiayai” akibat-akibat yang ditimbulkannya?

Di antara “harga” yang harus “dibayar” akibat tingginya angka urbanisasi antara lain:
1) berkurangnya lahan pertanian (akibat konversi lahan) yang mengancam ketahanan pangan;
2) berkurangnya hutan, danau/situ, dan lain-lain sumber energi, air dan mineral;
3) berkurangnya kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan lingkungan yang mengakibatkan bencana alam; serta
4) polusi, baik udara, air maupun tanah.

Belum lagi berbagai permasalahan sosial yang terjadi di perkotaan seperti pengangguran dan kriminalitas. Dengan semakin padatnya penduduk di perkotaan, penduduk desa yang berurbanisasi terpaksa kembali ke desanya untuk menggarap lahan pertanian. Ironisnya, lahan pertanian semakin berkurang, sehingga dapat dikatakan realita yang terjadi adalah luas lahan pertanian yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Hal ini selaras dengan data yang diperoleh dari Direktorat Tenaga Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), yang menunjukkan bahwa persentase tenaga kerja di sektor pertanian adalah sebesar 44.5% sementara kontribusi sektor pertanian terhadap PDB hanya sebesar 13.5% (bandingkan dengan jumlah tenaga kerja industri yang hanya sebesar 12.1% namun mampu kontribusinya terhadap PDB mencapai 28.9%). Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani (dan buruh tani) masih sangat rendah.

Selain itu, hal lain yang juga semakin membuktikan rendahnya tingkat kesejahteraan petani di perdesaan adalah Nilai Tukar Petani (NTP) yaitu perbandingan antara komoditas pertanian dengan non-pertanian yang masih tidak bergerak jauh dari angka 100. Jika angka NTP > 100, berarti ada surplus bagi petani. Namun kenyataannya, angka NTP masih berada di angka 101.05 (BPS, 2006) yang artinya sektor pertanian masih “jalan di tempat.”

Di atas telah disinggung bahwa realita yang terjadi di kawasan perdesaan adalah kurangnya lahan yang dapat digarap oleh surplusnya tenaga kerja. Ternyata hal ini juga merupakan salah satu sebab kemiskinan di perdesaan. Idealnya, untuk mencapai kesejahteraan, setiap petani memiliki lahan seluas minimal 2 ha. Namun yang terjadi, lahan yang dimiliki petani hanya seluas 0.25 ha. Berbeda sekali dengan kondisi yang terjadi di kawasan perdesaan Amerika, di mana lahan pertanian masih sangat luas meskipun hanya sedikit penduduk yang mendiami kawasan perdesaan (sebagian besar pekerjaan pertanian dikerjakan oleh tenaga mesin). Itulah sebabnya sektor pertanian di AS sangat produktif, bahkan mampu mengekspor hasil-hasil pertaniannya ke negara-negara lain termasuk Indonesia.

Oleh karena sektor pertanian yang kini tidak setrengginas zaman Orde Baru dulu, di mana Indonesia berhasil mewujudkan swasembada beras, banyak petani yang memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai petani, dengan melepas lahan pertanian yang dimilikinya. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh industri untuk mendirikan pabrik-pabrik di atas lahan yang dulunya adalah tanah pertanian. Inilah salah satu sebab yang mengubah wajah perdesaan di Indonesia. Padahal, jika lahan pertanian berkurang, desa-desa tumbuh menjadi kota, siapa lagi yang akan menyediakan sumber pangan, air, energi dan mineral bagi kita? Tentu saja kita tidak dapat menafikan pentingnya perdesaan bagi keberlanjutan hidup kita semua.

Di antara permasalahan yang terjadi di perdesaan antara lain dari segi: pertumbuhan penduduk/sumber daya manusia, kebijakan/kelembagaan, perubahan iklim dan globalisasi yang menyebabkan hal-hal sebagai berikut: kemiskinan, pengangguran, keterbatasan akses, sumber daya dan sarana-prasarana, kesenjangan, serta kerusakan lingkungan. Ke depan, diperkirakan perubahan wajah perdesaan, baik berupa transformasi struktural (desa menjadi kota) maupun urbanisasi, akan terus berlanjut. Selain itu, perkembangan pesat di dunia IT juga membuat masyarakat desa semakin melek teknologi. Hal ini pula yang mendasari sistem produksi pertanian menjadi semakin padat modal/teknologi.

Permasalahan perdesaan di atas lalu mengilhami uraian mengenai beberapa hal yang menjadi kebutuhan pengembangan suatu kawasan perdesaan, yaitu antara lain:

A. Dari segi ekonomi:
1) peningkatan pendapatan (anti kemiskinan);
2) perluasan kapasitas dan daya saing ekonomi;
3) ketahanan pangan;
4) fasilitasi keterkaitan desa-kota;

B. Dari segi sosial:
5) pemeliharaan kekayaan budaya dan kohesi sosial;
6) pemberdayaan masyarakat;
7) penguatan/rekonstruksi kelembagaan;

C. Dari segi ekologi/lingkungan:
8) peningkatan sarana dan prasarana;
9) peningkatan konservasi lingkungan; serta
10) penganggulangan dampak perubahan iklim.

Bagaimana Solusinya?

Permasalahan-permasalahan di atas, membuat saya teringat pemikiran salah seorang saudara dan kawan, di mana untuk membangun desa kuncinya adalah sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang ada di desa tersebut. Hendaknya pemuda desa, yang sudah kenyang menuntut ilmu di kota, kembali ke desanya, mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya demi kemajuan kampung halamannya. Bukannya malah semakin terbuai dengan pesona indah yang ditawarkan kota: bekerja di perusahaan bonafid, membangun karir hingga level manajer, memperkaya diri, kemudian lupa dengan desanya.

Perdesaan sebagai wahana produksi, habitat komunitas, dan pemelihara integritas sistem ekologi membutuhkan putra-putra terbaiknya untuk bersama-sama membangun dan mengembangkan sumber daya yang dimilikinya sehingga mampu menjadi suatu kawasan yang berkelanjutan. Industri-industri yang dibangun di perdesaan hendaknya menggunakan bahan baku lokal setempat (pertanian), sehingga bisa menjadi komoditas unggulan desa tersebut. Bukan malah menjual lahan pertanian untuk kemudian dijadikan kawasan industri bernuansa kapitalis. Sumber daya manusia juga perlu diberdayakan demi mengurangi laju urbanisasi. Fakta membuktikan bahwa urbanisasi yang marak terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan di perdesaan. Dengan demikian, membangun industri di perdesaan yang berbasis komoditi dan SDM lokal mampu mengangkat kembali perdesaan yang semakin terpinggirkan menjadi suatu kawasan yang diperhitungkan secara ekonomi, sosial dan lingkungan.

Mewujudkan suatu kawasan perdesaan yang berkelanjutan tentunya membutuhkan kerjasama semua stakeholders: Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Hal tersebut idak mungkin berjalan sendiri-sendiri alias membutuhkan sinergi. Dalam bidang penataan ruang misalnya, tidak cukup hanya sekedar mengintervensi kebijakan pemerintah dengan membuat rencana aksi. Rencana aksi apapun tidak akan berhasil tanpa adanya subsidi pemerintah untuk sektor pertanian. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat kembali tertarik untuk bertani. Dengan demikian, laju urbanisasi dan konversi lahan pertanian dapat ditekan. Solusi lain adalah dengan memperhatikan kebijakan terhadap investasi untuk mengurangi pertumbuhan industri kapitalis di perdesaan yang akan semakin merubah wajah perdesaan kita.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberlanjutan di kawasan perdesaan berarti, meskipun wilayah mengalami urbanisasi serta perdesaan mengalami transformasi, perdesaan sebagai wahana produksi (ekonomi), habitat komunitas (sosial) dan pemelihara integritas sistem ekologi (lingkungan) harus tetap terpelihara bahkan mengalami perbaikan/peningkatan. Namun, ketiga pilar keberlanjutan tersebut (ekonomi, sosial dan lingkungan) tidak boleh saling menegasikan, melainkan harus saling mendukung dan menguatkan.

Posting ini merupakan posting pertama saya yang bertema planologi, yang notabene merupakan background pendidikan saya. Walaupun saya adalah lulusan Perencanaan Wilayah dan Kota, sekalipun saya belum pernah membuat tulisan bertema prodi tersebut, kecuali skripsi😛

Ditulis pasca mengikuti rapat persiapan FGD Program Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan pada 2 Februari 2012 dengan narasumber Dr. Hastu Prabatmodjo (Kelompok Keahlian Pengembangan Wilayah dan Perdesaan SAPPK ITB).

2 Comments »

  1. Ponco Suharyanto said

    Dear Kiki,
    saya Ponco dari tabloid warta kesra, terbitan Kemenko Kesra..membaca tulisan kiki saya jadi tertarik untuk mempublikasikannya di tabloid..karena itu saya minta ijin buat publikasikannya..boleh kan ki?Coz tulisannya pas banget ma segmen tabloid warta kesra..mohon dijawab ya..

    demikian..thanks
    Ponco

    • oooh, monggo-monggo, Pak. Silakan dipublikasikan, semoga bermanfaat.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: